Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Keluar Kota

Bab 4 Keluar Kota

Sampai kantor... tatapan sinis beberapa orang kantor tertuju pada Raya

"Ray, kerjaan kamu mangkal ya? apa di bawa Om- Om jalan- jalan?" Tanya Lusi, Raya terdiam sebentar lalu menjawab,

"Apa urusan kamu?" Muka Raya datar.

"Aku tidak menyangka, diam- diam kamu sering ke Hotel setiap malam sabtu sama minggu." Lusi tertawa dan diikutin temen- temennya yang lain. Raya hanya menatap Lusi kecut, tanpa mengatakan apa- apa, ketika Raya duduk di sebelah Siska, Siska langsung protes.

"Raya kenapa kamu diam aja? katakan sama mereka kalau kamu di situ cuma kerja." protes Siska, Raya tersenyum.

"Jika aku jelasin kalau aku memang kerja disana, mereka akan mencari celah yang lain, sudahlah itu tidak bakal berpengaruh bagi aku."

Sekarang yang aku bingung Si Bos baik banget sama Natan, kemaren biaya Rumah Sakit Natan dia yang bayar, terus beliin mainan harganya lebih dari 3 juta, dia manis di hadapan Natan." Raya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Siska melotot.

"kamu sama dia?"

"Eeeeits jangan berfikiran macam- macam ya, dia cuma nolong aku ... kita tidak ada hubungan apa- apa, mana ada yang mau sama aku, apa lagi dia Bos terus aku hanya orang kecil... terus aku sudah punya anak satu." Raya menceritakan dari awal sampai akhir, Siska mendengarkannya.

"Ada Yuda... Anggap aja itu memang sisi baik Si Bos." Raya tertawa...

"Aku tidak mau ngecewain Yuda... Iya Sis."

Dari dalam Si Bos memanggil Raya, Raya sepontan berdiri dan masuk keruangannya.

"Ada yang perlu saya bantu pak?"

"Kita akan bertemu klien di Bandung besok, menangani proyek Hotel disana. Saya harap kamu mempersiapkannya!".

"Baik pak..." Raya keluar dari ruangan Bosnya dan mulai bersiap.

***

"Mam Raya keBandung besok, mungkin 1 atau 2 hari di sana." Mamanya Raya mengangguk

"Jaga kesehatanmu! di sana cuaca dingin, jangan lupa bawa jaket!"

"Siap mam, Natan mana mam?" Mata Raya mencari- cari Natan.

"Atan cini mam..." Natan berteriak di ruang bermain dan berlari menghampiri Raya lalu mencium pipi.

Raya, Raya tersenyum bahagia melihat Natan ceria,

"Anak mama...." Natan Raya peluk,

Pagi- pagi ketika Raya keluar rumah, sudah ada mobil yang menunggu di depan rumahnya, melihat Raya keluar pintu mobil di buka, Raya hanya mengangguk dan masuk duduk di sebelah Alan.

"Bapak yang nyetir sendiri?"

" Ya, kenapa?" Raya menggeleng,

mobil melaju dengan kecepatan rata- rata, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam mereka sampai di sebuah hotel dan memarkirkan kendaraannya.

"Ayo masuk!" Ajak Alan.

ternyata kamar di sana cuma tersisa satu, Alan melirik Raya, muka Raya jelas mengisyaratkan keberatan tapi Alan tetap mengambil kuncinya, dan Raya pasrah.

"ini sudah malam dan besok kita akan bertemu klien yang pertama di hotel ini."

"Saya kira, kita tidur di hotel yang saya booking kemaren pak." Alan menggeleng,

"Kalo kita nginep disana, butuh waktu lagi lama kita kembali ke sini." dengan berat hati Raya menurut.

Setelah Raya mengganti baju, Raya duduk di sofa, Alan cuek dengan laptopnya. Lama- lama Raya menyandarkan kepalanya di sofa dan tertidur.

Alan yang menyadari Raya sudah tertidur, mengambil bantal dan selimut, membenarkan posisi tidurnya saat menyelimuti Raya, tangan mereka bersentuhan, Alan merasakan tangan yang lembut membuat sengatan listrik di tubuhnya, cepat- cepat Alan menjauh.

Ini cewek satu-satunya yang membuat Alan gugup jika terlalu dekat dengannya.

***

Pagi - pagi Raya bangun dan melihat sekelilingnya, hatinya lega karena dia tidur tidak seranjang dengan Si Bos, badannya juga masih utuh bajunya masih dalam keadaan lengkap dan tertutup selimut tapi Si Bos menggigil di sofa, dengan ragu Raya mendekatinya memegang keningnya panas, mungkin karna semaleman dia tidur tidak memakai selimut, Raya merasa bersalah, setelah memesan sarapan, Raya memutuskan sarapan di kamar.

"Bos... Bos..." Raya memanggil Alan, Alan membuka matanya.

"Sarapan dulu dan minum obatnya!" Raya meletakan Obat di samping mangkuk bubur, Alan hanya mengangguk, Raya masuk kamar mandi dan mengganti pakaian.

Alan bangkit dari sofa , walaupun kurang sehat tapi tetap tidak mengurangi aura machonya, Alan masuk kamar mandi dan mengganti pakaian.

" Ayo berangkat!".

" Bos yakin mau berangkat?"Raya ragu

" Ya..." Alan membuka pintu kamar dan berjalan keluar di ikuti Raya

Meeting berjalan lancar dan di lanjut perjalanan untuk bertemu klien yang lain ...

Raya mengemasi barang- barang dan memasukannya ke mobil, terlihat muka Alan lebih pucat.

" Bos apa lebih baik kita kedokter aja?".

" Tidak perlu...."Raya terdiam

"Baiklah saya yang bawa mobilnya." Raya merebut kunci dari tangan Alan, Alan diam dan masuk mobil, sepanjang perjalanan Alan tertidur, Raya menyelimuti tubuh Alan dengan selimutnya, setelah sampai ke hotel A, Raya baru membangunkannya,

"Bos sudah sampai..." Alan terbangun dan segera masuk kekamar masing - masing , sebelumnya Raya mengingatkan jam 7 malam ketemu klien yang lain, Alan cuma mengangguk.

Jam 6 Raya udah siap mengenakan gaun peach dan pakai blazer warna abu- abu. Raya keluar dan mengetuk pintu kamar Alan, tidak lama Alan keluar,

pertemuan dengan klien sukses, kini tinggal Raya dan Alan yang ada di situ.

"kita makan...!" Raya mengangguk

mereka makan dengan hening, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka sampai makan malam selesai, Akhirnya mereka masuk ke kamar masing - masing.

***

Tengah malam badan Alan makin menggigil, dengan terpaksa Alan menghubungi Raya, Raya segera datang kekamar Alan membawa Obat dan Vitamin.

"Kita kedokter!" Raya cemas, tapi Alan menggeleng, Raya menarik nafas dalam dan mengompres Alan.

"Kalo begitu, minum obatnya dulu!" Perintah Raya, Alan duduk dan meminumnya setelah itu berbaring lagi, dengan sabar Raya bolak balik mengompres Alan hingga akhirnya Raya tumbang tidur di pinggiran tempat tidur, tangannya masih memegang handuk kompresan, sementara kepalanya tertidur di tempat tidur posisinya miring menghadap Alan, ketika Alan bangun hampir saja mukanya menyentuh muka Raya, deg.... dada Alan berdebar melihat muka Raya yang sangat lembut, sejenak mengalihkan dunianya,

" Ray bangun, kita sarapan trus pulang." Raya membuka matanya dan loncat kaget ketika wajahnya hampir bersentuhan dengan wajah Alan.

"Heyy tenang, Saya tidak ngapa- ngapain kamu." Raya tidak berkata apa- apa, hanya mematung Raya merasakan badannya remuk, bangkit terus keluar kamar Alan menuju kamarnya sambil menggerutu,

"Tidur di hotel kaya tidur di tempat pengungsian." bibir Raya keriting...

setelah mengemas barang- barang dan sarapan, Raya masuk ke mobil Alan sambil menguap, Alan melirik tapi tanpa bersuara terus menyalakan mesin mobilnya.

sampai di rumah Raya langsung masuk kamar dan tertidur pulas karena kelelahan.

***

Pagi- pagi Raya meluncur dengan motor bututnya ke kantor, di parkiran Raya bertemu dengan Siska.

"Apa kabar Ray...? kangen sama kamu 2 hari tidak bertemu." Raya melirik Siska

"Kangen sama inikan, bukan aku?" Raya mengacungkan peyeum bandung, batagor sama cireng bandung, muka Siska cerah tersenyum lebar melihat oleh- oleh yang di bawa Raya dan merebutnya terus pergi ninggalin Raya.

"Makasih Rayaku...bye..." Raya menggeleng- gelengkan kepalanya,

"Bener kan kangennya sama oleh- oleh aku aja." Raya bergumam, terus berlari mengejar Siska tapi sial malah menabrak seseorang, Raya menatap orang yang Raya tabrak, karna Raya hampir terjatuh kalo tidak orang itu yang menahannya, tapi setelah tau yang di tabrak adalah Alan, muka Raya merah padam menahan malu, apa lagi tangan Alan reflek melingkar di pinggangnya, Buru - buru Raya membetulkan posisinya.

"Ma'af pak." Alan diam aja dan berlalu seperti tidak ada kejadian apa- apa,

Siska yang melihatnya terkikik.

"Rejeki Ray, karna kamu udah berbaik hati sekali ngasih aku oleh- oleh, di peluk mahluk ganteng deh."

"Mahluk astral kali..." Raya manyun dan pergi ke ruangan kerjanya.

"Kamu belum pernah pacaran si, mana tau orang ganteng sama yang tidak ganteng, cepet cari pasangan! keburu tua, kamu tidak laku nanti." Omel Siska, Raya diam tidak mempedulikan Siska, sampai akhirnya Siska diam sendiri.

Di kantin Raya makan siomay dengan lahap karna pagi tadi tidak sempet sarapan di rumah, Siska duduk di sampingnya.

"Ray, nanti malem ke cafe Bunga bisa?" Suara Siska sambil memasukan mie Ayam kemulutnya, Raya menoleh.

"Ada apa?" Raya mengerutkan keningnya.

" Yuda mau pamit, dia masuk Akpol, sebelum berangkat mau ketemu kamu dulu."

" Baiklah."

"Kamu tidak mau ketemu Yuda Ray...?"Raya meletakan sendoknya

"Bukan begitu, aku merasa tidak pantas buat dia."

"Karna itu kamu selalu menghindar?" Raya mengangguk.

"Masalalu itu tidak di sengaja Ray, bahkan kamu tidak pernah tau siapa dia, Yuda menerimamu apa adanya."

"Ini berat buat aku." Siska terdiam, karna tau gimana Raya menjalani semua ini.

mereka tidak sadar, kalau di balik penyekat ruangan kantin ada Alan yang taksengaja mendengarkan percakapan mereka.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel