Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13 Di Rumah Sakit

Bab 13 Di Rumah Sakit

Alan tiba di kantor, setelah mendapat kabar, rasa bersalah datang karna dia menambah pekerjaan yang berlebihan pada Raya, gara- gara dia kesal karna tau Raya jadian sama Yuda, harusnya dia tidak mencampur adukan masalah pekerjaan dan hati tapi kenyataannya Alan tidak bisa mengendalikan emosinya,

"Ma'afin aku Ray..." Gumamnya, Alan lemas melihat darah berceceran di mana- mana, Alan bisa membayangkan betapa ketakutannya Raya, Alan menarik nafas panjang,

"Pak apa motif dari kejadian ini?" Alan bertanya pada polisi yang sedang memeriksa.

"Motif sementara percobaan pembunuhan pak, karena tidak ada barang kantor yang hilang." Alan kaget mendengarnya.

"Terus selidiki!" Perintah Alan.

"Baik pak."

Alan keluar kantor memacu kendaraannya untuk melihat keadaan Raya, sampai di ruangan Raya, Alan mengetuk pintu pelan.

"Masuk. " jawab Yuda dari dalam, Alan masuk dan melangkah mendekati Raya yang pucat dan masih tertidur karena efek obat bius, mata tajam Yuda menatap Alan.

"Puas kamu..., kamu kasih karyawan pekerjaan begitu banyak, padahal kamu tau pekerjaan Raya di tempat lain juga banyak, mengapa tidak membagi tugas dengan karyawan lain?."

"Iya aku salah..." Muka Alan tampak murung dan duduk di sofa.

"Akh... aus... minum." suara Raya pelan menahan sakit, dengan cepat Yuda mengambil gelas, Yuda mengarahkan sedotan ke bibir Raya, Raya meminumnya. Matanya mulai terbuka lebar dan raut muka ketakutannya terlihat jelas oleh Yuda,

"Tenang di sini ada aku." Yuda memegang tangan Raya.

"Jangan pergi, aku takut Yud..." Tubuh Raya gemetar.

"Iya aku tidak akan pergi. " Raya mulai menangis, tangannya memegang Yuda kuat.

"Ma'afin aku membuat kamu lembur hari ini." Raya diam tidak merespon apa- apa haya ketakutan yang terlihat di raut wajahnya.

"Sebaiknya kamu pulang aja." Kata Yuda datar, Alan mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan itu.

"Bodoh Alan... kamu sangat bodoh dan pengecut."

Alan mengacak ngacak rambutnya, teringat wajah Raya yang ketakutan membuat Alan sangat- sangat merasa bersalah.

***

Pagi- pagi karyawan yang datang kaget melihat banyak polisi berada di gedung kantor, lantai 6 di pasang garis polisi, mata semuanya melihat banyak bercak darah di lantai membuat mereka merinding, di meja Raya yang paling banyak, karena kejadian yang menimpa Raya lantai 6 sementara di kosongkan karyawan di pindahkan kelantai lain.

"Ma'af ruang kerja kalian sementara harus pindah sampai penyelidikan selesai." semua karyawan mengangguk dan mulai bekerja, Siska tampak cemas dan menghubungi Yuda

"Yud, gimana keadaan Raya?"

"Mulai baik, cuma lukanya membutuhkan waktu yang lama sembuhnya." Siska menarik nafas dalam

"Pulang kerja aku nanti mampir." terus menutup sambungan telepon.

DIRUMAH SAKIT

Raya membuka matanya, terlihat senyuman Yuda di hadapannya.

"Kamu tidak kerja?" Yuda menggeleng.

"Izin buat nemenin kamu sebentar nanti siang aku berangkat, tapi anggap aja ini juga pekerjaan menjaga pasien yang terancam nyawanya." Yuda menggenggam tangan Raya.

"Kalau menjagaku harusnya di depan pintu ruangan Yud, ini kok di dalam, terus menggoda pasiennya lagi." Raya tertawa.

"Kan yang di jagain pacarnya." Raya tersipu malu...

handphone Yuda bunyi, Yuda segera mengangkatnya

"Tidak ada jejak pak, CCTV di rusak, Tertangkap CCTV dari kantor sebrang tapi nomor plat mobilnya palsu." Muka Yuda memerah menahan marah

"Terus bekerja!"

"Baik pak." Yuda menatap Raya dan mulai bertanya.

"Apa kamu kenal orang yang mencelakaimu tadi malam?" Raya menggeleng.

"Orangnya tinggi besar dan serem, aku takut." Raya mulai gemetaran, dengan cepat Yuda memeluk Raya.

"Ada aku." Raya sedikit tenang di pelukan Yuda.

Pintu ruangan di ketuk, mama Raya masuk dan langsung memeluk Raya sambil menangis,

"Gimana keadaanmu?" Raya meringis menahan sakit.

"Mam, jangan kenceng- kenceng meluknya, sakit." Mama Raya langsung melonggarkan pelukannya dan mulai memeriksa luka Raya.

"Mam, Ada yuda jangan di buka." Yuda yang melihat sedikit memalingkan mukanya, karna sebagai laki- laki normal melihat tubuh Raya membuat Yuda salah tingkah, Raya juga pipinya merah merona menahan malu, mama Raya baru sadar dan merapikan baju Raya.

"Mama cuma mengecek lukamu, mama khawatir."

"Tidak apa- apa mam, Raya baik- baik aja. " Mama Raya menoleh ke arah Yuda

"Yuda ... Tante bawa makanan, makan dulu!"

Yuda mengangguk dan membuka rantang yang di bawa mama Raya, menaruhnyan di piring dan duduk di samping Raya, menyendok makanan dan mengarahkan ke arah Raya, Raya menggeleng,

"Kamu tadi makan dikit." Raya akhirnya membuka mulutnya dan Yuda makan satu piring berdua dengan Raya, mama Raya tersenyum melihat Raya terlihat bahagia.

"Yuda, ini bajumu untuk ganti."

"Baik, Tante terimakasih." Yuda kembali menyuapi Raya.

"Oh ya mam, Natan dimana?"

"Di rumah sama Bi Noi." Yuda yang menjawab,

"Aku ngerepotin kamu." Yuda menggeleng.

"Aku kekantor bentar ya nanti sore kesini lagi." Raya mengangguk.

"hati- hati!". Yuda tersenyum dan mengecup kening Raya, setelah berganti baju Yuda berangkat ketempat kerjanya.

Sore harinya Yuda berjalan di koridor Rumah sakit masuk ke ruangan Raya, terlihat ada beberapa temen Raya di ruangan menyadari kedatangan Yuda, suaranya mulai di tekan, Yuda menghampiri Raya dan mencium kening Raya.

"Gimana sekarang?" Raya tersipu malu dan menjawab pelan.

"kamu baru keluar dari sini beberapa jam yang lalu." membuat yang lainnya tersenyum dan sedikit iri melihat mereka.

Raya mencoba bangun dari tidurnya tapi meringis menahan sakit, Yuda menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju,

"Pengen duduk."

"Bersandar aja ya! luka di perut kamu belum bisa tertekan." Raya mengangguk.

"Punggung aku sakit..." Rengek Raya, Yuda memiringkan sedikit punggung Raya dan memeriksanya.

"Jahitannya basah." Yuda segera memanggil Dokter.

temen Raya yang lainnya menunggu di luar dengan cemas. Dokter menangani dengan cepat mengganti perbannya dan membuatkan resep obat. setelah dokter keluar temen Raya masuk kembali.

"Raya. " suara Siska cemas, Raya nyoba tersenyum

"Tidak apa- apa, aku baik."

"Baik gimana, badanmu penuh luka ." Yuda masuk setelah menebus obat di apotik dan memberikan obat ketangan Raya, terus memberikan air minum, Raya meminumnya.

temenya Raya pamit pulang, yang tersisa cuma Siska dan Dafa. Yuda mandi dan berganti pakaian memakai kaos dan celana training duduk di sofa terlihat kelelahan, Dafa bangkit dari tempat duduknya.

"Mau kemana Daf?" Tanya Yuda.

"Cari makanan."

"Udah aku pesan tunggu aja!" Dafa duduk kembali, Tidak butuh menunggu lama, makanan datang di anter Ojol.

Dafa yang kelaperan langsung menyerbu makanannya,

"Makan Sis!" Yuda menawarkan, Siska hanya mengangguk dan masih sibuk memotong Apel buat Raya.

Yuda menyenderkan badannya lagi dan tertidur tanpa menyentuh makanannya.

"Yuda tidak istirahat dari kemaren malam." Kata Raya,

"Tenang, aku sama Dafa tidur di sini malam ini jadi biarin Yuda istirahat." Siska menenangkan Raya, Raya mengangguk. baru 20 menit Yuda tertidur handphonenya bunyi, Yuda membuka mata dan mengangkatnya.

"Pak, satu pelaku tertangkap yang lainnya masih di dalam rumah." Yuda segera bangun dan memakai jaket dan membawa pistolnya .

"Baik saya segera datang." Yuda menatap Raya dan membelainya dan menoleh ke arah Siska .

"Sis aku titip Raya ya! ada kepentingan mendesak." Siska hanya mengangguk,

"Hati- hati." Raya tampak khawatir.

"Iya, aku hati-hati." Yuda mengecup kening Raya dan bergegas berangkat ke tempat yang di tuju, begitu datang terdengar baku tembak, Yuda maju masuk kedalam rumah tahap demi tahap akhirnya setelah 1 jam lawan baru bisa dilumpuhkan 3 orang di bawa ke mobil dan di bawa petugas

"Pak, bahu bapak kena tembakan." Yuda melihat bahunya,

"Tidak apa- apa nanti saya Kerumah Sakit, tolong ikat aja agar darahnya tidak banyak keluar." anak buah Yuda menolong Yuda dengan cepat

"Bapak masih bisa menyetir? biar saya antar." anak buah Yuda nampak khawatir,

"Masih bisa, kalian pulang aja!" Mata tajam Yuda meyakinkan,

"Baik pak." dengan patuh mereka pergi dari tempat itu, Yuda juga pergi meninggalkan tempat itu menuju Rumah Sakit.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel