Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Tubuh yang Dituduh Tidak Tahu Aturan

Para calon selir berlutut serentak. Kain sutra bergesek di lantai, gelang giok berdenting halus, dan suara penghormatan ratusan gadis menyatu di bawah langit-langit aula.

“Hamba memberi hormat kepada Ibu Suri dan Permaisuri,” ucap mereka bersama-sama. Elara ikut menunduk sesuai aturan sambil menekan rasa gatal di kulitnya dengan kuku yang tersembunyi di balik lengan baju.

Gerakan kecil itu justru membuat rasa panas menyebar hingga ke pergelangan tangan. Elara menarik napas pelan dan berusaha menjaga tubuhnya tetap tenang.

“Bangkit,” ucap Permaisuri Helena.

Barisan kembali berdiri dan para gadis segera menata posisi. Elara menjaga punggung tetap tegak meskipun tubuhnya mulai bereaksi terhadap sesuatu yang jelas bukan sekadar udara lembap.

Kasim pembaca nama maju. Satu demi satu calon selir dipanggil untuk memperlihatkan etiket, suara, cara berjalan, dan kecakapan dasar yang dianggap pantas untuk dinilai penguasa harem.

Clarissa Qiao maju lebih dahulu. Ia memberi hormat dengan sudut tubuh yang nyaris sempurna, menjawab pertanyaan dayang etiket dengan suara rendah, lalu membaca bait pendek mengenai kesetiaan perempuan istana kepada Keluarga Kekaisaran Zhao.

Permaisuri Helena mengangguk tipis. “Keluarga Qiao tidak lalai mendidik putrinya.”

“Semua karena keluarga hamba menghormati aturan istana,” jawab Clarissa dengan kepala tetap menunduk. Setelah menerima isyarat untuk mundur, barulah ia kembali ke barisan.

Ketika Clarissa melewati Elara, kepalanya sedikit tertunduk seperti gadis yang memahami tata krama. Senyumnya terlihat sopan bagi orang lain, tetapi Elara melihat ujung bibir itu terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membantu calon selir lain.

“Keluarga Biro Pengamat Langit, Elara Bai,” panggil kasim.

Bisik-bisik langsung bergerak. Beberapa calon selir melirik dengan mata cerah, seolah giliran Elara bukan penilaian, melainkan pertunjukan kecil yang sudah mereka tunggu sejak berada di halaman luar.

Elara maju tiga langkah lalu berlutut. “Hamba Elara Bai memberi hormat kepada Ibu Suri dan Permaisuri.”

Ibu Suri Celeste menatapnya lebih lama daripada yang Elara harapkan. Wanita senior itu tidak segera bertanya, membuat keheningan singkat di aula terasa semakin menekan.

“Ayahmu Elias Bai, pejabat kelas II di Biro Pengamat Langit?” tanya Ibu Suri akhirnya. Tatapannya tetap tertuju pada Elara tanpa menunjukkan perubahan emosi.

“Benar, Ibu Suri.”

“Biro itu membaca hari baik dan tanda cuaca. Kalau keluargamu memahami tanda, mengapa kau tampak begitu gelisah sejak memasuki aula?”

Pertanyaan itu membuat beberapa gadis menahan senyum. Elara merasakan gatal di pinggangnya seperti api kecil yang disentuh angin, tetapi ia memaksa suaranya tetap rendah.

“Hamba kurang sehat sejak memasuki aula, tetapi hamba akan menjaga sikap sebaik mungkin.”

Clarissa mengangkat kipasnya dengan wajah cemas. “Mungkin Nona Bai terlalu gugup. Ia tadi juga tampak gelisah di halaman, tetapi hamba mengira itu hanya karena ia jarang menghadiri upacara besar.”

Ucapan itu terdengar seperti pembelaan, tetapi arahnya jelas. Elara sekarang bukan hanya tampak sakit, melainkan juga terlihat lemah dan tidak terbiasa berada di hadapan para penguasa harem.

Gadis berbaju merah muda di barisan depan ikut berbisik cukup keras hingga terdengar oleh dayang terdekat. “Jangan-jangan dia sengaja bergerak agar diperhatikan. Kaisar memang belum hadir, tetapi siapa tahu dia mengira Ibu Suri akan mengasihaninya.”

Tawa tertahan terdengar dari beberapa sisi dan sejumlah mata semakin terang karena mendapat bahan tontonan. Dayang etiket di dekat panggung menatap lengan Elara sebelum mencatat sesuatu pada papan kecil.

Permaisuri Helena meletakkan cangkirnya. “Elara Bai, berjalanlah tiga langkah ke kanan, berbalik, lalu beri hormat. Kami ingin melihat apakah tubuhmu benar-benar mampu mengikuti aturan dasar aula.”

Elara bangkit dan mengatur napas sebelum melangkah. Ia tahu tugas itu sederhana, tetapi bubuk di pakaiannya sudah bekerja terlalu dalam sehingga setiap gesekan kain terasa seperti pasir panas yang digosokkan ke kulit.

Langkah pertama masih dapat dikendalikan. Pada langkah kedua, lengan bajunya menyentuh sisi pinggang, membuat rasa gatal menusuk tajam hingga napasnya tertahan.

Bahu Elara bergerak sedikit sebelum ia segera menahan tubuhnya. Namun dayang etiket sudah melihat gerakan tersebut dan mengangkat kepala dari papan catatannya.

“Gerak bahu tidak sesuai,” ucap dayang itu.

Elara segera memberi hormat untuk menjaga etiket yang tersisa. “Mohon ampun. Hamba merasa ada sesuatu pada pakaian hamba.”

Aula menjadi lebih sunyi, bukan karena orang-orang mempercayainya, tetapi karena tuduhan samar selalu lebih menarik dibandingkan kesalahan yang sudah pasti. Permaisuri Helena menatap Elara tanpa berkedip.

“Ada sesuatu pada pakaianmu?” tanya Permaisuri. “Kau sedang mengatakan ada orang yang membuatmu seperti ini?”

Elara tahu jawaban itu berbahaya. Jika ia menyebut nama tanpa bukti, dirinya akan dianggap menuduh demi menyelamatkan muka, tetapi jika diam, fitnah hari itu dapat berubah menjadi kebenaran resmi.

“Sebelum masuk aula, ada yang membantu merapikan pita dan lengan baju hamba,” ucap Elara pelan. “Setelah itu, kulit hamba mulai panas.”

Clarissa segera maju setengah langkah. Wajahnya tampak terkejut, bahkan matanya sedikit berair seolah terluka oleh tuduhan tidak langsung tersebut.

“Nona Bai, aku hanya berniat baik. Semua orang melihat aku membantumu karena pita pinggangmu memang miring,” katanya lembut. “Kalau bantuan sekecil itu membuatmu merasa disakiti, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.”

Jessica Gu yang berdiri di belakang barisan dayang ikut menunduk. “Hamba juga hanya menyapu debu di lengan Nona. Hamba tidak berani melakukan sesuatu yang mencemari aula.”

Beberapa calon selir langsung mengangguk. Bagi mereka, jauh lebih mudah percaya bahwa Elara gugup dan mencari alasan daripada menerima kemungkinan bahwa gadis selembut Clarissa memasang jebakan di depan gerbang istana.

Rasa gatal di leher Elara semakin tajam. Ia menahan diri hingga ujung matanya berair, tetapi gangguan kecil yang terus-menerus itu akhirnya membuat tubuhnya gemetar.

Ibu Suri Celeste akhirnya berbicara setelah memperhatikannya cukup lama. “Perempuan yang belum masuk harem tetapi sudah tidak mampu menjaga tubuhnya di aula tidak pantas ditempatkan di paviliun utama.”

Satu kalimat itu membuat seluruh aula sampai pada kesimpulan yang sulit dilawan. Elara menunduk, merasakan nama keluarga Bai seperti dilempar ke lantai di hadapan semua orang.

Permaisuri Helena memberi isyarat kepada kasim. “Karena ia tetap putri pejabat resmi, jangan usir dari istana. Tempatkan Elara Bai di Istana Dingin sampai pemeriksaan berikutnya.”

Pemeriksaan berikutnya terdengar seperti belas kasihan, tetapi semua orang tahu Istana Dingin merupakan tempat nama seorang perempuan perlahan menghilang dari catatan kehidupan. Gadis yang dikirim ke sana jarang kembali, dan kalaupun kembali, ia tidak pernah kembali dengan wajah yang sama.

Dua dayang maju dan memegang lengan Elara. Pegangan mereka tampak seperti bantuan, tetapi cukup kuat untuk memastikan ia tidak dapat memperbaiki posisi tubuhnya.

Saat dibawa melewati barisan calon selir, Elara melihat Clarissa menunduk seolah sedang menahan kesedihan. Namun di balik lengan sutra yang menutupi bibirnya, senyum tipis itu muncul sesaat, begitu cepat hingga hanya Elara yang menangkapnya.

Elara yang lama akhirnya memahami bahwa kebaikan tadi hanyalah sebilah pisau yang dibungkus kelembutan. Sayangnya, pintu aula sudah berada di belakangnya dan keputusan harem telah mengubah dirinya menjadi perempuan buangan sebelum sempat terpilih.

Kereta kecil yang membawa Elara bergerak melewati jalan samping istana setelah matahari condong ke barat. Roda kayunya berderit di atas batu yang semakin jarang disapu, sementara aroma gaharu dari aula utama perlahan digantikan bau daun busuk, air parit, dan dinding tua yang terlalu lama menyimpan lembap.

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel