Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Deru Mesin, Amarah Malam, dan Kendali yang Dingin

Sedan hitam milik Bu Amara melesat membelah Tol Jakarta-Tangerang dengan kecepatan di atas rata-rata. Di balik kemudi, Amara mencengkeram setir dengan sangat kuat. Wajahnya yang putih tampak tegang di bawah sorotan lampu dasbor mobil. Sesekali matanya melirik ke arah ponsel Reno yang diletakkan di dasbor tengah, menampilkan peta navigasi digital yang mengarah ke sebuah kawasan pemukiman padat di pinggiran Tangerang.

Di sebelah kursi kemudi, Reno duduk dengan ketenangan yang hampir terasa tidak nyata. Punggungnya bersandar santai, matanya menatap lurus ke arah jalanan aspal yang tersorot lampu mobil. Tidak ada guratan panik di wajah pemuda sembilan belas tahun itu. Napasnya teratur, tangannya sesekali mengetuk-ngetuk lutut mengikuti irama mesin mobil.

Amara yang sejak tadi menahan napas akhirnya tidak tahan untuk membuka suara. "Reno... kamu kok bisa setenang ini? Iis dalam bahaya, dan suaminya bawa teman-temannya. Kita cuma berdua, Reno. Kamu gak mikirin risiko terburuknya?"

Reno menoleh pelan, menatap Amara dari samping. Ujung bibirnya terangkat, membentuk senyum luwes yang sangat santai, seolah mereka hanya sedang dalam perjalanan mudik, bukan menuju medan tawuran.

"Bu Amara, kalau di lapangan logistik gua panik pas ada truk kontainer kebalik atau kuli-kuli lagi berantem bawa golok, urusan gak bakal kelar, yang ada malah makin hancur," kata Reno, secara alami menggunakan kata 'gua'—menandakan bahwa di luar kampus dan di situasi kritis seperti ini, dia memosisikan dirinya sebagai pria seimbang, bukan lagi mahasiswa yang harus tunduk pada formalitas dosen. "Panik itu gak bakal ngurangin jumlah musuh, Bu. Mending simpen energinya buat mikir taktis pas sampe sana nanti."

Mendengar jawaban itu, dada Amara berdesir aneh. Ada getaran kekaguman yang sangat pekat menyeruak di lubuk hatinya. Sebagai wanita berusia tiga puluh lima tahun yang mandiri dan terbiasa memimpin di ranah akademis, Amara selalu melihat pria-pria di sekitarnya sok pahlawan namun langsung gagap saat dihadapkan pada ancaman fisik yang nyata. Tapi berondong sembilan belas tahun di sebelahnya ini... Reno memancarkan aura kendali yang begitu dominan. Ketenangan Reno tidak dibuat-buat; itu adalah ketenangan seorang pria yang sudah terlatih menghadapi kerasnya hidup.

*Gila... anak ini bener-bener bikin gua ngerasa aman cuma dengan duduk di sebelahnya,* batin Amara, menyembunyikan wajahnya yang sedikit memanas dengan berpura-pura fokus menginjak pedal gas lebih dalam.

"Kita lima menit lagi sampai, Ren," ucap Amara, suaranya kini terdengar lebih stabil, tertular oleh ketenangan Reno.

"Sip. Nanti pas sampai lokasi, Ibu tetep di dalam mobil. Kunci pintu dari dalem, mesin jangan dimatiin. Kalau situasi makin gak kondusif, Ibu langsung telpon polisi atau tancap gas. Jangan turun sama sekali. Paham, Bu?" perintah Reno. Nada bicaranya tidak membentak, tapi penuh otoritas yang membuat Amara secara refleks mengangguk patuh tanpa bantahan, melupakan statusnya sebagai dosen lajang yang biasanya paling anti diperintah oleh pria.

Mobil sedan hitam itu akhirnya berbelok ke sebuah gang yang cukup lebar namun sepi di kawasan perumahan klaster lama. Di ujung gang, tepat di depan sebuah rumah minimalis berpagar besi, pemandangan kacau langsung menyambut mereka.

Sebuah motor matic tergelosor di jalanan. Tiga orang pria bertubuh besar dengan pakaian lusuh sedang berteriak-teriak kasar. Salah satu dari mereka—Beni, suami Iis yang semalam dihajar Reno—sedang memegang sebatang balok kayu besar, menghantamkannya berulang kali ke arah pintu kayu rumah yang sudah mulai retak.

"Iis! Keluar lu lonte! Berani lu ya ngumpet di rumah saudara lu! Keluar atau gua bakar ini rumah!" teriak Beni yang tampaknya kembali dalam pengaruh alkohol, wajahnya merah padam penuh amarah dan dendam sisa semalam.

Dari dalam rumah, terdengar suara jeritan histeris dari dua orang wanita—Iis dan saudaranya—yang ketakutan setengah mati di balik pintu yang hampir jebol.

Amara menahan napas, tangannya gemetar di atas setir. "Reno... mereka bawa senjata kayu. Mereka bertiga..."

"Tenang, Bu. Sesuai instruksi gua tadi, tetep di dalam," kata Reno santai.

Reno membuka laci dasbor mobil Amara, mengambil sebuah senter besi berukuran besar milik Amara yang biasa disimpan untuk keadaan darurat. Reno menggenggam senter besi itu, merasakan bobotnya yang pas. Dia membuka pintu mobil, turun dengan gerakan yang sangat tenang, lalu menutup pintu mobil kembali dengan bunyi klik yang halus.

Amara menatap punggung tegap Reno dari balik kaca mobil yang gelap. Jantung wanita tiga puluh lima tahun itu berdegup kencang, ada rasa takut yang berbaur dengan rasa kagum yang luar biasa liar. Di bawah temaram lampu jalanan, Reno yang mengenakan kemeja hitam polos tampak seperti sosok pelindung malam yang dingin, berjalan mantap tanpa keraguan sedikit pun menuju tiga pria yang sedang mengamuk.

*Reno... hati-hati...* doa Amara dalam hati, tangannya meremas setir dengan mata yang tidak berkedip sedetik pun mengunci figur pemuda itu.

"Woy, bajingan. Belum kapok juga lu dari semalam?"

Suara bariton Reno yang berat dan stabil memecah kebisingan hantaman kayu Beni. Suaranya tidak keras, tapi memiliki daya jangkau yang sanggup membuat gerakan ketiga pria itu mendadak terhenti.

Beni menoleh dengan cepat. Begitu melihat wajah Reno di bawah sorotan lampu jalan, matanya langsung menyala penuh kebencian. "Lu...! Hahaha! Bagus! Pucuk dicinta ulam tiba! Ini dia bocah yang semalam sok pahlawan, Jon, Ndra! Hajar dia sampai mati!"

Dua teman Beni—pria berbadan tegap dengan tato di lengan dan seorang lagi berambut gondrong—langsung berbalik badan, menatap Reno dengan pandangan meremehkan karena melihat yang datang hanyalah seorang anak muda yang tampak stylish ber-kemeja hitam.

"Oh, ini berondong yang udah berani nyentuh bini lu, Ben? Lembek gini badannya," ejek si rambut gondrong sambil mengeluarkan sebilah pisau lipat kecil dari sakunya.

Reno tidak membalas ejekan itu. Dia melangkah maju tiga langkah lagi, berhenti di jarak sekitar tiga meter dari mereka. Ekspresi wajah Reno datar, matanya dingin meneliti posisi berdiri ketiga lawannya.

*Satu pegang balok kayu, satu pegang pisau kecil, satu tangan kosong tapi badannya paling gede. Oke, yang pegang balok dulu gua kelarin,* analisis taktis Reno berputar cepat di kepalanya. Pengalaman menghadapi preman-preman pasar induk yang merebutkan wilayah bongkar muat daging membuat Reno paham betul bahwa dalam perkelahian jalanan, siapa yang bergerak pertama dengan efisiensi tinggi, dia yang menang.

"Gua kasih pilihan terakhir buat kalian bertiga. Pergi dari sini sekarang, atau gua bikin kalian semua tidur di dalem ambulans malam ini," ucap Reno datar, nada bicaranya luwes tanpa beban, seolah sedang menawarkan harga ayam di pasar.

"Bacot lu bocah!" Si rambut gondrong maju duluan, menusukkan pisau lipatnya secara serong ke arah perut Reno.

Gerakan itu lambat di mata Reno. Dengan ketenangan yang luar biasa, Reno menggeser tubuhnya satu tapak ke samping kiri, membuat hunjaman pisau itu melewati ruang kosong. Di saat yang sama, tangan kanan Reno yang memegang senter besi bergerak dengan kecepatan kilat, menghantamkan ujung senter besi itu tepat ke arah pergelangan tangan si gondrong.

*Krak!*

"Aaakhh!" Si gondrong menjerit histeris saat tulang pergelangan tangannya retak. Pisau lipatnya langsung jatuh ke aspal. Belum sempat dia mundur, tangan kiri Reno mencengkeram rambut gondrongnya, menarik kepalanya ke bawah bersamaan dengan lutut kanan Reno yang naik menghantam wajah pria itu dengan telak.

*Bugh!*

Si gondrong langsung ambruk ke aspal dengan hidung berdarah, tidak sadarkan diri dalam sekali kombinasi serangan.

Di dalam mobil, Bu Amara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak. Kecepatan, ketepatan, dan dinginnya cara Reno melumpuhkan lawan bener-bener membuat bulu kuduknya meremang. Itu bukan gaya berkelahi anak remaja yang penuh emosi dan teriakan; itu adalah eksekusi yang bersih dari seorang pria yang tahu persis anatomi kelemahan manusia. Rasa kagum di hati Amara kini bertransformasi menjadi rasa takjub yang mendalam.

Melihat temannya tumbang dalam hitungan detik, si pria bertato bertubuh besar langsung maju, melayangkan pukulan bogem mentah ke arah rahang Reno. Reno menunduk dengan fleksibilitas tubuhnya yang prima, menghindari pukulan itu, lalu memutar tubuhnya ke belakang posisi si pria besar. Dengan kekuatan otot kakinya, Reno melayangkan tendangan samping (*side kick*) yang sangat keras tepat ke arah belakang lutut pria bertato itu.

*Brak!*

Pria besar itu langsung kehilangan keseimbangan dan berlutut di aspal. Reno tidak membuang waktu, dia menghantamkan siku kirinya dengan kekuatan penuh tepat ke tengkuk leher pria itu. Pria bertato itu langsung tersungkur maju, mencium aspal dan tidak bergerak lagi.

Kini tinggal Beni yang berdiri dengan tubuh gemetar. Balok kayu di tangannya mendadak terasa sangat berat. Efek alkohol di kepalanya langsung menguap total, digantikan oleh rasa ngeri yang teramat sangat melihat dua temannya yang berbadan preman tumbang tanpa bisa menyentuh Reno seujung kuku pun.

Reno berjalan mendekati Beni dengan langkah santai, memutar-mutar senter besi di tangannya. Tatapan mata Reno yang dingin mengunci pergerakan Beni.

"S-sini lu... jangan macem-macem lu..." ancam Beni dengan suara gemetar, melangkah mundur hingga punggungnya membentur pagar besi rumah.

Reno berhenti tepat di depan Beni. Dengan gerakan lambat yang sangat intimidatif, Reno mengulurkan tangan kirinya, merebut balok kayu dari genggaman Beni yang sudah lemas tanpa perlawanan, lalu membuangnya ke semak-semak.

Reno mencengkeram kerah baju Beni, mengangkat tubuh pria gempal itu hingga tumit kakinya tidak menyentuh tanah. Wajah Reno hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Beni yang sudah pucat pasi ketakutan.

"Semalam gua udah bilang, kan? Jangan macem-macem lagi. Lu budek atau emang mau mampus?" tanya Reno, suaranya sangat rendah, halus, namun memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.

"Ampun... ampun, Mas... gua gak bakal ke sini lagi... ampun..." isak Beni, air mata ketakutan mengalir di pipinya yang brewokan.

Reno mengembuskan napas pelan, lalu melepaskan cengkeramannya, membuat Beni jatuh terduduk di tanah seperti karung beras. "Pergi. Bawa dua temen lu yang pingsan ini sebelum gua berubah pikiran."

Beni dengan tergesa-gesa membangunkan dua temannya yang mulai sadar dengan sisa-sisa tenaga mereka. Ketiganya langsung menaiki motor dan kabur dari gang tersebut dengan kecepatan penuh, meninggalkan kepulan asap knalpot di keheningan malam.

Setelah memastikan keadaan di luar benar-benar aman, Reno berjalan mendekati pintu rumah yang retak. Dia mengetuk pintu itu dengan lembut. "Mbak Iis... ini saya, Reno. Di luar udah aman. Bajingannya udah pergi."

Pintu perlahan terbuka. Wajah Iis muncul dari balik celah pintu. Begitu melihat sosok Reno yang berdiri tegap dengan kemeja hitamnya yang bersih tanpa luka sedikit pun, tangis Iis kembali pecah. Dia membuka pintu lebar-lebar.

Meskipun syariat dan sifat pemalunya selalu menahannya untuk menjaga jarak, rasa syukur dan kelegaan yang luar biasa membuat Iis melangkah maju, berdiri sangat dekat di depan Reno. Tangannya yang gemetar terangkat, memegangi ujung jaket denim Reno yang tersampir di lengan pemuda itu, seolah-olah jika dia melepaskannya, sosok penyelamatnya ini akan menghilang.

"Dek Reno... ya Allah... Dek Reno gak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Iis dengan suara parau penuh kekhawatiran yang amat sangat. Matanya yang sembab meneliti setiap jengkal tubuh Reno.

Di bawah cahaya lampu teras rumah, Iis yang mengenakan daster batik longgar dan hijab instan tipis memancarkan aura keibuan sekaligus kerapuhan wanita matang yang luar biasa sensual. Karena napasnya yang masih memburu akibat menangis, bagian dadanya yang sangat besar dan padat naik-turun dengan ritme yang cepat di balik kain dasternya, menciptakan siluet yang bener-bener menggoda bagi mata pria normal.

Namun, Reno tetap mempertahankan kendali dirinya. Dia memberikan senyuman manis dan luwes, menepuk pelan tangan Iis yang memegangi ujung jaketnya agar wanita itu tenang. "Saya aman, Mbak. Gak ada luka sama sekali. Kuli-kuli pasar kayak mereka mah gerakannya kebaca semua."

Iis menatap wajah Reno dari jarak dekat. Rasa kagum yang teramat dalam, yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya kepada pria manapun—termasuk suaminya—kini meledak di dalam dadanya. Pemuda di depannya ini baru berusia sembilan belas tahun, namun memiliki keberanian dan kekuatan yang sanggup meruntuhkan seluruh dinding ketakutannya. Ada debaran liar di jantung Iis yang membuatnya merasa bersalah karena statusnya yang masih menjadi istri orang, namun dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri bahwa malam ini, Reno telah menjadi pusat semestanya.

*Dek Reno... kamu bener-bener kiriman Allah buat ngelindungin aku...* batin Iis, pipinya merona merah samar di balik wajahnya yang sembab.

Bu Amara kemudian turun dari mobil dan berjalan mendekat. Langkah kakinya yang anggun kini terlihat lebih santai setelah ketegangannya mereda. Amara berdiri di samping Reno, menatap Iis dengan pandangan empati.

"Iis, kamu aman sekarang. Saudara kamu di dalam gimana?" tanya Amara formal, mencoba menutupi debaran batinnya sendiri yang sejak tadi belum stabil sejak melihat aksi bela diri Reno.

"Saudara saya aman di dalam, Bu Amara... terima kasih banyak Ibu sudah mau datang bersama Dek Reno ke sini," jawab Iis sambil menunduk hormat.

Amara melirik Reno yang sedang merapikan lengan kemeja hitamnya yang sedikit terlipat. Dari jarak sedekat ini, Amara bisa mencium aroma maskulin tubuh Reno yang bercampur keringat tipis—sebuah aroma pria sejati yang bener-bener memicu hormon wanita lajangnya bergejolak hebat. Amara harus mengontrol ekspresi wajahnya sekuat tenaga agar tidak terlihat seperti wanita haus belaian di depan mahasiswanya sendiri.

"Reno, karena situasi di sini sudah aman dan suaminya sudah pergi, sebaiknya kita segera kembali. Ini sudah jam sebelas malam lewat," kata Amara dengan suara yang diusahakan tetap dingin dan berwibawa, meskipun matanya sesekali mencuri pandang ke arah rahang tegas Reno.

"Iya, Bu. Bener," Reno menoleh ke arah Iis. "Mbak Iis, malam ini kunci semua pintu rumah ya. Besok saya bakal minta temen-temen logistik gua yang tinggal di sekitar daerah sini buat ronda di depan gang ini, biar bajingan itu gak berani balik lagi."

Mendengar perhatian Reno yang begitu detail hingga memikirkan keamanan jangka panjangnya, mata Iis kembali berkaca-kaca penuh haru. "Iya, Dek Reno... terima kasih banyak. Hati-hati di jalan ya, Dek... Bu Amara..."

Reno dan Amara kemudian berjalan kembali menuju mobil sedan hitam. Iis berdiri di ambang pintu teras, menatap punggung tegap Reno yang berjalan menjauh dengan pandangan mata yang penuh dengan rasa kepemilikan yang samar, seolah dia baru saja melepaskan pelindung jiwanya.

Di dalam mobil yang kini bergerak kembali menuju arah Jakarta, keheningan yang berbeda menyelimuti kabin mewah tersebut. Keheningan yang tidak lagi mencekam karena ketakutan, melainkan keheningan yang dipenuhi oleh ketegangan seksual dan kekaguman yang tertahan di antara Reno dan Bu Amara.

Amara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan konstan di jalur kiri tol yang sepi. Matanya lurus menatap jalanan, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada pemuda di sebelahnya. Bersentuhan tangan semalam, hampir berciuman di ruangan dosen tadi, dan sekarang melihat Reno bertarung layaknya gladiator demi wanita lain—semua itu bener-bener mengacaukan logika Amara sebagai seorang wanita karier lajang berpendidikan tinggi.

Reno melirik Amara, melihat bagaimana sang dosen lajang sesekali menggigit bibir bawahnya sendiri—sebuah kode tubuh yang menunjukkan bahwa wanita itu sedang mengontrol gejolak batin yang sangat hebat.

Reno tersenyum tipis. Dia sengaja memajukan tubuhnya sedikit, menyandarkan siku kanannya di pembatas tengah dasbor mobil, mendekat ke arah area kemudi Amara.

"Bu Amara..." panggil Reno lembut, suaranya yang bariton terdengar sangat intim di kesunyian kabin mobil yang bergerak. "Ibu dari tadi diem aja. Kenapa? Masih syok liat gua berantem tadi?"

Amara berdeham pelan, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya yang sudah retak parah. "Saya... saya cuma tidak menyangka kamu bisa se-brutal itu, Reno. Tapi saya akui, tindakan kamu tadi sangat efisien untuk melumpuhkan ancaman."

"Brutal?" Reno terkekeh pelan, suaranya terdengar seksi di telinga Amara. "Itu bukan brutal, Bu. Itu namanya perlindungan terukur. Lagian, gua gak bakal biarin aset berharga kampus kayak Mbak Iis—atau bahkan Ibu sendiri—disentuh sama bajingan modelan begitu."

Kata 'atau bahkan Ibu sendiri' keluar dari mulut Reno dengan penekanan yang sangat halus namun bermakna dalam. Amara bisa merasakan darahnya berdesir hebat hingga ke ujung jari-jarinya. Pemuda sembilan belas tahun ini secara terang-terangan sedang menyatakan bahwa dia juga siap melindunginya sebagai seorang pria. Ego Amara sebagai wanita lajang bener-bener luluh lantak malam ini. Dia kagum, dia takjub, dan ada rasa penasaran yang amat sangat tinggi untuk mengetahui seberapa jauh berondong karismatik ini bisa membawanya masuk ke dalam dunianya.

"Kamu... bener-bener pandai bicara ya, Reno," bisik Amara pelan, matanya melirik Reno sekilas dengan tatapan mata yang tidak lagi dingin, melainkan tatapan seorang wanita dewasa yang sedang mengagumi prianya dengan segala kerendahan hati yang tersisa.

Reno hanya tersenyum misterius, kembali menyandarkan tubuhnya di kursi. Permainan ritme emosi ini berjalan dengan sangat sempurna. Baik Iis maupun Bu Amara kini telah bener-bener terjerat ke dalam pesona kendali dinginnya, dan Reno tahu, dia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk memetik hasil dari benih-benih gairah yang telah dia tanam malam ini.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel