Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9

"Kenapa, Pah? Apa Papa gak setuju, sama hubungan kami?" Aku bertanya kepada Papa, kenapa Papa menggantung ucapannya.

"Iya Om, apa Om tidak setuju, dengan hubungan Bagas dan Anisa? Apa karena Bagas gak sepadan, dengan keluarga Om? Atau ada hal lain, yang ingin Om sampaikan?" tanya Mas Bagas.

"Bukan, bukan masalah itu. Tadi Papa cuma mau bilang, kalau Papa setuju saja sama siapa pun pilihan Anisa. Asalkan benar-benar mencintai Anisa, bukan karena hal lain." Papa memberitahu, kalau dia setuju dengan pilihanku.

"Tapi ingat, kalau sampai ada siapapun yang mau menyakiti hati maupun pisik anakku, aku tidak akan segan membuat perhitungan dengannya. Bagaimana Nak Bagas, apa kamu sanggup memenuhi syarat tersebut? Jika tidak, silakan Nak Bagas pergi saja dari rumahku!" Papa bertanya kepada Mas Bagas, tentang kesanggupannya melakukan syarat tersebut.

Aku sampai bengong, mendengar Papa melakukan hal tersebut, kepada Mas Bagas. Dibalik sikap Papa yang tegas, rupanya Papa begitu mengkhawatirkan aku. Papa tidak rela, jika aku anak gadis satu-satunya menderita karena cinta.

"I ... iya Om, sa ... saya sanggup." Mas Bagas berkata sampai terbata, mungkin karena saking gugupnya.

"Kenapa bicaranya gugup begitu? Apa bukan dari hati, mengatakannya?" Papa bertanya, kepada Mas Bagas.

"Ti ... tidak Om, sa ... saya benar-benar mencintai anak om, dari hati saya." Mas Bagas menjawabnya.

"Baiklah kita lihat saja nanti, kalau sampai ucapanmu Bagas, tidak sesuai dengan kenyataannya. Jangan salahkan Om, kalau Om sendiri yang akan turun tangan menghukummu." Papa kembali mengancam, Mas Bagas.

Jujur aku merasa ngeri, sekaligus bahagia, mendapat perhatian yang sangat istimewa dari Papa. Aku ngeri, kalau ternyata Mas Bagas tidak bisa menepati ucapannya. Bahagiaku karena Papa, begitu menyayangiku.

"Pah, kok ngomongnya begitu! Aku tahu Papa sayang sama aku, tapi Papa jangan terlalu menghakimi Mas Bagas dong. Kasihan dia," tegurku.

"Papa hanya melakukan, apa yang semestinya Papa lakukan. Papa tidak akan pernah rela, kalau sampai melihatmu terluka." Papa berkata dengan penuh makna.

"Asal kamu tahu, Nisa. Semenjak Mamamu meninggal, setelah melahirkanmu. Papa tidak pernah sekalipun berniat memiliki istri, sebelum kamu menikah dan bahagia bersama suamimu." ucap Papa.

"Kenapa Papa melakukan semua itu? Alasannya adalah demi kamu, Nisa. Demi anak Papa yang terlahir, dari wanita yang sangat Papa sayangi. Papa tidak mau, jika Papa memiliki istri, yaitu Ibu tiri buatmu. Dia akan menyakitimu, tanpa sepengetahuan Papa. Makanya lebih baik Papa tidak menikah, dari pada itu terjadi." Papa memberitahu alasan, kenapa Papa tidak menikah lagi.

"Papa tidak rela, jika anak Papa yang Papa besarkan dengan penuh kasih sayang. Disakiti orang, walaupun orang itu adalah orang yang dicintaimu, Anisa. Makanya Papa selektif banget, memilih calon buat kamu. Papa, tidak asal ambil dan terima begitu saja. Kalian berdua, paham kan maksud Papa?" Papa bercerita panjang lebar, tentang Papa yang begitu menyayangiku, serta tidak menginginkan ada orang yang menyakitiku.

Aku yang mendengarkan setiap perkataan Papa, begitu terharu dan tidak dapat membendung air mata yang memaksa keluar. Ternyata, sebesar itu rasa sayangnya padaku. Aku tidak menyangka karena demi aku, Papa rela menduda, sampai puluhan tahun.

"Papa, maafin Anisa. Anisa tidak tahu, kalau selama ini ternyata Papa begitu mengedepankan perasaan Anisa, ketimbang egonya Papa. Maafin semua salah Anisa, ya Pah!" Aku menghambur, kedalam dada Papa dan Papa pun memelukku erat, sambil mengusap pucuk kepalaku dengan lembut.

"Iya, Nisa Papa maafin kamu kok. Buat Papa, asalkan kamu bahagia, Papa pun ikut bahagia. Tetapi sebaliknya, kalau kamu terluka, Papa akan lebih terluka dari kamu. Paham kan, Nisa?"

"Iya Pah, Anisa paham. Anisa akan tetap bahagia, Anisa tidak akan bersedih, demi Papa." ucapku, sambil mengusap air mata yang keluar dari pipiku, serta pipi cinta pertamaku ini.

"Mas Bagas, kamu dengar kan, apa yang diucapkan Papa? Aku harap kamu mencintaiku dengan tulus, serta apa adanya. Bukan karena, ada apanya aku." Aku beralih nanya kepada Mas Bagas, tentang keseriusannya mencintaiku.

"I ... iya, Nis, Mas akan mencintaimu dengan sepenuh hati Mas. Mas tidak akan pernah menyakitimu, kamu harus percaya sama Mas." Mas Bagas berkata, membuat aku lega. Semoga semua ucapannya terbukti dengan perbuatannya, jangan hanya di mulut saja.

"Ok, Mas. Aku akan pegang semua kata-katamu. Karena laki-laki jantan, terbukti dari setiap ucapannya yang selalu ditepati." Aku mencoba percaya, dengan semua yang diucapkan Mas Bagas.

"Iya, Nis, terima kasih karena kamu telah mau percaya sama Mas." sahut Mas Bagas.

"Om, ijinin Bagas buat mencintai Anisa! Bagas tidak akan pernah menyakitinya, Om." Mas Bagas pun meminta izin, kepada Papa untuk mencintaiku.

"Baik, akan Om izinkan, kalau kamu memang mau mencintai Anisa. Tetapi Om tidak mau dengar, ataupun melihat suatu saat kamu menyakiti Anisa. Paham, Nak Bagas," ungkap Papa. Ia mengizinkan, Mas Bagas untuk mencintaiku, sekaligus menjadi kekasihku.

"Terima kasih, ya Om," sahut Mas Bagas, sambil mencium punggung tangan Papa takzim. Aku pun merasa bahagia, dibuatnya.

'Semoga saja, tidak ada aral melintang yang menghampiri cinta kami. Aamiin,' gumamku dalam hati.

"Ok, sekarang lebih baik, kita makan malam bersama. Sebagai tanda, kalau kita akan jadi keluarga." Papa mengajak kami untuk makan malam bersama.

Setelah itu kami pun menuju ruang makan, segala lauk pauk dan pelengkapnya sudah tersedia rapi di atas meja. Bi Inah, sengaja memasak banyak hari ini karena aku bilang, akan ada orang spesial yang datang.

"Ayo, Nak Bagas, kamu jangan sungkan. Makan yang banyak, anggap saja kamu sedang berada di rumahmu sendiri. Nanti kalau kalian berdua berjodoh, rumah ini juga akan menjadi rumahmu juga." Papa, menyuruh Mas Bagas untuk makan dan menganggap rumah Papa sebagai rumahnya juga.

"Terima kasih, Om," sahut Mas Bagas.

"Iya Mas, jangan sungkan," timpalku.

Kami pun akhirnya makan dengan tenang, tanpa bersuara sedikitpun. Mas Bagas kelihatannya begitu menikmati, masakan yang dihidangkan ini. Aku pun merasa bahagia, melihatnya.

*****

"Ratna, aku sedang bahagia ... a, banget. Terima kasih ya, kamu sudah kenalin aku sama Mas Bagas. Kini kami resmi menjadi pasangan kekasih, Papa juga sudah merestui." Aku menceritakan isi hatiku kepada Ratna, saat dia berkunjung ke rumah. Kebetulan hari ini minggu, kadi dia libur kerja.

"Iya, Nis, sama-sama. Sebagai sahabat kamu, aku pasti senang mendengar kamu bahagia. Apalagi sudah memiliki pasangan." Ratna membalas ucapanku, sambil membolak balik majalah yang sedang di pegangnya.

"Iya, Ratna pokoknya terima kasih."

"Mas Bagas kemana ya, katanya mau ngajak aku jalan, tapi kok belum nongol juga?" Aku bertanya, seolah kepada diriku sendiri.

"Emang kalian, mau pergi ke mana? Aku ikut ya, Nis. Masa iya, kamu tega ninggalin aku sendirian." pinta Ratna, sambil mengguncang pundakku.

"Em ... iya deh, Rat. Kamu boleh ikut," sahutku. Sebenarnya, aku keberatan Ratna ikut karena inginnya, aku jalan cuma sama Mas Bagas berdua. Tetapi aku tidak enak menolak keinginan Ratna, toh dia yang sudah memperkenalkan aku dengan Mas Bagas.

"Ok, Nisa, kamu memang teman terbaiknya." Ratna bicara sambil memelukku, dia begitu girang, saat aku izinkan dia untuk ikut.

"Oh iya Rat, kartu ATM ku mana? Kamu bawa kan?" tanyaku kepada Ratna, saat mengingat kartu ATM yang belum Ratna kembalikan padaku.

"A ... ada kok, Nis. Ini," ucapnya gugup, saat menyerahkan kartu ATMku.

''Rat, kenapa kamu gugup, saat aku tentang ATM? Ada apa?'' tanyaku. Aku merasa , saat memenanyakan lihat Ratna seperti itu, atau jangan-jangan, ada sesuatu yang di membuktikannya.

Bersambung ...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel