Labirin Kaca dan Sisi Lain sang Otoritas
Mobil sedan hitam milik Bu Amara melaju membelah keheningan jalanan ibu kota yang mulai melengang. Di belakangnya, Reno menjaga jarak konstan dengan motor matic-nya. Angin malam yang menerpa jaket flanel Reno terasa lebih dingin dari biasanya, namun di dalam kepalanya, sepasang roda pikiran berputar dengan kecepatan tinggi.
Dari kaca spion motor, sesekali Reno melirik ke arah mobil di depannya. Di dalam kabin mewah itu, ada dua wanita dengan latar belakang yang bertolak belakang: seorang dosen berdarah dingin yang mandiri, dan seorang ibu rumah tangga sholehah yang sedang hancur lebur. Dan entah bagaimana caranya, Reno—seorang pemuda sembilan belas tahun yang paginya masih berkutat dengan nota distribusi daging ayam—kini terseret ke dalam lingkaran terdalam kehidupan mereka.
Gokil, kalau dipikir-pikir hidup gua seminggu ini udah kayak roller coaster, monolog Reno di balik helmnya, ujung bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan rasa tertantang. Tapi gak apa-apa. Ini jauh lebih menarik daripada dengerin bapak-bapak gudang ngorok pas jam istirahat.
Setelah dua puluh menit perjalanan, sedan hitam itu berbelok memasuki kawasan apartemen mewah di daerah Jakarta Barat. Gedung pencakar langit berstruktur kaca itu menjulang tinggi, memancarkan aura eksklusif yang hanya bisa dijangkau oleh kaum borjuis berkocek tebal. Reno menghentikan motornya di area parkir khusus tamu, lalu berjalan mendekati mobil Bu Amara yang sudah terparkir rapi di slot privat.
Pintu kemudi terbuka. Bu Amara turun terlebih dahulu dengan gerakan yang tetap anggun meskipun wajahnya menyiratkan kelelahan. Dia memutari mobil dan membukakan pintu untuk Iis. Wanita sholehah itu turun dengan kepala tertunduk, memegangi jilbab syar'inya yang masih sedikit kusut. Langkahnya tampak sangat ragu, matanya memandang sekeliling lobi apartemen yang berlapis marmer mewah dengan rasa minder yang kentara.
Begitu melihat Reno mendekat, langkah Iis seketika memburu. Secara refleks, dia memosisikan dirinya di dekat lengan Reno, mencari perlindungan psikologis yang secara tidak sadar mulai dia gantungkan pada pemuda itu.
"Dek Reno... tempatnya tinggi banget ya," bisik Iis lirih, suaranya bergetar halus di dekat telinga Reno. Aroma sabun bayi dan minyak zaitun dari tubuhnya kembali menguar, membuat Reno sedikit merapatkan giginya untuk menjaga fokus.
Reno menoleh dan memberikan senyuman menenangkan. "Tenang aja, Mbak. Aman kok di sini. Ada Bu Amara juga, kan?"
Bu Amara yang berjalan di depan mereka sempat melirik interaksi tersebut dari balik bahunya. Mata di balik kacamata kotak itu berkilat datar, namun ada kerutan tipis di dahinya yang menunjukkan bahwa dia tidak melewatkan kedekatan instan antara mahasiswa mudanya dengan wanita di sebelahnya.
"Ikut saya," kata Bu Amara pendek, memimpin jalan menuju lift privat.
Di dalam lift yang bergerak naik dengan cepat menuju lantai dua puluh empat, keheningan terasa begitu pekat. Suara embusan napas Iis yang masih agak berat menjadi satu-satunya instrumen di ruang sempit berlapis cermin tersebut. Reno berdiri di tengah, diapit oleh dua wanita matang yang masing-masing memiliki daya pikat visual yang luar biasa.
Di sebelah kirinya, Iis dengan gamis wolfis longgarnya. Di bawah cahaya lampu lift yang terang, Reno bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana bahan gamis itu jatuh mengikuti lekuk tubuh Iis. Karena tubuh wanita itu berkeringat dingin akibat syok, kain di bagian punggung dan pinggangnya agak menempel, mempertegas kontras antara pinggangnya yang berisi dan lengkungan pantatnya yang sangat padat dan bahenol.
Sementara di sebelah kanannya, Bu Amara berdiri tegak dengan postur sempurna. Dari pantulan cermin lift, Reno bisa melihat siluet samping sang dosen. Dada Amara yang kencang membusung anggun di balik kemeja biru dongker, dilindungi oleh blazer hitamnya yang berpotongan tegas. Tengkuk lehernya yang bersih karena rambutnya yang disanggul tinggi tampak sangat menggoda untuk disentuh.
Gua berasa lagi diapit dua kutub yang beda banget. Yang satu pasif-menggairahkan, yang satu dominan-menantang. Iman gua kalau gak buru-buru di-upgrade bisa jebol ini, batin Reno, menahan pandangannya agar tetap lurus menatap pintu lift.
Ting.
Pintu lift terbuka langsung menghadap koridor unit apartemen Bu Amara. Sang dosen melangkah keluar, menempelkan kartu akses pada gagang pintu digital, dan mendorong pintu kayu ek tebal itu terbuka.
"Silakan masuk. Anggap saja rumah sendiri, Iis. Dan kamu, Reno, duduk di sofa ruang tengah," ujar Bu Amara dengan nada formalitas yang tidak bisa ditawar.
Interior apartemen itu mencerminkan kepribadian pemiliknya: minimalis, modern, sangat rapi, dan didominasi warna-warna monokrom. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian Reno. Di sudut ruang tengah, terdapat sebuah rak buku besar yang penuh dengan literatur hukum, bisnis, dan psikologi, berdampingan dengan beberapa piala penghargaan akademis.
Iis berdiri canggung di dekat pintu, tidak berani melangkah lebih jauh. Bu Amara yang menyadari hal itu kemudian mendekat, memegang pundak Iis dengan kelembutan yang jarang dia tunjukkan di ruang kelas.
"Iis, kamu masuk ke kamar tamu di sebelah kiri itu. Di dalam sudah ada kamar mandi dalam. Kamu bisa membersihkan diri dan beristirahat. Sudah ada pakaian ganti yang bersih di lemari. Pakaian longgar, jadi kamu tidak perlu khawatir," kata Bu Amara, suaranya melembut satu oktav.
Mata Iis berkaca-kaca mendengar perhatian dari dosennya yang terkenal killer itu. "Terima kasih banyak, Bu Amara... saya... saya merepotkan sekali."
"Gak apa-apa. Sesama wanita harus saling jaga. Sudah, masuklah," jawab Amara sambil tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang belum pernah dilihat oleh mahasiswa manapun di kampus.
Sebelum masuk ke kamar, Iis membalikkan badannya menghadap Reno. Dia menatap pemuda itu dengan tatapan mata yang sangat dalam, penuh rasa terima kasih yang tak terhingga, sekaligus ada gurat keengganan untuk berpisah dari sosok yang baru saja menyelamatkannya. "Dek Reno... terima kasih untuk yang tadi ya. Kalau gak ada Dek Reno, aku gak tahu nasibku gimana."
Reno mengangguk, tersenyum luwes hingga matanya menyipit ramah. "Sama-sama, Mbak Iis. Malam ini istirahat yang tenang ya. Bajingan kayak gitu gak bakal bisa masuk ke sini."
Iis tersenyum kecil, wajah polosnya tampak sedikit merona merah mendengar kata-kata tegas dari Reno, sebelum akhirnya melangkah masuk ke kamar tamu dan menutup pintunya.
Kini, ruang tengah apartemen itu menyisakan Reno dan Bu Amara. Atmosfer mendadak berubah menjadi lebih intens.
Bu Amara berjalan menuju meja konter dapur bersih, melepas blazer hitamnya dan menyampirkannya di sandaran kursi makan. Tindakan itu seketika mengekspos bentuk tubuh aslinya. Kemeja biru dongker yang dia kenakan ternyata sangat ngepas di badan, menonjolkan lekuk payudaranya yang kencang dan terangkat dengan indah, serta memperlihatkan betapa rampingnya lingkar pinggang wanita berusia tiga puluh lima tahun itu akibat rajin olahraga.
Dia membuka dua kancing teratas kemejanya, memberikan ruang bernapas bagi leher dan tulang selangkanya yang eksotis, lalu menoleh ke arah Reno yang masih berdiri di dekat sofa.
"Duduk, Reno. Saya tidak suka bicara dengan orang yang berdiri seperti satpam," tegur Bu Amara, meskipun nadanya tidak sekeras di kampus.
Reno terkekeh pelan, lalu mendudukkan dirinya di sofa kulit yang empuk. Dia menyandarkan punggungnya dengan santai, melipat satu kakinya ke atas lutut lainnya—posisi duduk yang menunjukkan bahwa dia tidak merasa terintimidasi sama sekali oleh aura superior sang dosen.
Bu Amara datang membawa dua cangkir teh hangat, meletakkannya di atas meja kaca di depan Reno, lalu mendudukkan dirinya di sofa tunggal yang berada tepat di seberang pemuda itu. Dia menyilangkan kakinya, membuat rok kerjanya sedikit tersingkap, memperlihatkan paha atasnya yang kencang dan mulus.
Dia melepas kacamata kotaknya, meletakkannya di samping cangkir, lalu memijat pangkal hidungnya pelan. Tanpa kacamata, mata Bu Amara kelihatan jauh lebih besar, sayu karena lelah, namun memancarkan keintiman wanita matang yang sangat pekat.
"Jadi... jelaskan kepada saya, Reno. Bagaimana seorang mahasiswa baru usia sembilan belas tahun bisa terlibat dalam urusan domestik mahasiswi lain sampai harus baku hantam di parkiran?" tanya Bu Amara, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Reno, mencoba menguliti isi pikiran pemuda itu.
Reno memajukan tubuhnya sedikit, menopang kedua tangannya di atas lutut, menatap balik Bu Amara tanpa ragu. "Sederhana, Bu. Saya cuma orang yang kebetulan lewat dan gak suka liat cowok pecundang mukul cewek. Apalagi ceweknya teman sekelas saya sendiri."
"Hanya itu?" Amara menaikkan sebelah alisnya, nadanya skeptis. "Kamu tidak sedang mencoba menjadi pahlawan kesiangan untuk menarik perhatian Iis? Saya tahu tipe laki-laki seusia kamu, Reno. Hormon yang meluap-luap sering kali dibungkus dengan alasan moralitas."
Mendengar sindiran tajam itu, Reno tidak marah. Dia justru tertawa renyah, sebuah tawa santai yang membuat Bu Amara sedikit tertegun karena jarang ada pria—bahkan rekan dosen pria seumuran—yang berani menertawakan argumennya.
"Wah, Bu Amara tajam banget ya kalau ngeanalisis orang," ucap Reno sambil menggelengkan kepala dengan senyum luwes. "Tapi maaf, Bu, tebakan Ibu salah kali ini. Saya kuliah malam buat belajar, cari gelar, terus bangun bisnis sendiri. Hidup saya udah repot sama urusan logistik gudang tiap hari, gak ada waktu buat drama hormon. Tapi kalau di depan mata saya ada wanita tertindas yang minta tolong, nurani saya sebagai pria gak bakal ngebiarin saya jalan terus tanpa ngelakuin sesuatu. Apa itu salah?"
Bu Amara terdiam. Jawaban Reno begitu lugas, disampaikan dengan nada santai namun memiliki bobot prinsip yang sangat kuat. Tidak ada kepanikan, tidak ada usaha untuk membela diri secara berlebihan. Pemuda di depannya ini memiliki tingkat kematangan emosional yang sangat langka untuk anak seusianya.
Anak ini... cara bicaranya sama sekali gak kayak bocah sembilan belas tahun, pikir Amara, ada riak ketertarikan yang mulai tumbuh di sudut hatinya yang paling dalam, merubuhkan sedikit demi sedikit dinding es yang selama ini dia bangun di sekitar dirinya.
Amara mengambil cangkir tehnya, menyesapnya perlahan untuk menyembunyikan rasa keterkejutannya. "Lalu, dari mana kamu belajar berkelahi seperti tadi? Saya lihat dari jendela atas, gerakan kamu sangat taktis saat menjatuhkan pria itu."
Reno tersenyum, menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa. "Dunia luar itu keras, Bu. Di gudang tempat saya kerja, isinya kuli angkut dan supir truk yang kalau ngomong pakai urat. Kalau saya lembek, saya udah diinjek-injek dari setahun lalu. Jadi, sedikit bela diri praktis itu cuma cara saya buat bertahan hidup di Jakarta."
Amara manggut-manggut. Pandangannya perlahan turun, memperhatikan bagaimana flanel kotak-kotak Reno yang sedikit terbuka di bagian dada memperlihatkan kulit lehernya yang kecokelatan sehat dan otot dadanya yang padat. Ada getaran aneh yang mendadak melanda perut bawah Amara. Sudah lama sekali dia tidak berdekatan dengan seorang pria yang memancarkan aura maskulin yang mentah namun penuh kendali seperti Reno. Pria-pria di lingkaran akademisnya biasanya terlalu teoritis, klimis, dan membosankan. Sementara Reno... Reno terasa sangat nyata dan berbahaya bagi pertahanannya.
"Kamu... anak yang menarik, Reno," desis Amara pelan, hampir tidak sadar dia mengucapkannya. Dia segera berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya. "Ehem, baiklah. Tulis kronologis kejadian tadi di kertas yang sudah saya siapkan di meja kerja itu. Setelah itu, kamu boleh pulang. Ini sudah hampir tengah malam."
Reno berdiri, berjalan menuju meja kerja kecil yang berada di sudut ruangan. Saat dia mulai menulis, Bu Amara bangkit dari sofanya dan berjalan mendekat, berdiri di samping Reno untuk memperhatikan apa yang ditulis oleh mahasiswanya itu.
Jarak mereka kini sangat dekat, tidak sampai tiga puluh sentimeter. Reno bisa mencium wangi parfum Bu Amara—wangi mawar hitam yang dipadu dengan aroma teh hijau, sangat elegan dan memabukkan. Setiap kali tangan Reno bergerak menulis, otot lengan bawahnya yang berurat mengencang, membuat Bu Amara yang berdiri di sampingnya diam-diam menelan ludah.
Tiba-tiba, saat Reno hendak mengambil pulpen cadangan yang berada agak jauh di ujung meja, tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan punggung tangan Bu Amara yang juga sedang bersandar di pinggir meja.
Gerakan mereka berdua terhenti.
Kulit tangan Reno yang hangat dan sedikit kasar bersentuhan langsung dengan kulit tangan Amara yang halus selembut porselen. Sebuah sengatan listrik seperti melompat di antara mereka. Amara tidak langsung menarik tangannya, matanya melebar sedikit, menatap tangan Reno yang mengunci pergerakannya.
Reno tidak menyia-nyiakan momen itu. Bukannya menarik tangan, dia justru membalikkan telapak tangannya, membuat jemarinya yang kokoh menyentuh pelan pergelangan tangan Bu Amara yang nadinya sedang berdenyut kencang. Reno menoleh, menatap wajah Bu Amara dari jarak yang sangat dekat. Dari jarak ini, dia bisa melihat pori-pori wajah sang dosen yang sangat halus, dan bibir tipis Amara yang sedikit terbuka, mengeluarkan napas yang agak memburu.
"Bu Amara..." panggil Reno, suaranya kini berubah menjadi lebih berat, dalam, dan penuh dengan pesona pria dewasa yang dominan. Kedok kepolosannya sengaja dia singkap sedikit untuk menguji sang dosen. "Ibu tegang banget. Apa tulisan saya ada yang salah?"
Amara merasa jantungnya berpacu seperti genderang perang. Sentuhan tangan Reno terasa begitu membakar kulitnya. Sebagai seorang dosen dan wanita mandiri berusia tiga puluh lima tahun, dia seharusnya menampar atau membentak mahasiswa yang berani bersikap kurang ajar seperti ini. Namun, tubuhnya justru mengkhianati pikirannya. Otoritasnya seolah menguap begitu saja di bawah tatapan mata tajam Reno yang mengunci seluruh kesadarannya.
"Reno... kamu... ini di luar kampus, tapi saya masih dosen kamu," bisik Amara, suaranya terdengar goyah, kehilangan seluruh kebekuannya yang biasa.
Reno tersenyum tipis, sebuah senyuman nakal yang sangat karismatik. Dia memajukan wajahnya setingkat lebih dekat, hingga Amara bisa merasakan embusan napas hangat Reno di pipinya. "Saya tahu, Bu. Justru karena ini di luar kampus... kita cuma dua orang dewasa yang lagi bicara, kan?"
Amara meremas pinggiran meja dengan tangan kirinya yang bebas, berusaha mencari pegangan agar lututnya tidak lemas. Sisi femininnya yang sudah lama mati suri kini menjerit histeris, menuntut untuk menyerah pada pesona berondong sembilan belas tahun yang secara luar biasa mampu memegang kendali atas dirinya.
Namun, sebelum situasi itu melangkah lebih jauh ke dalam batas yang tidak bisa ditarik kembali, terdengar suara pintu kamar tamu yang terbuka pelan dari arah belakang mereka.
Klek.
Seketika, Bu Amara menarik tangannya dengan cepat seolah baru saja menyentuh bara api. Dia membalikkan badannya dengan gugup, merapikan kemejanya yang sebenarnya tidak berantakan, sementara Reno kembali berdiri tegak dengan ekspresi wajah yang dalam sekejap berubah menjadi sangat santai dan polos kembali, seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Sial, dikit lagi padahal. Tapi gak apa-apa, umpannya udah kemakan, batin Reno dengan tawa kemenangan di dalam hatinya.
Dari balik pintu kamar tamu, Iis muncul dengan mengenakan daster longgar batik milik Bu Amara yang untungnya berukuran agak besar. Jilbab instan sederhana menutup rambutnya. Wajahnya kelihatan lebih segar setelah mandi, meskipun matanya masih sedikit sembab.
"Maaf... Bu Amara, Dek Reno... aku mengganggu ya?" tanya Iis canggung, merasakan atmosfer di ruang tengah yang mendadak terasa sangat aneh dan pekat.
"Oh, enggak kok, Mbak Iis," jawab Reno cepat dengan senyuman ramah khas anak mudanya. "Ini saya baru aja selesai nulis laporan buat Bu Amara. Kebetulan banget Mbak keluar, saya juga udah mau pamit pulang."
Bu Amara berdeham keras, mencoba menguasai suaranya yang sempat hilang. "I-iya, Iis. Reno sudah mau pulang. Kamu butuh sesuatu?"
"Enggak, Bu. Cuma mau mastiin aja... Dek Reno pulangnya hati-hati ya di jalan. Udah malam banget," kata Iis dengan tatapan mata yang kembali dipenuhi oleh rasa perhatian yang mendalam pada Reno.
Reno mengambil ranselnya, lalu berjalan menuju pintu keluar. Sebelum membuka pintu, dia berbalik dan menatap kedua wanita itu bergantian. Pada Iis, dia memberikan senyuman manis yang menenangkan. Dan pada Bu Amara... dia memberikan tatapan mata yang sangat intens, seolah mengirimkan pesan rahasia bahwa permainan mereka baru saja dimulai.
"Saya pulang dulu, Bu Amara, Mbak Iis. Sampai ketemu di kampus," ucap Reno santai.
Bu Amara hanya mengangguk kaku, matanya tidak berani menatap lurus ke arah Reno, tangannya yang tadi bersentuhan dengan Reno diam-diam dia remas sendiri di balik saku celananya, masih merasakan kehangatan yang tertinggal di sana.
Pintu apartemen tertutup. Reno melangkah menuju lift dengan perasaan yang sangat puas. Malam ini, dia tidak hanya berhasil menyelamatkan seorang wanita sholehah yang butuh perlindungan, tapi dia juga berhasil meretakkan dinding es milik seorang dosen paling ditakuti di kampus.
Langkah kakinya di koridor apartemen terdengar mantap. Jam menunjukkan pukul dua belas malam lewat, dan Reno tahu, mulai besok, kehidupannya di kelas karyawan Universitas Wijaya Kusuma tidak akan pernah sama lagi. Dia bukan lagi sekadar mahasiswa yang mengamati dari belakang. Dia sudah mulai memegang bidak catur di dalam permainan ini.