Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Ramalan Kecil

Bastian Gu masuk dengan wajah yang masih menyimpan senyum miring. Ia meletakkan mangkuk di atas meja cukup keras hingga bubur encer di dalamnya bergoyang sampai ke tepian.

“Selir Bai yang dibuang ternyata masih bisa duduk,” ujar Bastian sambil menatap Elara dari kepala hingga kaki. “Hamba kira setelah mempermalukan keluarga di Aula Bunga Terpilih, Nona akan menangis sampai lupa makan.”

Lina buru-buru menundukkan kepala. “Kasim Bastian, Nona baru pulih. Tolong kecilkan suara.”

Bastian menatap Lina seperti sedang melihat debu di ujung sepatu. “Pelayan kecil sepertimu sekarang juga sudah berani mengajariku bicara?”

Elara mengangkat tangan sedikit untuk memberi isyarat agar Lina tidak membalas. Pandangannya beralih pada bubur di atas meja yang nyaris bening, dengan hanya beberapa butir beras tenggelam di dasar mangkuk seolah sengaja dihitung satu per satu.

“Ini jatah pagi?” tanya Elara.

“Untuk orang yang baru masuk Istana Dingin karena tidak tahu aturan, ini sudah cukup baik.” Bastian melirik tiga koin di bawah telapak tangan Elara. “Apa itu? Nona sedang bermain koin untuk menghibur diri?”

Elara membuka telapak tangannya. Tiga koin tua terlihat di atas meja, sisi awan dan gambar burung kecil yang menunduk memantulkan cahaya pucat dari jendela yang rusak.

Bastian tertawa. “Ah, benar juga. Putri Biro Pengamat Langit tentu harus memiliki benda untuk berpura-pura membaca nasib.”

Ia kembali melirik paviliun yang bobrok sebelum melanjutkan dengan nada mengejek. “Sayang sekali koin itu tidak memberi tahu Nona kalau hari kemarin akan berakhir di paviliun bocor.”

Ucapan itu kasar, tetapi Elara tidak segera menanggapinya. Ia justru memperhatikan noda minyak di ujung lengan Bastian, gerakan tangan kirinya yang sesekali menyentuh sisi pinggang, serta cara tubuh kasim itu sedikit miring seolah sedang menyembunyikan sesuatu di balik lipatan jubah.

Lina menggenggam ujung pakaiannya sendiri. Elara dapat melihat gadis itu marah dan takut sekaligus, tetapi tetap tidak berani melangkah lebih jauh karena satu kata dari Bastian bisa membuat jatah mereka keesokan hari semakin buruk.

“Koin ini memang tidak memberitahuku semua hal,” kata Elara. “Namun terkadang cukup untuk melihat orang yang datang membawa mulut besar dan tangan yang tidak bersih.”

Wajah Bastian berubah sesaat. Ia segera tertawa lebih keras seolah suara itu dapat menutupi reaksi kecil yang baru saja lolos dari wajahnya.

“Apa maksudmu dengan tangan tidak bersih?” katanya. “Nona baru sehari berada di sini sudah belajar memfitnah pelayan istana. Hati-hati, tempat tidur Nona masih bisa dipindahkan ke gudang yang atapnya jauh lebih bocor.”

Elara mengambil ketiga koin itu lalu mengguncangnya di antara kedua telapak tangan. Bunyi logam yang saling berbenturan terdengar jernih di tengah ruangan lembap tersebut.

Bastian melipat tangan di depan dada. “Baiklah. Bacalah nasibku, Nona besar dari keluarga Bai. Apakah aku akan menjadi kepala kasim besok, atau koinmu akan berubah menjadi semangkuk nasi?”

Lina menunduk semakin dalam, tetapi matanya diam-diam melirik Elara. Ia takut majikannya kembali dipermalukan, tetapi setelah melihat cara Elara memandang koin-koin tersebut, gadis itu juga tidak berani menghentikannya.

Elara melempar tiga koin ke atas meja. Satu koin jatuh dengan sisi awan terbuka, sedangkan dua lainnya menunjukkan burung tertutup.

Koin burung pertama berhenti menghadap Bastian. Koin burung kedua berputar lebih lama, kemudian berhenti miring dekat tepi meja, seolah hampir jatuh tetapi tertahan oleh retakan kayu.

Elara menatap susunan tersebut tanpa berpura-pura kerasukan tanda langit. Ia tidak mengangkat suara dan tidak memasang wajah mistis secara berlebihan.

“Satu awan, dua burung tertutup,” ucapnya. “Ada hal kecil yang kau sembunyikan. Kau merasa itu aman karena orang-orang di tempat ini sudah terbiasa takut kepadamu, tetapi barang yang disembunyikan tidak selalu mau diam di tempatnya.”

Bastian hendak tertawa, tetapi tangannya bergerak refleks menuju sisi kiri pinggang. Gerakan itu sangat cepat, dan Lina mungkin tidak akan menyadarinya jika Elara tidak lebih dahulu memperhatikan bagian tersebut.

Elara melanjutkan dengan suara pelan. “Saat keluar dari paviliun ini, jangan berjalan terlalu cepat. Kalau kau memaksa berlari karena takut bertemu orang yang lebih tinggi darimu, sesuatu di sisi kirimu akan jatuh sebelum kau melewati gerbang kecil.”

Senyum Bastian mengeras. “Ucapan seperti itu bisa dikatakan kepada siapa saja.”

“Benar,” jawab Elara. “Karena itu kau tidak perlu takut kalau memang tidak menyembunyikan apa pun.”

Wajah Bastian memerah. Ia merasa disudutkan di depan Lina, seorang pelayan kecil yang selama ini bahkan tidak berani mengangkat kepala di hadapannya.

“Kau kira setelah tidur di paviliun bocor semalam, kau berubah menjadi peramal istana?” Bastian mengambil nampan kosong dengan kasar. “Kalau koin itu benar-benar berguna, lebih baik tukarkan saja dengan garam.”

Ia mengangkat dagu sedikit, masih berusaha mempertahankan penghinaan yang sejak tadi memenuhi suaranya. “Setidaknya garam bisa membuat bubur beningmu terasa seperti makanan.”

Bastian berbalik keluar dengan langkah yang sengaja dibuat santai. Namun tepat ketika mencapai ambang pintu, suara seorang kasim senior terdengar dari arah gerbang kecil.

“Bastian Gu, mengapa kau lama sekali di Paviliun Barat?”

Punggung Bastian menegang. Ia menoleh cepat lalu tanpa sadar mempercepat langkah.

Ujung jubah kirinya tersangkut paku kayu pada pagar tua di dekat koridor. Tarikan itu membuat kantong kecil yang diselipkan di pinggangnya terlepas, jatuh ke lantai, lalu terbuka hingga dua potong kue dapur dan satu botol kecil minyak gosok menggelinding keluar.

Bastian langsung membeku. Kasim senior di gerbang kecil menoleh, sementara dua dayang yang sedang membawa kain kotor berhenti di tengah jalan dengan mata membesar.

“Apa itu?” tanya kasim senior.

Bastian buru-buru berjongkok hingga lututnya membentur lantai basah dan membuat wajahnya meringis. Ia meraup kue serta botol minyak itu dengan tangan gemetar sebelum memaksa keluar tawa kecil.

“Barang sisa dapur, Senior. Hamba hendak mengembalikannya.”

Kasim senior menatapnya cukup lama. “Sisa dapur disimpan di pinggangmu?”

Dua dayang di koridor saling melirik. Tidak ada yang tertawa keras, tetapi bibir mereka bergerak menahan geli, dan bagi Bastian, reaksi tersebut terasa lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan.

Di dalam kamar, Lina berdiri di samping Elara dengan wajah pucat. Gadis itu melihat ke arah koridor sebelum menatap tiga koin di meja seolah benda tersebut baru saja berubah menjadi sesuatu yang tidak boleh disentuh sembarangan.

Elara tidak tersenyum. Ia hanya memungut kembali koin-koin itu, membersihkan pinggirannya dengan saputangan, kemudian memasukkannya ke kantong kain biru.

“Nonaku,” bisik Lina, “ucapan Nona benar-benar terjadi.”

“Bukan semua nasib,” jawab Elara. “Hanya celah kecil pada manusia yang terlalu percaya diri.”

Di luar, Bastian akhirnya pergi dengan langkah kaku setelah menerima teguran dari kasim senior. Sebelum berbelok di ujung koridor, ia sempat menoleh sekali ke arah pintu Elara, tetapi kali ini tidak ada lagi senyum mengejek di wajahnya.

Hujan tipis mulai turun di halaman Istana Dingin. Air mengetuk genting pecah, mengalir melewati paku tua yang baru saja merobek jubah Bastian, kemudian jatuh ke tanah dalam garis kecil yang terlihat jelas dari ambang pintu.

Elara menyimpan ketiga koin itu lebih rapat di dalam genggamannya sambil memandang hujan yang menetes dari paku tua di koridor. Di tempat seburuk ini, tanda sekecil apa pun sudah cukup membuat orang licik berpikir dua kali sebelum kembali mengetuk pintunya.

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel