Bab 3 – Jejak yang Tak Bisa Dihapus
Aku selalu percaya bahwa waktu punya cara aneh untuk menyimpan luka. Tidak semua luka mengering, ada yang menetap, mengguratkan jejak di dinding jiwa, menolak hilang meski diguyur berulang kali oleh air mata atau doa. Malam itu, aku kembali belajar bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bersembunyi, menunggu celah kecil untuk kembali menyusup.
Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang menusuk hidungku. Jalanan kampung lengang, seolah semua orang memilih bersembunyi di balik pintu rapuh rumah masing-masing. Aku berjalan pelan, menapaki tanah becek, sementara pikiranku terus dipenuhi bisikan samar yang tadi kudengar di rumah Arka. Kata-kata itu menempel di kepalaku, seperti parasit yang menolak dicabut: “Ikuti jejaknya… sebelum semuanya terlambat.”
Siapa yang berbisik? Dari mana suara itu berasal? Apakah aku sudah kehilangan kewarasan, ataukah memang ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebetulan?
Arka tidak banyak bicara ketika aku pamit pulang. Ia hanya menatapku dengan mata letih, lalu berkata lirih, “Jangan berjalan terlalu jauh sendirian malam-malam begini.” Aku mengangguk, meski dalam hati aku tahu, aku memang akan berjalan jauh. Ada sesuatu yang memanggilku.
Langkahku membawaku ke arah sungai tua di ujung kampung. Sungai itu sudah lama kering, hanya menyisakan alur tanah retak dan bebatuan licin yang ditumbuhi lumut. Orang-orang bilang, di sanalah banyak suara aneh terdengar. Anak-anak sering mengaku melihat bayangan menari di tepian. Para orang tua melarang siapa pun mendekat. Namun, larangan justru selalu membuat rasa penasaran tumbuh subur.
Aku berhenti di tepi alur sungai, menatap langit yang masih mendung. Bulan bersembunyi di balik awan, meninggalkan gelap yang pekat. Tanganku bergetar ketika kucoba meraih senter kecil dari saku. Cahaya tipisnya menyingkap permukaan tanah yang penuh jejak. Aku membungkuk, memperhatikan lebih dekat.
Jejak kaki.
Bukan hanya satu, tapi puluhan. Jejak-jejak itu berlapis, saling tindih, mengarah ke arah hutan kecil di seberang sungai kering. Anehnya, tanah di sekitarnya tidak basah seperti seharusnya setelah hujan. Justru kering, seolah panas dari dalam bumi menyedot habis air yang baru saja turun. Aku menyentuhnya dengan ujung jari—hangat, seperti baru saja terbakar.
“Lira…”
Suara itu lagi. Samar, terpotong angin, tapi jelas terdengar memanggilku.
Aku terlonjak, senter hampir terjatuh dari tanganku. Jantungku berdetak liar, seakan ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram leherku. Aku menoleh, namun tak ada siapa pun. Hanya pepohonan tua yang berdiri kaku, dan bayangan malam yang makin menebal.
Aku menelan ludah.
“Siapa di sana?” tanyaku, suaraku bergetar, berusaha terdengar tegar.
Tak ada jawaban. Yang ada hanya desiran angin yang membawa aroma aneh—seperti besi berkarat bercampur dengan bunga busuk. Bau itu menusuk, membuat kepalaku pening. Aku hampir berbalik, namun langkahku malah maju, mengikuti jejak kaki yang bercampur di tanah retak.
Setiap kali kakiku menapak, bisikan itu semakin jelas, semakin dekat. Kadang terdengar seperti suara ibuku, kadang seperti suara sahabat lamaku yang sudah lama pergi. Seolah-olah semua orang yang pernah hilang dari hidupku, kini kembali dalam bentuk gema samar yang menuntunku.
Aku tahu ini gila. Aku tahu aku seharusnya berlari pulang. Tapi sesuatu dalam diriku berkata: jika aku berhenti, aku tidak akan pernah mendapatkan jawabannya.
Aku terus berjalan, melewati semak belukar, melewati batang-batang pohon yang menjulang tinggi seperti tiang hitam penjara. Hutan itu terasa berbeda malam ini—terlalu sunyi, terlalu rapi, seperti menunggu sesuatu meledak dari dalam kegelapan.
Tiba-tiba langkahku terhenti.
Di hadapanku terbentang sebuah batu besar yang separuh tertutup lumut. Permukaannya dipenuhi goresan-goresan aneh, seperti simbol-simbol kuno yang tak pernah kulihat sebelumnya. Sebagian seperti huruf, sebagian seperti tanda cakar. Cahaya senter menyorotinya, dan aku merasa seolah batu itu berdenyut, hidup, bernapas.
Aku meraba goresan itu, dan tubuhku langsung tersentak.
Kilatan bayangan menyergap kepalaku—sekilas wajah-wajah asing, mata-mata kosong, tangan-tangan yang meraih dari balik kabut. Aku melihat Arka berdiri di tengah lingkaran api, suaranya hilang, mulutnya terbuka seakan berteriak, namun tak ada suara keluar. Lalu semuanya lenyap, meninggalkan kepalaku yang berdenyut sakit.
Aku jatuh terduduk, napasku memburu.
Di balik rasa sakit itu, aku mendengar sesuatu lagi. Bukan bisikan, melainkan nyanyian. Rendah, monoton, namun menggema seakan datang dari perut bumi.
“Jejak tidak pernah hilang… Jejak selalu kembali… Siapa yang berjalan, siapa yang hilang, akan selalu kembali…”
Aku menutup telinga, tapi suaranya tetap masuk, merambat melalui tulangku.
Air mata mengalir tanpa kusadari. Aku tahu aku sudah terlalu jauh, tapi aku juga tahu aku tidak bisa kembali begitu saja. Ada sesuatu yang mengikatku pada tempat ini, sesuatu yang tidak akan berhenti mengejarku meski aku menutup mata selamanya.
Aku berdiri dengan gemetar, menatap batu besar itu sekali lagi. Kali ini aku melihatnya lebih jelas. Jejak-jejak kaki yang tadi kuikuti ternyata berakhir di sini. Tidak ada jejak keluar, hanya berakhir di depan batu itu, seolah-olah mereka semua ditelan oleh permukaannya.
Aku menahan napas.
Seketika aku sadar, inilah yang dimaksud bisikan itu: jejak yang tak bisa dihapus. Jejak yang tidak membawa ke depan atau ke belakang, tapi ke sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih gelap daripada malam.
Dan saat aku menyadari itu, tanah di bawah kakiku mulai bergetar.
Aku menelan ludah, menahan gemetar di tenggorokanku. Kata-kata Arka itu bagai racun yang perlahan merembes ke dalam aliran darahku. Kenapa ia mengatakan seolah-olah aku tak lagi memiliki kendali atas nasibku?
“Jangan menatapku seperti itu,” ujarnya datar, meski matanya tajam menusukku. “Aku tak menciptakan jerat ini. Aku hanya… menjalankan.”
Aku mengernyit. “Menjalankan apa?”
Ia tidak menjawab. Malah berdiri, berjalan ke arah jendela yang retak, lalu membuka sedikit tirainya. Dari sana, aku bisa melihat cahaya samar—bukan dari lampu rumah biasa, tapi kilau merah yang berputar di kejauhan, seperti tanda bahaya yang terus-menerus berdenyut.
“Itu apa?” tanyaku nyaris berbisik.
Arka menghela napas panjang. “Mereka sudah lebih dekat dari yang kuduga. Kita harus bergegas sebelum sinyal itu benar-benar menyusup ke sini.”
Aku menegang. Suara itu. Cahaya itu. Segalanya seperti saling berkaitan. Rasanya dunia yang kukenal semakin menjauh, digantikan oleh sesuatu yang asing, penuh jebakan tak terlihat.
“Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku, Arka?” suaraku terdengar serak, campuran antara marah dan takut.
Ia menoleh perlahan, wajahnya terlihat muram. “Jika kukatakan sekarang, kau tak akan sanggup percaya. Tapi cepat atau lambat… kau akan melihatnya sendiri.”
Aku mengepalkan tangan. Perasaan terkunci di ruang yang penuh bayangan membuat nafasku semakin pendek. Semua bagian dari diriku ingin kabur, berlari menembus pintu, meninggalkan semua misteri ini. Tapi entah kenapa, sesuatu di dalam dada menahanku.
Karena aku tahu, jika aku lari sekarang, aku akan kehilangan jejak.
Dan aku tak boleh kehilangan jejak—apapun yang menungguku di balik kebenaran.
meraih kursi dan duduk kembali, mencoba menahan getaran di ujung jariku. Ruangan ini terasa semakin sempit, seolah udara pun menolak untuk menemaniku. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, berpacu dengan suara samar dari luar jendela.
Arka tetap berdiri, tubuhnya tegak bagai patung, namun matanya seakan memantau sesuatu yang tak bisa kulihat. Ada jarak aneh antara kami, seakan ia tahu sesuatu tentang diriku yang bahkan tak kuketahui sendiri.
“Aku tidak bisa menunggu lebih lama,” kataku, suara meninggi. “Kalau memang ada sesuatu yang mengincarku, aku berhak tahu!”
Arka menoleh cepat, kali ini suaranya tajam. “Justru karena itulah kau tak boleh tahu sekarang. Ada hal-hal yang jika diungkap terlalu dini, hanya akan menghancurkanmu. Dan aku tak akan membiarkanmu hancur.”
Aku membeku. Kata-kata itu seperti peringatan sekaligus janji. Aku tidak tahu harus mempercayainya atau justru semakin meragukan.
Tiba-tiba, suara dentuman terdengar dari kejauhan. Getarannya sampai ke lantai kayu di bawah kakiku. Aku terlonjak, sementara Arka berlari ke pintu, menempelkan telinganya di sana.
“Mereka sudah mulai bergerak,” gumamnya pelan, seolah hanya berbicara pada dirinya sendiri.
“Mereka? Siapa?!” tanyaku mendesak.
Ia tak menjawab. Tangannya justru meraih tanganku dengan cepat, dingin, dan kuat. “Kau harus ikut denganku sekarang juga. Jika kau tinggal di sini, kau tidak akan punya kesempatan kedua.”
Aku terdiam, mataku menatap lekat pada pintu yang bergetar pelan, seolah sesuatu di balik sana tengah mencari jalan masuk. Dalam sekejap, aku sadar—pilihanku hanya dua: tetap duduk di sini dan menunggu, atau mengikuti Arka menuju ketidakpastian.
Dan anehnya, ketidakpastian bersamanya terasa lebih aman dibanding menunggu sendirian.
