Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 4

"Mau kemana?" Tanya Kevan, pada Vandra yang saat ini sedang berjalan menyusuri koridor.

"Pulang, kenapa emang?" Balas Vandra kembali bertanya.

"Jalan yuk."

"Lo gak liat gue lagi apa? Jalan kan?" Tanya Vandra santai.

"Bukan gitu maksud gue. Jalan ke mall gitu misalnya, atau kemana terserah lo."

"Males." Balas Vandra singkat.

"Beneran mau? Ayo kalo gitu." Kevan segera menggenggam tangan Vandra membuat gadis itu mengerutkan dahinya bingung. Dengan sekali hentakan Vandra menghempaskan tangan Kevan dari tangan nya.

"Apaan sih! Siapa yang bilang mau coba? gak jelas!" Ujat Vandra kemudian bergegas meninggalkan Kevan.

"VAN TUNGGU WOYY!!.." Kevan mempercepat langkah nya supaya bisa menyusul Vandra.

"Nah, mau kemana lo?"

Vandra seketika meronta ketika Kevan berhasil meraih tangannya.

"Lepas, atau gue teriakin maling?" Ancam Vandra.

"Teriak aja. Lagian siapa yang percaya kalo ada maling se-ganteng gue?"

"Dasar kepedean." Cibir Vandra, "Udah ih, lepas. Gue mau balik!"

"Balik bareng gue yah?"

"Enggak!"

"Yaudah, gue enggak akan lepasin."

"Gue bawa mobil, mana bisa gue balik bareng lo. Gimana sih!" Ujar Vandra jengah.

"Lo bawa mobil?" Tanya Kevan dan dibalas anggukan oleh Vandra. "Yaudah deh." Lanjutnya seraya melepas cekalan ditangan Vandra.

Tanpa berkata lagi Vandra segera bergegas menuju tempat dimana mobil nya terparkir. Sedangkan Kevan? Lelaki itu tampak berjalan mengikuti Vandra dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana nya.

Mata Vandra seketika membulat sempurna ketika ia mendapati ban mobil nya yang bocor. Bukan hanya satu ban mobil, namun empat ban mobil sekaligus.

Vandra kemudian berjongkok, alisnya seketika terangkat ketika ia menemukan selembar kertas yang terselip disisi ban tersebut.

'Ban mobil lo bocor yah? Haha kasihan! Makanya jangan macem-macem sama gue! Gimana? Masih belum puas?'

Sial. Vandra menggeram kesal, tangan nya meremas kuat kertas tersebut. Ah, ini pasti ulah siswi yang berkelahi dengannya pagi tadi.

"Ban mobil lo kenapa?"

Vandra sontak berdiri saat ia mendengar suara Kevan. Ketika ia berbalik, dan ternyata benar bahwa Kevan sudah berdiri dibelakangnya.

"Kok lo?" Vandra mengangkat alisnya bingung.

"Gue ngikutin lo. Siapa yang udah bikin ban mobil lo sampe bocor kayak gini?"

"Nih." Vandra memberikan kertas yang tadi ia remas kepada Kevan. Kevan menerimanya lalu segera membacanya.

"Surat dari siapa? Lolita?"

Vandra menganguk, "Nah iya, itu yang tadi pagi berantem sama gue."

"Semua ban mobil lo bocor?"

Vandra menganguk pelan. "Kebangetan emang tuh cewek, awas aja kalo ketemu. Gue cakar tuh muka songongnya!"

"Udah, enggak baik dendam sama oranglain."

"Tapi ngeselin sih dia nya." Balas Vandra kesal.

"lo bawa ban lain ngga?"

"ada, kenapa?"

"biar gue gantiin ban mobil lo."

Vandra menggeleng cepat. "nggak, jangan. Nanti seragam lo bisa kotor."

"Yaudah kalo gitu biar gue hubungin montir langganan gue aja suruh kesini."

"gak usah Kev, ngerepotin elo."

"santai aja. Udah yuk, lo balik bareng gue aja."

"ngga deh gue naik taksi a-”

Ucapan Vandra terhenti saat Kevan lebih dulu menarik tangan nya menuju mobil lelaki itu. Setelah Kevan dan Vandra memasang seatbelt nya, barulah dengan perlahan mobil sport yang dikendarai oleh Kevan itu keluar dari area parkiran sekolah.

“lo kenapa jadi orang selalu maksa sih?” tanya Vandra sambil melirik Kevan.

"masa sih?”

Vandra lantas memutar bola matanya malas ketika melihat Kevan tersenyum. Ditanya serius malah bercanda.

"Oh iya ngomong-ngomong, lo ada masalah apa sih sama Lolita?"

"Masalah kecil sih, cuma rebutin tempat parkir mobil."

"Hah? Gimana ceritanya?"

"yaa jadi dia marah gara-gara gue parkirin mobil gue, ditempat biasa dia parkirin mobilnya. Gue juga bingung, kan harusnya bebas dong dimana aja kalo mau parkir. Karena gue gak mau memperpanjang masalah, yaudah gue minta maaf aja. Eh dia malah nyolot, yaudah gue nyolot juga lah. Dia malah ambil cutter kecil dari tas nya, buat gores-gores kap mobil gue terus abis itu dia pergi gitu aja. Disitu gue marah banget lah, terus gue kejar tuh cewek." Jelas Vandra panjang lebar. Kekesalan jelas terlihat pada raut wajahnya.

"Ceramah bu?" Kevan terkekeh.

"ck, gue udah capek-capek cerita malah dikatain!" Ujar Vandra seraya memukul lengan Kevan.

"lo haus ngga?"

"kenapa?" Tanya Vandra bingung.

"ya lo kan tadi abis cerita panjang banget. Jadi, haus gak?"

"Ck, bilang aja kalo mau ngajakin jalan."

"Gue gak ngomong yah, barusan lo yang ngomong loh. Berhubung lo ngebet banget pengen gue ajakin jalan, jadi dengan berbaik hati gue bakal turutin."

"Dih? Bukannya lo yah, yang tadi ngebet banget ngajakin gue jalan?"

"hm iyadeh." Kevan terkikik, "jadi mau nih?"

“ngga.”

“ayolah Van, sekali-kali. Lo nanti boleh beli apa aja deh.”

"yauda oke, gue izin dulu." Vandra kemudian menyalakan ponselnya untuk mengirimkan whatsapp kepada Hana—sang mama. Tidak lama kemudian, terdengar notif balasan dari mama nya.

Mama: Iya sayang, tapi jangan pulang kesorean. Oh iya, mama sama papa ke luar kota siang tadi. Maaf mama baru ngabarin. Kamu baik-baik yah sama bibi.

Vandra menghembuskan nafas pelan kemudian mematikan kembali ponselnya. Ia menyimpan ponsel tersebut didalam ranselnya.

"Udah?" Tanya Kevan.

“udah.”

***

"Lah, mobil Kevan mana?" Tanya Ardi, ketika dirinya dan juga Reifan sampai ditempat parkiran.

"Mana gue tau, bukannya tadi pagi dia parkirin mobilnya disini?" Reifan menunjuk tempat parkir yang sudah kosong.

"Lo sih piketnya lama, mau aja disuruh sama Ameera." Ujar Ardi kesal. Saat ini Ardi dan Reifan masih berada disekolah. Sehabis pulang sekolah ini, mereka memang sudah berniat untuk berkumpul dirumah Ardi.

"Malah nyalahin gue. Lo kan tau sendiri kalo gue gak piket, Ameera pasti marah sama gue."

"Siapa yang marah?"

Ardi dan Reifan sontak berbalik kebelakang saat mereka mendengar suara Ameera.

"Siapa yang marah? Gue?" Ulang Ameera dengan kedua tangan yang berkacak pinggang.

"Lo sih ngomongnya keras-keras, kalo sampe Ameera ngamuk disini gimana?" Bisik Ardi pada Reifan.

"JAWAB!"

Ardi dan Reifan terlonjak kaget ketika Ameera membentak mereka

"gak usah geer deh Ra." Sergah Ardi.

"Siapa yang geer? Orang jelas-jelas tadi gue denger, lo berdua sebut-sebut nama gue!"

Mampus dah, Ameera galak bener. Batin Reifan. Ia menggigit bibir dalamnya, memikirkan sesuatu supaya Ameera tak marah. Sedetik kemudian ia tersenyum saat mendapatkan ide.

"Udah yah enggak usah diperpanjang lagi, iyadeh gue ngaku salah dan gue minta maaf. Gimana sebagai permintaan maaf gue, lo gue traktir?" tanya Reifan.

"Gue ikut!" ujar Ardi cepat.

"Gue gak ngajak lo." Tanpa mendapat persetujuan dari Ameera, Reifan pun langsung meraih tangan Ameera lalu menggenggamnya. Reifan bisa merasakan tubuh Ameera yang tiba-tiba menegang ketika ia menyentuh tangan nya. Mungkin grogi, pikir Reifan.

"Jahat banget lo sama gue Rei. Kalo lo berdua pergi, gue sama siapa?" Tanya Ardi dengan memasang wajah sedih. Ah ralat, sok sedih.

"Bodoamat. Yuk Ra." Balas Reifan kemudian menarik tangan Ameera menuju motor sport nya.

"AAHHH.. LO MAH JAHAT REI! GUE BENCI SAMA LO! GUE BENCI POKOKNYA! KITA ENGGAK TEMEN! GUE NANGIS NIH, HUAA.. MAMIII.."

Gila! Umpat Reifan dalam hati.

***

"Mobil lo nanti langsung dianter kerumah lo Van." Ujar Kevan.

"oke makasih yah."

Kevan hanya mengangguk sambil tersenyum menanggapi ucapan Vandra. Lelaki itu kemudian mengedarkan pandangan nya mengitari setiap sudut cafe. Dan seketika matanya menyipit saat ia melihat dua orang remaja dengan mengenakan seragam yang sama tengah berjalan memasuki cafe.

Reifan? Kalo gue teriak panggil dia nanti yang ada semua orang bakal liatin gue. Gue whatsapp aja deh. Batinnya dalam hati.

Dari jauh, Kevan dapat melihat Reifan yang tengah menatap bingung kearah ponselnya. Ia tersenyum ketika Reifan berhasil melihat kearahnya. Kevan lantas melambaikan tangannya mengode Reifan supaya menghampirinya. Alhasil, Reifan pun mengangguk kemudian menarik tangan Ameera supaya mengikutinya.

"Lo ngapain Kev?" Tanya Reifan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel