Pemilihan Selir yang Tidak Bisa Ditolak
Gerbang selatan istana sudah dipenuhi orang sebelum matahari naik melewati atap menara genderang.
Kereta keluarga para pejabat berhenti satu demi satu di luar garis batu putih, lalu putri-putri muda turun dengan wajah terjaga, pakaian berlapis sutra, dan dayang pribadi yang membawa kotak perhiasan seolah seluruh masa depan keluarga mereka tersimpan di dalamnya.
Elara Bai berdiri di barisan ketiga dengan telapak tangan lembap di balik lengan baju biru pucat. Ia tahu hari itu bukan undangan biasa karena di Dinasti Yun Agung, pemilihan selir Kaisar merupakan panggilan yang tidak dapat ditolak keluarga pejabat kelas I dan kelas II tanpa membayar harga politik.
Di depan barisan, seorang kasim istana membaca daftar keluarga dari gulungan kuning. Setiap nama yang disebut membuat seorang gadis maju selangkah, memberi hormat, lalu kembali ke tempatnya dengan punggung yang tampak lebih kaku daripada sebelumnya.
“Keluarga Biro Busana Dalam, Nona Maria Lin,” seru kasim itu sebelum berpindah ke nama berikutnya. “Keluarga Wakil Menteri Garam, Nona Clarissa Qiao. Keluarga Biro Pengamat Langit, Nona Elara Bai.”
Saat namanya terdengar, beberapa kipas sutra bergerak hampir bersamaan. Elara menundukkan kepala secukupnya, tetapi ia tetap bisa merasakan lirikan yang jatuh pada pakaian, pita pinggang, sampai gelang kayu cendana di pergelangan tangannya.
“Jadi itu putri Elias Bai?” bisik seorang gadis di sisi kanan, suaranya sengaja ditahan agar terdengar seperti percakapan pribadi. “Pejabat Biro Pengamat Langit yang pekerjaannya menatap awan dan menulis hari baik itu?”
Gadis lain tertawa kecil di balik kipas. “Kalau keluarganya benar-benar mampu membaca hari baik dan buruk, seharusnya dia tahu bahwa hari ini bukan hari baik untuk berdiri di sini.”
Tawa halus menyebar dari dua baris depan. Tidak ada yang berani tertawa keras karena prajurit dan dayang etiket masih berdiri di sekitar halaman, tetapi suara kecil itu sudah cukup membuat penghinaan terasa aman bagi mereka sekaligus menyakitkan bagi orang yang dituju.
Elara menatap batu lantai di depan sepatunya dan tidak membalas. Matanya hanya bergerak perlahan, mencatat siapa yang berbicara, siapa yang tertawa, dan siapa yang memilih diam sambil menikmati rasa malu orang lain.
Ayahnya, Elias Bai, pernah memperingatkan bahwa istana tidak membunuh seseorang dengan pedang terlebih dahulu. Di tempat seperti ini, seseorang bisa dihancurkan melalui aturan, tatapan, bisikan, dan catatan kecil yang suatu hari dibaca sebagai kesalahan besar.
“Putri Biro Pengamat Langit memakai pakaian sesederhana itu?” ujar seorang gadis berbaju merah muda sambil melirik pinggang Elara. “Mungkin dia mengira Permaisuri akan menilai hati, bukan sulaman.”
“Jangan terlalu tajam,” suara lembut menyela dari belakang, membuat beberapa kepala menoleh. “Nona Bai mungkin sengaja tampil sederhana agar terlihat rendah hati.”
Elara menoleh sedikit dan melihat seorang gadis berpakaian hijau muda berdiri dengan senyum halus. Wajahnya cantik, suaranya lembut, dan setiap gerakannya begitu terukur sehingga orang yang kurang berhati-hati akan mengira ia benar-benar sedang menolong.
Gadis itu maju setengah langkah. “Aku Clarissa Qiao. Kita sama-sama calon selir yang dipanggil istana, jadi tidak seharusnya saling menyulitkan.”
Kalimat itu terdengar baik, tetapi beberapa gadis langsung menatap Elara lagi. Dengan satu ucapan, Clarissa berhasil membuat dirinya tampak murah hati sekaligus mengingatkan semua orang bahwa Elara memang sedang menjadi bahan hinaan.
“Terima kasih, Nona Qiao,” ucap Elara. “Saya masih bisa berdiri sesuai aturan.”
Clarissa tersenyum tipis dan pandangannya turun ke pinggang Elara. “Aku tahu. Hanya saja pita pinggangmu sedikit miring. Di hadapan Ibu Suri dan Permaisuri nanti, kesalahan kecil bisa dianggap tidak menghormati aula.”
Seorang dayang seleksi di belakang Clarissa ikut maju. Papan nama kecil di pinggangnya bertuliskan Jessica Gu, sementara di tangannya terdapat saputangan putih beraroma bunga.
Elara ingin mundur, tetapi barisan terlalu rapat. Di depan, kasim pembaca aturan baru saja menoleh, dan jika ia bergerak terlalu jauh, semua orang akan melihatnya sebagai gadis yang tidak memahami ketertiban bahkan sebelum memasuki aula.
“Biar hamba bantu sebentar, Nona,” kata Jessica sambil menunduk. “Pita seperti ini mudah terlipat kalau terkena angin halaman.”
Jari Clarissa menyentuh sisi luar pita Elara dengan gerakan ringan. Pada saat yang sama, saputangan Jessica menyapu bagian dalam lengan baju Elara begitu cepat sehingga bagi orang lain hanya tampak seperti gerakan membersihkan debu.
Elara merasakan dingin tipis menyentuh kulit di bawah siku. Rasa itu segera lenyap, tetapi aromanya terlalu manis dan terlalu singkat, berbeda dari wangi gaharu yang mengambang di halaman istana.
“Sudah jauh lebih rapi,” ujar Clarissa sebelum mundur dengan senyum yang tetap lembut. “Nona Bai cantik. Sayang sekali kalau orang mengira kau tidak menyiapkan diri.”
Beberapa gadis kembali tertawa kecil. Elara menurunkan pandangan tanpa memberi mereka kepuasan melihat perubahan di wajahnya, tetapi detak jantungnya mulai menjadi lebih cepat.
Kasim tua di depan tangga mengangkat tongkat hitam, lalu mengetukkannya ke lantai. Seketika semua kipas tertutup, bisikan berhenti, dan kepala-kepala menunduk dalam garis yang hampir sama.
“Para calon selir akan memasuki Aula Bunga Terpilih,” ucap kasim itu. “Di hadapan Ibu Suri Celeste Han dan Permaisuri Helena Meng, tidak boleh ada gerakan liar, bisikan, tawa, atau sikap yang mencemari etiket harem.”
Elara mengikuti barisan, tetapi pada langkah ketiga, dingin di bawah sikunya berubah menjadi panas kecil. Rasa itu merambat perlahan seperti serbuk kasar yang mulai hidup di balik kain.
Clarissa berjalan dua orang di depan Elara. Sebelum memasuki pintu aula, gadis itu menoleh sedikit dan berkata dengan suara yang hanya cukup didengar Elara.
“Jaga sikapmu baik-baik, Nona Bai. Di depan Ibu Suri, tubuh yang tidak tenang bisa membuat seluruh keluarga kehilangan muka.”
Pintu aula terbuka dari dalam. Cahaya lampu minyak mengalir keluar bersama wangi gaharu, sementara Elara merapatkan kedua tangan di depan perut untuk menahan rasa panas pertama yang naik dari kulitnya tepat ketika giliran penilaian semakin dekat.
Aula Bunga Terpilih terasa megah, tetapi tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk bernapas bebas. Pilar merah berdiri dalam dua baris panjang, tirai emas menggantung di antara ukiran awan, dan para dayang etiket mengawasi calon selir dengan mata yang tidak melewatkan lipatan kain, posisi jari, bahkan cara seseorang mengangkat dagu.
Elara masuk bersama barisan ketiga. Rasa panas di bawah lengannya kini berubah menjadi gatal yang menusuk, naik ke lipatan siku, menyentuh sisi pinggang, lalu bergerak ke belakang leher seperti jarum-jarum kecil yang merayap tanpa suara.
Di panggung rendah, Ibu Suri Celeste Han duduk mengenakan jubah ungu tua dan tusuk rambut berbentuk burung feniks. Di sampingnya, Permaisuri Helena Meng memegang cangkir teh dengan wajah tenang, tetapi ketenangan itu membuat setiap gadis di aula memahami bahwa satu kesalahan kecil dapat berubah menjadi catatan panjang.
Kasim di sisi panggung mengangkat suara setelah seluruh barisan berhenti. “Beri hormat.”
Bersambung
