Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Minuman Terakhir di Istana Dingin

Dua dayang pengantar duduk di depan tanpa menoleh. Seorang kasim penjaga berjalan di samping kereta sambil mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai batu setiap kali Elara batuk atau bergerak terlalu lama.

“Baru masuk istana sudah membuat malu keluarga,” gumam salah satu dayang. “Putri pejabat zaman sekarang rupanya mengira wajah cantik cukup untuk melewati etiket.”

Dayang lainnya tertawa pendek sambil memandang lurus ke depan. “Kalau Biro Pengamat Langit benar-benar hebat, mereka seharusnya bisa melihat putrinya akan masuk Istana Dingin hari ini.”

Elara mendengar semuanya, tetapi tidak memiliki tenaga untuk menanggapi. Tubuhnya lemah, kulitnya masih panas, dan tenggorokannya kering, sedangkan rasa malu yang menekan dadanya terasa jauh lebih berat daripada sakit di kulit.

Ia memikirkan ayahnya. Elias Bai bukan pejabat kaya, bukan orang yang memiliki pasukan, dan bukan pula kepala keluarga yang mampu menekan harem dengan hadiah-hadiah mahal.

Jika kabar hari ini tersebar, orang-orang tidak akan bertanya siapa yang menjebak Elara. Mereka hanya akan mengatakan keluarga Bai gagal mendidik putrinya, lalu setiap catatan ayahnya di Biro Pengamat Langit akan dibaca dengan senyum merendahkan.

Kereta berhenti di depan gerbang samping yang catnya sudah mengelupas. Di atas papan tua tertulis nama Istana Dingin, tetapi tempat itu lebih menyerupai halaman belakang yang sengaja dilupakan.

Paviliun yang diberikan kepada Elara berada di sisi barat. Gentingnya pecah di beberapa bagian, jendela kertas menguning, dan dekat pintu terdapat bekas air hujan yang meninggalkan garis hitam pada dinding kayu.

“Turun,” ucap kasim penjaga. “Jangan menunggu orang mengangkatmu seperti selir kesayangan.”

Elara turun dengan susah payah dan kakinya hampir terlipat ketika menyentuh tanah. Seorang gadis pelayan segera berlari keluar dari paviliun untuk menahan lengannya sebelum tubuhnya benar-benar jatuh.

“Nonaku, pelan-pelan,” bisik gadis itu dengan suara bergetar. Elara mengenali wajahnya melalui ingatan yang masih kacau.

Lina Xu adalah pelayan rendah yang dikirim bersama Elara sejak keluarga Bai menyerahkan daftar pendamping ke istana. Gadis itu masih muda, pakaiannya sederhana, dan rambutnya diikat rapi meskipun beberapa helai telah terlepas karena sejak tadi ia jelas berlari ke sana kemari menyiapkan ruangan yang nyaris tidak layak ditempati manusia.

Dua dayang pengantar menaruh bungkusan kecil di lantai lalu pergi tanpa memastikan Elara sudah duduk. Kasim penjaga meninggalkan pesan bahwa Kepala Dayang Martha Luo akan memeriksa kamar keesokan pagi, kemudian menutup pintu dengan hentakan hingga debu jatuh dari bingkai atas.

Ruangan itu kosong selain ranjang kayu, meja retak, kendi tua, baskom tembaga penyok, dan satu selimut tipis yang warnanya hampir tidak dapat dikenali. Di sudut dekat jendela tercium bau jamur bercampur lembap, sementara bekas air hujan di lantai belum benar-benar kering.

Lina membantu Elara duduk di ranjang. Matanya merah, tetapi gadis itu menahan tangis agar tidak membuat majikannya semakin runtuh.

“Nonaku, hamba sudah meminta air panas, tetapi dapur belakang hanya memberi setengah kendi,” kata Lina. “Mereka bilang orang yang baru masuk Istana Dingin tidak berhak memilih.”

Elara ingin menjawab, tetapi tenggorokannya terlalu kering. Lina segera menuangkan air dari kendi, lalu ragu ketika melihat warnanya agak keruh.

Sebelum Lina menyerahkan cangkir, terdengar ketukan dari luar. Seorang dayang kecil masuk membawa nampan yang berisi semangkuk minuman hangat.

“Ini kiriman belas kasihan dari calon selir lain,” kata dayang itu sambil menunduk. “Katanya Nona Bai tampak sakit di aula, jadi minuman ini bisa menenangkan tubuh.”

Lina menatap nampan tersebut dengan curiga. “Dari siapa?”

Dayang kecil itu menggeleng dengan wajah tegang. “Hamba hanya disuruh mengantar. Kalau Nona tidak menerimanya, hamba yang akan dimarahi.”

Elara menatap mangkuk itu. Uapnya tipis, aromanya manis, dan di tengah rasa haus yang mencengkeram tenggorokan, minuman tersebut tampak seperti satu-satunya kebaikan yang tersisa setelah hari yang begitu buruk.

“Nonaku,” bisik Lina, “lebih baik jangan diminum dulu.”

Elara yang lama memejamkan mata. Ia terlalu lelah untuk menimbang semua kemungkinan, terlalu malu untuk terus mencurigai setiap orang, dan terlalu haus untuk menolak minuman hangat setelah tubuhnya diguncang rasa gatal sejak pagi.

“Kalau masih ada orang yang mau mengirim sesuatu, mungkin istana belum sepenuhnya kejam,” ucap Elara lama dengan lirih. Lina ingin mencegahnya lagi, tetapi dayang pengantar masih berdiri di pintu dengan wajah takut.

Di tempat seperti ini, bahkan menolak pemberian tanpa alasan dapat dianggap sebagai kesalahan baru. Elara akhirnya mengangkat mangkuk dan meminum separuh isinya.

Rasa manisnya segera berubah pahit di belakang lidah, tetapi minuman itu sudah terlanjur ditelan. Elara mengembalikan mangkuk kepada Lina tanpa berkata apa-apa.

Malam turun perlahan di Istana Dingin. Hujan kecil mulai mengetuk genting yang pecah, sementara angin masuk melalui celah jendela dan membawa hawa dingin yang membuat kulit Elara bergetar.

Awalnya ia hanya merasa perutnya mulas. Tidak lama kemudian tenggorokannya mengering, pandangannya mengabur, dan panas pada kulitnya kembali naik dari dalam tubuh.

Lina panik dan ingin berlari mencari tabib. Namun penjaga koridor sebelumnya telah memperingatkan bahwa penghuni baru tidak boleh membuat keributan setelah malam, terlebih jika statusnya baru saja dijatuhkan dari Aula Bunga Terpilih.

“Nonaku, tahan sebentar. Hamba akan mencari orang,” ucap Lina dengan suara pecah.

Elara yang lama menangkap tangan Lina. Genggamannya lemah, sementara matanya basah oleh rasa takut yang tak lagi dapat disembunyikan.

“Ayah...” gumamnya. “Katakan kepada Ayah, aku tidak sengaja mempermalukan keluarga.”

Lina menangis tanpa suara. Di luar kamar, hujan semakin rapat hingga menutupi bunyi langkah kecil yang berlari sepanjang koridor, lalu kembali dengan tangan kosong karena tidak ada seorang pun bersedia memanggil tabib bagi selir buangan yang baru datang.

Tubuh Elara yang lama melemah sebelum tengah malam. Ia mati tanpa sempat membuktikan bahwa dirinya telah dijebak, tanpa mendengar nama keluarga Bai dibersihkan, dan tanpa pernah mengetahui bahwa minuman terakhir yang dipercayainya justru menutup satu-satunya kesempatan untuk bertahan.

Ketika Elara membuka mata lagi, bunyi pertama yang didengarnya adalah tetesan air dari langit-langit. Tetesan itu jatuh di dekat telinganya dengan irama kecil dan teratur, seolah seseorang sedang mengetuk dari dunia lain.

Ia tidak langsung bangkit. Kepalanya berat, tenggorokannya pahit, kulitnya panas, dan ingatan asing menyerbu bersama kilatan terakhir dari kehidupan lain, lampu jalan kota tahun 2026, rem mobil yang terlambat, layar ponsel retak, serta suara orang-orang yang berteriak di bawah hujan.

Elara Bai dari masa depan seharusnya telah mati di jalan raya. Namun ketika menggerakkan jari, yang dirasakannya justru kain kasar, ranjang kayu keras, dan tubuh muda yang baru saja melewati racun.

“Nonaku?” Lina yang tertidur di lantai langsung terbangun. Wajahnya pucat, matanya bengkak, dan tangannya gemetar saat menyentuh tepi ranjang.

“Nona masih hidup?” tanya Lina dengan suara tercekat. Ia menatap Elara seolah takut satu kedipan akan membuat majikannya berhenti bernapas lagi.

Elara menatap gadis itu cukup lama. Ingatan tubuh ini mengalir tidak teratur, tetapi cukup jelas untuk membuatnya memahami pemilihan selir, bubuk gatal, senyum Clarissa, keputusan Permaisuri, paviliun rusak, dan minuman manis yang mengantar pemilik tubuh lama menuju kematian.

“Lina,” ucap Elara pelan sambil mencoba menyesuaikan suaranya. “Barangku yang tersisa apa saja?”

Lina tertegun sebelum cepat-cepat membuka bungkusan kecil di bawah meja. “Hanya pakaian dalam, saputangan keluarga, dan tiga koin logam peninggalan Tuan Elias. Hamba menyembunyikannya sebelum orang Istana Dingin memeriksa.”

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel