Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4.

"Bangun, Syibral. Sudah jam tujuh pagi. Kamu tidak ingin Ibu curiga karena kamu tidur di kamar saya, bukan?" Suara Reza terdengar sangat jernih, tanpa ada sisa serak atau kelelahan dari aktivitas panas semalam.

Syibral mengerang pelan sambil berusaha membuka matanya yang terasa berat. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah gorden yang semalam menjadi saksi bisu setiap kilatan petir dan erangan. Dia merasakan perih yang tajam di bagian bawah tubuhnya saat mencoba bergeser sedikit. Kesadaran menghantamnya seperti godam. Dia masih berada di kamar Reza. Di bawah selimut yang sama dengan pria yang baru saja menghancurkan martabatnya sekaligus memberikan kenikmatan paling berdosa dalam hidupnya.

"Sial. Sakit sekali. Kenapa semuanya terasa nyata sekarang? Gue benar-benar tidur sama abang sepupu gue sendiri." Syibral membatin dengan rasa panik yang mulai menjalar ke ujung jari.

"Bangun atau saya seret kamu ke kamar mandi sekarang juga?" Reza berdiri di samping tempat tidur, sudah mengenakan jubah mandi sutra hitamnya yang mewah. Rambutnya basah, menunjukkan dia sudah mandi lebih dulu.

Syibral menarik selimut hingga menutupi dagunya. Dia menatap Reza dengan pandangan penuh kebencian sekaligus rasa malu yang luar biasa. "Jangan sentuh aku. Aku bisa bangun sendiri."

"Baguslah kalau masih punya tenaga untuk sombong. Segera bersihkan tubuh kamu. Cairan saya mungkin masih tersisa di sana kalau kamu tidak segera mencucinya." Reza berkata dengan nada datar, seolah sedang membicarakan masalah bisnis yang membosankan.

Syibral merasa wajahnya terbakar hebat. Kalimat vulgar itu keluar begitu saja dari mulut Reza tanpa beban. Dia menunggu hingga Reza berjalan menuju meja kerjanya sebelum dia bangkit dengan hati-hati. Saat kakinya menyentuh lantai, lututnya terasa lemas. Ada rasa lengket yang menjijikkan di antara pahanya, membuktikan bahwa kejadian semalam bukan sekadar mimpi buruk.

Dia bergegas masuk ke kamar mandi, mengunci pintu, dan menyalakan pancuran air dengan tekanan maksimal. Dia menggosok kulitnya hingga memerah, seolah ingin menghapus jejak tangan Reza yang semalam menjelajahi setiap inci tubuhnya. Namun, setiap kali dia menutup mata, memori tentang lidah Reza dan tekanan kontol pria itu di dalam dirinya kembali muncul, memicu getaran aneh yang tidak bisa dia kendalikan.

"Gue harus pergi dari sini. Gue harus balik ke kosan hari ini juga. Gue nggak bisa liat mukanya lagi di depan Ibu dan Ayah." Syibral bicara pada dirinya sendiri di bawah kucuran air.

Setelah selesai dan mengenakan kembali pakaiannya yang berantakan di lantai, Syibral keluar dari kamar mandi. Reza masih di sana, duduk tenang sambil memeriksa ponselnya.

"Aku mau balik ke kampus pagi ini. Ada urusan mendadak soal skripsi." Syibral bicara tanpa menatap Reza.

Reza meletakkan ponselnya dan menatap Syibral dengan dahi berkerut. "Kamu pikir kamu bisa lari begitu saja setelah apa yang terjadi semalam? Jangan konyol, Syibral. Jadwal kita adalah sarapan bersama keluarga besar pukul delapan."

"Aku tidak peduli. Aku tidak bisa duduk di sana seolah-olah semuanya baik-baik saja."

"Kamu akan duduk di sana dan bersikap normal. Itu perintah. Kalau kamu menghilang pagi ini, Ibu kamu akan bertanya-tanya. Apa kamu mau saya jujur pada mereka tentang kenapa kamu memilih kabur?" Reza berdiri dan melangkah mendekati Syibral.

"Kamu bangsat, Reza. Kamu benar-benar iblis." Syibral mendesis dengan suara tertahan.

"Saya hanya pria yang tahu cara mengambil apa yang seharusnya menjadi milik saya. Sekarang, keluar dari kamar ini. Masuk ke kamar kamu, ganti baju yang lebih pantas, dan temui saya di meja makan dalam lima belas menit."

Syibral tidak punya pilihan. Dia keluar dari kamar itu dengan langkah tertatih, berusaha menyembunyikan rasa sakit di bagian belakangnya saat menuruni tangga. Di meja makan, suasana terasa sangat kontras. Ibu sedang tertawa sambil menyiapkan nasi goreng, sementara Ayah sibuk membaca koran digitalnya.

"Pagi, Sayang. Loh, kok wajahmu pucat begitu? Kamu begadang ngerjain skripsi lagi ya semalam?" tanya Ibu dengan nada khawatir saat melihat Syibral duduk dengan gerakan kaku.

"Iya, Bu. Semalam hujan deras jadi agak susah tidur." Syibral menjawab sambil berusaha duduk setegak mungkin meski rasanya seperti ada benda asing yang masih mengganjal di dalam dirinya.

Tak lama kemudian, Reza turun. Dia tampak sangat segar dengan kemeja polo berwarna biru tua yang membalut tubuh kekarnya dengan sempurna. Dia menyapa Ibu dan Ayah dengan sopan, sangat beradab, berbanding terbalik dengan pria buas yang semalam memaksa Syibral untuk memohon.

"Pagi, Om, Tante. Syibral sudah bangun duluan ternyata. Semalam saya lihat dia masih rajin belajar saat saya lewat depan kamarnya." Reza berbohong dengan sangat lancar tanpa mengedipkan mata.

"Iya, Reza. Syibral ini memang ambisius kalau sudah mau lulus." Ayah menyahut sambil tersenyum bangga.

Syibral merasa mual. Dia menunduk, menusuk-nusuk nasi gorengnya tanpa selera. Dia bisa merasakan tatapan Reza yang sesekali tertuju padanya. Di bawah meja, tiba-tiba Syibral merasakan sesuatu menyentuh kakinya. Kaki Reza. Pria itu sengaja menggeser kakinya, menggosokkan betisnya ke kaki Syibral dengan gerakan yang sangat provokatif.

"Sialan. Dia benar-benar gila. Dia berani melakukan ini di depan orang tua gue sendiri." Batin Syibral berteriak panik. Dia mencoba menarik kakinya, tapi Reza justru mengunci kaki Syibral dengan kedua kakinya.

"Syibral, kenapa tidak dimakan? Nanti nasi gorengnya dingin." Reza bertanya dengan nada suara yang terdengar sangat perhatian di telinga orang lain, tapi terdengar seperti ancaman bagi Syibral.

"Aku tidak lapar." Syibral meletakkan sendoknya.

"Makan, Syibral. Kamu butuh banyak tenaga untuk aktivitas kampus hari ini." Reza menekan kata tenaga dengan penekanan yang membuat Syibral teringat bagaimana lemasnya dia semalam setelah tiga kali pelepasan.

Selesai sarapan yang terasa seperti siksaan abadi, Syibral segera pamit untuk berangkat. Dia sudah mengemas tasnya dengan cepat. Saat dia sedang memakai sepatu di teras, Reza muncul dan berdiri di ambang pintu.

"Saya antar kamu ke stasiun."

"Tidak perlu. Aku bisa naik ojek online."

"Saya tidak menerima penolakan. Masuk ke mobil sekarang." Reza kunci mobilnya berbunyi klik.

Di dalam mobil mewah Reza yang kedap suara, suasana kembali mencekam. Tidak ada musik, hanya suara mesin yang halus. Syibral menatap keluar jendela, berusaha menjauhkan dirinya secara mental dari pria di sampingnya.

"Dengarkan saya baik-baik, Syibral." Reza memecah keheningan saat mereka berhenti di lampu merah. "Kejadian semalam bukan kecelakaan. Itu adalah awal dari perjanjian baru di antara kita."

"Perjanjian apa? Aku tidak pernah setuju pada apa pun."

"Kamu setuju saat kamu mendatangi kamar saya semalam. Kamu setuju saat kamu membiarkan saya masuk ke dalam tubuh kamu. Mulai sekarang, kamu milik saya. Saya akan membiayai semua kebutuhan skripsi kamu, apartemen kamu, apa saja. Tapi sebagai gantinya, kamu harus ada kapan pun saya panggil."

"Gue bukan pelacur, Reza." Syibral menoleh dengan mata berkaca-kaca karena amarah.

"Kamu lebih dari itu bagi saya. Kamu sepupu kesayangan saya yang punya tubuh sangat responsif. Jangan mencoba menghilang atau memblokir nomor saya. Saya tahu di mana kosan kamu, saya tahu jadwal kuliah kamu. Kalau kamu mencoba lari, saya tidak segan untuk datang ke kampus kamu dan membuat keributan yang akan membuat kamu malu seumur hidup."

Reza menghentikan mobilnya di depan gerbang stasiun. Dia mencondongkan tubuh, menarik kerah baju Syibral hingga wajah mereka berdekatan.

"Satu lagi peringatan. Jangan biarkan laki-laki lain menyentuh apa yang sudah saya tandai semalam. Saya tidak suka berbagi barang milik saya dengan siapa pun. Mengerti?"

Syibral tidak menjawab. Dia hanya menatap Reza dengan tatapan kosong. Dia merasa dunianya sudah runtuh sepenuhnya. Dia membuka pintu mobil dan keluar tanpa menoleh lagi. Dia berjalan masuk ke area stasiun dengan langkah yang masih terasa sakit, membawa rahasia besar yang kini menjadi rantai di lehernya.

Di dalam kereta yang membawanya kembali ke kehidupan kampusnya, Syibral duduk di pojok gerbong. Dia menyentuh bibirnya yang sedikit bengkak. Peringatan Reza terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Dia tahu dia terjebak. Dia bukan lagi Syibral yang bebas. Dia adalah tawanan dari nafsu dan kuasa abang sepupunya sendiri.

Sesampainya di kosan, Syibral langsung mengunci pintu. Dia menjatuhkan tasnya dan merosot di balik pintu. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh juga. Dia merasa sangat kotor, namun di sisi lain, ada bagian dari dirinya yang justru merindukan tekanan tangan Reza di lehernya.

Adiksi itu mulai bekerja, merusak logika dan moralitasnya secara perlahan namun pasti.

Dia mengambil ponselnya, berniat menghapus nomor Reza. Namun jari-jarinya berhenti di atas tombol hapus. Dia teringat bagaimana Reza berbisik di telinganya semalam.

Dia teringat rasa penuh yang diberikan pria itu. Syibral menutup wajahnya dengan kedua tangan, menyadari bahwa dia tidak hanya membenci Reza, tapi dia juga sudah mulai ketagihan pada penderitaan yang pria itu berikan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel