Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 3

Seluruh siswa berlarian dikoridor setelah mendengar suara keributan dari arah mading. Kevan yang baru saja sampai disekolah tentu saja bingung melihat mading yang tampak ramai dikerumuni oleh para siswa. Dari jauh, ia dapat melihat bahwa didepan mading ada dua siswi yang tengah beradu mulut dan saling menjambak rambut satu sama lain. Karena penasaran, ia pun melangkahkan kakinya mendekati kerumunan tersebut.

Kevan berhasil masuk kedalam kerumunan para siswa yang tengah menonton aksi kedua siswi itu. lelaki itu kini sudah berada didepan, tepat dihadapan siswi yang tengah berkelahi.

Seketika mata Kevan membulat sempurna saat ia melihat bahwa Vandra-lah salah satu dari siswi yang berkelahi. Ia lantas mengedarkan pandangan nya lalu menghela nafas kasar. Banyak sekali dari para siswa yang bersorak mendukung siapa yang akan menang. Astaga, bukannya dilerai malah didukung.

Kevan lantas maju kedepan ketika ia melihat Lolita yang hendak menjambak kembali rambut Vandra.

"Apa-apaan sih lo! Lepas gak?!" Lolita memberontak karena tangannya dicekal oleh Kevan.

"Ikut gue." Kevan melepas cekalan di pergelangan tangan Lolita lalu beralih menggenggam pergelangan tangan Vandra, membawanya menjauh dari kerumunan dan meninggalkan Lolita yang saat ini tengah menatapnya tajam.

Berulang kali Vandra meronta pada Kevan. Namun semakin kuat Vandra meronta, semakin kuat pula Kevan mempererat genggaman ditangannya. Vandra meringis ketika kuku tangan Kevan menusuk kulitnya. Lelaki itu terlihat mempercepat langkahnya guna menuju ke UKS.

"Lo tuh apa-apaan sih! Lepas bego, sakit." Vandra berhasil melepas cekalan ditangannya ketika dirinya dan Kevan sudah berada didalam UKS. Mata gadis itu kini menatap Kevan dengan tajam.

"Sorry Van, gue tadi cum-"

"DIEM!" Bentak Vandra membuat Kevan memberhentikan ucapannya. "Jangan pernah temuin gue lagi!" Lanjutnya, kemudian berjalan meninggalkan Kevan. Namun ketika Vandra hendak membuka knop pintu, Kevan segera berlari lalu menahan tangan nya.

"Jangan gitu lah Van, oke deh gue minta maaf."

Tidak ada jawaban dari Vandra, ia memilih diam dan menunduk. Tanpa sengaja mata Kevan menangkap sebuah goresan luka dipergelangan tangan Vandra.

"Tangan lo?" Kevan lantas mengangkat tangan Vandra dan melihat pergelangan tangan nya. Tanpa berfikir panjang akhirnya Kevan membawa Vandra untuk duduk sofa yang ada diruangan tersebut.

"Lo tunggu sini bentar." Kevan pergi meninggalkan Vandra untuk mengambil kotak P3K.

Setelah mendapat apa yang ia inginkan, Kevan segera duduk disamping Vandra lalu meraih pelan tangan Vandra.

"Apaan sih!" Vandra menghempaskan tangan Kevan yang meraih tangan nya. Ketika dirinya hendak beranjak, Kevan segera menahan tangannya hingga ia terduduk kembali.

Kevan lantas memajukan wajahnya, tepat pada telinga Vandra. Tubuh Vandra seketika menegang ketika merasakan hembusan nafas Kevan yang mengenai sekitar leher nya. Bahkan, wangi parfum vanilla milik Kevan pun tercium jelas dihidung nya.

Kevan berbisik, "Diem, atau gue-"

Bugh..

Vandra memukul dada Kevan dan mendorong bahu lelaki itu supaya menjauh, "Gue bakalan bunuh lo, kalo sampe lo ngelakuin macem-macem!" Ancam Vandra membuat Kevan terkekeh mendengarnya.

"Sadis banget lo Van, lagian siapa yang mau macem-macem sama lo? Bisa digantung mati gue sama bokap, kalo gue sampe ngelakuin hal yang enggak-enggak. Suudzon aja sih."

"Suudzon apanya? Orang jelas-jelas tadi lo deket-deket gue!"

"Gue cuma mau bisikin, kalo lo nggak diem gue bakalan kunciin lo diruangan ini. Gitu."

Vandra lantas memutar bola matanya malas, "Alesan lo gak banget tau gak, bilang aja mau modus."

Kevan hanya mengedikkan bahunya kemudian meraih kembali tangan Vandra. Kali ini Vandra hanya bisa diam, ia pasrah jika Kevan mengobati lukanya. Toh, ini semua karena ulah nya.

Kevan menuangkan obat merah pada kasa yang sudah ia siapkan ditangan kirinya. Dengan perlahan Kevan mengusap kasa tersebut dipergelangan tangan Vandra yang terkena goresan kuku nya. Vandra menggigit bibir bawahnya menahan perih. Matanya memperhatikan Kevan yang tampak serius mengobati lukanya.

Bisa lembut juga nih cowok. Batin Vandra. Namun, sedetik kemudian ia menggeleng ketika tersadar akan ucapannya barusan.

"Udah selesai." Ujar Kevan seraya tersenyum.

"Thanks."

"Sama-sama. Sorry yah, gara-gara gue tangan lo jadi luka."

"Sans aja, cuma luka kecil kok. Lagian lo ngapain sih tadi tiba-tiba dateng, terus narik tangan gue?"

"Gue gak tega aja ngeliat rambut lo dijambak sama Lolita."

"Kenapa? Dianya aja gue jambak kok rambutnya, malah lebih keras."

"Lo tuh yah, udah gue belain gak ada terimakasihnya."

Vandra mengerutkan dahinya bingung, "Belain? Emang gue minta sama lo, buat belain gue? Enggak kan?"

Kevan mendengus kesal mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Vandra. Ia memilih beranjak lalu menyampirkan kembali ranselnya pada bahu kirinya.

"Kita ke kelas deh, pusing gue ngomong sama lo." Ujar Kevan sedangkan Vandra hanya mengedikkan bahunya acuh. Ia pun beranjak lalu berjalan beriringan dengan Kevan keluar dari UKS.

Vandra mengedarkan pandangannya dengan alis terangkat ketika ia melihat koridor yang sudah tampak sepi. Matanya beralih melihat arloji dipergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul 08.00. Itu artinya, bel masuk telah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu.

"Kenapa lo?" Kevan bingung melihat gerak-gerik Vandra yang tampak aneh.

"anak-anak udah pada masuk kelas ya?"

"menurut lo? Lo gak liat koridor udah sepi? Ya berarti udah masuk." Balas Kevan santai.

"Iih kok lo keliatan santai gitu, kita udah terlambat masuk ini ayo cepet lari." Tanpa sadar Vandra meraih pergelangan Kevan kemudian menggenggamnya. Kedua nya tampak berlari dengan tangan Vandra yang menggenggam tangan Kevan. Kevan sendiri diam-diam tersenyum memperhatikan tangan nya. Astaga, mimpi apa semalam ia bisa diperlakukan seperti ini oleh Vandra.

Bugh..

Kevan tersadar dari lamunan nya ketika ia merasakan ada seseorang yang memukul dadanya.

"Demen banget sih lo mukulin dada gue. Kalo gue mati gimana? Kalo gue sesak nafas gimana? Kalo gu-"

"gak usah lebay deh!" Vandra memutar bola matanya malas, "Lagian lo ngapain senyum-senyum kayak tadi? Mikir jorok lo yah?" Lanjutnya seraya menunjuk wajah Kevan dengan telunjuk nya.

"Sembarangan. Daripada gue mikir yang enggak-enggak, mendingan gue mikirin lo." Kevan menaik-turunkan alisnya berniat menggoda Vandra. Namun bukannya tergoda, Vandra malah menginjak kaki Kevan.

"Sshh.. bisa abis nih gue kalo deket sama lo. Tenaga lo kayak laki." Ujar Kevan meringis.

"Yaudah bagus, lo jangan deket-deket lagi sama gue."

"Sayang nya gue gak bisa." Ujar Kevan santai.

"terserah lo ah. Udah sana lo masuk kelas duluan, nanti gue nyusul." Ujar Vandra seraya menunjuk pintu kelas dengan dagunya.

"Kenapa gak bareng aja?"

"Lo aja duluan, nanti anak-anank bisa curiga kalo kita masuknya barengan."

"Curiga kenapa? gapapa kali. Nanti kalo ada yang nanya, gue tinggal bilang kalo kita ketemu dijalan."

"Ketemu dijalan pala lo!"

"Pala gue mah sejak lahir juga ada. Masa iya ketemu dijalan? Suka bercanda deh lo."

"Bodoamat Kev ih, darah tinggi gue lama-lama ada dideket lo!”

"udah ayo." Kevan kemudian menarik pelan tangan Vandra kemudian masuk kedalam kelas bersama-sama. Semua pasang mata seketika langsung tertuju pada nya dan juga Vandra.

“gercep juga si Kevan.”

“sikat Kev.”

“anjir gebetan aing.”

Bu Kina lantas menoleh kearah siswa-siswi yang tengah beradu mulut, "Jangan ribut!"

"kalian habis dari mana?" tanya bu Kina pada Kevan dan juga Vandra.

"Maaf bu, tadi saya sama Vandra abis dari UKS."

"UKS? Ngapain diUKS?"

"Tangan Vandra luka." Balas Kevan, seraya melirik sekilas kearah pergelangan tangan Vandra.

"Kamu gapapa Vandra?"

Vandra tersenyum tipis menanggapi pertanyaan bu Kina, "gapapa kok bu, cuma luka kecil."

"yauda kalian boleh duduk. Tapi ingat, jika sudah waktunya masuk kelas kalian langsung masuk." Ujar bu Kina, sambil menatap Kevan dan juga Vandra secara bergantian.

"makasih bu." Balas Kevan dan Vandra bersamaan, hingga membuat semua siswa-siswi bersorak padanya. Vandra kemudian mendongak menatap Kevan yang saat ini tengah menatapnya. Ia tersenyum gugup.

"udah jangan ribut. Cepat kalian duduk, dan catat materi yang udah ibu tulis didepan." Ujar bu Kina.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel