Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 6

Kriing..

Semua siswa berhamburan memasuki kelasnya masing-masing ketika mendengar bel pertanda masuk dibunyikan. Semua guru yang berada dikantor pun segera bergegas untuk mengajar.

Ardi yang notabe nya sebagai ketua kelas XII IPA 1, langsung mengambil alih supaya semua siswa terdiam. Jangan salah, walaupun Ardi adalah siswa yang terbilang celengek'an, namun dia selalu tegas dalam menjalankan tugasnya sebagai ketua kelas.

Seorang wanita dengan postur tubuh tinggi dan wajah cantik yang masih terbilang muda kemudian memasuki kelas dengan tangan yang membawa buku-buku besar. Dia bu Laras, guru seni budaya yang terkenal cantik dan ramah.

"Selamat pagi anak-anak.." Sapa nya, dengan senyuman ceria.

"Pagi bu.." Balas semua siswa bersamaan.

Bu Laras memerintahkan Ardi untuk segera memimpin do'a, dan Ardi pun langsung melaksanakannya.

Selepas membaca do'a selesai, bu Laras langsung memulai pelajaran dengan melanjutkan materi minggu kemarin yang belum selesai ia jelaskan. Berulang kali mulut guru cantik itu bergerak menjelaskan materi untuk disampaikan kepada muridnya.

Bukan nya mendengarkan sang guru yang sedang menjelaskan, Kevan malah merobek satu lembar kertas dari bukunya lalu sibuk menuliskan sesuatu disana. Kevan tersenyum memandang kertas itu. Matanya kemudian menoleh kearah Vandra yang duduk dimeja sebelah, dengan mata gadis itu yang terfokus memperhatikan bu Laras. Ia melempar kertas itu tepat mengenai tangan Vandra, membuat sang empu nya tersadar dan langsung mengambil kertas itu lalu membukanya.

Kamu cantik.

Tapi aku sudah mencintaimu.

gak tau kalo besok, mungkin semakin bertambah.

-Kevano Sebastian

Vandra menautkan alisnya setelah membaca kertas itu. ia lantas menoleh ke samping, dan mendapati Kevan yang sedang menatapnya sambil tersenyum manis.

“alay.” Ujar Vandra sambil melempar gumpalan kertas itu kepada Kevan.

***

Suasana kantin tampak ramai siang ini. Banyak dari siswa maupun siswi yang pergi ke kantin untuk mengganjal perutnya yang lapar setelah beberapa jam berada dikelas. Sama hal nya seperti Kevan dkk saat ini. Mereka tengah menyantap mie ayam sambil diiringi obrolan-obrolan ringan.

Drrtt..Drrtt..

Kevan mengurungkan niatnya untuk menyuapkan mie ayam itu kedalam mulutnya setelah mendengar dering ponsel yang ia simpan disebelah. Ia menyergitkan dahinya bingung ketika melihat layar ponselnya yang tertera nama sang mama disana.

"halo mah tumben-"

"bang, hiks..hiks.. Devan bang.."

"Mama kenapa nangis? Devan kenapa mah?"

"Devan jatuh dari sekolahnya bang.."

"Share lock mama ada dirumah sakit mana, Kevan segera kesana."

Kevan segera beranjak sambil mengambil uang disaku celananya lalu menyimpan nya diatas meja. Tanpa berkata lagi, ia segera bergegas meninggalkan Ardi dan juga Reifan yang tengah menatapnya bingung.

"LOH KEV, MAU KEMANA?"

Samar-samar Kevan dapat mendengar teriakan Ardi. Namun ia hiraukan, dan memilih untuk tetap melanjutkan lari nya menuju parkiran.

Kevan mengendarai motor sport nya dengan kecepatan penuh. Dengan gesit nya lelaki itu menyelip kendaraan beroda dua maupun beroda empat. Ia tidak memikirkan bagaimana bahaya nya berkendara bila kebut-kebutan. Yang ia pikirkan hanyalah adiknya, Devan.

Kevan melepas helm full-face nya ketika dirinya sudah sampai parkiran rumah sakit. Dengan langkah lebar, Kevan berjalan memasuki rumah sakit tersebut. Matanya sedikit menyipit, saat ia melihat Mela yang tengah menangkup wajahnya didepan pintu IGD.

"Mah." Mendengar suara putranya, Mela sontak mendongak lalu langsung menghamburkan pelukan pada Kevan.

"Bang,, hiks.. Devan bang.."

"Kita duduk yah." Kevan memegang kedua bahu Mela, membawanya duduk dikursi tunggu yang berada disamping pintu, "Devan kenapa bisa kayak gini mah?"

Mela menyeka airmata nya, "Mama juga gak tau. Jam sembilan tadi, mama dihubungin sama pihak sekolah katanya Devan jatuh." Airmata Mela kembali menetes, "Devan jatuh dari tangga bang. Ada temen sekolahnya yang gak sengaja dorong Devan dari belakang. Mama khawatir sama Devan. Mama takut Devan kenapa-kenapa hiks..."

Kevan memeluk tubuh Mela sambil mengusap perlahan punggungnya. Ia dapat melihat ada kekhawatiran yang mendalam dimata mama nya.

"Udah mah jangan nangis, Devan pasti gapapa. Mama udah kasih tau papa?"

“udah.”

klek..

Mela dan Kevan sontak menoleh kearah pintu, lalu segera beranjak menemui dokter yang kini tengah berdiri diambang pintu.

"Dok, gimana keadaan anak saya? Dia baik-baik aja kan?"

"anak ibu baik-baik aja, syukurlah lukanya gak ada yang serius bu. Setelah ini saya akan pindahkan pasien keruang rawat. Jika ibu ingin menjenguk, silahkan." Ujar dokter tersebut.

"Iya dok, terimakasih."

Dokter tersebut mengangguk, kemudian bergegas meninggalkan Mela dan Kevan.

***

Saat ini Ardi dan Reifan tengah berada diperjalanan menuju rumah sakit. Kevan yang memberitahu mereka bahwa saat ini ia sedang berada dirumah sakit menemani sang adik. Jadi sehabis pulang

sekolah Ardi dan Reifan segera meluncur menemui Kevan. Mereka berdua juga tadi sempat berhenti di supermarket untuk membeli buah-buahan.

Ardi dan Reifan membelokkan motor sport nya masing-masing memasuki parkiran rumah sakit. Mereka pun langsung bergegas menuju ruangan Devan, seperti yang sudah Kevan beritahu di whatsapp tadi.

Reifan membuka knop pintu ruang rawat Devan. Selepas mengucapkan salam, mereka berdua lantas berjalan menghampiri Mela yang tengah menyuapi Devan lalu mencium punggung tangan nya bergantian.

"Ini tan, kita cuma bawain ini." Ardi menyerahkan parsel berisi buah-buahan pada Mela. Mela tersenyum tipis lalu menerimanya.

"Makasih loh nak. Seharusnya kalian gak perlu repot-repot, kalian dateng aja tante udah seneng."

"gak repot kok tan. Gimana keadaan Devan?" Tanya Ardi.

"alhamdulillah gak ada luka yang serius kata dokter." ujar Mela seraya menoleh kearah Devan yang tengah duduk diatas brankar.

"Gimana cerita nya Dev, kok bisa jatoh?" Tanya Reifan pada Devan.

"Biasa lah bang, temen pada lagi bercandaan eh gak sengaja gue kedorong."

"becanda sih becanda. Tapi kalo sampe celaka kayak gini, siapa yang repot?" Celetuk Kevan yang tiba-tiba datang dari belakang.

"Yaudah, yang penting Devan sekarang gak papa. Mama juga tadinya kaget pas tau kalo Devan jatuh.” Ujar Mela.

"oh iya nih tas lo Van." Reifan memberikan ransel milik Kevan dan langsung diterima oleh sang empu nya, "ngomong-ngomong tadi Vandra nyariin lo." Lanjutnya dengan senyuman menggoda.

"Siapa Vandra?" Tanya Mela cepat.

"Temen Kevan mah." Balas Kevan tak kalah cepat.

"Bohong tan. Vandra itu gebetannya Kevan." Celetuk Ardi, membuat Kevan menatap tajam kearahnya.

"Oh gebetannya.." Mela menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum lebar.

"ck, mama percaya aja sama Ardi.”

"Sekarang temenan, nanti pacaran." Ujar Reifan membuat semua orang yang berada diruangan itu tertawa. Kecuali Kevan tentunya.

"gak jelas lo." Kevan kemudian berjalan kearah sofa lalu duduk disana.

"Kalian mau minum apa? Biar tante belikan dikantin." Ujar Mela, bertanya pada Ardi dan Reifan.

"Enggak usah tan, makasih. Lagian kita udah mau pulang kok." Balas Ardi.

"Loh, kok pulang? Kalian kan baru kesini, masa mau langsung pulang?"

"nanti kita kesini lagi tan gampang, soalnya kita belum ngabarin orang rumah takut di cariin.” Kekeh Reifan.

"Oh gitu. Yaudah, kalian nanti hati-hati aja ya bawa kendaraan nya." Ujar Mela, dan mereka hanya mengangguk menanggapi.

"Kevan juga pulang deh mah, gerah mau mandi." Ujar Kavin seraya beranjak dari duduknya.

"gak mandi disini aja?"

"ngga mah Kevan kan gak bawa baju ganti, lagian nanti malem juga Kevan kesini lagi." Ujar Kevan kemudian meraih jaket miliknya yang tersamping diatas sofa.

"alah boong mah, paling ntar malem abang molor gak kesini.” celetuk Devan.

“gue kesini."

"yaudah gih kalian hati-hati pulangnya, jangan kebut-kebutan. Bahaya." Ujar Mela yang dibalas anggukan dari ketiga nya.

Mereka bertiga menghampiri Mela lalu mencium punggung tangannya bergantian. Kemudian mereka melangkah secara bersamaan keluar dari ruang rawat Devan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel