Bab 6 Puncak (1)
Bab 6 Puncak (1)
Untuk merayakan Ulang Tahun Perusahaan Metro, Perusahaan mengadakan acara Liburan ke puncak untuk seluruh karyawannya, tentu saja semua karyawan tidak menolaknya termasuk Raya...
Perjalanan ke puncak menggunakan 3 bis pariwisata,
Jam 7 semuanya sudah kumpul di halaman kantor dan bersiap untuk berangkat, setelah berdo'a agar selamat dalam perjalanan, Satu per satu karyawan masuk ke bis dan duduk dengan tertib terakhir Raya yang masuk, hanya 2 kursi yang tersisa dan di sebelahnya kosong, kursi yang lainnya telah terisi penuh, Raya duduk dan memakai kacamata tidur dan menyandarkan badannya kesandaran kursi, tidak lama kemudian terasa ada seseorang yang duduk di sampingnya tapi Raya tetap diam dengan posisi semula. hingga bis berjalan membuat Raya lama- lama terlelap.
Alan yang duduk di samping Raya membuat sebagian karyawan merasa iri, tapi mereka tidak berani menunjukan di hadapan Alan, Alan menatap Raya yang tertidur memandang bibir Raya yang merah alami seperti bunga mawar membuat jantungnya berdetup kencang ingin rasanya mengecupnya lalu menekannya tapi Alan masih bisa menahan hasratnya.
"Kenapa wanita ini begitu mempesona?" gumamnya.
Perjalanan ke Puncak hanya memerlukan waktu 4 jam jadi acara makan siang di penginapan, bis berhenti di depan Villa...
semua rombongan turun masuk ke Villa, Raya menggeliat saat tau bis sudah sampai di tempat tujuan, ketika membuka kacamata tidurnya Raya kaget melihat Alan duduk di sebelahnya.
"Bos..." Raya bergumam sambil mengucek matanya kali aja matanya sliwer tapi memang Alan, Alan cuma melirik dengan sudut matanya tapi tetap diam, tanpa bersuara dan tanpa ekspresi juga, Raya cepat- cepat berdiri, dan turun dari bis.
"Untung aku pake kacamata tidur, kalau tidak bakal canggung duduk melihat si bos yang satu ini." gumam Raya. Ada 3 Villa yang di sewa dan sialnya Raya bareng satu Villa sama Alan, Raya berjalan melangkahkan kakinya dengan berat masuk ke dalam Villa, untung aja 1 kamar muat untuk 2 orang dan Raya sama Siska bisa bareng,
"Ray, kamu tidak tau tadi di sebelahmu Si Bos yang duduk?" Raya menggeleng.
" Kalo Aku yang ada di posisi kamu, aku bakalan pura- pura tidur, terus peluk tuh Si Bos." muka Siska berubah merona.
"Otak kamu tuh ya... kamu lagi mikir apa hah? Jangan -jangan mikir jorok?" Raya melotot, dan bergidik melihat muka Siska,
" Cuma orang bodoh yang melewatkan moment itu, yaitu kamu...? dia itu Bos terus ganteng, hidung mancung, bibir tipis dan merah kulitnya putih mulus, macho, matanya indah terus..." Raya menghindar masuk kamar mandi membuat Siska geleng- geleng kepala.
"Setelah punya Natan apa kamu berubah jadi lesbian? tapi kamu juga bersikap normal sama cewek termasuk aku..." Siska menggaruk- garuk kepalanya yang tidak gatal.
Waktu makan telah tiba, semua berkumpul di satu ruangan menikmati makan siang dan Roni menghampiri Raya, makan sambil berbincang dan terakhir Roni meminta pendapat Raya....
"Ray, mama aku 4 hari lagi Ultah, aku mau kasih kado, dari hadiah yang ketiga ini mana yang paling bagus?" Raya melirik layar handphone Roni dan Roni sedikit mencondongkan badannya kearah Raya, terlihat di hadapannya ada Baju, jaket dan cincin, lalu Raya menunjuk cincin, karena itu lebih cocok menurutnya, Roni mengangguk dan tersenyum,
"Terimakasih."
mereka tidak menyadari Lusi memperhatikan mereka dan sengaja lewat di belakang kursi mereka, melihat Raya menunjuk gambar cincin entah mengapa amarahnya memuncak. dia mengatupkan giginya dan bergumam.
"Liat aja nanti, kalau kamu merebut Roni dari aku, kamu cari mati Ray." Lusi geram dengan apa yang dilihatnya,
setelah makan siang rombongan di persilahkan istirahat acara akan di mulai pukul 7 malam.
Raya merebahkan badannya di tempat tidur melihat Siska yang sibuk telponan sama pacarnya. Raya segera menutup kepalanya dengan bantal berharap tidak mendengar kata- kata Siska yang manja atau mungkin sedikit lebay di buat- buat.
"Aku selalu sakit perut klo kamu ngobrol sama pacarmu." Siska menatap sinis sambil meletakan handphonenya.
"Kenapa?."
"Terlalu lebay...". jawab Raya singkat, Siska sepontan melempar bantal kemuka Raya hingga Raya terjungkal.
Jam 7 malam semuanya bersiap merias diri secantik dan setampan mungkin. Acara hari itu di mulai dengan sambutan, membuat api unggun dan pesta
Raya memakai dress putih polos dengam renda di roknya 2 baris, terus memakai jaket jeans biru muda dan memakai sepatu heels rendah sederhana tapi cantik.
Alan memberikan kata sambutan dan di susul membuat api unggun, mereka mengelilingi api unggun, berbagai jenis makanan tersedia di sana dan mereka mulai bernyanyi di iringi musik band dadakan tapi semua menikmati, Raya duduk di kursi sambil memutar- mutar gelas tehnya, kemudia Raya mendengar suara mc ...
"selanjutnya yang akan menyumbangkan lagunya adalah Raya .... Silahkan Raya !." Raya tertegun, yang lainnya bersorak
"Raya ... Raya...Raya..." Semua memanggil nama Raya serempak, Raya tidak berani menolaknya lalu berdiri dan maju kedepan,
"Raya lagu Menua Bersamamu donk duet!" kata salah satu karyawan, Raya mengangguk.
" Boleh, yang mau duet sama aku silahkan!" Roni dengan semangat maju...
semuanya hening mendengarkan suara merdu Raya dan Roni juga tidak kalah merdunya.
***
Hanya kamu di hatiku, yang mampu mengertiku
Menjadikan diriku yang lebih baik
Aku menyayangi kamu
Kamu selalu setia menemani diriku
Cinta kita memang tidak semudah yang dibayangkan
Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah
Tapi kini kita ada 'tuk saling menyempurnakan
'Ku berdoa untuk bisa hidup dan menua bersamamu
dst....
Mereka berdua saling pandang menikmati lagu yang mereka bawakan.
selesai lagu itu semua tepuk tangan, cuma Lusi yang memperlihatkan kebencian.
lagu selanjutnya di nyanyikan karyawan lain secara bergantian, Raya berdiri di samping Siska
"Suara kamu empuk banget Ray... sering denger kamu nyanyi tapi tidak pernah bosan." Raya cuma nyangir,
"Roti kali empuk." Mata Raya celingukan, mengedarkan pandangannya.
"Cowomu mana Sis?".
"Tuh lagi ngobrol sama temennya, sayang banget aku di cuekin." Siska cemberut,
"Kamu kebagian jam malam Sis." jawab Raya sekenanya, mata Siska terbelalak.
"Sok tau ..." tiba- tiba dari arah samping, Lusi menyiram badan Raya dengan Air es lumayan banyak, jaket sama dressnya basah semua dan sialnya Raya memakai baju putih lama- lama bajunya tembus pandang, muka Raya memucat dan mematung, tiba- tiba dari arah belakang ada yang memeluk raya dan cepat mengenakan jaketnya menutupi tubuh Raya, mengangkat Raya keluar dari acara itu ,
semuanya yang ada di situ bengong melihat kejadiannya begitu cepat dan yang bikin mereka kaget Bosnya yang menolong Raya.
Raya yang shock hanya diam menurut, mukanya di sembunyikan di leher Alan dan memeluk Alan erat menahan airmatanya yang akhirnya keluar dari sudut matanya, Alan sedikit panik karna Raya menggigil kedinginan maklum udara malam di puncak ditambah yang di siramin kebadan Raya adalah air es, Siska mengikuti dan membukakan pintu kamar, Alan menempatkan Raya di tempat tidur
"Sis tolong gantikan bajunya!" Siska hanya mengangguk, Alan keluar dan tidak lama balik lagi membawa teh panas.
"Minum pelan- pelan!" perintahnya lembut Raya cuma mengangguk.
"Masih dingin" tanya Alan menatap Raya sambil menarik selimut menyelimuti tubuh Raya, lalu Alan meraih tangan Raya dan menggosok- gosokan telapak tangan Alan ke tangan Raya, Raya menggeleng...
"Thanks..." Alan mengangguk dan pergi keluar dari kamar...
setelah Alan keluar Raya menangis, Siska memeluk Raya dan menenangkan.
"Lusi bener- bener kurang ajar..." Gumam Siska.
"Aku tidak pernah mengganggunya, kalo Si Bos tidak menolong menutupin badanku, mau di taro di mana muka aku." keluh Raya sambil menekuk kakinya lalu memeluknya.
"Nanti kita kasih pelajaran!" Nada Siska geram
Sementara Alan balik lagi ketempat pesta ngasih pengumuman
"Perhatian semua ... siapa yang tadi dengan sengaja menyiram air Es ke tubuh Raya, saya harap menghadap saya secepatnya!" semua terdiam, Mata Alan memerah tangannya mengepal dan pergi...
mata semua orang tertuju ke Lusi...
Lusi terdiam gemetaran, dia tidak menyangka kalo Bosnya turun tangan sendiri, niatnya mempermalukan Raya gagal total, sialnya dia menuai dari hasil pekerjaannya.
