Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 – Luka yang Kembali

Pagi itu, cahaya matahari menembus celah jendela kayu, menerpa wajah Dara yang tertidur di kursi panjang ruang tamu. Rambutnya yang tergerai menutupi sebagian wajah, sementara matanya bengkak karena tangis panjang semalam. Raka menatapnya lama dari sudut ruangan, dengan secangkir kopi hangat di tangan. Ada rasa yang bercampur aduk di dadanya—bahagia, sakit, lega, sekaligus takut.

Ia bahagia karena Dara akhirnya kembali, meski hanya sebagai sosok yang terluka. Ia sakit karena harus melihat Dara hancur di tangan lelaki lain. Ia lega karena bisa menjadi tempat Dara bernaung. Tapi ia juga takut, karena ia tahu kedatangan Dara bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari badai yang lebih besar.

Raka menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, kampung ini kecil, dan kabar cepat menyebar. Jika ada yang melihat Dara di rumahnya, gosip pasti akan berkobar. Dan bila sampai suaminya tahu, masalah bisa lebih gawat dari yang ia bayangkan.

Dara perlahan membuka mata. Ia terkejut melihat Raka masih duduk tak jauh darinya. “Kau belum pergi kerja?” tanyanya dengan suara serak.

“Aku menunggumu bangun,” jawab Raka tenang. “Aku sudah pesan pada tetangga kalau aku libur hari ini. Kau butuh teman, kan?”

Mata Dara berkaca-kaca. “Terima kasih, Ka… kau selalu baik padaku, bahkan setelah semua yang kulakukan dulu.”

Raka hanya menggeleng. “Jangan pikirkan itu. Sekarang yang penting adalah kau aman.”

Hening sejenak. Hanya suara ayam berkokok di kejauhan dan desir angin dari sela-sela bambu dinding rumah. Dara menunduk, jemarinya meremas kain bajunya sendiri.

“Ka…” ia membuka suara lagi, kali ini lebih pelan, “kau tahu rasanya hidup dengan seseorang yang kau kira akan melindungimu, tapi justru menjadi penjara?”

Raka menelan ludah. “Aku hanya bisa membayangkan. Tapi aku lihat di matamu… luka itu nyata.”

Dara tersenyum getir. “Aku bodoh. Aku meninggalkanmu yang tulus, hanya demi harta dan janji manisnya. Aku kira hidupku akan lebih baik. Tapi setiap hari, aku merasa semakin kecil, semakin tidak berharga. Dia tak pernah benar-benar melihatku sebagai manusia.”

Kata-kata Dara menampar Raka. Hatinya berteriak ingin mengatakan: Sejak dulu aku sudah tahu, aku yang lebih mampu menjagamu. Tapi ia menahan diri. Ia tahu, Dara tidak butuh penghakiman, hanya butuh telinga yang mendengarkan.

“Dara,” ujar Raka akhirnya, “kau tidak salah karena memilih. Kau hanya salah karena percaya pada orang yang salah. Itu bukan dosamu.”

Dara menatapnya, dan di balik tatapan itu ada rasa bersalah yang dalam. “Tapi aku telah menyakitimu. Aku tahu itu. Dan sekarang aku kembali, membawa luka lagi. Apa kau tidak membenciku, Ka?”

Raka tersenyum pahit. “Aku sudah terlalu lama mencintaimu, Dara. Benci tidak pernah punya ruang di hatiku.”

Air mata Dara jatuh lagi. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, tubuhnya bergetar. Raka ingin memeluknya, tapi ia menahan diri. Ia tahu Dara butuh ruang untuk menumpahkan semua perasaannya terlebih dahulu.

Hari-hari berikutnya berjalan penuh kegelisahan. Dara mulai tinggal di rumah Raka. Awalnya hanya untuk semalam, tapi waktu berjalan, dan Dara tak punya keberanian untuk pulang. Ia membantu pekerjaan rumah, memasak, dan sesekali menyulam di beranda. Wajahnya perlahan terlihat lebih segar, meski bekas luka di pergelangan tangannya belum sepenuhnya hilang.

Namun Raka tahu, ini tak bisa bertahan lama. Kampung terlalu sempit untuk menyembunyikan rahasia sebesar ini. Beberapa tetangga sudah mulai melirik aneh, bahkan bisik-bisik di warung kopi makin sering terdengar.

Suatu sore, sahabat Raka, Bima, datang berkunjung. Ia masuk tanpa banyak basa-basi, duduk di kursi, dan langsung menatap Raka tajam.

“Ka, kau pikir orang-orang tidak tahu Dara ada di sini? Desa ini bukan kota, kabar lebih cepat dari angin.”

Raka terdiam.

“Lelaki itu—suaminya—bukan orang biasa. Kau tahu betul, dia punya uang, punya kuasa. Kalau dia tahu Dara sembunyi di sini, kau yang akan jadi sasaran pertama,” lanjut Bima.

Dara yang mendengar dari dapur langsung terdiam, wajahnya pucat. Raka menggenggam tangannya pelan, memberi isyarat agar ia tenang.

“Biarlah,” jawab Raka akhirnya. “Kalau memang dia datang, aku akan berdiri di depannya. Dara bukan miliknya untuk disakiti.”

Bima menghela napas panjang. “Kau ini keras kepala. Tapi aku tahu kau tidak akan mundur. Baiklah, aku di pihakmu. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan tinggal diam.”

Dara menatap Bima dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, Bima.”

Malam itu, Raka tak bisa tidur. Ia duduk di beranda, menatap langit yang penuh bintang. Di balik keindahan itu, hatinya berkecamuk. Ia tahu ia sedang menghadapi pertaruhan besar.

Ia mendengar langkah pelan di belakangnya. Dara keluar, membawa selimut tipis. “Aku tidak bisa tidur,” katanya lirih.

Raka tersenyum samar. “Aku juga.”

Mereka duduk berdampingan, tanpa banyak kata. Hanya suara jangkrik menemani. Setelah lama hening, Dara berbisik, “Ka… jika aku tidak pernah meninggalkanmu dulu, mungkin hidupku tidak akan seburuk ini.”

Raka menoleh, menatap wajahnya yang diterangi cahaya bulan. “Kalau begitu, mungkin kau tidak akan pernah tahu siapa dia sebenarnya. Semua orang punya jalan yang harus dilewati, Dara. Kau melewati luka ini, tapi itu bukan akhir. Kau masih punya kesempatan untuk memulai lagi.”

Dara menunduk, air matanya kembali jatuh. “Tapi aku sudah kotor, Ka. Aku sudah hancur. Bagaimana aku bisa memulai lagi?”

Raka mengulurkan tangannya, menyentuh lembut jemarinya. “Tidak ada yang kotor dalam mencintai dengan tulus. Luka bukan berarti kau rusak. Luka justru bukti bahwa kau pernah berjuang. Dan aku… aku akan selalu ada di sini, apa pun yang terjadi.”

Kata-kata itu membuat Dara terisak. Ia bersandar di bahu Raka, dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa aman.

Tapi ketenangan itu tak bertahan lama.

Beberapa hari kemudian, saat Raka pulang dari bengkel kayu, ia menemukan sebuah mobil hitam berhenti di depan rumahnya. Jantungnya langsung berdegup kencang. Ia tahu siapa pemilik mobil itu.

Di beranda, Dara berdiri ketakutan. Lelaki tinggi besar dengan jas rapi—suami Dara—berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya dingin, matanya penuh amarah.

“Jadi di sini kau sembunyi,” suaranya berat, menusuk udara.

Dara mundur selangkah. “Aku tidak akan kembali padamu!” teriaknya, meski suaranya gemetar.

Raka segera maju, berdiri di antara mereka. “Kalau kau mau marah, marah padaku. Tapi jangan sakiti Dara lagi.”

Lelaki itu menyipitkan mata, menatap Raka dengan penuh ejekan. “Siapa kau? Tukang kayu miskin yang merasa pahlawan? Kau pikir kau bisa melawan aku?”

Raka tidak gentar. “Aku mungkin miskin, tapi aku tidak akan diam saat seorang perempuan dihancurkan oleh orang yang seharusnya menjaganya.”

Suasana menegang. Dara menggenggam lengan Raka erat, tubuhnya gemetar hebat. Lelaki itu melangkah maju, tapi Bima muncul dari belakang rumah dengan sebatang kayu di tangan.

“Kalau kau pikir kau bisa seenaknya di kampung ini, kau salah besar,” kata Bima tegas.

Lelaki itu menatap mereka bergantian, wajahnya merah menahan amarah. “Baiklah. Kalian mau melindungi dia? Kita lihat sampai kapan kalian bisa bertahan.”

Ia berbalik, masuk ke mobil, lalu melaju pergi. Tapi Raka tahu, ancaman itu bukan main-main.

Dara terisak, jatuh berlutut di beranda. “Ka… aku takut…”

Raka memeluknya erat. “Jangan takut. Selama aku di sini, kau tidak akan sendiri.”

Dalam hati, Raka berjanji. Apapun risikonya, ia tidak akan melepaskan Dara lagi. Karena kesetiaan bukan hanya tentang menunggu, tapi juga tentang keberanian untuk melindungi.

Dan malam itu, Raka tahu—hidupnya akan berubah selamanya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel