Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Langkah Malam dan Mata yang Menilai

Gedung Fakultas Ekonomi Universitas Wijaya Kusuma tampak kusam di bawah guyuran lampu merkuri yang temaram. Sisa-sisa hujan sore tadi menyisakan aroma tanah basah dan aspal hangat yang menguar di udara Jakarta yang pekat. Bagi mahasiswa kelas reguler, jam tujuh malam adalah waktu untuk pulang, nongkrong di kafe dekat kampus, atau bersiap rebahan di kamar kos. Namun, bagi para petarung kelas karyawan, jam ini adalah babak kedua dari kehidupan mereka yang melelahkan dalam sehari.

Di antara kerumunan orang yang bergegas menaiki tangga gedung, tampak seorang pemuda berjalan dengan langkah yang konstan dan tegap. Reno. Usianya baru sembilan belas tahun, terpaut kontras dari mayoritas mahasiswa di kelas malam yang didominasi oleh wajah-wajah matang penuh beban cicilan dan tekanan korporat. Setahun lalu dia masih mengenakan seragam putih-abu-abu. Kini, takdir memaksanya memegang kendali hidup lebih cepat.

Reno mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya digulung rapi hingga ke siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang kokoh dan sedikit kecokelatan—efek dari pekerjaannya sebagai supervisor lapangan di sebuah perusahaan logistik dan pengolahan daging ayam. Tas ransel hitamnya yang tampak berat disampirkan di bahu kanan. Fisiknya yang setinggi 178 sentimeter membuat beberapa mahasiswi senior yang lewat sempat melirik, tertarik pada postur tubuhnya yang tegap alami, bukan hasil bentukan ruang gym, melainkan hasil dari disiplin kerja keras fisik setiap hari.

Reno mengembuskan napas panjang, merapikan rambut hitamnya yang agak berantakan terkena angin malam di atas motor maticnya tadi.

Gila, macetnya Tomang bener-bener gak ngotak, batin Reno sambil melirik jam tangan digital murah di pergelangan kirinya. Untung gak telat. Kalau sampai absen hangus di minggu kedua kuliah, melayang deh duit lemburan yang gua pake buat bayar semesteran ini.

Bagi Reno, kuliah malam bukan tempat untuk mencari relasi sosial, apalagi tebar pesona. Tujuannya tunggal: mencari gelar secepatnya demi membuka jalan bagi ambisi besarnya membangun bisnis sendiri. Dia ingin menjadi pemilik takdirnya sendiri.

Dia melangkah masuk ke ruang kelas 302 yang sudah cukup ramai. Bau sisa parfum ruangan berpadu dengan aroma minyak angin dari beberapa bapak-bapak yang tampaknya sudah kelelahan setelah seharian mengantor. Reno memilih bangku di barisan ketiga dari belakang, posisi taktis yang membuatnya bisa mengamati seluruh ruangan tanpa perlu menjadi pusat perhatian.

Baru saja dia meletakkan bukunya, sebuah aroma parfum yang sangat berkelas—manis, sensual, dengan sentuhan musk yang mahal—tiba-tiba menyeruak, mengalahkan aroma minyak angin di sekitarnya.

Reno menoleh. Seorang wanita dengan langkah anggun berbalut rok span hitam ketat di atas lutut berjalan masuk. Itu Diana. Di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, Manajer Pemasaran sebuah perusahaan swasta itu memancarkan aura wanita metropolitan yang sangat matang. Kaki jenjangnya yang dibalut stocking tipis melangkah dengan ketukan high heels yang ritmis, membuat beberapa pasang mata pria di kelas itu kompak menoleh. Blouse satin putih yang dikenakannya sedikit longgar di bagian dada atas, memperlihatkan kulit lehernya yang putih bersih dan siluet dadanya yang terbentuk sempurna.

Diana mengedarkan pandangan ke seluruh kelas yang hampir penuh, hingga matanya tertumpu pada kursi kosong di sebelah Reno. Senyum tipis terukir di bibirnya yang dilapisi lipstik merah muda mengkilap.

"Kosong, kan? Boleh saya duduk di sini?" tanya Diana. Suaranya serak-serak basah, terdengar sangat intim untuk sebuah pertanyaan kasual.

Reno agak tertegun. Jantung pemuda sembilan belas tahun itu berdesir pelan, refleks mendadak dari hormon mudanya saat berdekatan dengan wanita se-seksi Diana. Namun, Reno dengan cepat menguasai diri. Dia tersenyum sopan.

"Oh, iya, Mbak. Silakan, kosong kok," jawab Reno dengan nada santai namun tetap menghormati yang lebih tua.

Diana duduk, menyilangkan kakinya yang jenjang sehingga rok spannya sedikit tertarik ke atas, mengekspos paha mulusnya yang kencang. Reno buru-buru mengalihkan pandangannya ke depan, berpura-pura sibuk membuka catatan.

Aduh, cobaan macam apa lagi ini gusti... monolog Reno di dalam hati, berusaha keras menjaga napasnya tetap teratur. Ini tante-tante auranya kenapa pekat banget ya? Baru duduk aja udah bikin gerah sekelas.

Diana yang menyadari sikap canggung Reno justru merasa terhibur. Dia menopang dagunya dengan tangan kiri, matanya yang tajam dihiasi eyeliner tipis mulai meneliti Reno dari samping. Dari bahunya yang lebar, kemejanya yang ngepas di badan, hingga rahang Reno yang tegas. Di mata Diana, Reno tampak seperti potongan puzzle yang menyegarkan di antara pria-pria paruh baya di kantornya yang membosankan dan penuh muslihat. Reno kelihatan... bersih dan jujur.

"Kamu... Reno, kan? Yang minggu lalu diam aja pas perkenalan?" tanya Diana, badannya sedikit condong ke arah Reno, membuat aroma tubuhnya semakin pekat menginvasi indra penciuman pemuda itu.

"Eh, iya Mbak. Saya Reno. Iya, kemarin bingung mau ngomong apa," jawab Reno sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tersenyum manis, senyuman khas anak remaja yang polos dan tanpa beban.

"Jangan panggil Mbak, dong. Kelihatan tua banget saya. Panggil Diana aja kalau di luar jam pelajaran," goda Diana dengan kedipan mata yang halus. "Lagian, kamu muda banget ya tampangnya. Umur berapa sih?"

"Sembilan belas, Mba—eh, Kak Diana. Baru setahun lulus sekolah."

"Wah, berondong ternyata," desis Diana pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan yang membuat bulu kuduk Reno meremang. "Hebat ya, umur segini udah mau ambil kelas karyawan. Kerja di mana?"

Belum sempat Reno menjawab, pintu kelas kembali terbuka. Suasana kelas yang tadinya agak bising tiba-tiba mendadak hening. Seorang wanita dengan pakaian yang sangat kontras dari Diana berjalan masuk dengan kepala sedikit tertunduk.

Dia adalah Iis. Wanita berusia tiga puluh satu tahun itu mengenakan gamis wolfis longgar berwarna hijau tua yang sama sekali tidak menonjolkan lekuk tubuh, dipadu dengan hijab syar'i panjang sewarna yang menutup dadanya dengan sempurna. Wajahnya polos tanpa polesan kosmetik tebal, hanya ada sisa air wudhu yang membuatnya tampak sejuk dan teduh. Dia membawa beberapa buku tebal yang dipeluk erat di dadanya.

Namun, perhatian Reno teralih ketika Iis berjalan melewati barisan kursinya. Saat itu, AC ruang kelas bertiup cukup kencang, membuat kain gamis longgar yang dikenakan Iis sempat menempel ketat ke tubuhnya selama beberapa detik.

Mata Reno yang jeli sebagai seorang pengamat mendadak melebar. Di balik pakaian longgar dan menutup aurat itu, Reno melihat siluet tubuh yang luar biasa subur dan bahenol. Dada Iis sangat besar dan padat, membentuk kurva yang menonjol luar biasa di balik kain hijabnya. Begitu pula dengan bagian belakangnya yang tampak penuh dan berisi, menciptakan proporsi tubuh curvy yang sangat menggairahkan bagi pria manapun yang jeli melihatnya.

Astaga... Reno menelan ludah secara refleks. Itu... Mbak Iis beneran montok banget di balik baju longgarnya. Gila, tersembunyi tapi speknya di atas rata-rata ini sih.

Reno juga menangkap sesuatu yang ganjil. Di pergelangan tangan kiri Iis yang sedikit tersingkap saat memeluk buku, ada bekas memar kebiruan yang berusaha disembunyikan di balik lengan gamisnya. Wajah Iis juga tampak layu, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang menyiratkan kelelahan batin yang mendalam. Sebagai orang yang biasa hidup di lingkungan keras, Reno tahu itu bukan bekas jatuh biasa. Itu bekas cengkeraman yang kuat.

Iis memilih duduk di pojok barisan paling belakang, terisolasi dari mahasiswa lainnya, seolah dia takut keberadaannya mengganggu orang lain atau ketakutan akan sesuatu yang selalu mengintainya dari luar kampus.

"Kenapa? Kamu suka tipe yang alim begitu?"

Suara Diana tiba-tiba membuyarkan lamunan Reno. Wanita karier itu rupanya memperhatikan arah pandang Reno. Ada sedikit nada cemburu sekaligus nada menantang dalam intonasi suaranya.

Reno menoleh ke arah Diana, mencoba bersikap santai. "Ah, enggak kok, Kak. Cuma ngelihat aja, kayaknya dia buru-buru banget tadi."

"Dia itu namanya Iis. Kabarnya sih udah punya suami, tapi gak tahu ya, jarang interaksi sama yang lain. Misterius," ucap Diana sambil mengedikkan bahunya yang indah, lalu mengeluarkan laptop dari tasnya.

Reno hanya manggut-manggut, namun pikirannya masih tertuju pada memar di tangan Iis. Ada yang gak beres sama rumah tangga itu orang, pikir Reno.

Tepat jam tujuh lebih lima belas menit, suara langkah kaki yang tegas dan beritme konstan terdengar dari koridor. Sesaat kemudian, seorang wanita dengan aura otoritas yang sangat kuat masuk ke dalam kelas.

Bu Amara. Dosen Pengantar Bisnis berusia tiga puluh lima tahun itu melangkah masuk dengan memegang sebuah tablet dan beberapa berkas. Rambut hitamnya disanggul rapi ke atas dengan gaya french twist, mengekspos lehernya yang jenjang dan putih bersih serta tulang selangka yang membingkai dadanya dengan anggun. Dia mengenakan kemeja kerja berwarna biru dongker yang pas di badan, dipadu dengan blazer hitam terstruktur yang menonjolkan postur tubuhnya yang kencang—hasil dari latihan pilates rutin yang dilakukannya. Kacamata berbingkai kotak tipis bertengger di hidungnya yang mancung, memberikan kesan cerdas, dingin, sekaligus sangat seksi (sexy secretary look) yang membuat para mahasiswa menahan napas.

Bu Amara meletakkan berkasnya di meja dosen dengan ketukan yang tegas, lalu menatap seluruh ruangan dengan pandangan matanya yang tajam di balik lensa kacamatanya.

"Selamat malam semuanya," suara Bu Amara terdengar dingin, jernih, dan tidak menerima bantahan. "Saya harap di minggu kedua ini, tidak ada lagi yang mengantuk atau terlambat mengumpulkan tugas analisis jurnal yang saya berikan minggu lalu. Kelas karyawan bukan alasan untuk bersikap malas."

Mendengar kata "tugas analisis jurnal", seisi kelas langsung mengeluh pelan, terutama para pria paruh baya yang tampaknya tidak sempat menyentuh laptop karena kesibukan kerja.

"Mampus gua, tugas yang kemarin belum kelar lagi," bisik seorang pria berbadan tambun di barisan depan.

Bu Amara tidak peduli dengan keluhan itu. Matanya menyapu ruang kelas, hingga pandangannya berhenti tepat pada Reno yang duduk di barisan belakang. Berbeda dengan mahasiswa lain yang tampak lesu atau menghindari kontak mata, Reno justru menatap balik Bu Amara dengan pandangan yang tenang, lurus, dan penuh rasa ingin tahu yang sehat. Tidak ada ketakutan di mata pemuda sembilan belas tahun itu.

Bu Amara sedikit menaikkan sebelah alisnya. Sebagai dosen yang terbiasa dihormati dan ditakuti, ketenangan Reno menarik perhatian kecil di sudut benaknya.

Anak muda ini... tatapannya beda, batin Bu Amara sekilas sebelum kembali fokus pada layar tabletnya. "Baik, kita mulai. Hari ini kita akan membahas tentang manajemen risiko dan struktur pasar. Saya ingin tahu sejauh mana kalian memahami konsep ini di dunia kerja nyata. Ada yang bisa memberikan contoh konkrit dari tempat kerja masing-masing?"

Kelas mendadak hening. Semua orang mendadak sibuk memandangi lantai atau berpura-pura menulis. Mereka takut ditunjuk.

Diana di sebelah Reno hanya tersenyum tipis, dia tentu tahu jawabannya karena posisinya sebagai manajer, tapi dia sengaja diam, ingin melihat apakah ada orang lain yang berani bicara. Sementara di pojok belakang, Iis tampak semakin menenggelamkan kepalanya, berusaha menjadi "tak terlihat".

Melihat kelas yang pasif, Bu Amara mengembuskan napas kecewa. "Tidak ada? Kuliah malam ini dibayar dengan keringat kalian sendiri, kenapa kalian pasif sekali?"

Reno melihat situasi ini. Di kepalanya, dia langsung mengaitkan pertanyaan Bu Amara dengan konflik nyata yang setiap hari dia hadapi di gudang logistik tempatnya bekerja—soal bagaimana fluktuasi harga pakan ayam berimbas pada rantai pasok dan risiko kerugian perusahaan jika stok daging beku tertahan di gudang.

Ah, elah, masa gini aja pada diem sih. Kelar jam berapa kita kalau dosennya nungguin begini, pikir Reno jengkel dengan kepasifan kelas.

Tanpa ragu, Reno mengangkat tangan kanannya dengan mantap. "Saya coba, Bu."

Seluruh kelas langsung menoleh ke arah barisan belakang. Diana melirik Reno dengan mata berbinar penuh minat, sementara Bu Amara membetulkan posisi kacamatanya, menatap lurus ke arah Reno.

"Ya, silakan. Sebutkan nama dan latar belakang pekerjaan kamu," kata Bu Amara dengan nada yang sedikit melembut, menghargai keberanian itu.

Reno berdiri, membuat postur tubuhnya yang tegap dan proporsional terlihat jelas oleh semua orang di kelas, termasuk Bu Amara yang sempat memperhatikan bagaimana kemeja Reno membungkus dadanya yang bidang dengan pas.

"Nama saya Reno, Bu. Saya bekerja sebagai supervisor lapangan di perusahaan distribusi dan pengolahan pangan lokal," Reno memulai dengan suara yang bariton, tenang, dan tidak gugup sama sekali. "Terkait manajemen risiko di pasar nyata, perusahaan saya sering menghadapi risiko volatilitas harga bahan baku dan hambatan logistik. Misalnya, ketika ada keterlambatan pengiriman armada dari daerah pemasok ke gudang pusat, risiko kerusakan komoditas segar sangat tinggi. Strategi mitigasi yang kami lakukan adalah menerapkan sistem first-in, first-out yang ketat serta membagi kuota pasokan ke beberapa vendor lapis kedua untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen."

Penjelasan Reno singkat, padat, dan sangat taktis. Itu bukan teori dari buku teks, melainkan murni dari pengalaman empiris seorang praktisi lapangan.

Suasana kelas hening sejenak. Diana tersenyum lebar, tampak sangat terkesan dengan kedewasaan berpikir berondong di sebelahnya ini. Sementara di pojok belakang, Iis sempat mendongak, menatap punggung tegap Reno dengan binar kekaguman yang samar di matanya yang sayu.

Bu Amara terdiam selama beberapa detik. Matanya menatap Reno dengan intensitas yang lebih dalam dari sebelumnya. Dia tidak menyangka anak muda usia sembilan belas tahun yang awalnya dia kira hanya ikut-ikutan kuliah malam ini bisa memberikan analisis operasional sebersih itu.

"Analisis yang sangat bagus, Reno," ucap Bu Amara, ada nada kepuasan yang tertahan dalam suaranya yang dingin. "Kamu memetakan risiko operasional sekaligus mitigasi pasar dengan tepat. Silakan duduk kembali."

"Terima kasih, Bu," jawab Reno santai, lalu kembali duduk.

Begitu Reno duduk, Diana langsung mendekatkan tubuhnya lagi, menyentuh lengan Reno secara halus dengan jemarinya yang lentik. "Keren banget kamu, Ren. Gak nyangka ya, anak muda otaknya encer begini. Bikin gemes aja," bisik Diana dengan nada menggoda, matanya mengerling nakal ke arah bibir Reno.

Reno hanya tersenyum kikuk, meraba tengkuknya lagi. Aduh Kak, jangan pegang-pegang gini napa, iman gua masih tipis ini, batin Reno bersuara, merasakan sensasi hangat dari sentuhan tangan Diana di kulit lengannya.

Namun, di tengah rasa bangganya, Reno tidak menyadari bahwa di luar jendela kelas yang menghadap ke area parkir yang sepi, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap terparkir dalam kondisi mesin menyala. Di dalam mobil itu, seseorang sedang mengamati gedung fakultas dengan teropong, mencatat sesuatu di sebuah buku kecil.

Kampus Universitas Wijaya Kusuma kelas malam ini baru saja dimulai bagi Reno. Di antara tatapan menggoda dari Diana yang agresif, pandangan menilai dari Bu Amara yang dingin, dan rahasia kelam yang disembunyikan di balik pakaian longgar Iis, Reno belum menyadari bahwa dia bukan sekadar masuk ke ruang kuliah.

Dia baru saja melangkah masuk ke dalam sebuah jaring intrik, misteri, dan permainan gairah dewasa yang akan mengubah total hidupnya dari seorang pemuda polos menjadi pria yang memegang kendali atas wanita-wanita di sekelilingnya.

Kuliah malam itu terus berlanjut, seiring dengan detak jam dinding yang merayap menuju larut, membawa Reno semakin dalam ke dalam labirin yang tidak ada jalan pulangnya.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel