Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 5

"Lo ngapain Kev?" Tanya Reifan.

Mendengar pertanyaan bodoh dari Reifan barusan membuat Kevan hanya mampu memutar bola matanya. Memang Reifan tidak lihat, jika Kevan sedang duduk?

Vandra yang mendengar suara Reifan pun sontak mendongakkan kepalanya, "Loh? Kok kalian bisa ada disini?"

"Tau nih Reifan ajak gue kesini, mau ditraktir katanya." Balas Ameera, seraya mendongak menatap Reifan.

"Oh gitu. Duduk-duduk." Ujar Vandra mempersilahkan mereke berdua untuk duduk.

Reifan dan Ameera mendudukkan bokong nya pada sofa yang ditempati oleh Kevan dan Vandra. Reifan yang duduk bersebelahan dengan Kevan sedangkan Ameera yang duduk bersebelahan dengan Vandra.

"Selamat sore, mau pesen apa kak?" Tanya waiters, yang sudah berdiri disisi sofa samping Reifan.

"Oh iya mbak, saya coffee latte satu." Reifan menoleh kearah Ameera, "Lo apa Ra?"

"Milkshake white coffee aja."

"Oke coffee latte satu, sama milkshake white coffee satu mbak." Lanjut Reifan, dan waiters tersebut hanya mengangguk kemudian mencacat pesanan dari Reifan. Waiters itu pun segera bergegas kebelakang.

"Btw, kalian tumben jalan bareng?" Tanya Kevan.

"Emang nya cuma lo berdua yang bisa jalan bareng." Balas Reifan tak mau kalah.

"Songong banget lo." Kekeh Kevan seraya melempar kentang goreng pada wajah Reifan. Reifan mendengus, menatap kesal kearah Kevan.

"Silahkan kak.." Ujar waiters tersebut, sambil menyimpan dua gelas minuman diatas meja.

"Makasih mbak." Balas Reifan.

"Sama-sama, saya permisi." Reifan hanya mengangguk menanggapi ucapan waiters tersebut.

Ting.

Tiba-tiba terdengar notif dari ponsel milik Kevan. Lelaki itu segera meraih ponselnya untuk melihat dari siapa notif itu.

Mama : Bang, pulang ya sekarang. Dirumah ada tante Nela sama Divo. Divo daritadi nangis cari abang. Buruan pulang.

Kevan mendengus setelah membaca whatsapp dari mama nya. Ia pun lantas mendongak, menatap ketiga temannya secara bergantian.

"Rei, Ra, sorry yah. Kayaknya gue gak bisa temenin lo berdua deh. Nyokap whatsapp, dan nyuruh gue balik cepet."

"Padahal gue sama Ameera baru sampe, yaudah deh enggak papa." Balas Reifan memaklumi.

"gak papa kan kita balik Van?" Tanya Kevan pada Vandra.

"Iya gak papa kok." Balas Vandra. Ia pun beranjak mengikuti Kevan.

Kevan merogoh saku celana nya kemudian mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah lalu meletakkannya diatas meja.

"Sekalian aja Rei." Ujar Kevan. Ketika dirinya melihat Vandra yang hendak menyimpan uang nya juga diatas meja, Kevan segera menahan nya, "gak usah, biar sekalian aja gue yang bayar."

"Jangan ih, gue udah banyak ngerepotin lo."

"gak ngerepotin sama sekali. Yaudah Ra, Rei, kita duluan." Kevan kemudian menggenggam tangan Vandra lalu bergegas meninggalkan Reifan dan juga Ameera.

"Cocok yah mereka." Celetuk Ameera membuat Reifan langsung meliriknya.

"Kalo gue sama lo, cocok gak?" tanya Reifan menggoda Ameera.

"apaan sih, gak sama sekali.” Balas Ameera sambil memukul lengan Reifan.

***

Mobil yang dikendarai oleh Kevan memasuki pagar yang menjulang tinggi itu. Kevan segera melepas seatbelt nya lalu langsung bergegas keluar mobil untuk masuk kedalam rumahnya. Ia sebenarnya baru saja sampai setelah mengantar Vandra pulang.

"Assalamu'alaikum."

Kedatangan Kevan disambut oleh suara tangis dari sepupunya yang berusia dua tahun.

"Wa'alaikum salam." Sahut sang mama dan juga tante nya bersamaan. Kevan dapat melihat tante nya--Nela, yang tengah menenangkan Divo dengan cara menggendongnya. Melihat Divo yang terus meronta digendongan tante Nela, Kevan pun langsung menghampiri Divo dan langsung menggendongnya.

Tangis Divo mulai mereda. Wajah nya seketika saja langsung berbinar. Anak itu tertawa lucu. Tangan mungilnya memukul pelan wajah Kevan membuat Kevan mencium kedua pipi gembul nya dengan gemas.

"Kenapa nangis hem?"

Alih-alih menjawab, Divo malah memajukan wajah nya kemudian mencium kedua pipi Kevan. Melihat itu, sontak membuat Mela, Nela, dan juga Kevan tertawa. Seperti nya bocah kecil ini menirukan apa yang dilakukan oleh Kevan terhadapnya tadi.

"Abang bawa Divo ke kamar ya mah, tan.." Ujar Kevan. Setelah mendapat persetujuan dari kedua nya, Kevan segera bergegas menuju tangga untuk pergi kekamar nya.

Kevan segera menurunkan Divo dikasur king-size nya, "Divo tunggu sini yah, abang mau mandi sebentar. Jangan nakal, oke?" Mata leci Divo menatap Kavin dengan polosnya lalu mengangguk, seolah mengerti apa yang dikatakan oleh Kevan barusan.

klek..

Kevan yang hendak masuk kedalam toilet ia urungkan saat mendengar suara pintu kamarnya yang ternyata sudah terbuka lebar. Kevan menghela nafas lega ketika mendapati Devan yang sudah berada dikasur king-size nya menemani Divo. Syukurlah, jadi Kevan sedikit tenang jika Divo ditinggal sebentar olehnya. Kevan pun melanjutkan kembali langkahnya menuju toilet.

"BAANGG!! KASUR NYA BASAAAHH!!" Kevan mendengus kesal ketika mendengar teriakan Devan dari dalam. Ah, pasti adiknya ini berbuat ulah. Kevan segera menyudahi ritual mandi nya kemudian mengenakan kaos hitamnya dengan terburu-buru. Setelah itu barulah Kevan keluar.

Mata Kevan membulat sempurna ketika melihat Divo yang tengah tertawa, dengan mulut yang menggigit-gigit sebuah benda kecil dan kenyal berwarna biru itu dimulutnya.

Tunggu.. Tadi Devan bilang kasur nya basah. Itu berarti?

"DEVAAANNN!!" Kevan menggeram kesal ketika tidak menemukan aquarium kecilnya yang tersimpan diatas meja panjang dekat meja belajar, "Lo apain ikan gueee.." rengek Kevan.

Devan hanya nyengir lebar melihat wajah abangnya yang memerah menahan amarah. Kevan mengacak rambutnya frustasi saat melihat ikan kesayangan nya kini berada dimulut Divo.

"Lo mah tega! Udah sana bawa Divo ke bawah." Ujar Kevan, berusaha untuk sabar.

"Enggak ah, nangis nanti."

"Devan!"

"Iya bang iyaa.." Devan meraih ikan yang berada dimulut Divo lalu melemparnya asal ke lantai.

"Devan!" Kevan semakin geram. Ia menatap nanar ikan nya yang tergeletak tak berdaya di lantai itu.

Devan pun segera menggendong tubuh Divo. Mata Divo menatap ke lantai, tepatnya kearah ikan yang tadi dibuang oleh Devan. Matanya mulai berkaca-kaca bersiap untuk menangis.

"Huaaa.. mami..." nah kan. Dengan cepat akhirnya Devan segera bergegas keluar dari kamar sang abang.

"Emang kebangetan si Devan! Itu kan ikan gue satu-satunya!" Kevan meraih ikan miliknya yang tergeletak tak berdaya dilantai lalu membawa ikan itu keluar kamar, untuk mengadukan nya ada mamanya.

"Tuh liat ikan abang mah." Kevan meletakkan ikannya diatas meja sofa ruang tengah, dimana Mela dan Devan tengah berada disana.

"Kamu apain ikan abang Dev?" Tanya Mela seraya menoleh kearah Devan.

"Devan gak ngapa-ngapain mah, emang udah ajal nya aja ikan abang mati."

"Ajal nya pala lo!"

"Bang." Ujar Mela mengingatkan. Lalu ia menoleh kembali kearah Devan, "Gimana ceritanya?"

Devan menghembuskan nafas pelan, lalu mulai menceritakan semua nya pada Mela. Mulai dari Divo yang menangis, hingga ikan abang nya lah yang menjadi korban untuk mainan Divo supaya berhenti menangis.

"Gue kira lo bakalan jagain Divo, ternyata malah buat rusuh." ujar Kevan kesal.

"Yaudah sih sorry. Tinggal minta sama papa, pasti dikasih." Balas Devan mencebikkan bibirnya kesal.

"Udah ih, masalah ikan doang. Udah jangan ribut lagi, nanti Divo bangun. Kasihan tante Nela, dia kesusahan waktu nenangin si Divo." Lerai Mela, pada kedua putranya.

Kevan kemudian beranjak, dan ide jahil itu tiba-tiba saja terlintas dipikiran nya. Matanya memperhatikan Devan yang tengah menengadah menatap langit-langit ruangan. Ah, jangan lupa mulut nya yang sesekali terbuka karena sepertinya adiknya itu tengah menyanyikan sebuah lagu.

Kevan lantas meraih ikan yang ada diatas meja lalu mulai berjalan mengendap mendekati Devan. Lelaki itu melirik sang mama, mengintruksi nya supaya diam. Ketika mulut Devan terbuka lagi, Kevan segera memasukkan ikan tersebut kedalam mulut Devan. Alhasil, Devan langsung tersedak dan tersadar akan perlakuan abangnya.

"KEVAN STRESSS!!!"

Kevan segera berlari menuju tangga dengan terbirit-birit diikuti tawa nya yang seketika meledak. Sedangkan Mela hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua putra nya itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel