Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Natan

Bab 3 Natan

Tidak sampai 5 Menit mobil sampai parkiran hotel dan Alan meminta Raya membantu membawakan beberapa dokumen kekamarnya, Raya hanya mengangguk setuju. Raya sama Alan masuk melewati lobby dan berjalan ke kamar Alan, teman - teman Raya melongo melihat mereka jalan bareng dan telihat kompak.

"Kamu dari mana Raya? cantik banget, yang di sebelah juga ganteng, cocok." mulut lemes Yuni kumat, pipi Raya merona.

"Habis ngamen..." jawaban Raya asal.

"Ya Tuhan Ray... kita kira kamu abis kencan, cepat cari pasangan nanti keburu peot!" Yuni ngeledek, tapi Raya tidak merespon apa- apa dan berlalu meninggalkan temannya, Alan melirik sekilas dengan sudut matanya, mendengar ledekan teman Raya, hati Alan tiba- tiba merasa senang, berarti yang tadi meluk Raya kemungkinan besar bukan pacarnya.

Raya berhenti di depan pintu kamar dan menyerahkan dokumen pada Alan

"Masuk!"perintah Alan, Raya menggeleng

"Saya butuh kamu malam ini." Raya terbelalak, pikirannya sudah kemana- mana, dan gilanya otak Raya sudah menjurus ke hal yang jorok- jorok.

"Saya tidak akan makan kamu... Tadi saya udah menghubungi managermu untuk ijin 1 hari ini untuk tidak bekerja."

"Tapi... " Raya ingin sekali menolak dan kabur dari situ atau menghilang sepertin jin.

"Saya akan mengganti kerugiannya. "

"Bukan itu...."Nafas Raya berat, Alan melihat ada sesuatu yang mengganjal di hati Raya.

"Ada apa?" Alan mengerutkan keningnya,

"Saya tidak suka kamar nomor 9." Raya menunduk, Alan menaikan alisnya

"Ada apa di kamar nomor 9?".

"Pengalaman buruk pak."

"Baik kita pindah kamar." Alan dengan cepat memesan kamar lagi, Raya hanya diam, tidak lama Yuni datang membawa kunci kamar nomor 11.

"Silahkan Tuan..." Yuni menyerahkan kunci dan sekilas melihat Raya seperti patung, Yuni merasa heran.

"Makasih..." Yuni mengangguk lalu pergi.

"Ayo masuk!" Raya masih terdiam dan bengong,

"Apa tidak ada tempat yang lain Bos?" Raya setengah bergumam, Alan mengacak - ngacak rambutnya,

"Ray... Malam- malam begini apa kita harus kerja di cafe atau tempat makan atau semacamnya?"Raya menggeleng,

"Lalu apa masalahmu lagi?"Alan memandang tajam muka Raya,

"Baiklah..." Akhirnya Raya pasrah, saat Alan masuk ke kamar, Raya tidak bisa menolaknya dan mengekor di belakang Alan.

dokumen di taruh di meja dan Alan mengeluarkan laptop dan mulai bekerja, Raya membantunya mengecek satu per satu dokumen, Alan melirik Raya, terlihat wajah Raya lelah dan Alan berhenti.

"Kamu istirahat kalo capek, biar saya selesaikan sendiri!" Alan menunjuk tempat tidur, Raya menggeleng.

"Tidak baik saya tidur di sini, saya perempuan."

"Saya tidak akan ngapa- ngapain kamu." Muka Alan meyakinkan. Raya menarik nafas dalam.

tiba- tiba handphonenya bunyi, Raya menatap Alan, Alan menganggukkan kepalanya menyetujui Raya untuk mengangkat panggilan teleponnya.

"Raya apakah kamu bisa ijin pulang? Natan tiba- tiba demam tinggi." Mama Renata terdengar gugup.

"Natan demam mam? Raya pulang sekarang." Alan menatap Raya .

" Pak ma'af..." suara Raya tertahan, Alan berdiri, memeluk Raya untuk menenangkannya,

"Saya antar! Motormu di bengkel bukan? ini sudah malam." Tanpa menunggu persetujuan Raya, Alan menarik tangan Raya, meninggalkan pekerjaannya berjalan dengan tergesa- gesa menuju parkiran,

Mobil melaju ke rumah Raya, karna sudah tengah malam, cuma butuh waktu 15 menit untuk sampai kerumah Raya.

Raya keluar dari mobil setengah berlari dan terisak.

"Mam, Raya bawa Natan ke Rumah Sakit ya!" mamanya Raya hanya mengangguk, Alan membantu mengangkat Natan, melihat mata Natan, Alan langsung jatuh hati.

Raya memeluk Natan dan meminta Alan mengemudi dengan cepat, Natan masuk UGD dan Dokter menyarankan Natan di rawat. Raya mengangguk lemas, Alan memeluk Raya yang terisak,

"Tenang semua akan baik- baik aja."

" Makasih pak, bapak telah membantu saya. "

Setelah masuk ruang perawatan 1 jam kemudian Natan membaik, panasnya berangsur turun, mata indahnya menatap Raya

"Mama... Atan baik." sambil tersenyum, Raya memeluknya

" Jangan membuat mama khawatir." Raya terisak

"Janan Lais mama!"Raya menyeka air matanya

"Iya mama tidak akan nangis lagi." Raya mencoba tersenyum.

Alan yang mendengarnya terkejut, yang dia tau Raya single, kenapa punya anak.

tapi rasa penasaran itu di tahannya, karna tidak baik di situasi seperti ini dia menanyakan hal itu. Natan menatap Alan dan bertanya

"Apa mama bawa papa?"pertanyaan itu membuat dada Raya sesak, Raya meundukkan kepalanya mengatur nafasnya dan menyembunyikan kesedihannya, bagaimana dia akan mempertemukan Natan sama papanya, sedangkan Raya sendiri tidak pernah tahu papa Natan seperti apa, Raya menggeleng...

"Bukan sayang, itu bos mama... yang menolong Natan." Natan mengangguk dan diam, tidak ada lagi yang dia tanyakan,

Mendengar pertanyaan anak kecil itu Alan bengong.

"Makasih pak atas bantuannya.. Ma'af telah merepotkan." Alan tersenyum

"Saya sama sekali tidak merasa keberatan, Saya pamit pulang, kalo ada apa- apa jangan sungkan hubungi saya."

"baik pak, sekali lagi terimakasih." Raya mengantar Alan sampai pintu ruangan.

***

Dua malam Natan di rawat dan akhirnya di perbolehkan pulang, muka Natan sudah ceria dan bahkan berlari- lari membuat Raya kewalahan.

Alan mengetuk pintu ruangan

"Hai Natan." sapa Alan sambil tersenyum

"Hai pak bos." kata Natan sambil menghentikan aktivitasnya.

"Panggil aja Om."Natan diam

"Ok Om bos." Alan tertawa ....

"Ray... anakmu lucu." Raya hanya tersipu melihat tingkah anaknya, sesekali Alan mencium pipi Natan.

"Karena Natan sudah sembuh Om bawain Natan hadiah." mata Natan langsung membulat dan mencari- cari hadiahnya.

"Tapi Om bos nda bawa?". Natan kebingungan.

Alan tertawa lagi .

"Anak pintar... hadiahnya ada di mobil, kalo sampai rumah baru Om kasih."

"Ok Om bos." Natan melonjak kegirangan

"Ayo tulang...mam!" Alan tersenyum

"Ok." Jawab Raya lembut,

"Pak Saya mau mengurus administrasi dulu." suara Raya pelan sambil mengambil tas dan melangkah keluar.

"Sudah Saya urus." Raya membalikan badannya dan menyerahkan uang kepada Alan, Alan menggeleng

"Tidak perlu..., Saya sudah jatuh hati sama Natan jadi anggap aja ini pemberian dari Omnya untuk Natan." Raya merasa tidak enak hati.

"Tapi...".

"Itu buat keperluanmu yang lain." Nadanya mengeras membuat Raya terdiam, karna tahu bosnya kalo udah marah kaya macan ngamuk.

"Makasih." Suara Raya pelan.

"Ayo Natan kita pulang!" Natan di gendong Alan, tidak seperti biasanya Natan mau di gendong sama orang asing. Raya heran ...

tapi Raya hanya terdiam dan mengekor di belakang Alan.

Di sepanjang lorong Rumah Sakit terkadang ada orang yang menyapa Natan karena tidak tahan melihat muka Natan yang tampan,

"Wah kalian serasi... Dedeknya tampan mirip papanya." beberapa suster tersenyum bahkan mencubit gemas pipi Natan,

"Tentu." Jawab Alan Asal, Raya tiba- tiba batuk dan melotot kearah Alan, sementara Alan nyengir membalas tatapan Raya,

"Ngaku- ngaku anak orang." gumam Raya tapi masih terdengar di kuping Alan,

"Anggap aja Natan karya kita." Alan meledek Raya lagi,

"Boss gila..."sungut Raya, Alan tidak memperdulikan Raya, dengan santai membawa Natan masuk ke mobilnya,

Sampai di rumah, Natan masuk sambil berlari

"Nenek Atan tulang..." mamanya Raya tersenyum dan memeluk Natan, sementara Alan sibuk membawa beberapa dus barang dan yang terakhir keliatan besar banget, Raya mengerutkan keningnya.

"Ini apaan pak, kaya mau pindahan?".

"Mainan buat Natan..." Jawabnya cuek

"Sebanyak ini???" Raya melotot, beli mainan kaya beli se isi tokonya. Alan tidak peduli dan memanggil Natan.

"Ayo kita main Natan!" Natan menghampiri Alan dan tersenyum lebar dan matanya berkilau

"Wawww Om bos kerennn, mainannya banyak..." Natan terkagum- kagum, Mama Raya juga terkejut melihatnya dan berbisik.

"Bukankah itu pria yang mengantar Natan ke Rumah sakit?" Raya menganggukan kepalanya.

"Bos Raya mam..." Lama Alan bermain dengan Natan, Natan naik mobil- mobilan Remot, Alan yang mengendalikannya dan Natan bersandar di kursi terus terlelap, Alan menghentikan mobilnya dan mengangkat Natan ketempat tidur, Mama Raya dan Raya hanya bengong melihat tingkah Alan...

"Makan dulu Nak...!" perintah Mama Raya, Alan hanya mengangguk, dan makan tanpa bersuara. setelah selesai makan Alan pamit pulang.

"Makasih..." Raya menatap Alan, dengan muka bingung, Alan hanya mengangguk.

Setelah Alan pergi mama Raya menatapnya

"Pacarmu?" Raya menggeleng.

"Raya mana berani mam... masalalu Raya sangat memalukan." Raya menunduk

Mamanya Raya hanya menarik nafas dalam...

"Raya juga bingung, Tagihan Rumah sakit dia yang bayar dan membelikan mainan sebanyak ini, Raya merasa tidak enak makan..." Nada suara Raya berat.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel