Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10

"Lho, Rat, kenapa kamu gugup, saat aku tanya tentang ATM? Emangnya, ada apa dengan ATMku?" tanyaku. Aku heran, sama sikapnya Ratna, saat aku tanya soal ATM. Jangan jangan ada sesuatu yang sedang disembunyikannya.

"Eng ... enggak, kok, Nis. ATMnya gak kenapa-napa, cuma saja ...!" Ratna, menggantung ucapannya.

"Cuma apa, Ratna? Kamu ngomong, dong yang jelas, biar aku paham." Aku meminta, supaya Ratna berbicara yang jelas, jangan bertele-tele.

"Tapi ... kamu jangan marah ya, Nis!"

"Kenapa, aku mesti marah sama kamu, Ratna?" tanyaku, tambah merasa heran, dengan Ratna.

"Jadi begini, Nis. Saldo di dalam ATMnya, cuma tersisa satu juta. Tadinya 'kan, saldomu ada lima puluh satu juta? Kemaren dibeliin perlengkapan buat Bagas, semuanya habis empat puluh juta, termasuk beli handphone," terang Ratna. Ratna menerangkan, kemana uang yang empat puluh juta larinya.

"Iya, terus?" tanyaku lagi.

"Uang, yang sebelas jutanya, aku pake sepuluh juta. Jadi saldoku, sisa satu juta. Kemaren ayah, sama bundaku butuh uang mendadak, sedangkan aku tidak ada. Jadi aku pakai, deh uangmu, daripada aku pusing. Maaf ya, Nis," ujarnya. Ia berkata seringan itu, tanpa merasa ada beban.

"Loh, kok 'gitu?" tanyaku, merasa tidak percaya.

"Iya, Nis, maaf ya." Ratna terus saja meminta maaf.

Dadaku tiba-tiba terasa sesak, saat mendengar penuturan Ratna. Aku merasa kecewa, dengan tindakan Ratna yang memakai uangku, tanpa konfirmasi dulu. Tetapi aku tahan emosiku, aku tidak memperlihatkan rasa kecewaku, kepadanya. Takut, kalau Ratna akan tersinggung, nantinya

"Oh, jadi uangku cuma tersisa satu juta, Ratna!" Aku memastikannya lagi, barangkali telingaku salah mendengar.

"Iya, Nis, maaf ya. Nanti aku ganti, kalau aku udah gajian. Papamu kan uangnya banyak, Nis. Pasti tidak apa 'lah, kalau kamu minta ganti, sama dia." Ratna berkata seolah menyepelekan kesalahannya itu, malah menyuruhku untuk meminta ganti rugi kepada Papa.

Ia pikir karena Papa banyak uang, aku akan menghamburkan sesukaku. Tanpa dia tahu, kalau uang yang ada di ATM, adalah uang hasil aku menyisihkan, dari jatah bulanan yang Papa berikan.

"Iya, Ratna, tidak apa kok. Tapi benar ya, nanti kamu ganti uangku." pintaku.

Padahal aku tahu, kalau selama ini setiap dia bilang minjam uang, ataupun barang. Ia tidak pernah, sekalipun mengembalikannya. Baik kepadaku ataupun, kepada Papa. Tetapi aku ataupun Papa, tidak pernah jera untuk membantunya.

"Kamu, emang sahabat terbaik, yang aku miliki, Nisa. Kamu selalu mengerti, dengan kondisiku," ujar Ratna.

Tidak berapa lama, Mas Bagas pun datang, saat aku dan Ratna sedang berbicara. Ia langsung menghampiri kami, kemudian berbasa-basi.

"Eh, Mas, kamu sudah datang?" sapaku.

"Iya, Nis. Maaf ya, kamu sudah lama menunggu, Mas?" tanyanya.

"Enggak, kok, Mas. Aku menunggumu, sambil ditemani Ratna ngobrol," sahutku

"Oh, iya Nis. Tadi, Mas antar Ibu dulu, buat belanja ke pasar. Jadinya, telat deh, datang ke sini." Mas Andre memberitahu, kenapa ia sampai datangnya telat.

"Enggak apa, kok, Mas. Itu lebih baik, berarti kamu menjadi anak yang berbakti." Aku berkata, supaya Mas Bagas tidak merasa bersalah, telah datang telat.

"Iya, Nis, alhamdulillah," sahutnya.

"Ternyata, Ratna juga lagi ada di sini. Bagaimana, kalau sekalian aja, Ratna kita ajak jalan, ya Nis?" Mas Bagas meminta, supaya Ratna ikut serta, dalam acara jalan-jalan kami berdua.

"Nanti, aku ganggu kalian, enggak Nih?" Ratna bertanya, kepada kami.

"Enggak 'lah, Rat. Iya 'kan, Nis?" tanya Mas Bagas, padaku.

"Iya, Mas. Tadi Ratna juga minta, supaya dia ikut, kok." Aku menyahut, pertanyaan dari Mas Bagas.

"Terus, kamu izinin, tidak?" tanyanya.

"Iya, Mas, diajak kok," sahutku. Aku merasa sebal, saat mendengar Mas Bagas begitu perhatian sama Ratna.

Tetapi, aku menutupi perasaanku dengan senyuman, supaya tidak terlalu ketara, kalau hatiku berkata lain.

"Ya sudah, ayo kita berangkat!" ajakku.

Kami pun segera pergi, setelah pamit kepada Papa dan juga Bi Inah.

"Nis, aku minta duduk di depan, ya. Soalnya aku suka mual-mual, kalau duduknya di belakang." Ratna meminta, supaya dia duduk di depan.

"Ya udah, kalau begitu aku aja yang nyetir, ya Mas." Aku meminta, supaya aku yang membawa mobilnya.

"Mana, Mas? Coba siniin, kunci mobilnya, biar aku yang nyetir." Aku meminta kunci mobil, kepada Mas Bagas.

"Gak usah sayang, biar Mas aja yang nyetir. Nanti kamu kecapean, lagi. Ayo cepetan kita berangkat, nanti keburu siang banget." ajak Mas Bagas. Ia menolak, kalau aku yang menggantikannya menyupir.

"Tapi, Mas," ucapku.

"Udah, Nisa, kamu mengalah aja. Ratna ini 'kan teman kita, masa iya jamu tega seperti itu, kepada Ratna." Mas Bagas, malah memojokanku.

"Ya udah deh, Mas, aku mengalah." Aku berkata, sambil memalingkan mukaku, ke arah lain. Karena, aku tidak suka,dengan semua ini.

Kami pun, akhirnya masuk ke dalam mobil dan Ratna duduk di depan, tepat di sampingnya, Mas Bagas. Sedangkan aku, duduk di jok belakang seorang diri.

Aku, seperti sedang mendampingi, sepasang kekasih jalan-jalan. Posisiku, ibarat aku yang sedang menumpang sama mereka. Padahal ini mobilku, Mas Bagas juga pacarku. Tetapi kenapa, Ratna yang malah seolah sebagai kekasih Mas Bagas?

Aku terus ngedumel di dalam hati, tentang sikap Ratna dan Mas Bagas. Kemarin saja, saat aku menyuruh Ratna untuk berpacaran, dengan Mas Bagas, dia malah menolaknya. Tetapi sekarang, saat aku sudah resmi menjadi kekasih Mas Bagas, dia seperti itu.

'Aneh ...!'

Bersambung ...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel