Part 2
Kevan memandang satu-persatu rumah yang berjajar rapih dari atas balkon kamarnya. Tatapan nya seketika terhenti pada sebuah rumah mewah bergaya modern klasik yang berada didepan rumahnya. Kevan tiba-tiba menunduk ketika teringat akan banyaknya kenangan di rumah itu, kenangan bersama orang yang dicintai nya dulu.
“ngga ngga.” Kevan menggelengkan kepalanya berulang kali berusaha untuk tidak mengingat akan kenangan yang kembali menghantui pikirannya.
Mata elang Kevan kemudian beralih memandang sebuah gitar yang sejak tadi ada di sofa balkon. Kevan lantas mendekati sofa itu lalu duduk dengan gitar yang sudah ada di pangkuannya.
“bagai langit dan bumi, yang tak pernah sealam
bagai hitam dan putih, yang tak pernah sewarna
hanya kita yang merasakan nya..”
“belajar melepaskan diri nya, walau setengahku bersama nya
ku yakin kita kan terbiasa, walau mimpi jiwa tak terima”
“bagai air dan api, yang tak pernah senyawa
bagai timur dan barat, yang tak pernah searah”
“be-“
"Woy!"
Kevan lantas menoleh dan mendapati Devan yang sudah duduk di samping nya sambil menampilkan cengiran khas nya yang membuat Kevan dongkol. Ah, hancur sudah mood galau Kevan sore ini.
"Ngapain sih lo?" Tanya Kevan kesal.
"Lah? Gue kan lagi duduk, abang gak liat?"
Kevan memutar bola mata nya malas, "anak kecil juga tau kalo lo lagi duduk. Ngapain lo ke kamar gue?"
"Mampir aja. Pas gue lewat kamar lo, gue ngedenger suara gitar yaudah gue masuk."
"Eh btw, suara lo bagus juga." Lanjut Devan sambil tersenyum.
"Suara gue mah emang bagus, emangnya lo." Balas Kevan dengan nada angkuh. Memang, sudah tidak diragukan lagi jika suara Kevan terbilang merdu. Bagaimana tidak, disekolahnya saja Kevan menyandang sebagai ketua dalam ekskul musik.
"Nyesel gue muji lo.”
"Dih bodoamat."
"terserah lo." Ujar Devan yang sudah terlanjur kesal. Lelaki itu kemudian mengambil ponselnya yang tersimpan di saku celana.
"KEVAN, DEVAN, TURUN NAAKK!!!"
Kakak beradik itu spontan saling pandang begitu mendengar suara teriakan mama nya dari lantai bawah. Mereka menggelengkan kepalanya secara bersamaan.
"Gila mulut nyokap lo, toak banget." Ujar Kevan.
Devan lantas melebarkan matanya mendengar ucapan sang abang barusan.
"heh, nyokap gue ya nyokap lo juga onta!"
Devan kemudian beranjak lalu dengan sengaja kakinya menginjak gemas kaki Kevan membuat sang-empu nya meringis kesakitan.
"aw, anjir!”
***
"Kenapa mah? Mau ngasih uang?" Tanya Devan ketika dirinya sudah berada disamping Mela yang tengah mengaduk sup.
Mela menoleh kemudian berdecak, "Uang mulu, abang kamu mana?"
"tau tuh dikamar lagi galau." ujar Devan asal. Ia menarik kursi makan lalu mendudukkan bokongnya disana.
Mela lantas mengerutkan dahinya bingung, "Galau? Galau kenapa? Diputusin sama pacarnya?" Lanjut Mela sehingga membuat Devan tertawa mendengarnya.
"Diputusin apaan, punya pacar juga enggak si abang."
"Apaan nih? Ngomongin gue ya lo." Ujar Kevan yang baru saja datang. lelaki itu menunjuk sang adik dengan jari telunjuknya.
"Tuh si raja jomblo dateng mah."
Mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Devan barusan membuat Kevan membulatkan matanya tak percaya.
"Emang lo bukan jomblo? Ngaca anj-“
“kevan!”
Kevan langsung nyegir begitu sang mama menyela ucapannya sambil melotot tajam kearah nya.
"Dih enak aja gue jomblo, punya cewek lah gue mah emang nya elo."
Bangke, umpat Kevan dalam hati. Jika ia mengumpat langsung di depan Devan bisa-bisa dirinya kena amuk sang mama.
"Wiih, apaan tuh mah?" tanya Kevan yang kini berada di samping mama nya.
"Sambel." Balas Mela asal.
"Sambel? Bukannya sup yah?"
"Kalo tau, kenapa nanyaa!!!" Mela lantas mencubit perut Kevan dengan gemas.
“aw, mah tega banget.”
Mela menghiraukan Kevan. Ia mengambil dua mangkuk yang sudah ia siapkan kemudian menuangkan sup tersebut kedalam mangkuk.
"Nih, sekalian sama Devan." Ujar Mela seraya memberikan dua mangkuk sup kepada Kevan dan segera diterima oleh Kevan.
Kevan berjalan menghampiri Devan yang tengah bermain ponsel dimeja makan. Ia meletakkan satu mangkuk dihadapan Devan kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju tangga. Sedangkan Devan, lelaki itu segera menyimpan ponselnya lalu meraih mangkuk sup tersebut supaya lebih dekat dengannya.
"Assalamu'alaikum." Terdengar suara bariton dari ruang tamu membuat Mela dengan cepat mematikan kompornya lalu berjalan menghampiri Andres yang ternyata tengah berjalan menuju dapur.
"Waalaikum salam, kok papa udah pulang?" Tanya Mela seraya mencium punggung tangan Andres. Andres tersenyum, tangan nya terangkat merangkul bahu sang-istri dilanjut dengan mencium keningnya.
"gak boleh emang kalo papa pulang cepet?"
Mela tersenyum, "Ya boleh lah. Oh iya tadi mama buat sup, ada Devan juga dimeja makan kita kesana yuk."
Andres hanya mengangguk menanggapi.
"Pah, tumben udah pulang." Ujar Devan ketika melihat Andres yang sudah duduk dihadapan nya. Ia menghampiri Andres kemudian mencium punggung tangannya.
"Iya kerjaan papa udah selesai. Abang mana?"
"Di kamar sih kayaknya. Devan nyimpen mangkuk dulu pah." Ujar Devan, dan dibalas anggukan oleh sang ayah.
"Nih pah, cobain deh." Mela meletakkan mangkuk berisi sup dihadapan Andres, dan dengan senang hati Andres menerimanya.
"Mah, pah, Devan keatas yah."
Mela dan Andres menoleh, lalu mengangguk bersamaan.
***
Kevan telah menyelesaikan acara makan sup nya. Ia menyimpan mangkuk bekas sup tersebut diatas nakas lalu berjalan kearah meja belajarnya untuk mengambil ponsel. Ketika ia menyalakan ponselnya, ternyata ada notif whatsapp yang dikirimkan dari Ardi.
Ardiaz
kev?
P
Kevaaan!!
kevan
Bangke ceklis dua tapi gak bales
Kevan hanya membaca notif dari Ardi tanpa berniat untuk membalasnya. Bahkan ia memilih untuk mematikan ponselnya. Ck, memang benar-benar keterlaluan si Kevan.
Drrtt!! Drrtt!! Drrtt!!
Kevan yang hendak menyimpan kembali ponselnya ia urungkan setelah terdengar dering panggilan dari ponselnya.
"Woy! Sialan, anjir, brengsek, kambing, ayam, tai lo! Kenapa whatsapp gue cuma lo read?"
Kevan sontak menjauhkan ponselnya dari telinga nya setelah mendengar perkataan beruntun dari Ardi diseberang telvon sana.
"Terus aja panggilin semua saudara lo!" Desis Kevan kesal.
"Kampret! Gue tuh mau ngasih tau hal penting sama lo."
"Apaan? Tentang sepatu keluaran terbaru lo itu?"
"Hehe, tau aja lo. Gue ma-"
"Enggak penting Ar, udahlah gue matiin."
"Ih, jangan gitu dong Kev. Ayolah tolongin gue, pilihin sepatu mana yang lebih bagus."
"Dih kan sepatunya lo yang beli, lo juga yang make. Udah sana ke Reifan aja, gue lagi males."
"Itu masalahnya. Si Reifan juga gak mau, katanya males juga."
"Bagus dong."
"Ih, kok bag-"
Tut! Tut!
Kevan segera memutuskan panggilan sepihak dari Ardi lalu mematikan ponselnya dan melemparnya asal diatas kasur king-size miliknya. Ia mengambil mangkuk yang berada diatas nakas kemudian berjalan keluar kamar untuk menaruh mangkuk tersebut didapur.
"Astagfirullah, punya bonyok gini amat." Kevan menggelengkan kepalanya ketika melihat kedua orangtua nya yang tengah tertawa mesra diruang tengah, saat dirinya telah sampai diujung tangga.
Setelah menyimpan mangkuknya, Kevan berjalan menuju ruang tengah menghampiri Mela dan Andres. Dengan santainya ia duduk disamping Mela dan menyenderkan punggungnya pada badan sofa.
"Jangan mesraan mah, pah. Inget umur." Ujar Kevan dengan mata yang memandang lurus kedepan.
Mela dan Andres sontak saling pandang. Loh, memang nya kenapa?
"Apa sih kamu, anak kecil gak tau apa-apa. Udah sana, mendingan main boneka dikamar." Ujar Andres membuat Kevan menatapnya kesal. Apaan main boneka, emang Kevan perempuan.
"Tau nih, udah sana ke kamar." Timpal Mela.
"ck, suami istri sama aja ngeselinnya!" Kevan lantas beranjak dengan memasang wajah kesal. Ia berjalan menuju tangga, meninggalkan kedua orangtua nya yang saat ini tengah tertawa.
Kevan merebahkan tubuhnya diatas kasur king-size miliknya, dengan kedua tangan yang ia jadikan sebagai bantalan untuk kepalanya.
"Lucu juga si Vandra." Gumam Kevan dengan senyuman yang mengembang. Ia membayangkan wajah cantik Vandra ketika sedang kesal, "Tapi galak." Lanjutnya kemudian tertawa.
"gak tau kenapa sejak gue ketemu sama lo Van, rasa nya adem nyaman banget nih hati. Apa gue udah mulai suka sama lo kali ya?" Kevan tersenyum, "Tapi kalo lo nya gak suka sama gue gimana?" Raut wajah Kevan seketika berubah sedih lalu tersenyum kembali.
"Ah masa iya gue gak bisa taklukin hati Vandra? Secara, gue kan ganteng..." Ujarnya dengan percaya diri.
