Bab 5 Sebuah Rasa
Bab 5 Sebuah Rasa
Raya masuk kedalam cafe bersama Siska, di dalam Yuda sudah menunggu,
"Makasih sudah datang." Raya tersenyum.
"Kamu besok berangkat Yud?" Siska memastikan, Yuda mengangguk.
"Aku harap ada seseorang yang sabar menunggu Aku..." Matanya melirik Raya... Raya hanya terdiam.
"Mudah -mudahan orangnya segera sadar." lanjut Siska, membuat Raya mendelik, Sementara Yuda tersenyum memandang Raya.
"Ray, tolong nyanyiin lagu perahu kertas dong, please!" Yuda memohon, Raya mengangguk dan mulai menyanyikannya, mendadak semua isi Cafe hening menikmati suara Raya yang merdu dengan mata terkagum- kagum.
sampai Raya menyanyi di lirik ini, Raya sedikit tertegun ....
"Ku bahagia, kau telah lahir di dunia,
dan kau ada di antara milyaran manusia dan ku bisa, dengan radarku, menemukanmu...".
Yuda tersenyum, menyerahkan bunga untuk Raya dan mengecup kening Raya, Raya hanya terdiam bengong, pipinya memerah.
Yang ada di ruangan itu bertepuk tangan termasuk Siska.
"Kena deh sekarang..." Siska tersenyum jahil menatap Raya.
Raya mendelik melihat Siska, rasanya Raya ingin pergi dari tempat itu secepatnya tapi melihat Yuda, Raya mengurungkan niatnya dan duduk kembali di mejanya.
Yuda memotong steak yang di abaikan Raya dan meletakan kembali di hadapan Raya.
"Ray,makan!" Suara yuda membuat Raya mengangguk dan mulai memakannya.
"Mungkin besok- besok aku bakal jarang nemuin kamu Ray..." Yuda menatap Raya, Raya membalas tatapannya dan tersenyum.
"Cita- citamu lebih penting, jadi Fokus aja! kesempatan tidak akan datang dua kali." Yuda mengangguk.
"Tapi jangan lupa pulang kalo ada waktu!" Sela Siska, harusnya sih Raya yang bilang begitu,
"Pasti, untuk bidadariku, akan diusahakan." jawabnya.
"Bagus..." kata Siska, Raya hanya melihat mereka berdua dengan tatapan aneh. Raya melihat jam di tangannya,
"Sis, pulang yuk udah malem, anak perawan tidak boleh pulang kemaleman!" Raya nyengir.
"Aku anter!" Yuda mengambil kunci mobil dan handphonenya trus menarik tangan Raya, Siska cemberut.
"Aku tidak di tarik Yud?" Yuda ketawa geli,
"Ayo!!." Raya hanya diam dan masuk ke mobil.
rumah Siska sama Raya berjauhan tapi sejalan jadi Yuda mengantar Siska duluan.
"Makasih Yud..." Siska melambaikan tangannya. 10 menit kemudian sampai di rumah Raya,
"Makasih Yud, hati - hati dijalan besok, semoga betah selama pendidikan..." Raya tersenyum menatap Yuda, Yuda memegang tangan Raya, tapi dengan sopan Raya melepas tangan Yuda, dan Yuda mengerti.
"Terimakasih untuk malam ini..." Raya menganggukan kepalanya dan keluar dari mobil, Yuda melambaikan tangannya...
Mobil berbalik arah dan melaju melewati jalan juanda belok kekanan masuk perumahan Mewah....
Yuda memarkirkan mobilnya dan masuk kekamar, Yuda memejamkan matanya.
"Raya .... betapa aku ingin memilikimu tapi, kenapa begitu sulit." Yuda bergumam sendiri.
***
sementara di rumah Raya, Raya duduk di jendela memandang kosong ke taman...
Raya menarik nafas panjang dan sedikit mengeluh...
"Yuda ma'afin aku ...." gumam Raya.
"Aku tidak pantas buat kamu yud, aku hanya sampah..." Mata Raya berkaca- kaca dan akhirnya airmatanya tumpah.
Sebenarnya Raya ingin menolak Yuda secara terang- terangan tapi, Raya tidak tega karna Yuda terlalu baik, dia tidak kebaratan walaupun di tolak secara halus, permintaan Yudapun tidak banyak hanya mengajak makan dan bertemu sebentar dia terlihat sudah bahagia.
***
Raya bergegas menuju Hotel dan memulai pekerjaannya diwaktu istirahatnya Tito duduk juga di samping Raya,
"Kamu kenapa? tumben lemas?" Raya diam tidak merespon.
"Kamu lagi patah hati ya?" Tanya Tito penasaran, Raya melirik kearah Tito
"Aku tidak punya cowok Tito.... Trus aku patah hati sama siapa??." Tito sepontan ketawa, kenapa pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya. mulut Raya berubah keriting membuat Tito makin tertawa...
"Kamumah hidup di bikin susah Ray... banyak yang suka sama kamu, tapi kamunya cuek."
"Tidak sesederhana itu To... memang benar hidup aku ini kusut kayak benang bundet." Raya menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
jam menunjukan pukul 15 .00, Raya berkemas berganti Shift. saat berjalan menuju parkiran, nada panggilan di Handphone Raya berbunyi.
"Raya ada yang nyariin kamu nih di Cafe, tapi lagi teler dan ngamuk." Sambungan putus sebelum Raya ngomong, Raya cepet bergegas karna kalau cafe hancur kemungkinan besar peluang bekerja di situ juga tidak ada buat Raya, sampai di cafe Raya memarkirkan motornya, setengah berlari Raya masuk ke dalam cafe terlihat Alan di sana, Raya memukul jidatnya sendiri.
"Kamu kenal orang ini Ray?" Tanya Ali pemilik Cafe, Raya mengangguk.
"Itu bos aku... kenapa bisa di sini??" Raya mengerutkan keningnya,
"Bawa pulang sana ntar bikin ribut di sini!" Raya garuk- garuk kepala, mau dibawa kemana ini orang? kerumahnya tidak mungkin, setelah berfikir keras, Raya menghubungi pihak Hotel, dan untungnya Si Bos sudah membooking Hotel,
"Bang, tolong dong cariin kunci mobilnya di saku celana mungkin, aku tidak berani takut salah ambil." Raya cengar cengir sambil salah tingkah sendiri, Ali merogoh saku celananya dan memang kunci mobilnya ada di saku celananya Alan.
"Bantuin angkat bang, trus aku titip motor ya!"
"Ok, nanti jam 7 jangan lupa jadwal nyanyi
kalau kamu nanti tidak datang, pelangganku pada kabur!"
"Siap bang... makasih yah."
Raya menyetir mobil Alan pelan- pelan dan sampai ke depan Hotel, Raya minta tolong temennya untuk membawa Alan kekamarnya karna Alan menolak dan terus menempel sama Raya, terpaksa Raya juga ikut mengantar.
"Ya Tuhan ... ini Si Bos bikin aku setres aja." gumam Raya dan terdengar oleh Nino, Nino terkekeh.
"Ganteng inih Ray..." Raya menaikan bibirnya.
"Ganteng si ganteng tapi bikin aku susah ..." Nino ngakak meliat ekspresi muka Raya. Setelah masuk kekamar dan menidurkan Alan, Raya dan Nino keluar kamar.
"Aku mesti mandi lagi nih, perasaan badan aku kok bau alkohol ya ..." Raya bingung,
"Bibir Bos kamu kan nempel di pipimu ..." Raya mendelik sambil duduk ngacak- ngacak rambutnya frustasi...
"Mana kunci messnya biar aku tidur bentar, nanti mau ngamen di Cafe." Nino melempar kunci mess dan Raya menangkapnya terus ngeloyor pergi.
Jam 6 Raya bersiap ke Cafe ...
memakai dress putih dengan bunga yang banyak berwarna pink di bagian roknya memakai sepatu teplek hitam karna postur tubuh Raya tinggi, jadi jarang memakai sepatu heels.
Raya sampai di pintu Cafe di sambut oleh senyuman Ali, pemilik Cafe itu.
"Penggemarmu udah nunggu dari tadi tuh." Raya tersenyum geli...
"Aku ngamen bang, bukan konser..." Ali ketawa
"Apapun itu namanya yang pasti karena kamu nyanyi di sini, Cafe aku rame terus."
Raya berjalan masuk ke dalam, suara langkah Raya mengundang perhatian pengunjung kulitnya yang putih, mukanya Oval, hidung mancung, bulumata lentik dan lebat tanpa harus memakai bulu mata palsu, alis juga tebal rambutnya memakai bando kecil tapi menambah nilai plus dan bibirnya udah merah seperti bunga mawar tidak perlu pakai lipstik tebal sudah terlihat cantik, Raya naik keatas panggung, di sana sudah ada musik pengiringnya tersenyum menyambutnya ,suara musik mulai mengalun Raya meyayikan lagu- lagu romantis membuat semua terbuai dan asik dengan kegiatannya masing - masing. Satu jam telah berlalu Raya mengakhiri lagunya dengan...
"Lagu Cinta karna cinta.... Judika. "
Aku hanyalah manusia biasa
Bisa merasakan sakit dan bahagia
Izinkan kubicara
Agar kau juga dapat mengerti
Kamu yang buat hatiku bergetar
Rasa yang telah kulupa kurasakan
Tanpa tahu mengapa
Yang kutahu inilah cinta
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
*dan seterusnya....
Ketika lagu itu mengalun Alan yang sudah kembali normal masuk dan mematung di pintu masuk menatap Raya....
Setelah lagu selesai pengunjung bertepuk tangan, Raya tersenyum
"Terimakasih...". Itu yang terdengar oleh pengunjung, Raya turun dari panggung dan beradu pandang dengan Alan, Alan menyadari langsung mengendalikan dirinya dan tersenyum. Raya menghampirinya,
"Udah sembuh bos?" Raya takut Alan bikin keributan di situ, Alan tersenyum gugup.
"Ma'af selalu merepotkan..."
"Memang selalu merepotkan... makanya bos jangan teler mulu...!" Raya cemberut,
"Iya ma'af... makan yuk sebagai permintaan ma'af, aku traktir! mau di sini atau di tempat lain tidak masalah." Mata Alan sedikit memohon, Raya mengangguk walau mukanya masih cemberut karna perutnya juga udah keroncongan.
"Disini aja ..." Jawab Raya pendek, trus mereka mencari bangku, Raya duduk dengan diam, setelah hidangan datang Raya sibuk dengan makanannya, Alan hanya menatap Raya, menatap dari jarak dekat sudah membuat Alan senang, Raya beda dengan cewek- lainnya, Raya terlalu tenang menghadapinya.... tetapi sebaliknya, Alan suka dag dig dug walau semua itu masih bisa di sembunyikannya...
