Sinyal Pagi dan Jebakan Terbuka
Sinar matahari pagi yang menerobos celah-celah ventilasi kamar kos berukuran tiga kali empat meter itu membangunkan Reno tepat saat alarm ponselnya berdering pukul lima pagi. Pemuda sembilan belas tahun itu langsung terduduk di tepi kasur busanya yang tipis. Napasnya teratur, namun sisa-sisa kejadian semalam di apartemen mewah Bu Amara masih membekas jelas di kepalanya. Bersentuhan kulit dengan dosen paling ditakuti di kampus, lalu melihat tatapan goyah dari seorang wanita berpendidikan tinggi yang biasanya sedingin es, memberikan kepuasan tersendiri bagi insting lelakinya.
Gadis umur tiga puluh lima tahun, ya? Pantesan pas tangan gua pegang pergelangan nadinya semalam, reaksinya sekencang itu. Keliatannya aja killer di kelas, tapi ternyata dalam urusan cowok, Bu Amara masih se-sensitif itu, monolog Reno sambil tersenyum tipis, sebuah seringai kecil yang penuh rasa percaya diri terukir di wajahnya.
Dia tidak punya banyak waktu untuk melamun. Pukul enam pagi dia sudah harus berada di gudang logistik untuk memimpin apel pagi para kuli angkut dan supir truk distribusi daging ayam. Hidupnya bergerak dalam dua dunia yang kontras: dunia fajar yang kasar, penuh bau amis, dan bentakan otot; serta dunia malam yang penuh intrik, aroma parfum mahal, dan tatapan penuh gairah dari wanita-wanita matang.
Setelah mandi kilat dan mengenakan kaos oblong hitam serta jaket denim belelnya, Reno memacu motor matic-nya membelah kemacetan pagi Jakarta menuju kawasan industri di Jakarta Utara.
Pukul sebelas siang, suasana di kantor gudang sedang agak senggang. Reno duduk di depan komputer tabung yang menampilkan data manifes keluar-masuk barang. Di tangannya, sebotol kopi instan dingin menjadi penawar kantuk akibat kurang tidur semalam.
Ting.
Ponsel di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp masuk dari nomor baru yang belum disimpan, namun foto profilnya langsung membuat Reno menaikkan sebelah alisnya. Foto seorang wanita berambut gelombang yang sedang tersenyum manja di depan kemudi mobil mewah. Diana.
Diana : Pagi, Reno keren... Eh, udah siang ketang. Gimana tidurnya semalam? Nyenyak gak setelah jadi pahlawan di kelas?
Reno terkekeh. Gaya pendekatan Diana bener-bener tipikal wanita karier agresif yang tahu apa yang dia mau dan gak suka buang-buang waktu.
Agresif banget ini si Tante. Baru juga semalam dapet nomor gua, batin Reno. Jari-jarinya dengan luwes mengetik balasan yang santai, sengaja menjaga jarak tapi tetap memberikan sedikit umpan.
Reno : Siang, Kak Diana. Tidur aman kok, cuma subuh udah harus berjibaku sama ayam-ayam di gudang nih. Kak Diana sendiri gimana? Langsung istirahat semalam?*
Gak butuh waktu satu menit, balasan dari Diana langsung masuk.
Diana : Gak bisa tidur tahu... Kepikiran materi Bu Amara semalam, atau mungkin kepikiran kamu ya? Hehe. Btw, nanti malam kan gak ada jadwal kuliah, tapi aku mau ajak kamu makan malam di resto daerah Senopati. Gak ada penolakan ya, ini soal tugas kelompok kita. Aku jemput kamu gimana?
Reno menopang dagunya, matanya menyipit membaca pesan itu. Makan malam di Senopati soal tugas kelompok? Alasan klasik. Dia mau pamer dunianya ke gua, sekaligus mau liat seberapa jauh berondong sembilan belas tahun ini bisa dia setir.
Reno baru saja hendak mengetik balasan ketika sebuah panggilan masuk mendadak memotong layar ponselnya. Nama kontaknya tertulis: Bu Amara (Dosen). Nomor yang dia dapatkan dari grup angkatan kampus.
Jantung Reno berdesir pelan, bukan karena takut, melainkan karena adrenalinnya kembali terpacu. Dia menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, selamat siang, Bu Amara," kata Reno dengan suara baritonnya yang tenang dan sopan.
"Selamat siang, Reno," suara di seberang sana terdengar kembali formal, dingin, dan berjarak, seolah-olah kegugupan semalam di apartemen tidak pernah terjadi. Namun, Reno yang jeli bisa mendengar ada sedikit jeda napas yang tidak beraturan sebelum Amara melanjutkan bicaranya. "Saya menelpon untuk mengonfirmasi bahwa Iis sudah pulang ke rumah saudaranya di Tangerang tadi pagi-pagi sekali. Saya yang mengantarnya ke stasiun."
"Oh, syukurlah kalau begitu, Bu. Terima kasih sudah menampung Mbak Iis semalam. Ibu dosen yang sangat peduli sama mahasiswanya," puji Reno, sengaja menekankan kata 'dosen' untuk memancing reaksi.
Terdengar suara helaan napas pendek dari Amara. "Itu sudah kewajiban saya secara kemanusiaan, Reno. Tapi... ada hal lain yang ingin saya bicarakan. Laporan tertulis yang kamu buat semalam, ada beberapa poin yang kurang detail mengenai ciri-ciri pelaku kekerasan tersebut. Pihak rektorat meminta data yang lebih spesifik untuk laporan ke kepolisian jika diperlukan."
"Oh ya? Perasaan semalam saya udah tulis lengkap deh, Bu," jawab Reno dengan nada santai, senyum nakal kembali mengembang di wajahnya. Dia tahu ini cuma taktik Amara untuk membuka komunikasi lagi setelah insiden bersentuhan tangan semalam.
"Menurut saya belum cukup detail," potong Amara cepat, mempertahankan egonya sebagai dosen. "Saya ingin kamu datang ke ruangan saya di kampus nanti malam pukul tujuh. Kebetulan saya ada jadwal piket administrasi malam meskipun tidak ada kelas. Kita rapikan laporan itu."
*Nanti malam? Pukul tujuh? Di ruangan dosen yang sepi pas gak ada jadwal kuliah?* Reno tersenyum lebar. Umpan yang dia tebar semalam ternyata bekerja jauh lebih cepat dari dugaannya. Sang dosen lajang sepertinya tidak bisa melupakan getaran semalam dan butuh alasan logis untuk kembali berada di dekatnya.
"Baik, Bu Amara. Kebetulan nanti malam saya kosong. Pukul tujuh saya langsung ke ruangan Ibu," jawab Reno dengan nada luwes tanpa ragu.
"Baik. Jangan terlambat. Selamat siang." *Klik.* Telepon ditutup sepihak.
Reno menurunkan ponselnya, lalu menatap layar yang kembali menampilkan ruang obrolan dengan Diana yang belum dia balas. Pemuda itu berpikir sejenak sebelum mengetik balasan untuk sang Manajer Pemasaran seksi itu.
Reno : Waduh, maaf banget Kak Diana. Nanti malam jam 7 saya mendadak dipanggil Bu Amara ke kampus buat urusan laporan insiden semalam. Kayaknya makan malamnya harus kita jadwal ulang deh. Maaf ya, Kak.
Reno sengaja menyebut nama Bu Amara. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Diana jika tahu berondong incarannya sedang berurusan dengan sang dosen yang terkenal killer dan seksi itu. Persaingan antar wanita matang selalu menjadi tontonan yang menarik untuk dinikmati.
Benar saja, Diana langsung membalas dengan rentetan pesan yang menunjukkan rasa tidak percaya sekaligus rasa penasaran yang melonjak.
Diana : Hah?! Bu Amara manggil kamu malam-malam ke kampus? Dalam rangka apa? Kok bisa? Ati-ati lho, Reno... dia itu perawan tua yang sensitif banget, jangan sampai kamu malah kena masalah sama dia. Kalau udah kelar dari ruangan dia, langsung kabari aku ya! Gua tunggu!
Reno hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya lagi. Dia meletakkan ponselnya, menarik napas dalam-dalam, dan kembali fokus pada pekerjaannya. Malam ini bakal jadi malam yang panjang, pikirnya antusias.
Malam harinya, pukul enam lewat lima puluh lima menit, Universitas Wijaya Kusuma tampak jauh lebih sepi dibanding biasanya karena memang sedang tidak ada jadwal perkuliahan reguler maupun kelas karyawan. Koridor lantai dua gedung rektorat, tempat ruangan para dosen berada, diselimuti keheningan yang sedikit mencekam. Lampu-lampu lorong hanya dinyalakan sebagian.
Reno berjalan menyusuri koridor dengan langkah kaki yang santai namun tegas. Malam ini dia tampil sedikit berbeda; kemeja hitam polos yang ngepas di badan dipadukan dengan celana jins gelap bersih. Dua kancing teratas kemejanya sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit kulit dadanya yang bidang dan kecokelatan. Wangi parfum pria kasual yang segar namun maskulin menguar dari tubuhnya yang baru selesai mandi di gudang tadi.
Dia berhenti di depan sebuah pintu kayu dengan papan nama kuningan : Bu Amara, S.E., M.Si. (Dosen Manajemen Bisnis).
Reno mengetuk pintu itu tiga kali. "Permisi, Bu Amara."
"Masuk." Suara dingin dari dalam langsung menyahut.
Reno mendorong pintu dan melangkah masuk. Ruangan itu tidak terlalu besar namun sangat rapi dan wangi aroma terapi lavender yang menenangkan. Bu Amara duduk di balik meja kerja kayunya yang besar, di bawah pendaran lampu meja yang memberikan nuansa temaram dan intim pada seisi ruangan.
Malam ini, Amara tidak memakai blazer formalnya. Dia hanya mengenakan kemeja sutra berwarna merah marun berlengan panjang yang digulung hingga ke siku. Bahan kemeja yang tipis dan jatuh itu membentuk lekukan payudaranya yang besar dan kencang dengan sangat sempurna saat dia bersandar di kursinya. Kacamata kotaknya bertengger di hidung, dan rambut hitamnya malam ini tidak disanggul rapi seperti biasa, melainkan dibiarkan tergerai jatuh ke bahunya, memberikan kesan wanita matang yang jauh lebih sensual, kasual, namun tetap berwibawa.
Amara mendongak, matanya menatap Reno dari ujung kaki hingga ke dada bidang pemuda itu yang tercetak jelas di balik kemeja hitamnya. Ada kilatan ketertarikan yang coba dia sembunyikan di balik tatapan dinginnya.
"Kamu tepat waktu, Reno. Silakan duduk," kata Amara sambil menunjuk kursi kosong di depan mejanya.
Reno duduk, menyandarkan punggungnya dengan santai sambil menatap lurus ke arah sang dosen. "Malam, Bu. Jadi, bagian mana dari laporan semalam yang perlu saya detailkan lagi?"
Amara membuka sebuah map sela di depannya, berpura-pura memeriksa kertas kronologis yang ditulis Reno semalam. "Di sini kamu hanya menulis 'pelaku berbadan gempal dan menggunakan jaket kulit'. Pihak sekuriti kampus butuh estimasi tinggi badan, rentang usia, dan barangkali ada tanda khusus seperti tato atau bekas luka. Kampus kita punya reputasi yang harus dijaga, Reno. Kita tidak bisa membiarkan orang luar masuk dan membuat keributan tanpa identitas yang jelas."
Reno memajukan tubuhnya, menopang sikunya di atas meja kerja Amara. Jarak wajah mereka kini hanya terpisahkan oleh lebar meja kayu tersebut. Reno bisa mencium wangi aroma tubuh alami Amara yang bercampur lavender—sebuah kombinasi yang sangat menggoda.
"Tinggi badannya sekitar seratus tujuh puluh sentimeter, Bu. Usianya sekitar awal tiga puluhan, mukanya brewokan kasar, dan baunya bau alkohol murah," kata Reno, suaranya sengaja dibuat merendah dan dalam. "Tapi... apa benar cuma itu yang bikin Ibu manggil saya malam-malam begini ke ruangan yang sepi ini?"
Pertanyaan frontal Reno membuat gerakan tangan Amara yang sedang memegang pulpen mendadak membeku. Dia mendongak, menatap mata tajam Reno yang berkilat nakal di bawah temaram lampu ruangan. Ego Amara sebagai seorang dosen lajang yang mandiri dan dihormati langsung merasa tertantang oleh keberanian mahasiswa mudanya ini.
Amara melepas kacamatanya dengan gerakan lambat, meletakkannya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Tanpa kacamata, aura defensifnya runtuh, digantikan oleh tatapan mata seorang wanita matang berusia tiga puluh lima tahun yang sedang berhadapan dengan seorang pria sejati.
"Maksud kamu apa, Reno? Kamu sedang menuduh dosen kamu punya motif lain?" tanya Amara, suaranya sedikit bergetar halus meskipun dia mencoba menyembunyikannya di balik nada ketus.
Reno tersenyum luwes, sebuah senyuman karismatik yang membuat jantung Amara berdegup kencang secara instan. "Saya gak menuduh, Bu. Saya cuma mengamati. Semalam di apartemen... tangan Ibu gemeteran pas gak sengaja bersentuhan sama saya. Dan hari ini, Ibu manggil saya buat hal yang sebenarnya bisa ditanyakan lewat WhatsApp. Jadi... apa salah kalau saya berpikir kalau Bu Amara yang terhormat ini... sebenarnya cuma pengen berduaan lagi sama saya?"
Gila, ini bocah bener-bener berani parah, jerit batin Amara. Belum pernah ada pria seumur hidupnya yang berani memojokkannya dengan kalimat se-intim dan se-blak-blakan ini. Logikanya menyuruhnya untuk membentak Reno dan mengusirnya keluar dari ruangan. Namun, tubuhnya—hormon wanita lajangnya yang telah lama membeku—justru merespons dengan cara yang berlawanan. Wajahnya yang putih mulus seketika merona merah, dan dadanya yang kencang naik turun dengan ritme yang semakin cepat.
Amara berdiri dari kursinya, mencoba mengembalikan kendali situasi. Dia berjalan memutari mejanya dan berhenti tepat di samping kursi Reno, bersandar di pinggiran meja sambil melipat kedua tangannya di depan dada—sebuah posisi yang justru semakin menonjolkan ukuran payudaranya yang padat di balik kemeja sutra merah marunnya.
"Kamu terlalu percaya diri untuk ukuran anak umur sembilan belas tahun, Reno," desis Amara, menatap ke bawah ke arah Reno dengan pandangan menantang. "Kamu pikir karena kamu punya tubuh tegap dan bisa berantem, kamu bisa mempermainkan saya? Saya ini dosen kamu. Saya bisa saja membuat nilai kamu hancur semester ini."
Reno ikut berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang lebih tinggi membuat Amara yang tadinya merasa dominan kini harus mendongak untuk menatap mata pemuda itu. Reno mengambil satu langkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka saling bersentuhan.
Aura maskulin Reno yang pekat seketika mengurung Amara. Sang dosen lajang itu merasa seluruh pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menipis.
"Ibu boleh hancurin nilai saya di kelas, Bu Amara..." kata Reno lembut, tangannya perlahan terangkat, bergerak dengan sangat berani menyentuh seuntai rambut hitam Amara yang tergerai di bahunya, lalu menyelipkannya ke belakang telinga sang dosen yang bersih dan memerah. Sentuhan jemari Reno yang hangat di kulit lehernya membuat Amara refleks melepaskan lipatan tangannya di dada, tubuhnya bergetar halus menerima sensasi kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Reno menatap bibir tipis Amara yang terengah-engah dari jarak dekat. "Tapi di ruangan ini... malam ini... Ibu bukan dosen saya, dan saya bukan mahasiswa Ibu. Ibu cuma seorang wanita lajang yang kesepian, dan saya... pria yang ada di depan Ibu sekarang."
Amara meremas pinggiran meja di belakangnya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pertahanannya runtuh sepenuhnya. Kata-kata Reno menghunjam tepat ke lubuk hatinya yang paling dalam yang selama ini dia sangkal. Dia kesepian. Dia butuh sentuhan. Dan pria di depannya ini—meskipun usianya jauh lebih muda—memiliki karisma dominan yang bener-bener mampu menundukkan egonya sebagai seorang wanita.
"Reno... kamu... jangan kurang ajar..." bisik Amara, namun tidak ada nada kemarahan dalam suaranya. Yang ada hanyalah sebuah pasrah yang teramat sangat. Matanya perlahan terpejam saat wajah Reno semakin mendekat ke arah wajahnya.
Reno bisa merasakan kehangatan kulit wajah Amara dan napasnya yang memburu. Namun, Reno tidak terburu-buru. Sebagai pria yang cerdas, dia tahu bahwa menaklukkan wanita seperti Bu Amara adalah tentang memainkan ritme emosinya. Dia ingin membuat Amara bener-bener bertekuk lutut dan memohon padanya terlebih dahulu.
Tepat ketika bibir mereka hanya berjarak beberapa milimeter, ponsel Reno di dalam saku celananya tiba-tiba bergetar hebat disertai suara dering yang nyaring di keheningan ruangan itu.
Drrrtt... Drrrtt...
Suara itu seketika memecahkan sihir keintiman yang mengurung mereka. Amara terlonjak kaget, matanya terbuka lebar dengan kesadaran yang mendadak kembali. Dia mendorong dada bidang Reno dengan pelan, melangkah mundur dua langkah dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang merah padam seperti kepiting rebus.
*Sialan, siapa lagi sih yang ganggu tengah malam begini!* kutuk Reno di dalam hati, menahan kekesalannya sambil meraba saku celananya.
Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat layar. Nama peneleponnya adalah : Iis.
Reno menatap Amara sekilas yang sedang sibuk membalikkan badan membelakangi Reno, mencoba merapikan rambut dan mengontrol napasnya yang masih berantakan akibat ciuman yang hampir terjadi tadi.
Reno berdeham pelan, lalu menggeser tombol hijau. "Halo, Mbak Iis? Ada apa?"
Dari seberang telepon, tidak ada suara jawaban yang normal. Yang terdengar hanyalah suara isak tangis yang sangat histeris bercampur ketakutan yang amat sangat, diiringi suara gedoran pintu kayu yang sangat keras dari latar belakangnya.
"Dek... Dek Reno... tolong aku... Mas Beni... Mas Beni tahu aku di sini... dia bawa teman-temannya... mereka mau dobrak pintu rumah saudaraku... Dek Reno, tolong... aku takut banget..." jerit Iis di telepon, suaranya terputus-putus oleh tangisan penuh keputusasaan.
Brak! Brak! Brak! Suara pintu didobrak terdengar sangat jelas lewat speaker ponsel Reno.
Mata Reno yang tadinya dipenuhi gairah instan seketika berubah menjadi sedingin es. Rahangnya mengencang, dan aura santainya lenyap dalam sekejap. Bajingan bernama Beni itu rupanya bener-bener menantang maut.
"Mbak Iis, dengerin saya! Mbak kunci diri di kamar paling belakang! Saya ke sana sekarang juga! Kirim lokasinya sekarang!" perintah Reno dengan suara baritonnya yang sangat tegas dan penuh otoritas, sebuah nada bicara yang membuat Bu Amara yang mendengarnya langsung berbalik badan dengan wajah penuh kekhawatiran.
Reno mematikan telepon, lalu menatap Bu Amara yang masih tampak syok.
"Ada apa, Reno? Apa yang terjadi sama Iis?" tanya Amara cemas, melupakan kecanggungan di antara mereka beberapa detik lalu.
"Suaminya nemuin tempat sembunyinya di Tangerang, Bu. Sekarang lagi coba dobrak rumahnya bareng teman-temannya," jawab Reno singkat sambil menyampirkan tas ranselnya ke bahu dengan gerakan cepat. "Saya harus ke sana sekarang."
Amara melihat perubahan drastis pada diri Reno. Pemuda yang tadi menggodanya dengan sangat sensual, kini dalam sekejap berubah menjadi sosok pelindung yang sangat dingin dan fokus. Rasa kagum di hati Amara semakin melonjak melihat ketegasan itu.
Tanpa pikir panjang, Amara mengambil kunci mobil sedannya di atas meja. "Tangerang itu jauh dan jalanan malam ini bisa macet di beberapa titik tol. Naik motor kamu bakal kelamaan. Ikut saya, pakai mobil saya. Kita ke sana bareng-bareng!"
Reno menatap Amara selama satu detik, melihat keseriusan di mata sang dosen lajang yang kini juga ikut tergerak demi keselamatan mahasiswanya. Reno tersenyum tipis. "Oke, Bu. Mari kita sikat bajingan itu."
Kedua orang itu bergegas keluar dari ruangan dosen, berlari menyusuri koridor sepi menuju area parkir. Malam ini, intrik di kampus Universitas Wijaya Kusuma bener-bener bergeser dari ruang kelas menuju sebuah pertarungan nyata di jalanan malam yang keras, di mana Reno akan kembali membuktikan siapa sebenarnya pria yang memegang kendali penuh di atas segalanya.