Bab 4 – Pintu yang Tak Pernah Menutup
Aku tak pernah menyukai pintu. Sejak kecil, bagiku pintu hanyalah penanda bahwa ada sesuatu yang dipisahkan dari sesuatu yang lain. Sebuah batas, sebuah rahasia. Namun malam itu, pintu bukan lagi sekadar kayu tua dengan engsel berkarat. Ia bergetar, seolah ada napas asing yang menekan dari baliknya, ingin masuk, ingin merobek semua batas yang tersisa.
Arka menarik tanganku begitu keras hingga aku hampir terjatuh. “Jangan menoleh,” katanya dengan suara rendah, hampir seperti ancaman, tapi lebih terdengar seperti doa putus asa. Aku menurut. Tubuhku terbawa olehnya menuruni lorong sempit, setiap papan lantai berderit seperti jeritan orang tua yang menolak ditinggalkan.
Di belakang kami, pintu itu berderak sekali lagi—lebih keras. Aku sempat mendengar bunyi kuku menggaruk, atau mungkin logam yang diseret di permukaannya. Suara itu membuat bulu kudukku berdiri, membuat langkahku terasa terlalu lambat meski Arka menyeretku secepat mungkin.
“Ke mana kita?” tanyaku terengah.
“Ke tempat yang mereka belum bisa jamah,” jawabnya singkat.
“Mereka siapa?!”
Pertanyaan itu hanya melayang di udara, tak diberi jawaban. Arka lebih memilih mendorong sebuah pintu kecil di ujung lorong. Bukan pintu utama, hanya semacam panel kayu yang nyaris menyatu dengan dinding. Dari sana, kami turun ke sebuah tangga kayu gelap, begitu sempit hingga bahuku berkali-kali membentur dinding.
Tangga itu berakhir pada sebuah ruangan bawah tanah yang lembap. Aroma tanah basah bercampur karat menyesak di hidungku. Cahaya senter Arka menyingkap rak-rak kayu berdebu, kotak besi berkarat, dan gulungan kain yang sudah lapuk.
“Apa ini?” bisikku.
“Tempat persembunyian. Bukan milikku. Bukan milik siapa pun. Tapi ia ada di sini lebih lama dari kita.”
Aku menelan ludah. Kata-katanya terdengar seperti teka-teki yang tak ingin kupecahkan. Tapi mataku terpaku pada dinding paling ujung ruangan itu. Ada sesuatu yang aneh—goresan-goresan mirip dengan simbol yang kulihat di batu besar dekat sungai kering. Mereka berkelip samar seakan menyala dari dalam batu bata.
Aku mendekat, tapi Arka menahan lenganku. “Jangan sentuh. Setiap jejak yang kau tinggalkan di sini… akan selalu kembali padamu.”
Aku menatapnya, marah sekaligus takut. “Kau bicara seolah semua ini sudah ditulis sebelumnya.”
Ia terdiam, lalu menutup matanya sebentar. “Karena memang begitu.”
Aku mundur setapak. “Apa maksudmu?”
Namun sebelum ia sempat menjawab, sebuah dentuman lagi terdengar dari atas. Debu berjatuhan dari langit-langit, rak kayu bergoyang, dan salah satu kotak besi roboh, menimbulkan bunyi berderak yang menusuk telinga. Aku menjerit pelan, menutup telinga.
Arka bergerak cepat, menarik kotak besi itu, membuka tutupnya. Di dalamnya ada sesuatu yang membuat dadaku serasa membeku—sebuah buku tua, kulitnya hitam dengan kunci kecil berwarna perak. Bukan buku biasa, melainkan semacam catatan yang sudah menyerap terlalu banyak waktu.
Ia menyerahkan buku itu padaku. “Bawa ini. Apapun yang terjadi, jangan lepaskan. Ini yang mereka cari.”
Tanganku bergetar ketika menerima benda itu. Begitu jari-jariku menyentuh kulitnya, aku merasakan denyut halus—seperti nadi. Buku itu seolah hidup, seolah sadar aku menggenggamnya.
“Apa isi buku ini?” tanyaku terbata.
Arka menatapku lama, terlalu lama hingga aku merasa ia melihat lebih dalam dari yang seharusnya. “Kesetiaan seorang lelaki yang tak pernah perempuan tahu,” jawabnya lirih.
Aku terdiam. Judul itu menghantam sesuatu dalam kepalaku, seperti gema dari masa lalu yang seharusnya tidak kuingat. Bibirku terbuka, tapi tak ada kata keluar.
Tiba-tiba, suara itu datang lagi. Bukan bisikan, bukan nyanyian. Kali ini lebih jelas, seperti teriakan yang menembus lapisan tanah:
“Serahkan jejaknya! Serahkan buku itu!”
Suaranya bergema dari segala arah, membuatku tersungkur memeluk buku erat-erat. Arka berdiri di depanku, tubuhnya seperti perisai. “Kau tak akan mendapatkannya malam ini,” katanya lantang ke arah gelap.
Lalu tanah bergetar lebih keras. Aku merasa ruangan itu akan runtuh kapan saja. Arka menarik tanganku lagi, kali ini lebih panik. “Kita tak bisa tinggal. Jalan keluar bukan dari pintu, tapi dari jejak.”
Aku menoleh ke dinding penuh simbol itu. Simbol-simbolnya kini menyala terang, membentuk pola lingkaran. Tanpa menunggu persetujuan, Arka menempelkan telapak tangannya ke salah satu simbol. Cahaya itu meledak, menyilaukan mataku.
Dalam sekejap, aku merasakan tubuhku ditarik—bukan ke depan, bukan ke belakang, tapi ke ruang yang tak punya arah.
Aku menjerit, memeluk buku hitam itu semakin erat.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sadar: pintu bukan lagi batas. Ia adalah jurang.
Jurang yang kini menelanku bulat-bulat.
Tubuhku melayang dalam pusaran cahaya yang tidak memiliki ujung. Seolah aku dilempar ke dalam arus sungai yang deras, tapi airnya tak terlihat, hanya cahaya dan kegelapan yang saling melilit. Nafasku tercekat, dada terasa diremas. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tenggelam, tak pernah mencapai bibirku.
Di pelukan eratku, buku hitam itu terus berdenyut. Semakin kuat aku memeluknya, semakin aku merasa bahwa ia bukan sekadar benda mati, melainkan sepotong jiwa yang dipaksa untuk tetap hidup. Ada detik-detik ketika aku mendengar bisikan samar dari balik sampulnya—seperti seseorang yang berbicara langsung di telingaku, lirih, nyaris menyayat: “Jangan lepaskan. Jangan ulangi kesalahan mereka.”
Aku ingin bertanya, tapi pusaran itu tiba-tiba pecah. Tanah kembali mengeras di bawah kakiku. Aku terhuyung, hampir jatuh, tapi Arka menahanku tepat waktu. Mataku beradaptasi dengan cahaya baru.
Kami tidak lagi berada di ruang bawah tanah. Kini di hadapanku terbentang padang luas yang dipenuhi kabut abu-abu. Pohon-pohon hitam menjulang tanpa daun, seperti tiang pancang yang dipaku di tanah mati. Udara dingin menggigit kulitku, tapi anehnya tak ada angin sama sekali. Semuanya beku, sunyi, hanya gema napas kami yang terdengar.
“Di mana ini?” tanyaku dengan suara pecah.
Arka menatap lurus ke depan. “Batas.”
Aku mengernyit. “Batas apa?”
“Antara yang nyata dan yang dilupakan,” jawabnya singkat.
Aku terdiam, tidak tahu harus percaya atau menertawakan ucapannya. Tapi kabut di sekitar terlalu nyata untuk ditolak. Di kejauhan, samar-samar aku bisa melihat bayangan sosok-sosok berjalan. Tubuh mereka kurus, goyah, seakan tulang rapuh yang dipaksa berdiri. Mereka berjalan tanpa arah, kepalanya tertunduk, wajah tak pernah terlihat jelas.
“Apa itu?”
Arka menundukkan kepala, nadanya rendah. “Jejak yang tak pernah kembali.”
Dadaku mengencang. Mereka—sosok-sosok itu—berjalan beriringan, tapi tak satu pun meninggalkan bekas di tanah. Setiap langkah mereka menguap begitu saja, seolah mereka tidak pernah benar-benar ada.
“Aku tidak seharusnya di sini,” bisikku gemetar.
“Kau memang tidak seharusnya,” balas Arka cepat. “Tapi kau dipanggil.”
Aku menoleh menatapnya. “Dipanggil siapa?”
Ia tak langsung menjawab. Hanya menggenggam pergelangan tanganku lebih erat, lalu menunjuk ke tengah padang kabut. “Oleh kebenaran yang tak bisa kau hindari.”
Aku ingin marah, ingin melepaskan tangannya, tapi sesuatu di dalam dada menahan. Entah mengapa, aku merasa jika aku berjalan sendirian, kabut ini akan menelanku bulat-bulat.
Kami melangkah perlahan. Semakin jauh kami berjalan, semakin jelas aku mendengar suara—nyanyian rendah, monoton, sama seperti yang kudengar di dekat batu besar tadi. Kata-katanya bergulir, menusuk telinga, merayap ke tulang:
“Jejak tidak pernah hilang… jejak selalu kembali…”
Aku menggigil. Suara itu bukan datang dari satu arah, melainkan dari segala sisi. Seolah tanah, pohon, bahkan kabut itu sendiri ikut bernyanyi.
Arka mempercepat langkahnya. “Jangan dengarkan terlalu dalam. Jika kau ikuti suara itu, kau akan tersesat selamanya.”
Aku mencoba menutup telinga, tapi suaranya tetap masuk, menembus tubuhku. Lalu sesuatu yang lebih aneh terjadi—aku mulai mendengar suara-suara lain di sela nyanyian itu. Suara ibuku, yang memanggil namaku. Suara sahabat lamaku, yang dulu hilang tanpa kabar. Bahkan suara ayah, meski aku tahu sudah lama ia dikubur.
Mereka memanggilku, merayuku, seolah menawarkan kesempatan untuk kembali.
Aku berhenti melangkah. Air mata tak sadar mengalir di pipiku. “Arka… mereka ada di sini.”
Ia menoleh cepat, matanya tajam menusukku. “Itu bukan mereka. Itu hanya jejak yang dipakai untuk memancingmu. Jangan percaya.”
Tapi bagaimana mungkin aku tidak percaya, ketika suara itu begitu mirip? Begitu nyata?
Aku hampir melangkah keluar dari jalur yang kami tempuh, tapi tangan Arka menahanku sekeras mungkin. “Lira! Jika kau pergi ke arah itu, kau tidak akan kembali. Percayalah padaku sekali ini!”
Aku terengah, berdiri gemetar, mencoba melawan tarikan batin yang menyakitkan. Kabut di sekelilingku semakin tebal, suara semakin keras, hingga aku merasa akan pecah.
Lalu tiba-tiba, tanah di depan kami merekah. Cahaya merah menyembur keluar, seperti bara yang menyalakan seluruh padang. Dari retakan itu muncul sebuah pintu hitam—tinggi, kokoh, tanpa gagang, hanya berdiri diam di tengah kabut.
Aku menatapnya dengan ngeri. “Itu… apa?”
Arka menghela napas panjang. “Pintu yang tak pernah menutup. Sekali kau membukanya, kau akan tahu segalanya. Tapi tidak ada jalan kembali.”
Dadaku berdegup liar. Buku hitam di pelukanku tiba-tiba bergetar, seolah mendorongku mendekati pintu itu.
Aku mundur setapak. “Aku tidak siap.”
Arka menatapku lama, kemudian suaranya melembut, berbeda dari sebelumnya. “Tidak ada seorang pun yang pernah siap. Tapi pilihan tetap harus dibuat. Jika tidak sekarang… maka jejakmu akan diputus selamanya.”
Aku menggigil. Pilihan. Kata itu menancap di kepalaku seperti panah. Di balik pintu itu ada kebenaran, tapi juga kehilangan yang tak bisa dipulihkan.
Aku menarik napas dalam, menatap pintu hitam yang bergetar seakan menungguku. Di dalam hatiku, aku tahu: inilah titik yang tak bisa kuhindari.
Dan di saat kabut semakin rapat, suara-suara semakin bising, aku melangkah mendekat.
Tanganku terulur.
Pintu itu mulai berderak, seperti sedang tertawa menyambut mangsanya.
