Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1

"Ditambah lagi porsinya, Reza? Kamu baru sampai dari London, pasti masakan rumah jauh lebih enak dibanding makanan di sana." Suara Ibu memecah keheningan ruang makan yang sejak tadi terasa mencekam bagi Syibral.

Syibral tetap menunduk, pura-pura sangat menikmati rendang di piringnya padahal lidahnya sudah mati rasa. Dia bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari pria di seberangnya. Reza, abang sepupu yang sudah lima tahun tidak ia temui, kini duduk di sana dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya berkilat tertimpa lampu gantung kristal.

"Cukup, Tante. Saya tidak terbiasa makan terlalu banyak saat malam hari." Suara Reza berat, tenang, dan memiliki nada otoriter yang tidak terbantah.

Syibral meremas sendoknya dengan kuat sampai buku jarinya memutih. Bau parfum Reza yang maskulin, campuran aroma kayu cendana dan tembakau mahal, entah bagaimana bisa sampai ke indra penciumannya meski terhalang meja makan yang lebar.

"Sial, kenapa dia harus duduk tepat di depanku? Bahunya makin lebar. Baunya juga beda. Bau laki-laki mapan yang sangat intimidatif dan bikin pusing." Syibral mengumpat dalam batin sambil terus menatap butiran nasi di piringnya.

"Syibral, kamu kenapa dari tadi diam saja? Sapa dong abangmu ini. Masa seperti orang asing?" tegur Ibu lagi sambil menyenggol lengan Syibral pelan.

Syibral terpaksa mendongak. Pandangannya langsung bertabrakan dengan mata elang Reza. Pria itu tidak tersenyum sama sekali. Tatapannya datar namun tajam, seolah-olah sedang membedah isi kepala Syibral.

"Selamat datang kembali, Bang Reza." Syibral berusaha mengatur suaranya agar tidak bergetar, tapi nada serak tetap keluar dari tenggorokannya.

Reza tidak langsung menyahut. Dia meletakkan sendok dan garpunya dengan gerakan yang sangat pelan dan terukur. Denting halus logam yang beradu dengan piring porselen itu terasa seperti bunyi lonceng kematian bagi ketenangan Syibral. Reza menatap Syibral dari ujung rambut hingga ke leher, seolah sedang memeriksa kualitas barang yang sudah lama tidak ia lihat.

"Tumben kurusan? Kamu kurang makan atau terlalu banyak bermain di luar?" Reza bertanya dengan nada yang sangat merendahkan.

"Aku sedang sibuk skripsi, Bang. Bukan main-main." Syibral menjawab cepat dengan nada defensif.

"Sibuk skripsi atau sibuk cari pacar? Gaya kamu makin hari makin tidak tegas saya lihat. Sangat lembek untuk ukuran laki-laki di keluarga ini." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Reza sambil dia menyesap air putih dari gelas kristalnya.

Syibral merasakan wajahnya memanas. Dia ingin membantah, tapi setiap kali dia ingin membuka mulut, nyalinya menciut melihat tatapan Reza yang seolah mengunci seluruh pergerakannya.

"Tatapan matanya seolah mau menguliti gue hidup-hidup. Kenapa dia terus memperhatikan bibir gue saat gue makan? Apa ada yang salah? Nggak, dia pasti sengaja ingin membuat gue merasa kerdil di depannya." Syibral membatin dengan penuh kemarahan yang tertahan.

Ayah Syibral dan kerabat lainnya tertawa kecil mendengar ucapan Reza. Mereka menganggap itu hanya sekadar bincang-bincang biasa antara kakak dan adik sepupu. Mereka tidak tahu bahwa setiap kata yang keluar dari mulut Reza adalah sebuah serangan mental bagi Syibral.

"Masih tinggal di kosan atau sudah insyaf?" tanya Reza lagi tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari wajah Syibral.

"Masih di kosan dekat kampus. Lebih dekat kalau mau bimbingan."

"Baguslah kalau benar untuk bimbingan skripsi. Saya khawatir kamu hanya menggunakan uang saku dari Ayahmu untuk hal-hal yang tidak berguna. Kamu tahu sendiri bagaimana saya sangat benci pada orang yang tidak punya kedisiplinan diri."

Syibral mengepalkan tangan di bawah meja. Kuku-kukunya menekan telapak tangan sendiri dengan sangat keras. Dia sangat benci bagaimana Reza selalu bisa membuat dirinya merasa seperti kotoran yang tidak berharga hanya dengan beberapa kalimat singkat.

"Bukan urusan Abang. Aku tahu apa yang aku lakukan dengan hidupku sendiri." Suara Syibral sedikit meninggi kali ini.

Keheningan sesaat terjadi di meja makan. Ibu tampak agak kaget mendengar nada bicara Syibral yang tidak biasanya. Namun, Reza justru menunjukkan seringai tipis yang hampir tidak terlihat di sudut bibirnya. Dia tampak menikmati reaksi emosional Syibral.

"Sudah berani menjawab sekarang? Menarik juga." Reza bergumam pelan namun cukup jelas untuk didengar oleh Syibral.

Syibral merasa dadanya sesak. Dia merasa atmosfer di ruang makan ini sudah terlalu beracun untuk paru-parunya. Dia butuh keluar. Dia butuh udara segar yang tidak tercemar oleh aroma parfum dan aura dominan Reza yang memuakkan itu.

"Aku ambil minum dulu ke dapur. Haus sekali." Syibral berdiri dengan terburu-buru hingga kursinya berderit keras di atas lantai marmer.

Dia berjalan cepat menuju dapur tanpa menoleh lagi. Di sana, dia langsung menuju dispenser dan mengambil segelas air dingin. Dia menenggaknya dengan rakus. Air yang melewati tenggorokannya terasa dingin, namun gejolak di dadanya tetap terasa membara.

"Gue harus tenang. Dia cuma tamu di sini. Besok dia juga sibuk di kantornya yang besar itu. Jangan sampai dia tahu kalau gue terpengaruh sama kehadirannya." Syibral berusaha menenangkan dirinya sendiri sambil memegang pinggiran meja dapur.

Baru saja dia ingin meletakkan gelas, suara langkah kaki yang mantap dan berirama terdengar mendekat. Langkah itu tidak terburu-buru, tapi terasa sangat pasti. Syibral tahu persis siapa pemilik langkah itu. Jantungnya mulai berdetak tidak keruan.

Reza muncul di ambang pintu dapur. Dia tidak berhenti sampai jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Reza berdiri sangat dekat. Dia sengaja mengunci posisi Syibral dengan meletakkan satu tangannya di atas meja dapur, tepat di samping pinggang Syibral.

Syibral terpojok. Dia bisa merasakan panas tubuh Reza yang merambat ke kulitnya. Bau tembakau dan cendana itu kini terasa seribu kali lebih kuat.

"Gila, napasnya terasa hangat di kulit leher gue. Jantung gue mau copot tapi kenapa gue justru terpaku di sini? Kenapa kaki gue malah terasa lemas seolah tidak sanggup untuk sekadar lari menjauh?" Syibral mengumpat dalam batin. Dia benar-benar merasa kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

Reza sedikit membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan telinga Syibral. Dia bisa mendengar deru napas Reza yang tenang namun mengancam.

"Kamu takut sama saya, Syibral? Atau kamu justru sedang menunggu saya melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menatap kamu di meja makan tadi?" Reza berbisik. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan nada provokatif yang membuat sekujur tubuh Syibral meremang.

"Nggak. Lepasin, Bang. Aku mau balik ke depan." Syibral mencoba mendorong dada Reza dengan kedua tangannya. Namun, tubuh Reza terasa seperti dinding beton yang sangat keras. Tidak bergeming sedikit pun.

"Mulut kamu bilang mau pergi, tapi tangan kamu gemetaran saat menyentuh dada saya. Kamu tidak pandai berbohong, Dik." Reza menarik tangannya dari meja, tapi dia tidak menjauhkan wajahnya.

Syibral hanya bisa menunduk, menatap kancing kemeja hitam Reza yang terbuka satu di bagian paling atas. Dia merasa sangat kecil dan tidak berdaya di bawah bayang-bayang pria ini.

"Temui saya di balkon lantai atas sepuluh menit lagi. Jangan sampai saya harus menjemput kamu ke kamar karena kamu telat satu detik saja." Reza memberikan instruksi itu dengan nada final yang tidak menyisakan ruang untuk penolakan.

Reza berbalik dan berjalan meninggalkan dapur dengan santai, seolah-olah dia baru saja membicarakan cuaca, bukan memberikan perintah yang akan mengubah hidup Syibral malam ini.

Syibral tetap berdiri mematung di dapur. Dadanya naik turun dengan cepat karena napas yang memburu. Dia tahu ini salah. Dia tahu dia seharusnya segera lari ke kamarnya, mengunci pintu, dan tidak keluar sampai pagi. Namun, ada bagian kecil di dalam kepalanya yang justru merasa tertantang. Ada rasa ketagihan yang aneh terhadap tekanan dan intimidasi yang diberikan oleh abang sepupunya itu.

Dia mencuci gelasnya dengan gerakan mekanis, berusaha menenangkan gemetar di tangannya. Suasana rumah kembali hening, hanya terdengar suara obrolan samar dari ruang makan. Namun bagi Syibral, keheningan ini terasa jauh lebih berbahaya daripada badai yang mungkin akan datang sebentar lagi.

Syibral berjalan menuju tangga dengan langkah ragu. Setiap anak tangga yang ia injak terasa seperti langkah menuju lubang hitam yang tidak berdasar. Dia tahu Reza adalah pria yang berbahaya. Dia adalah orang yang selalu mendapatkan apa pun yang dia inginkan dengan cara apa pun. Dan malam ini, tampaknya Syibral adalah target yang sedang ia incar.

Sesampainya di lantai atas, Syibral melihat pintu balkon yang sedikit terbuka. Cahaya bulan masuk melalui celah itu, menerangi lantai kayu yang gelap. Angin malam bertiup pelan, membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Syibral menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki sebelum melangkah masuk ke dalam area kekuasaan Reza yang sesungguhnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel