Rahasia di Balik Lipatan Kain dan Undangan Malam
Dua jam berlalu seperti siput yang merayap di atas aspal basah. Ketika jarum jam dinding kelas 302 akhirnya menyentuh angka sembilan lewat empat puluh lima malam, Bu Amara menutup laptopnya dengan ketukan yang tajam. Suara itu seketika menjadi musik paling indah bagi telinga para mahasiswa kelas karyawan yang sudah kehabisan energi sejak siang tadi.
"Baik, materi malam ini saya cukupkan sampai di sini. Jangan lupa bab analisis risiko pasar dikerjakan kelompok, dikumpul minggu depan sebelum kelas dimulai. Selamat malam," ucap Bu Amara datar, lalu bergegas merapikan berkas-berkasnya tanpa senyuman.
Seketika, ruang kelas riuh oleh suara resleting tas, derit kursi yang digeser, dan keluhan-keluhan pendek seputar tugas kelompok. Reno mengembuskan napas lega, meregangkan otot-otot bahunya yang terasa agak kaku.
Akhirnya kelar juga. Otak gua rasanya mau pecah dengerin grafik makroekonomi malam-malam begini, batin Reno sambil memasukkan buku catatannya ke dalam ransel.
"Reno," sebuah suara serak-serak basah yang sudah sangat familiar di telinganya selama dua jam terakhir tiba-tiba memanggil.
Reno menoleh. Diana sudah berdiri di samping mejanya. Wanita berusia tiga puluh tahun itu sedang menyampirkan tas tangan Hermes hitamnya ke bahu. Gerakan itu secara otomatis menarik kemeja satin putihnya, membuat bentuk dadanya yang penuh tercetak semakin jelas di bawah lampu neon kelas. Dia menatap Reno dengan senyum manis yang penuh arti.
"Kamu pulang naik motor, kan? Gak takut masuk angin malam-malam begini cuma pakai flanel?" tanya Diana, matanya turun meneliti dada Reno yang bidang sebelum kembali menatap mata pemuda itu.
Reno terkekeh pelan, memasang wajah santai andalannya. "Udah biasa, Kak. Kulit badak kayak saya mah mana mempan sama angin malam Jakarta. Lagian kalau naik motor kan biar cepet sampai rumah, bisa langsung tidur."
"Ih, dingin banget sih jawabannya," goda Diana sambil mencubit pelan lengan atas Reno yang keras. Jari-jarinya yang lentik dengan kuku ber-manicure merah marun itu sengaja menempel sedikit lebih lama dari seharusnya. "Gini deh, karena tadi kamu udah menyelamatkan muka kelas ini dari amukan Bu Amara, gimana kalau aku traktir kopi di kafe depan kampus? Sekalian kita bahas tugas kelompok yang dibilang Bu Amara tadi. Mau?"
Aroma parfum musk Diana yang hangat dan sensual kembali menyergap indra penciuman Reno. Jujur, sebagai cowok normal berumur sembilan belas tahun, ditawari nongkrong malam-malam oleh wanita secantik dan sematang Diana adalah sebuah godaan iman tingkat tinggi.
Gila, ditarget tante-tante karir modelan begini bener-bener bikin gemeter, monolog Reno di dalam hati. Dia tahu Diana tidak cuma mau bahas tugas kelompok. Ada binar ketertarikan yang sangat liar di mata wanita itu. Tapi Reno adalah pengamat yang jeli. Dia tidak mau terburu-buru menyerahkan kendali. Dia ingin tetap terlihat polos, tapi mahal.
Baru saja Reno mau membuka mulut untuk menjawab, pandangannya tidak sengaja melewati bahu Diana dan tertumpu ke pojok belakang kelas.
Di sana, Iis sedang terburu-buru memasukkan bukunya. Gerakannya tampak gugup, bahkan sempat menjatuhkan sebuah kotak pensil kayu hingga isinya berhamburan ke lantai. Yang membuat Reno menaruh perhatian lebih adalah ekspresi wajah wanita sholehah itu. Wajahnya pucat pasi, sesekali dia melirik ke arah jendela luar dengan ketakutan yang amat sangat, seolah-olah ada monster yang sedang menunggunya di kegelapan tempat parkir. Saat dia membungkuk untuk mengambil kotak pensilnya yang jatuh, gamis hijau longgarnya kembali mengetat, memperlihatkan siluet bokongnya yang besar, padat, dan bulat sempurna—sebuah pemandangan kontras yang sangat menggairahkan sekaligus kontradiktif dengan jilbab besarnya.
Namun, fokus Reno langsung teralih ke pergelangan tangan Iis yang kembali tersingkap. Bukan cuma memar biru yang kemarin dia lihat, kali ini ada bekas luka lecet baru yang masih memerah, seperti bekas diseret secara paksa.
Gak beres ini. Ini cewek kayak lagi dikejar setan, pikir Reno, rasa penasarannya sebagai lelaki mendadak mengalahkan godaan Diana.
Reno kembali menatap Diana dengan senyum minta maaf yang paling tulus yang bisa dia pasang. "Aduh, maaf banget nih, Kak Diana. Bukannya menolak rezeki anak sholeh, tapi malam ini saya ada janji sama orang gudang buat ngecek laporan stok ayam beku yang masuk jam sebelas malam nanti. Gimana kalau tugas kelompoknya kita bahas lewat WhatsApp dulu? Nanti Kakak chat saya aja, gimana?"
Diana tampak sedikit kecewa, bibir tipisnya dikerucutkan manja, membuat wajah matangnya kelihatan menggemaskan. "Yah... beneran nih? Padahal aku jarang-jarang lho ngajak cowok duluan. Ya udah deh, mana nomor kamu? Sini aku catat."
Reno memberikan nomor ponselnya. Setelah Diana memberikan kedipan mata perpisahan yang nakal, wanita itu akhirnya melangkah keluar kelas dengan pinggul yang bergoyang anggun, memicu sisa-sisa pandangan lapar dari beberapa pria di kelas yang belum pulang.
Reno segera menyampirkan ranselnya. Dia tidak langsung pulang. Matanya terus mengunci pergerakan Iis yang kini berjalan keluar kelas dengan langkah setengah berlari, memeluk tasnya erat-erat di dada. Reno menjaga jarak sekitar lima meter di belakangnya, berjalan santai namun waspada.
Suasana koridor kampus lantai tiga sudah sepi. Sebagian besar lampu lorong sudah dimatikan untuk menghemat energi. Langkah kaki Iis yang terburu-buru menimbulkan suara gema yang berisik di lorong yang sunyi. Reno terus membuntutinya hingga mereka berdua sampai di area parkir motor yang terletak di bagian belakang gedung fakultas, area yang paling minim penerangan karena posisinya berbatasan langsung dengan pagar pembatas kampus dan rimbunnya pohon-pohon besar.
Suasana malam itu terasa semakin mencekam. Angin malam berembus agak kencang, membuat dedaunan pohon mangga di dekat parkiran berkersek lirih.
Iis berjalan menuju motor bebek tuanya yang terparkir di pojok paling gelap. Tangannya yang gemetar tampak kesulitan memasukkan kunci motor ke dalam lubangnya. Saking gugupnya, kunci itu jatuh ke tanah yang basah.
"Astagfirullah... ya Allah, kenapa susah banget..." isak Iis lirih. Suaranya bergetar menahan tangis.
Tepat saat Iis membungkuk untuk mengambil kuncinya, sebuah bayangan besar tiba-tiba muncul dari balik pohon mangga. Seorang pria berbadan gempal, mengenakan jaket kulit hitam yang kusam dan topi pet, melangkah mendekati Iis dengan seringai kasar di wajahnya yang brewokan.
"Oh, jadi di sini lu sembunyi, hah?! Kuliah malam segala, gaya bener lu jadi bini!" bentak pria itu dengan suara berat dan kasar yang langsung memecah kesunyian parkiran.
Iis terlonjak kaget hingga terduduk di tanah. Wajahnya yang polos seketika dipenuhi air mata ketakutan. "Mas... Mas Beni... ngapain kamu ke sini? Aku... aku cuma mau belajar, Mas..."
Pria bernama Beni itu—yang ternyata adalah suami Iis—maju selangkah dan langsung mencengkeram kasar lengan atas Iis, menarik wanita itu berdiri hingga gamis longgarnya tersingkap sedikit, menampilkan betisnya yang putih namun dipenuhi bekas lebam.
"Belajar atau mau gatel-gatelan sama berondong kuliahan di sini, hah?! Duit jualan kue lu malah dipake buat bayar semesteran, bukannya dikasih ke gua buat modal judi... maksud gua buat modal usaha! Pulang lu sekarang!" Beni membentak tepat di depan wajah Iis, bau alkohol murahan menguar dari mulutnya.
"Sakit, Mas... lepasin... ampun, Mas..." Iis menangis, berusaha melepaskan cengkeraman tangan suaminya yang sangat kuat hingga jilbab syar'inya agak berantakan.
Beni yang tampaknya sedang mabuk dan emosi tidak peduli. Dia mengangkat tangan kanannya, bersiap untuk mendaratkan tamparan keras ke wajah Iis yang tak berdaya.
"Lu berani ngelawan gua sekarang?!" teriak Beni.
Iis memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menerima rasa sakit yang sudah terlalu sering dia rasakan di dalam rumah tangganya.
Namun, tamparan itu tidak pernah tiba.
Sebuah tangan yang besar, kokoh, dan berurat tiba-tiba muncul dari kegelapan dan mencengkeram pergelangan tangan Beni di udara dengan sangat kuat. Cengkeraman itu begitu bertenaga hingga membuat Beni meringis kesakitan dan reflek melepaskan cengkeramannya dari lengan Iis.
Beni menoleh dengan marah. "Siapa lu bangsat?! Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang!"
Reno berdiri di sana. Wajah polos remaja sembilan belas tahunnya kini lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin sedingin es dengan tatapan mata yang tajam menghunjam lurus ke arah mata Beni. Postur tubuh Reno yang tegap dan tinggi 178 sentimeter membuatnya kelihatan jauh lebih intimidatif daripada Beni yang bertubuh gempal namun pendek.
"Gua gak peduli lu siapa. Tapi di lingkungan kampus gua, gak ada tempat buat bajingan yang hobi mukul perempuan," ucap Reno dengan suara bariton yang rendah, tenang, namun penuh dengan penekanan yang berbahaya.
Bapak-bapak mabok modal bacot doang begini mah sering gua hadepin di pasar induk, batin Reno, sama sekali tidak merasa gentar. Pengalamannya menghadapi kuli-kuli angkut yang hobi bikin rusuh di gudang logistik membuatnya tahu persis cara menghadapi pria modelan Beni.
Beni yang merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang anak muda langsung mencoba menarik tangannya yang dicengkeram Reno, lalu melayangkan pukulan tangan kirinya ke arah rahang Reno. "Kurang ajar lu bocah kemaren sore!"
Reno yang sudah waspada dengan cepat memiringkan kepalanya ke kanan, membuat pukulan Beni hanya mengenai angin. Dengan gerakan refleks yang terlatih akibat kerja fisik bertahun-tahun, Reno memanfaatkan momentum itu untuk mencengkeram kerah jaket kulit Beni, lalu menariknya maju sambil menghantamkan lutut kanannya dengan keras tepat ke arah ulu hati Beni.
Bugh!
"Uhukk!"
Beni langsung tertekuk, matanya melotot menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. Napasnya langsung tersedat. Reno tidak berhenti di situ. Dia memutar tubuh Beni dan mendorongnya dengan kuat hingga pria gempal itu jatuh tersungkur di atas tumpukan tempat sampah plastik di pojok parkiran.
"Pulang dan segerin otak lu yang penuh alkohol itu. Kalau gua liat lu macem-macem lagi di kampus ini, gua pastiin lu tidur di sel polsek terdekat," ancam Reno sambil merapikan flanelya yang sedikit kusut. Nada bicaranya santai, seolah dia baru saja membuang sampah, bukan baru saja menghajar orang.
Beni yang kesakitan dan sadar bahwa dia kalah melesat dalam hal kekuatan fisik, merangkak bangun sambil memegangi perutnya. Dia menatap Reno dengan dendam mendalam. "Awas lu... lu liat nanti ya! Iis, pulang lu! Urusan kita belum selesai!" teriak Beni sebelum akhirnya melarikan diri ke arah luar gerbang kampus dengan langkah tertatih-tahap.
Suasana parkiran kembali sunyi. Hanya terdengar suara napas Iis yang terengah-engah dan sisa-sisa tangisnya yang tertahan.
Reno berbalik, wajahnya langsung melunak kembali menjadi sosok pemuda yang ramah. Dia mendekati Iis yang masih terduduk lemas di tanah, menyembunyikan wajahnya di balik lututnya yang ditekuk.
Reno berlutut di depan wanita itu, menjaga jarak yang sopan agar tidak membuat Iis merasa terancam. Dia mengambil kunci motor Iis yang tergeletak di tanah, lalu mengulurkannya.
"Mbak Iis... Mbak gak apa-apa? Ini kuncinya," kata Reno lembut, suaranya sangat kontras dengan suara kasarnya saat menghajar Beni tadi.
Iis pelan-pelan mengangkat wajahnya. Rambutnya yang sedikit menyembul dari balik jilbabnya yang berantakan tampak basah oleh keringat. Saat dia menatap Reno, ada rasa takut yang mendalam, namun juga ada rasa aman yang tiba-tiba menyergap hatinya. Di bawah temaramnya lampu merkuri, Iis melihat sosok Reno bukan lagi sebagai anak magang atau berondong kuliahan biasa. Pemuda di depannya ini baru saja melindunginya dengan tubuh tegapnya, sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh suaminya sendiri selama bertahun-tahun.
"Terima kasih... Dek Reno... terima kasih banyak," bisik Iis dengan suara bergetar. Dia menerima kunci itu, jemarinya yang dingin sempat bersentuhan dengan kulit tangan Reno yang hangat.
Sentuhan singkat itu memberikan sengatan aneh di dada Iis, membuat jantung wanita tiga puluh satu tahun itu berdegup kencang karena alasan yang berbeda.
"Sama-sama, Mbak. Tapi... kalau boleh tahu, itu tadi suami Mbak?" tanya Reno hati-hati.
Iis menunduk, air matanya kembali menetes, membasahi kain gamisnya. Dia mengangguk pelan. "Iya... Mas Beni. Dia... dia marah karena aku nekat kuliah pakai uang tabunganku sendiri. Dia mau uangnya dipakai buat... buat hal lain." Iis sengaja tidak menyebut kata judi karena merasa malu atas aib suaminya.
Reno mengembuskan napas panjang. Dia bisa menebak kelanjutannya. Tipikal lelaki benalu, pikirnya jengkel. Reno kemudian berdiri, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Iis bangun. "Mbak bisa berdiri? Mari saya bantu."
Iis sempat ragu karena prinsipnya yang selalu menjaga jarak dari sentuhan pria non-mahram. Namun melihat ketulusan di mata Reno, dan kakinya yang memang masih lemas akibat syok, dia akhirnya menyambut uluran tangan Reno.
Saat menarik Iis berdiri, tubuh mereka sempat merapat selama satu detik. Di jarak sekat se-dekat itu, Reno kembali disuguhkan pada kenyataan fisik Iis yang luar biasa. Aroma tubuh Iis bukan wangi parfum mahal seperti Diana, melainkan wangi alami sabun bayi yang bercampur dengan keharuman minyak zaitun yang sangat menenangkan. Dada Iis yang besar dan empuk sempat tidak sengaja tertekan ke dada bidang Reno, membuat pemuda itu harus berjuang keras menahan gejolak di bawah perutnya.
Astaga, bener-bener bahenol parah ini si Mbak. Padat banget badannya, jerit batin Reno yang mulai nakal, meskipun wajah luarnya tetap menampilkan ekspresi khawatir yang profesional.
"Mbak Iis mau langsung pulang? Kondisi Mbak masih gemeteran begini, bahaya kalau naik motor sendirian," kata Reno setelah melepaskan pegangannya dengan sopan.
"Aku... aku takut pulang ke rumah, Dek. Mas Beni pasti nunggu di sana dengan emosi," aku Iis jujur, ketakutannya mengalahkan rasa gengsinya.
Reno berpikir sejenak. "Gini aja, Mbak punya rumah saudara atau teman dekat yang aman buat malam ini?"
Iis menggeleng lemah. "Keluargaku semua di kampung, Dek. Di Jakarta aku gak punya siapa-siapa yang bisa ditumpangi malam-malam begini."
Reno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Waduh, masa gua bawa ke kosan gua? Bisa gempar satu kosan anak umur 19 tahun bawa pulang ibu-ibu matang sholehah tengah malam begini, pikir Reno bimbang.
"Reno? Kamu belum pulang?"
Sebuah suara wanita yang sangat berwibawa dan dingin tiba-tiba menginterupsi percakapan mereka dari arah koridor penghubung parkiran mobil.
Reno dan Iis menoleh serempak. Di sana, berdiri Bu Amara. Sang dosen seksi itu tampaknya baru saja berjalan menuju mobil sedan hitamnya yang terparkir tidak jauh dari sana. Dia masih mengenakan blazer hitam ketatnya, menjinjing tas kerja kulitnya yang elegan. Di bawah penerangan lampu parkir, kacamata kotaknya memantulkan cahaya, menambah kesan misterius pada matanya yang tajam mengamati pemandangan di depannya: Reno yang sedang berduaan dengan Iis yang tampak menangis berantakan.
Bu Amara berjalan mendekat, ketukan high heels-nya terdengar intimidatif di keheningan malam. Tatapannya beralih dari Reno ke Iis, lalu ke tumpukan tempat sampah yang berantakan akibat hantaman tubuh Beni tadi. Sebagai wanita cerdas, Bu Amara langsung tahu ada insiden fisik yang baru saja terjadi di sini.
"Ada apa ini? Kenapa kalian belum pulang dan kenapa baju kamu berantakan begitu, Iis?" tanya Bu Amara, suaranya sedingin es namun ada nada selidik yang kuat.
Iis langsung ketakutan, mengira dia akan dikeluarkan dari kampus karena membawa masalah rumah tangga ke area akademik. "Bu... Bu Amara... ini... anu..."
Reno langsung mengambil langkah maju, memosisikan dirinya di depan Iis, menjadi tameng bagi wanita itu dari tatapan menyelidik Bu Amara. Tindakan protektif Reno yang spontan ini lagi-lagi membuat Iis yang berada di belakang punggungnya merasa sangat dilindungi.
"Maaf, Bu Amara. Tadi ada sedikit masalah," kata Reno dengan tenang, suaranya tetap luwes tanpa rasa takut menghadapi sang dosen. "Ada orang luar—yang mengaku sebagai suami Mbak Iis—mencoba melakukan tindakan kekerasan di area parkir ini. Saya kebetulan lewat dan mencoba melerai. Pria itu sudah pergi, tapi kondisi Mbak Iis masih syok dan ketakutan untuk pulang."
Bu Amara terdiam menatap Reno. Dia memperhatikan bagaimana pemuda sembilan belas tahun ini dengan berani berdiri di depannya demi melindungi teman sekelasnya. Ada rasa kagum yang kembali terbit di hati Amara melihat kedewasaan dan keberanian Reno, melampaui usianya yang masih remaja. Namun, wajah dingin Amara tidak berubah.
Amara melirik Iis yang masih sesenggukan di belakang Reno. Sebagai sesama wanita, Amara merasakan empati, meskipun dia selalu menyembunyikannya di balik topeng profesionalismenya.
"Begitu..." Amara membetulkan posisi kacamatanya dengan jari tengahnya yang lentik. "Kekerasan di lingkungan kampus adalah pelanggaran berat, sekalipun pelakunya orang luar. Saya akan minta pihak keamanan meningkatkan patroli besok."
Amara kemudian menatap Reno kembali, matanya mengunci mata pemuda itu. "Lalu, sekarang apa rencana kamu, Reno? Mau membiarkan dia pulang sendirian dengan kondisi seperti ini? Atau kamu mau membawanya ke tempat kos kamu?" tanya Amara dengan nada menyindir yang halus, menguji moralitas si pemuda.
Reno tersenyum tipis, tidak terpancing oleh sindiran dosennya. "Justru itu, Bu. Saya bingung. Mbak Iis gak punya saudara di sini, dan gak aman kalau pulang ke rumahnya malam ini. Saya gak mungkin bawa dia ke kosan saya, gak enak sama warga sekitar."
Bu Amara menatap Reno selama beberapa detik, seolah sedang menimbang sesuatu yang besar di dalam kepalanya. Sambil mengembuskan napas pelan yang membuat dada kencangnya naik-turun di balik blazernya, Amara akhirnya mengeluarkan kunci mobil sedannya dari saku.
"Bawa motor kamu dan ikuti mobil saya dari belakang, Reno," perintah Bu Amara tegas tanpa bantahan.
Reno agak terkejut. "Maksudnya, Bu?"
Bu Amara menatap Reno dengan tatapan misterius yang sulit diartikan di balik lensa kacamatanya. "Iis malam ini akan menginap di apartemen saya. Dan kamu, Reno... kamu harus ikut ke sana untuk menjelaskan kronologis lengkap kejadian ini secara tertulis, agar saya bisa melaporkannya ke pihak rektorat besok pagi. Ada keberatan?"
Reno menelan ludah. Mengikuti dosen seksi dan dingin sekelas Bu Amara ke apartemen pribadinya di tengah malam bersama seorang ibu rumah tangga matang yang bahenol? Ini bukan lagi sekadar kuliah malam biasa. Ini adalah undangan masuk ke dalam babak baru yang jauh lebih intim dan berbahaya.
Gila... malam ini plotnya makin liar aja, batin Reno, merasakan adrenalin mudanya bergejolak hebat di dalam dada.
"Baik, Bu. Saya ikuti dari belakang," jawab Reno dengan senyuman luwes yang menyembunyikan keliaran pikirannya.