Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Pekerjaan Raya

Bab 2 Pekerjaan Raya

Sabtu ini Raya kebagian shift malam, jadi paginya bisa jalan- jalan sama Natan, Raya ajak Natan mandibola di Mall yang tidak jauh dari rumahnya, bermain sama Natan membuat stress Raya hilang, sementara tingkah lucunya membuat Raya gemas bahkan orang lainpun sering memegang pipi Natan, meremasnya pelan sampai terlihat sedikit memerah karena gemas,

Setelah Natan bosan main, mereka keliling melihat - lihat baju buat Natan sampe akhirnya Natan merengek mengantuk dan minta pulang.

Jam 10 malam Raya siap -siap berangkat ke hotel menembus malam yang dingin, mungkin bagi semua orang ini waktu buat mereka istirahat di akhir pekan, tapi tidak berlaku bagi Raya, Raya masuk ke parkiran, memarkirkan motornya berganti pakaian dan mulai kerja,

jam menunjukan pukul 00.00 hotel juga mulai sepi tapi ada seorang laki- laki sempoyongan masuk dan mengambil kunci di resepsionis,

"Ray, bantu tuh! kebetulan Tito lagi istirahat." terpaksa Raya mengangguk mendekatinya untuk membantu, tapi Raya kaget setelah berada di depannya.

"Bos..." Raya setengah bergumam, si bos melirik Raya.

"Raya..." dia langsung mengalungkan tangannya di pundak Raya karna keseimbangannya kurang, Raya mencium aroma tubuhnya sepertinya tidak asing, tetapi Raya lupa dimana Raya pernah mencium bau parfum ini,

"Akh bodoh... Ya iyalah sudah pernah mencium baunya, orang Si Bos satu kantor dan Raya sering bareng." Raya bergumam dan menepuk jidatnya,

Atau mungkin banyak tamu salah satunya memakai parfum ini juga pikirnya, Raya menuntunnya kekamarnya kamar nomor 9, kamar yang tidak pernah mau Raya masukin tapi untuk pelayanan tamu Raya terpaksa mengecualikannya, Raya membaringkan Si Bos di tempat tidur, lalu melangkahkan kaki untuk keluar kamar, tapi ketika Raya hendak keluar, dia memanggil Raya.

"Ray..." Dan belum sempat melanjutkan kata - katanya dia muntah, Raya sedikit kesal tapi masih bisa menahannya, Raya terpaksa membersihkan semuanya dan cepet- cepet pergi dari tempat itu .

"Sial ... " umpat Raya.

"Kenapa ray?"

"Tamunya teler, waktu masuk kamar malah muntah." Tito ketawa

"Rejeki itumah Ray... kalo malam minggu banyak yang gitu apa lagi kalo bawa cewe makin ribet." Jawab Tito.

"Itu yang tadi bos Aku." Tito melongo menatap Raya

"Bos kamu...? Dia hampir setiap malam minggu tidur di sini dalam keadaan teler tapi tidak pernah sekalipun membawa cewek, trus anehnya dia selalu memesan kamar nomor 9."

"Selain nomor 9 dia menolaknya?" Raya merasa sedikit aneh, tapi kebalikannya Raya yang jarang mau masuk ke kamar nomor 9, mungkin orang juga bisa bilang Raya aneh.

"Iya dia suka booking 2 hari sebelumnya." Jelasnya.

Setelah jam kerja selesai Raya istirahat sebentar di Mess untuk menghemat waktu Raya tidak pulang karena jarak hotel sama cafe berdekatan, setelah istirahatnya cukup Raya mandi dan bersiap -siap pergi ke cafe, tapi saat keluar dari lobbyYuni memanggil

" Ray ada yang mau ketemu."Raya mendekat ke arah Yuni, dan mengerutkan keningnya,

"Tamu kamar nomor 9." Raya mengangguk berat dan menarik nafas kasar tapi tetap sopan lalu menemuinya.

"Ada apa bos?" Raya bertanya dan duduk tak jauh dari bosnya,

"Panggil Alan aja kalo di luar, tidak usah pake bos" Raya mengangguk,

"Ada apa?" Tanya Raya mengulang pertanyaannya lagi, Raya tidak punya banyak waktu untuk meladeni bosnya yang kalu di kantor super dingin dan cuek.

"Ma'af telah merepotkan." Alan nampak ragu- ragu

"Tidak apa- apa itu memang pekerjaan saya, kalo begitu saya pamit." Raya berdiri ketempat parkiran dan pergi.

Alan bengong melihat tingkah Raya, jarang orang mengabaikannya walaupun dia cuek tapi tidak sedikit cewek minta perhatian darinya. Alan berdiri dan meninggalkan hotel menaiki mobilnya dan berhenti di cafe yang jaraknya cuma sekitar 200 meter dari hotel, karna penasaran melihat Raya belok ke cafe itu, dengan ragu Alan masuk dan melihat Raya sedang menghibur tamu cafe, suaranya sangat merdu membuat Alan enggan pergi, tapi Alan terpaksa mengurungkan niatnya untuk duduk karena gengsi kalau Raya melihatnya.

***

Pagi itu Raya membuat kopi di pantry dan membawanya kemeja kerja, dengan langkah gagah dan cueknya Alan masuk ke ruangan melewati Raya, tapi Raya sama sekali tidak tertarik padanya tidak seperti orang - orang di sekitarnya yang melihat muka Si Bos dengan wajah mupeng, Alan melirik Raya dan masuk ke ruangannya.

Gadis ini memang membuat penasaran Alan, melihat dia bekerja di 3 tempat tanpa mengurangi kualitas kerja di kantornya, membuat Alan kagum, ingin mendekatinya dan mengenal lebih jauh.

Tapi tiba- tiba Alan murung seketika mengingat kejadian 3 tahun yang lalu, saat dia mabuk dan membawa anak gadis dan mengambil kesuciannya membuat rasa bersalah itu muncul lagi dan selalu menjadi bayang- bayang hidupnya selama ini, gadis itu hanya meninggalkan tas kecil dan anting- anting yang tersangkut di bantal, sayang sekali Alan tidak mengingat wajah gadis itu karna terlalu mabuk. Sudah 3 tahun Alan mencarinya tapi tidak ada jejak sekalipun. Alan menarik nafas berat ...

Alan tersentak kaget saat pintu di ketuk Raya.

"Ya masuk!" Raya muncul dengan ekspresi datar

"Pak ini kontrak kerjasamanya tolong diteliti! nanti siang jam 13.00 bapak ada rapat dengan perusahaan A." setelah itu Raya berbalik dan keluar dari ruangan Alan dengan sopan.

Di meja kerja Raya, Siska menunggu Raya

"Ray ... malam minggu besok aku mau adain pesta ultah aku di Cafe Bunga, kamu pas masuk kerja apa tidak? soalnya aku mau kamu yang jadi penyanyinya." Raya tersenyum menatap sahabatnya,

"Bisa diatur buat kamu apa yang tidak sih." Siska tersenyum lega, Siska tau kalau yang berhubungan dengan uang pasti Raya cepat tanggap, bukan Raya matre tapi memang Raya membutuhkannya, Siska tahu keadaan Raya. Tapi muncul kecemasan di wajah siska, menatap muka Raya yang menyembunyikan lelahnya.

"Jaga kesehatanmu Raya!" Raya memandang sahabatnya menarik nafas dan tersenyum

"Pasti... Ini semua demi Natan dan Mama." Siska mengangguk,

"Aku tahu kamu kuat... Semoga Kedepannya kamu mendapatkan kebahagiaan yang sepadan dengan kerja keras kamu sekarang." Raya memaksakan senyumnya,

****

Malam minggu Cafe Bunga

terlihat ramai dengan teman- teman Siska, Raya duduk di kursi dan mengalunkan lagu- lagu romantis, Raya memakai gaun hijau tosca tanpa lengan dan renda bunga kecil mengelilingi pinggangnya, memakai gelang motif bunga, rambutnya tergerai hitam lurus membuat penampilannya sempurna, riasan di wajahnya tidak berlebihan tapi sudah cukup menarik perhatian, Siska juga cantik memakai gaun pink muda dengan manik- manik di bagian bawahnya, memakai bando dan rambutnya dililitkan menambah kecantikannya, hanya yang membedakannya Raya lebih ramping dan tinggi.

Saat Raya menyanyikan lagu Bcl "CintaSejati." Alan masuk dan terdiam di pintu Cafe menatap Raya dalam sampai lagu itu selesai...

Raya turun dari panggung dan menemui Siska

"Met ultah Sis... do'a terbaik untukmu."

"Makasih Raya..." Siska memeluk Raya,

Tiba- tiba muncul seseorang pria tampan, putih bersih, tinggi ,kekar, dan berambut cepakmemeluk Raya, Raya sedikit kaget dengan pelukan yang tiba- tiba tapi, setelah melihat wajah pria itu Raya tak menolak pelukannya,

"Apa kabar?" suara lembutnya memabukan orang sisekitarnya,

"Baik Yud..."Dari kejauhan sepasang mata tajam dan muka memerah memperhatikan Raya dengan kesal.

Siska yang sadar kedatangan bosnya langsung menemui bosnya.

"Silahkan duduk bos!"Alan dengan cepat merubah ekspresi wajahnya dan akhirnya bisa menguasai perasaannya dan bersikap cuek kembali.

"Selamat ulang tahun Sis..." Kata Alan sambil mengulurkan tangannya, Siska menyambutnya,

"Terimakasih pa, silahkan di nikmati hidangannya!" Alan mengangguk.

pandangan Alan makin tajam ketika Raya dan Yuda naik keatas panggung Yuda menyumbangkan lagu ONCE "Aku mau" Semua bersorak kecuali Alan.

Karena sudah malam Raya pamit pada Siska untuk pergi ke hotel tempat dia bekerja.

"Sis aku pamit duluan ya!" Raya pamitan, Siska mengangguk

"Mau di antar ?"Yuda menawarkan bantuannya, Raya menggeleng.

"Aku ke hotel Yud, tuh dekat." Raya menunjuk hotel Mutia

"Baik kalo gitu, sampai ketemu lain waktu..."Raya mengangguk.

Raya keluar dan jalan kaki menuju hotel kebetulan motornya ngadat minta ke salon, langkahnya pelan menyusuri trotoar, tiba- tiba mobil berhenti pas di samping Raya,

"Masuk!" Suara bosnya yang cuek terdengar di telinga Raya, Raya menoleh ke arah mobil dan menggeleng.

"Kita satu tujuan." Raya akhirnya setuju dan tidak bisa menolak karena pintu mobil sudah terbuka,

Setelah duduk di mobil Raya menatap Alan dan bertanya,

"Kenapa tiap malam minggu bapak tidur di hotel? dan nomor kamarnya 9?" Raya bertanya dengan ragu- ragu

"Karna aku menunggu seseorang di kamar itu untuk kembali." Raya binggung dengan jawaban Bosnya, tapi Raya tidak berani lagi menanyakan lebih jauh.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel