Part 7
Dengan mengenakan kaus putih yang dibalut dengan hoodie berwarna navy serta dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam itu Kevan sudah siap untuk pergi kerumah sakit malam ini. Setelah ia mengambil kunci motornya, ia segera bergegas menuruni satu-persatu anak tangga.
"Mau kemana den?" Tanya seorang wanita paruh baya yang bekerja dikediaman keluarga Andres. Sebut saja, bi Sari. Semenjak Kevan berusia satu tahun, bi Sari telah bekerja disini sebagai ART. Dan siang tadi bi Sari sampai dikediaman Kevan setelah dirinya izin untuk mengambil cuti pulang kampung.
"Kevan mau kerumah sakit bi."
"Keadaan den Devan baik-baik aja kan den?”
"Alhamdulillah baik kok bi, Kevan berangkat ya. Assalamu'alaikum." Ujar Kevan.
"Waalaikum salam, hati-hati den."
Kevan hanya mengangguk kemudian melenggang keluar dari rumah nya. Setelah helm full-face nya ia kenakan, barulah Kevan menyalakan mesin motor lalu melajukan nya keluar dari halaman luas rumah nya.
Semilir angin malam menyapu permukaan kulitnya seakan menyambut kedatangan Kevan dijalanan. Kevan lantas menepikan motor nya dipinggir jalan ketika dirinya melihat seorang gadis yang tak asing dimatanya, tengah duduk berbincang dengan seorang lelaki di cafe outdoor itu.
Kevan kemudian menaikkan kaca helm nya sambil menyipitkan matanya untuk memperjelas dugaan nya. Ternyata benar. Itu Vandra. Kevan dapat melihat dengan jelas bahwa gadis itu adalah Vandra. Namun, Kevan tidak dapat melihat dengan jelas siapa lelaki yang tengah bersama Vandra karena lelaki itu duduk memunggungi nya.
Kevan menghela nafas kasar ketika dirinya melihat lelaki itu mengacak rambut Vandra. Bukan nya marah atau menolak, Vandra malah tersenyum menanggapinya.
"Kok sakit yah?" Kevan tersenyum miris.
“sial, gue kenapa sih?”
"Tau deh ah." Kevan menurunkan kembali kaca helm nya lalu melajukan motornya meninggalkan kedua sejoli itu.
***
"Mah." Panggil Devan kepada sang mama yang tengah memotong buah apel untuknya.
"Kenapa?"
"Devan mau martabak."
"Kamu gak papa disini berdua sama papa?"
"Bukan mama yang beli. Kan abang lagi arah kesini, sekalian titip abang aja."
"Yaudah bentar, mama hubungin abang dulu." Mela memberikan potongan apel tersebut pada Devan lalu beralih mengambil ponsel yang ia simpan diatas nakas samping brankar Devan. Mela mengetikkan nama 'abang' dikontak pencariannya.
Tidak ada jawaban.
Tidak ada jawaban.
Tidak ada jawaban.
Mela hendak menekan kembali tombol panggilan, namun tiba-tiba suara pintu terdengar membuat ia mengurungkan niat itu dan memilih menoleh sumber suara. Dan nampak-lah Kevan dengan wajah lesu nya.
Selepas mengucapkan salam dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya, Kevan segera mendudukkan bokongnya disofa yaitu di samping Andres, sang papa.
"Kenapa kamu bang?" mela bertanya pada Kevan, namun Kevan hanya menggeleng pelan.
"Yahhh, masa Devan gak jadi makan martabak malem ini." Desah Devan kecewa.
"Yaudah biar mama aja yang beliin ya."
"Biar papa aja mah, mama disini aja." Ujar Andres.
"Enggak usah pah, papa aja yang disini."
"Mama aja."
"Papa."
"Mama."
"Papa."
"Mama."
"Papa."
"Ma-"
"Berisik banget sih mah, pah. Yaudah sana berdua belinya." Ujar Kevan kesal.
"Yaudah deh, biar mama aja yang beli." Mela kemudian mengambil dompet nya lalu berjalan kearah pintu.
"Mah." Mendengar Andres memanggilnya, Mela segera menoleh lalu mengangkat alisnya seolah bertanya 'kenapa'.
"Jangan genit sama penjual martabak nya." Ujar Andres, membuat Mela dan Devan tertawa mendengarnya. Mela menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan kembali langkahnya keluar dari ruangan Devan.
"Cemburuan dasar." Gumam Devan.
Andres menoleh kearah putra sulung-nya yang sejak tadi terdiam, "kenapa kamu, galau?"
“ngga.”
"Gini-gini papa juga pernah muda Kev, cerita lah sama papa."
Kevan melirik kearah papa nya, "Papa pernah liat cewek yang papa suka deket sama cowok lain gak?"
Andres lantas terkekeh mendengar pertanyaan putra nya. Jadi muka Kevan lusuh seperti ini karena seseorang?
"Pernah, sering malah. Kenapa? Kamu ngeliat cewek yang kamu suka jalan sama cowok lain?"
"Ya gitu." Kevan mengedikkan kedua bahunya.
Andres menepuk pelan bahu putra nya itu, "Suka sama seseorang itu wajar Kev. Tapi kamu harus tau kalo apa yang kamu mau itu gak selama nya bisa kamu milikin. Terkadang nih, kita itu bisa aja cuma jadi pengagum bukan pemilik.”
Kevan diam, mencerna kalimat panjang yang lontarkan oleh papa nya.
"Jadi kalo Kevan suka sama cewek, Kevan harus apa?"
"Sok polos kamu, kayak baru mengenal cinta aja,”
"Nanya pah, nanyaa.."
"Yah kamu perjuangin dia lah, kamu buktiin ke dia kalo kamu sungguh-sungguh.”
Kevan mengangguk-angguk mendengar ucapan sang papa.
***
Drrtt..Drrtt..Drrtt..
Reifan menggeram kesal ketika mendengar dering ponsel yang berbunyi untuk yang ke lima kalinya. Ia menggerutu dalam hati. Tanpa melihat nama siapa yang tertera dilayar ponselnya, Reifan pun segera menekan tombol hijau itu.
"Apaan sih? Ganggu aja, gue lagi nonton tv."
"heh ini bunda.”
Deg.
Mampus.
Reifan spontan melihat layar ponselnya dan melihat nama ‘bunda’ yang tertera disana.
"hehe bunda, ada apa bun? mau transfer uang ya?”
"bunda telfonin dari tadi gak angkat-angkat! Apa uang-uang? Enggak ada uang!"
"Sorry bun, Reifan kira temen Reifan. Lagian bunda galak bener."
"oh berani ya ngatain bunda? Bunda gak akan kasih uang jajan kamu satu bulan!"
"Eh? Jangan gitu dong bun. Bunda kan baik, cantik lagi, masa tega anaknya yang ganteng ini gak dikasih uang jajan? Jangan yaah.."
"Satu minggu!"
"Jangan dong bun.."
"Yaudah deh satu hari!"
"Bunda mah gitu.."
"Yaudah enggak usah!"
"Nah, ini baru bunda Reifan."
"Enggak usah bunda kasih uang, maksudnya."
"Kok? Bun.."
“udah lah, bunda keburu gak mood sama kamu.”
Bip.
Setelah itu Aira memutuskan sambungannya sepihak. Reifan mendengus kesal. Memang benar-benar bunda, masalah kecil saja pasti ujung-ujungnya selalu mengancam.
Reifan kemudian membuka aplikasi whatsapp untuk mengirim notif pada bundanya. Karena Reifan tahu, bundanya tidak akan pernah main-main dengan ucapannya.
Reifan
Bun, jgn ngambek dong. Rei minta maaf deh.
Jgn potong uang jajan Rei yah?
Bunda kan baik, cantik lagi.
Bun?
Bunda sayang?
Bundaa?
Ayy?
“Berasa chatingan sama gebetan kalo spam kayak gini. Emang kebangetan nih si bunda, udah tau anaknya jomblo." Gumam Reifan.
Ting.
Tiba-tiba sang bunda membalas pesannya.
Bunda : Jijik Rei!
Reifan membulatkan matanya, ketika melihat balasan singkat dari sang-bunda. Astaga, ini benar bundanya?
Reifan : Ini beneran bunda yg bls? Gila, kek anak gadis tau bun.
Bunda : Jd kamu ngatain bunda tua?! Fiks bunda gak kasih kamu uang jajan dua bulan!
Ck, salah lagi.
"yauda lah, nanti gue aduin aja bunda ke ayah pasti bunda bakalan nurut." Gumam Reifan sambil tersenyum.
Reifan lantas menyimpan ponselnya diatas nakas. Lelaki itu kemudian berbaring diatas tempat tidur lalu mulai memejamkan matanya.
