Part 1
Suara ribut kedua remaja itu menggema diseluruh ruangan kediaman keluarga Kevan. Devan--adik Kevan itu tengah menatap tajam sang abang dengan pipi yang menggembul dipenuhi oleh makanan. Sedangkan yang ditatap hanya terkekeh sambil terus melanjutkan sarapan paginya dengan santai.
"Dev, udah." Ujar wanita paruh baya pada putra kedua nya. Dia Mela--ibunda Kevan dan Devan.
"Abang tuh yang mulai duluan!" Adu Devan dengan wajah kesalnya.
"Kalian itu yah, selalu aja ribut. Capek telinga papa denger kalian berantem terus. Setiap hari, rumah selalu rame sama mulut kalian." Andres--ayah Kevan dan Devan menghembuskan nafas nya pelan.
"Devan nya aja yang lebay pah." Celetuk Kevan.
"Lo nya aja yang suka gangguin gue!" Ujar Devan tak terima.
"Udah-udah gak usah mulai lagi, buruan berangkat ke sekolah nanti telat." Sergah Mela saat dirinya melihat Kevan yang sudah membuka mulutnya hendak membalas ucapan Devan.
"Yaudah Kevan berangkat mah, pah." Kevan lantas beranjak kemudian menyampirkan ranselnya dibahu kiri.
“Devan juga.”
Devan dan Kevan lantas mencium punggung tangan Mela dan Andres bergantian.
"Assalamu'alaikum." Ujar Kevan dan Devan bersamaan.
"Waalaikum salam." Balas Mela dan Andres bersamaan pula.
***
Kevan mengendarai mobil sport nya dengan kecepatan penuh. Mulut nya bergerak mengikuti alunan musik yang sedang ia putar. Kemudian ia menoleh kesamping dan mendapati Devan yang tengah fokus menatap benda pipih itu. Seketika, ide jahil terlintas dipikiran Kevan ketika ia melihat gedung sekolah Devan yang sudah terlihat.
Citt..
Dukk..
Suara decitan ban menyatu dengan suara benturan pada kening Devan yang mengenai dashboard. Devan memundurkan kepalanya seraya mengusap pelan keningnya yang terasa sakit. Ia menoleh kesamping, menatap tajam sang abang yang kini tengah tertawa.
"Sakit bego!"
"Ck gak sopan tuh mulut. Udah sana keluar, nanti gue telat lagi." Ujar Kevan seraya meredakan tawanya.
Dengan wajah yang masih ditekuk kesal, Devan keluar dari mobil abangnya. Ia menutup pintu mobil Kevan, dengan keras dan kasar.
***
Senyuman di bibir Vandra seketika mengembang saat matanya menangkap sebuah bangunan elite nan megah yang berdiri kokoh dihadapannya. Kaki jenjang nya dengan perlahan melangkah menyusuri koridor sekolah. Gadis itu lantas mengedarkan pandangan. Matanya spontan menyipit saat ia melihat seorang lelaki yang tak asing di matanya tengah berbincang di ujung koridor bersama dua lelaki lain. Mungkin teman nya.
Gak, gak mungkin itu dia. Yakali gue satu sekolah sama cowok rese itu. Batin Vandra.
Karena tidak mau ambil pusing akhirnya Vandra kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju ke ruang Kepsek.
"oh iya, gue kan gak tau dimana ruang kepsek." Gumam Vandra sambil terus berjalan menyusuri koridor.
“gue tanya sama dia aja kali ya?” Vandra pun akhirnya menghampiri seorang siswi yang sedang membaca buku diteras kelas nya.
"hai, sorry gue boleh nanya?" Tanya Vandra
"oh iya kenapa ya? eh wait, kok muka lo asing? Anak baru ya?" Tanya siswi bername-tag Clara itu sambit menautkan alisnya.
“hehe iya.”
"Lo cantik banget ih.” Ujar Clara sambil tersenyum lebar.
"Hehe thanks. Oh iya gue mau tanya, ruang kepsek dimana ya?”
"Oh ruang kepsek. Lo dari sini lurus aja, terus belok kanan. Nanti di pintu ada tulisannya kok ruangan kepala sekolah.”
Vandra mengangguk-anggukan kepalanya,” okey, thanks ya.”
“iya sama-sama.”
Setelah itu Vandra bergegas menuju ruang kepala sekolah.
***
Suasana kelas itu mendadak hening ketika pak Surya--walikelas XII IPA 1 memasuki kelas bersama seorang gadis yang berjalan menunduk dibelakangnya. Semua siswa spontan membulatkan matanya ketika gadis itu mendongak. Tak terkecuali Kevan yang cukup terkejut melihat gadis itu.
Loh cewek itu kan? batin Kevan.
"biasa aja matanya, nanti bapak colok mau?” Ujar pak Surya sambil memperhatikan seluruh murid nya.
“bening banget pak.” Celetuk Ardi dari meja belakang, sehingga sontak saja teman-teman nya langsung menyorakinya.
"Siswi baru pak?" Tanya Rian, siswa yang duduk dibangku kedua barisan ketiga.
"Kalau bukan siswi baru ngapain bapak bawa dia kesini? Yang bener aja kamu."
"Yaelah pak cuma nanya, galak amat." Ketus Rian.
Pak Surya lantas menoleh kesamping kemudian tersenyum, "Nak, silahkan perkenalkan nama kamu."
Vandra mengangguk, "Gue Aldercha Vandra Resta, panggil aja Vandra." Lanjutnya singkat.
“hai cantik.”
"Beh, suaranya lembut banget."
"Boleh juga gue gebet."
"Heh diem! Kenapa jadi ribut gini. Kalo kalian ada yang mau di tanyakan, nanti aja. Bu Siska udah mau masuk kelas soalnya. Nak, silahkan kamu duduk disamping Reifan ya. Dan kamu Ardi, pindah sama Ameera." Ujar Pak Surya.
"Kenapa gak Reifan aja yang suruh pindah sih pak? Biar Vandra sama saya." Ujar Ardi sambil menaik-turunkan alisnya.
"Kamu ini ngebantah aja. Lagian siapa yang nyuruh kamu duduk sama Reifan? udah berkali-kali bapak bilang jangan pindah tempat duduk. Kamu itu duduknya dengan Ameera, kenapa sama Reifan lagi sih?" Tanya pak Surya yang sudah terlanjur kesal. Sebagai walikelas, pak Surya memang mempunyai prinsip sendiri untuk siswa nya supaya tidak diperuntukkan duduk sebangku dengan sesama jenis. Entah apa alasan nya.
"Best friend pak, lagian kan Reifan duduknya sendiri jadi saya temenin aja." Balas Ardi santai.
"udah cepat pindah. Ameera, kalo Ardi mau pindah tempat duduk kamu tahan, dan kalo kamu yang disuruh pindah oleh Ardi jangan mau.”
Ameera hanya mengangguk menanggapi ucapan pak Surya. Akhirnya dengan malas Ardi pun beranjak lalu duduk disamping Ameera.
"Rasain, makanya jangan pindah-pindah." Ujar Ameera sambil memutar bola matanya.
"dih apa urusannya sama lo? Lagian gue pindah juga karna lo berisik."
Ameera lantas menoleh kearah Ardi kemudian menatapnya tajam. Namun Ardi menghiraukan itu.
"Nak, silahkan."
"Makasih pak." Vandra tersenyum tipis. Kemudian ia berjalan menghampiri meja yang ditujukan untuk nya.
"Hai cantik."
"Eh?" Vandra tersentak kaget ketika seseorang mencolek lengan nya. Ternyata dia Kevan. Entah sejak kapan lelaki itu berada disampingnya. Yang jelas, lelaki itu kini tengah duduk santai sambil menopang dagu nya menghadap Vandra.
"hehe kaget ya?" tanya Kevan.
“ngapain disini?"
"Boker." Balas Kevan asal.
"ck, gak lucu!"
“siapa juga yang-“
“selamat anak-anak..”
Ah sial. Belum sempat Kevan membalas ucapan Vandra tiba-tiba bu Siska--guru biologi lebih dulu memasuki kelas.
***
Pelajaran terakhir telah selesai sejak lima menit lalu. Dan sekarang Kevan dkk tengah berjalan menyusuri koridor untuk menuju ke parkiran.
"Rei?" panggil Ardi membuat sang empunya menoleh.
"Lo kan tadi dikantin minjem uang gue tuh buat bayar minuman." Ardi menjeda ucapannya lalu menyengir lebar, "terus sekarang mana gantinya?"
"Perhitungan banget lo sama temen, cuma dua puluh ribu kan? Ikhlasin aja sih." Balas Reifan santai sambil mengalihkan pandangan nya kedepan.
"Ih lo mah, gue tuh mau beli sepatu baru. Tadi gue liat di online bagus banget sepatunya anjir pasti cocok di gue." Ardi lantas tersenyum lebar membayangkan bagaimana sepatu itu terpasang dikedua kakinya nanti.
"gue heran deh sama lo. Lo tuh cowok, tapi kenapa demen banget sih ngoleksi sepatu?" Tanya Reifan bingung.
Ardi mengedikkan bahunya acuh, "mana gue tau, udah sini gantiin uang nya. Lo kan orang kaya kenapa selalu minjem uang ke gue sih? Bonyok lo gak ngasih jajan?”
"lupa, ketinggalan di tas." Balas Reifan santai.
"Dan lo sengaja biar pinjem di gue kan?" Tuduh Ardi.
Reifan lantas tersenyum sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Ardi, "tuh tau. Yaudah sih, bonyok lo juga kan orang kaya kenapa gak minta aja sama mereka?"
"jutru itu sekarang nyokap lagi marah gara-gara gue keseringan beli sepatu." Ujar Ardi dengan wajah memelas.
"ck, yauda derita lo."
"Iih, Kev.. bantuin gue dong tagihin uang di Reifan." Ujar Ardi seraya menyenggol lengan Kevan. Namun, Kevan tampak menghiraukan ucapan yang dilontarkan oleh Ardi dan memilih tetap fokus pada ponsel yang ia genggam. Ardi mencebikkan bibirnya kesal karena tidak mendapat respon dari Kevan.
"Nih perhitungan banget lo." Reifan menyodorkan selembar uang lima puluh ribu kepada Ardi sedangkan Ardi menerima nya dengan mata yang berbinar.
"Hehe makasih sayang.." Ardi lantas memajukan bibir nya, dan Reifan segera menampol bibir itu sambil menatapnya risih sekaligus jijik.
“bangke.” Umpat Ardi sambil mengusap bibir nya.
"Masih mau debat atau pulang?" Tanya Kevan lalu berjalan meninggalkan kedua sahabatnya itu. Reifan dan Ardi sontan melihat sekeliling nya. Ternyata mereka sudah sampai diparkiran.
"KEV WOYY TUNG-- hmpftt.." Ucapan Ardi terpotong ketika tangan besar milik Reifan membekap mulutnya.
"Berisik!" Selepas mengucapkan itu Reifan pun segera bergegas meninggalkan Ardi.
"Si anjir! Semua ninggalin gue!" Ardi mencebikkan bibirnya kesal lalu menyusul Reifan dan Kevan sambil menghentakkan kaki nya dongkol.
