Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Tiga Koin Peninggalan Keluarga Bai

Tiga koin tua diletakkan di atas meja retak. Permukaannya kusam, satu sisi berukir awan melingkar, sementara sisi lainnya bergambar burung kecil yang menunduk seperti tanda yang sengaja ditutup.

Elara menatap ketiga koin tersebut cukup lama. Ingatan mengenai metafisika yang pernah dipelajarinya pada tahun 2026 perlahan bergerak di kepalanya, bertemu dengan warisan keluarga Bai yang masih tersisa di telapak tangan tubuh ini.

Pagi pertama Elara di Istana Dingin tidak datang bersama suara musik istana atau langkah para dayang yang teratur. Yang terdengar hanyalah batuk dari kamar sebelah, roda gerobak jauh di dapur belakang, dan tetes air dari genting pecah yang jatuh ke tempayan retak di bawah jendela.

Lina tertidur di dekat pintu dalam posisi duduk. Gadis itu memeluk lutut dengan kepala bersandar pada dinding kayu, sementara bekas air mata masih terlihat di kedua pipinya.

Elara duduk perlahan di ranjang. Tubuh barunya masih lemah, tetapi pikirannya sudah tidak sekacau malam sebelumnya.

Ia memeriksa kulit di bawah lengan. Ruam merah masih terlihat dan sebagian membengkak tipis, sedangkan tenggorokannya menyisakan rasa pahit yang jelas tidak mungkin berasal dari air biasa.

Pandangan Elara beralih pada mangkuk kosong di atas meja. Pemilik tubuh lama bukan hanya dijatuhkan melalui fitnah di aula, tetapi juga dihantam kembali setelah tiba di Istana Dingin, seolah seseorang tidak puas hanya dengan membuangnya dan ingin memastikan gadis itu tidak pernah bangun.

Elara tidak langsung memikirkan balas dendam besar. Dalam dunia seperti ini, orang lemah yang berteriak tentang kebenaran tanpa memiliki bukti hanya akan dianggap gila, kemudian dikubur lebih cepat oleh aturan.

Hal pertama yang perlu ia lakukan adalah hidup sampai besok. Setelah itu, barulah ia bisa mencari siapa yang menaburkan bubuk, siapa yang mengirim minuman, dan siapa yang berdiri di belakang kedua tangan kotor itu.

Elara meraih tiga koin di atas meja. Logamnya dingin, pinggirannya aus, sementara lubang persegi di tengah terasa licin karena sering disentuh pemilik lama.

Ingatan tubuh ini bergerak perlahan. Elias Bai pernah duduk di ruang baca keluarga, menaruh tiga koin serupa di atas papan kayu, lalu mengatakan bahwa keluarga Bai tidak membaca nasib untuk pamer, melainkan membaca tanda kecil agar manusia tidak berjalan buta menuju bahaya.

Sisi awan melingkar disebut tanda terbuka. Tanda itu melambangkan langit, arah luar, perkara yang bergerak dari tempat tinggi, atau sesuatu yang berasal dari orang lebih berkuasa.

Sisi burung kecil yang menunduk disebut tanda tertutup. Tanda tersebut melambangkan jalan terhalang, rahasia, niat tersembunyi, atau langkah manusia yang menunduk sambil membawa maksud sendiri.

Elara dari masa depan pernah mempelajari metafisika bukan untuk menjadi dukun. Ia mempelajarinya karena pekerjaan terdahulunya sering berkaitan dengan strategi pemasaran, pola perilaku, simbol, waktu, dan cara manusia mempercayai tanda ketika harus mengambil keputusan.

Di dunia modern, ia membaca grafik, ekspresi konsumen, jam unggah, pilihan warna, dan kebiasaan pasar. Di dunia ini, mungkin ia harus membaca langkah para dayang, posisi mangkuk, cara kasim menyentuh sabuk, serta wajah seseorang yang tersenyum ketika melihat orang lain jatuh.

Lina bergerak dan membuka mata. Begitu melihat Elara duduk sambil memegang koin, gadis itu langsung bangkit dengan wajah cemas.

“Nonaku, tubuh Nona masih lemah. Jangan terlalu banyak berpikir dulu.”

“Kalau aku tidak berpikir, mungkin kita tidak akan melewati hari kedua,” jawab Elara. Lina terdiam karena jelas tidak terbiasa mendengar majikannya berbicara setenang itu, terutama setelah semalam nyaris mati.

Elara menunjuk mangkuk kosong. “Minuman semalam datang dari siapa?”

“Hamba tidak tahu. Dayang kecil itu hanya berkata kiriman belas kasihan dari calon selir lain.” Lina menggigit bibir. “Hamba sudah salah karena tidak merebut mangkuk itu dari tangan Nona.”

“Kau tidak salah. Dalam keadaanmu saat itu, melawan pembawa pesan tanpa bukti hanya akan membuatmu dipukul atau dikurung.”

Mata Lina kembali memerah, tetapi kali ini ia menahan tangis. “Nona tampak berbeda.”

Elara menurunkan pandangan ke tiga koin di tangannya. “Orang yang hampir mati memang harus belajar menjadi berbeda.”

Ia membersihkan bagian lantai di dekat meja menggunakan kain basah, lalu meletakkan koin di telapak tangannya. Bunyi logam kecil yang saling berbenturan membuat Lina menahan napas.

Elara melempar tiga koin ke atas meja retak. Dua koin jatuh dengan sisi awan menghadap ke atas, sementara satu koin menunjukkan burung tertutup.

Salah satu koin awan berhenti di dekat retakan meja yang mengarah ke pintu. Koin burung menyentuh bekas mangkuk minuman semalam, sedangkan koin awan lainnya berputar sesaat sebelum berhenti menghadap jendela.

Lina menunduk memperhatikannya. “Apa artinya, Nonaku?”

Elara tidak langsung menjawab. Ia mengingat ajaran Elias Bai lalu menggabungkannya dengan cara berpikirnya sendiri.

“Dua awan dan satu burung tertutup,” ucapnya perlahan. “Ada tekanan dari luar dan dari atas, tetapi inti masalahnya masih tersembunyi. Koin yang mengarah ke pintu berarti hari ini akan ada orang masuk membawa niat kecil, bukan bahaya sebesar semalam.”

Lina memucat. “Ada orang akan datang?”

“Di Istana Dingin, orang datang bukan untuk memberi salam.” Elara menyentuh koin burung yang berada dekat bekas mangkuk. “Aku hanya ingin mengetahui apakah orang itu membawa makanan, ancaman, atau kebohongan.”

Lina menelan ludah sebelum kembali melirik pintu. “Yang paling sering datang pagi adalah kasim kecil bernama Bastian Gu. Ia kadang mengantar bubur, kadang hanya datang untuk mengambil barang yang menurutnya milik dapur.”

“Mulutnya kasar, tetapi dia dekat dengan penjaga dan suka membawa nama Kepala Dayang Martha Luo,” lanjut Lina dengan suara yang semakin pelan. “Orang-orang di sini biasanya tidak berani membantahnya.”

“Apakah dia mencuri?” tanya Elara.

Lina segera menoleh ke pintu sebelum merendahkan suara. “Banyak orang bilang ia sering menyembunyikan lauk, obat gosok, atau minyak lampu dari jatah paviliun. Tapi tidak ada yang berani menuduh karena kalau salah bicara, jatah berikutnya bisa dibuat lebih buruk.”

Elara kembali menatap tiga koin tersebut. Bacaan itu tidak memberinya jawaban seperti Dekret Kekaisaran dari langit, tetapi setidaknya memberinya arah untuk memperhatikan pintu, barang tersembunyi, dan orang kecil yang merasa aman karena penghuni tempat ini sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan.

Dari luar paviliun terdengar langkah malas mendekati koridor. Sesaat kemudian, sebuah mangkuk kayu dipukul-pukulkan ke tiang pintu, menghasilkan bunyi kasar yang sengaja dibuat mengganggu.

Lina segera berdiri dengan wajah pucat. “Itu dia.”

Elara menutup tiga koin dengan telapak tangan. Suaranya rendah, tetapi cukup jelas untuk didengar Lina yang sedang gemetar di sampingnya.

“Orang yang membawa mulut kotor biasanya tidak sadar kakinya sendiri sedang berjalan di atas tanda buruk.”

Pintu paviliun didorong dari luar tanpa izin. Seorang kasim muda masuk membawa nampan kayu berisi semangkuk bubur encer, sementara wajahnya dihiasi senyum miring orang yang sudah terbiasa melihat penghuni Istana Dingin menunduk sebelum ia selesai berbicara.

Di papan kecil pada pinggangnya tertulis nama Bastian Gu. Tubuhnya kurus, matanya lincah, dan langkahnya terlalu percaya diri untuk seseorang yang hanya bertugas mengantar makanan.

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel