Bab 12 Percobaan Pembunuhan
Bab 12 Percobaan Pembunuhan
Yuda menidurkan Raya pelan- pelan dan menutupi tubuhnya dengan selimut, karena Yuda juga lelah, Yuda naik ketempat tidur, menumpukan bantalnya dan bersandar di kepala tempat tidur dan tertidur, tengah malam Raya terbangun dan kaget dia sudah ada di tempat tidur, lebih kaget melihat Yuda di sebelahnya terlelap, Raya mengecek bajunya masih utuh dan Yuda tidak tidur 1 selimut dia masih mengenakan celana jeans dan kaos ketat memperlihatkan bagian tubuhnya yang indah, Raya menarik nafas lega, Raya menatap Yuda yang terlelap, tidak tega melihat dia tidur dengan posisi duduk, Raya membetulkan posisi tidurnya tapi ketika posisi Yuda hampir betul, Yuda terbangun menekan tangan Raya.
"Kenapa bangun? Ma'af jadi tidur sekamar sama aku, soalnya kamar tamu belum ganti sprei, si bibi sudah pulang, aku tidak bisa ganti sendiri."
"Tidak apa- apa tapi, kenapa kamu tidak membiarkan aku tidur di sofa aja?"
"Mana tega aku, Nanti yang ada badan kamu pada sakit."
"Lepasin tanganku!" Yuda menggeleng, malah menarik tangan Raya hingga badan Raya menindih Yuda.
"Yuda. " Rengek Raya, Yuda malah mendekap Raya
"Biarkan begini sebentar..." pinta Yuda lirih, sambil memejamkan matanya, Raya diam tidak melawan, malah merasakan kenyamanan di hatinya dan tertidur pulas di pelukan Yuda.
sampai terbangun lagi pelukan Yuda belum lepas, cuma posisi tidurnya jadi miring.
"Yud bangun, udah siang!" Raya membangunkan Yuda, Yuda membuka Matanya
"Aku males bangun." Raya nyubit pinggang Yuda membuat Yuda melepaskan pelukannya.
"Aduh sakit."
"Aku numpang mandi." Raya bangun dan masuk kamar mandi, untung Raya selalu bawa baju ganti di tasnya karna pekerjaannya yang berpindah- pindah tempat Raya selalu bawa baju ganti buat jaga- jaga, selesai mandi Raya keluar terus, gantian Yuda yang mandi.
"Ayo turun sarapan!" Ajak Yuda.
"Orang tua kamu dimana? tidak enak aku sudah tidur sama anak bujangnya." Raya nyengir
"Papa udah nikah lagi dan tidak tinggal di sini, jadi di sini cuma aku aja."
"Sepi donk?" Yuda mengangguk.
mereka duduk di ruang makan tidak lama asisten rumah tangga Yuda datang membawa sarapan dan agak kaget melihat Raya.
"Aden bawa bidadari dari mana?" Bibi Noi tersenyum kagum melihat kecantikan Raya, pipi Raya merona
"Ini Raya bi...".
"Pantas aja Aden suka mengigau manggil - manggil namanya, cantik begini orangnya." puji bibi Noi, Raya berdiri dengan sopan dan mengulurkan tangannya di sambut dengan ramah. "Panggil aja bi Noi ya." Raya mengangguk, setelah Bi Noi pergi Raya tersenyum memandang Yuda.
"Ada apa?" Yuda membalas tatapan Raya dengan heran,
"Tidak ada apa- apa, lucu aja tadi Bi Noi bilang kamu sering mengigau." Yuda nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayo cepet sarapannya nanti aku telat."Kata Raya.
"Ok siap nyonya."
Mobil meluncur menuju kantor Raya dan berhenti di depan kantor, Yuda keluar dan membukakan pintu
"Makasih." Yuda mengangguk sambil mengecup kening Raya.
"Nanti aku jemput pulangnya." Raya tersenyum,
Siska yang tadinya mau masuk mendadak diam menikmati Pemandangan pagi hari itu.
"Raya ... kamu...?"
"Kenapa? Yuda? aku udah jadian." senyum Raya mengembang,
"Aku ikut seneng." memang itu yang Siska mau melihat sahabatnya bahagia.
Raya menggandeng Siska menuju lift
"Motormu mana Ray?" Raya menggeleng.
"Motorku di cafe, semalem aku nginep di rumah Yuda jadi bereng berangkatnya." Siska melotot.
"Ngapain aja kamu dirumah yuda?." nada Siska penasaran
"Tidur." kata Raya cuex,
"mmm...." Siska terdiam seperti sedang mencerna arti kata tidur, Raya nyengir liat raut muka Siska.
Sampai di meja Raya, tumpukan dokumen banyak banget 2x lipat dari kemaren, Raya menghempaskan tubuhnya di kursi
"Akh.... ini bisa- bisa lembur, Si Bos gila...." Gumamnya.
Memang benar, sampai sore kerjaan Raya masih banyak satu per satu pegawai yang lain udah pada pulang termasuk Siska.
Handphone Raya bunyi, di sela kesibukannya Raya mengangkatnya.
"Ray, udah bisa dijemput?" Suara Raya berat
"Sepertinya lembur Yud, jam 9 paling baru selesai."
" Yaudah, nanti aku jemput, jangan lupa makan!."
"mmm..." Jawab Raya dan sambungan telepon terputus.
Raya melanjutkan pekerjaannya, kalu saja besok bukan jadwal kerja di hotel pasti Raya sudah pulang sekarang, keadaan kantor sepi, cuma Raya yang tersisa sama security kantor.
tap... tap... tap... suara langkah kaki menghampirinya Raya pikir OB yang belum pulang atau bapak security jadi, pandangan mata Raya tetap pada layar laptopnya, suara serak membuat Raya menyadari bahwa orang yang ada di belakangnya adalah orang asing.
"Apakah kamu Raya?" Raya cepat kembalikan badannya, seorang laki- laki tinggi besar berdiri menatapnya dengan tatapan tajam, Raya hanya mengangguk.
"Bagus..." katanya sambil mengeluarkan pisau dari balik jaket hitamnya, Raya gemetaran
"kamu... kamu mau ngapain? kamu siapa? toooloooong..." Laki- laki itu tertawa membuat Raya merinding dan mulai berteriak meminta tolong.
"Percuma teriak, di gedung ini cuma tinggal kamu sama aku." Matanya mengejek Raya, Raya semakin ketakutan dan dengan sekuat tenanga ketika laki- laki itu sedikit lengah, Raya melemparkan beberapa dokumen ke laki- laki itu dan berlari, tapi dengan cepat baju Raya di tarik kebelakang dan punggungnya tergores pisau " srettt..." dan " Akh..." suara baju koyak, darah mulai mengalir menbus baju Raya, Raya menahan sakit dan berhasil berontak lalu lari kearah tangga darurat.
"Kamu mau main- main Raya." Suara laki- laki itu membuat Raya merinding tidak butuh waktu lama untuk menangkap Raya, Laki- laki itu sudah ada di depan Raya dan tanpa ampun menusukan pisaunya ketubuh Raya dengan membabi buta, Raya berusaha menghindar tapi tusukannya banyak yang mengenai tubuh Raya, akhirnya Raya lemas dan ambruk di lantai, Raya merintih kesakitan lalu pingsan, sementara laki- laki itu menatap puas lalu pergi meninggalkan kantor Raya dan menghubungi seseorang.
"Beres bos dia akan merasakan sensasi kematian malam ini karna kehabisan darah."
"Bagus, aku juga tidak mau dia langsung mati, bereskan semuanya jangan sampai meninggalkan jejak."
"beres bos..." Kemudian Laki- laki itu pergi meninggalkan Raya yang bermandikan darah.
Tepat jam 9 malam, Yuda sampai di kantor Raya melihat keadaan sepi banget dan tidak ada security yang berjaga Yuda mencarinya di pos, Yuda terkejut melihat 3 orang security di ikat di ruangan itu mukanya lebam2 bekas pukulan bahkan ada yang ngeluarin darah dari hidung, Yuda dengan cepat membebaskannya.
"Apa yang terjadi pak?" Yuda bertanya dengan muka tegang dan dia segera menelpon teman2nya untuk datang kelokasi.
"Ada 4 orang yang tiba- tiba datang dan menyerang."
"Di dalam kantor ada siapa saja?"
"Cuma mba Raya yang masih ada di dalam." dengan gemetar Yuda berlari kedalam kantor diikuti Security,
"Raya kerja di lantai berapa?" Suara Yuda setengah berteriak
"Lantai 6 pak." Jawab bapak security,
pintu lift terbuka dilantai 6, Yuda mencari meja Raya terlihat dilantai banyak berceceran darah membuat Yuda tambah gugup apa lagi di meja Raya, dia tidak menemukan Raya, dokumen berantakan campur darah.
security yang lainnya menyebar mencari Raya dan Yuda mencari mengikuti darah yang berceceran di lantai sampai ke tangga darurat Yuda turun dan melihat Raya terkapar di lantai 5 berlumuran darah.
" Pak Raya ada di sini! Ray... bertahan!" Yuda mengangkat Raya memasukannya ke jok belakang dan melarikannya ke Rumah Sakit terdekat.
Raya masuk Ruang operasi, Dokter keluar dari ruang operasi
"Beruntung pak, luka tusukannya tidak mengenai organ Vital namun cukup banyak dan parah." Yuda lemas
"Lakukan yang terbaik Dok, saya tidak mau dia kenapa- kenapa."
Raya masuk ruang perawatan dengan jahitan hampir di seluruh tubuhnya.
Yuda duduk di samping Raya dan melepaskan jaketnya yang penuh darah, mengelus kepala Raya
"Ma'afin aku, aku terlambat datang." rasa menyesalnya begitu dalam bahkan Yuda meneteskan airmatanya.
Yuda mengeluarkan handphonenya menghubungi Mama Raya dan menjelaskan semuanya, mama Raya tentu khawatir tapi setelah Yuda membujuknya jadinya mama Raya memutuskan besok paginya melihat keadaan Raya,
"Natan jangan di bawa Tante, biar besok bi Noi yang jaga Natan soalnya Raya terluka parah takut Natan Shock."
"Baik." mama Raya hanya bisa menurut karna tidak ada pilihan mengingat Natan masih kecil, yang bisa dilakukan mama Raya hanya menangis.
Setelah menghubungi mamanya Raya, Yuda menghubungi bi Noi.
"Iya den, ada apa?"
"Saya mau minta tolong bi, besok tolong bawain baju ganti saya ya, saya tidak bisa pulang tolong antar kerumah sakit terus tolong bibi kerumah Raya dan jagain Natan sebentar nanti minta tolong mang Ujang untuk mengantarkan Bibi."
"Baik den." tanpa bertanya banyak Bi Noi tau keadaannya tidak baik.
