Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8

"Nis, kapan calonmu, akan menemui Papa?" Papa kembali bertanya, tentang calonku kapan akan menemuinya. Papa bertanya padaku, pada saat kami akan sarapan bersama.

"Nisa, nanti akan tanyakan dulu, ya Pah. Dia bisa menemui Papanya, kapan?" Aku menjawab pertanyaan dari Papa.

"Ok, Nis, Papa tunggu."

"Iya Pah, Papa tenang aja." sahutku.

Setelah itu, kami makan dengan tenang. Selesai sarapan, Papa pun pamit padaku untuk berangkat ke kantornya. Aku pun mengantar Papa, sampai teras depan.

"Pah, hati-hati ya." Aku memperingatkan Papa, untuk berhati-hati. Tidak lupa, aku mencium punggung tangan cinta pertamaku ini.

"Iya Nis," sahut Papa. Papa pun segera masuk ke dalam mobil, yang akan dikemudikan oleh Pak Sarip.

Papa menempati jok depan, samping Pak Sarip. Papa memang berbeda, dari orang lain. Walaupun Papa seorang bos, tetapi dia selalu duduk berdampingan dengan sopirnya. Papa, tidak membeda-bedakan harkat dan derajat orang lain.

Mengingat ucapan Papa, tentang permintaannta untuk berkenalan dengan calon suamiku. Membuat aku ingin segera, menghubungi Ratna. Semoga saja Ratna telah membuat Mas Bagas siap untuk menemui Papa.

*****

"Ratna, bagaimana? Kamu sudah membuat penampilan Mas Bagas berubah kan?" tanyaku, saat sambungan telpon kami tersambung. Aku sengaja langsung menembak Ratna, dengan pertanyaan ini.

"Sudah, kok, Nis. Aku, kemaren langsung membawa dia, berbelanja pakaian serta perlengkapannya. Aku juga, sudah membawa dia ke salon. Pokoknya, kamu juga pasti pangling, dengan penampilannya yang sekarang." Ratna memberitahuku, kalau tugasnya sudah dilaksanakan.

"Ok, Nis, terima kasih, ya! Kamu, memang teman baikku dan selalu mengerti aku." Aku mengucapkan terima kasih, kepada Ratna.

"Sama-sama, Nis. Ya sudah, aku matiin dulu, ya telponnya. Aku mau berangkat kerja dulu," pamit Ratna.

"Iya, Rat. Kamu, hati-hati di jakan," sahutku.

"Ok, Nisa. Assalamualaikum," ucapnya.

"Waalaikumsalam, sahutku.

Setelah itu, sambungan telpon pun terputus. Karena Ratna, telah mematikannya.

Aku pun beralih, mencari kontak Mas Bagas dan mengirimkan chat, padanya.

[Mas, bisa gak kita ngobrol? Kita vidio call, ya, Mas.] Aku, mengirimkan pesan chat kepada Mas Bagas.

[Iya, Nis silakan. Kebetulan, Mas belum ada kegiatan di kantor.] balasan dari Mas Bagas. Rupanya, ia sudah berada di kantor.

'Anak, yang baik," gumamku.

Aku pun menganti chat dengan vidio call, panggilan pun berdering. Setelah itu di ganti dengan vidio Mas Bagas, yang sedang berada di meja kerjanya.

"Ada apa, Nis? Kamu kangen ya, sama Mas," sapa Mas Bagas, saat vidio tersambung.

"Ih, apaan sih, Mas?"tanyaku. Wajahku langsung menghangat, saat mendengar ucapan dari Mas Bagas.

"Iya, Nis. Kamu kangen 'kan sama Mas? Soalnya, baru juga kemaren ketemu, sudah mau melihat muka, Mas lagi." Mas Bagas malah menggodaku. Ia pun bertanya, padaku. Tentang maksud aku, menghubunginya.

"Bukan begitu, Mas. Aku, cuma mau tanya, sama Mas. Kapan, Mas akan menemui Papa?" tanyaku.

"Emang, kenapa Nis?" Mas Bagas balik bertanya, padaku.

"Asal Mas tahu, setiap saat Papa nanyain, kapan calon mantunya datang. Kalau sampai enggak datang-datang, aku akan dijodohkan olehnya." Aku memberitahu maksudku menelpon Mas Bagas tersebut.

"Oh, masalah itu. Ya sudah, nanti malam, Mas nemuin, Papa kamu, ya? Mas, akan datang kerumahku, sehabis Isya." Mas Bagas, berkata, bahwa ia akan datang kerumahku untuk menemui Papa.

"Ok Mas, aku tunggu." sahutku. Aku begitu sumringah, saat mendengar Mas Bagas akan datang ke rumah untuk menemui Papa.

"Ya sudah, ya Nis, Mas kerja dulu. Mau mengumpulkan rupiah, buat segera nikahin kamu." Mas andre, mengakhiri pembicaraan kami, dia juga sempat menggodaku, dengan kata-kata satuannya. Membuat hatiku meleleh, dibuatnya.

"Iya Mas, silakan. Hati-hati kerjanya, ya. Mas, jangan sampai lupa makan," pesanku.

"Iya, Nis, terima kasih. Assalamualaikum," ucapnya.

"Waalaikumsalam," sahutku.

Setelah itu, Mas Bagas mematikan sambungan vidio call, dengsnku. Aku merasa tenang, saat Mas Bagas bilang mau menemui Papa, nanti Malam.

Aku pun segera menelpon Papa untuk mengabarinya, kalau nanti malam Mas Bagas akan datang kerumah.

*****

Setelah salat Isya, aku pun bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Mas Bagas. Aku memoles wajahku, dengan riasan tipis. Aku tetap berpenampilan seperti biasanya, yaitu memakai kacamata tebal seperti orang culun. Setelah itu, aku pergi ke teras untuk menunggu Mas Bagas datang.

Tidak berapa lama menunggu, orang yang ditunggu pun datang. Aku terpana, saat melihat penampilan Mas Bagas sekarang. Tetapi aku, segera sadar dan mengajaknya masuk, ke dalam rumah untuk menemui Papa.

"Mas, Ayo masuk!" Aku mengajak Mas Bagas masuk, saat ia baru saja sampai kerumahku. Aku sengaja menunggunya di teras, supaya tahu kapan Mas Bagas sampai.

"Pah, ini Mas Andre sudah datang!" Aku memberitahu Papa, kalau orang yang ditunggunya sudah sampai.

"Oh, jadi kamu, calon suami anakku? Sudah berapa lama, kalian berhubungan?" tanya Papa.

"Iya Pah, kami berhubungan sudah satu bulan yang lalu," sambarku. Aku sengaja duluan menjawab, supaya Jawaban Mas Bagas bisa akurat.

"Lho, kok kamu yang jawab, Nisa. Papa kan nanya sama, dia. Siapa tadi namanya, Papa lupa?" Papa protes kenapa aku yang menjawabnya.

"Namanya Bagas, Pah," sahutku.

"Oh iya, Nak Bagas, kamu kerja di mana?"

"Mas Bagas, kerja di perusahaan Papa. Kan tadi, Anisa sudah bilang sama Papa.

"Nisa, Papa nanya sama Bagas, bukan sama kamu! Kenapa kamu terus yang jawab? Apa Bagas tidak dapat bicara?" Papa sewot karena aku yang selalu menjawab pertanyaan yang di berikan Papa untuk Mas Bagas.

"Maaf Pah, Nisa salah." ucapku. Aku meminta maaf kepada Papa, atas kesalahan yang aku lakukan.

"Iya, Nisa. Tapi maaf, Papa ...," ucap Papa menggantung.

Bersambung ...

Wah, wah, wah, apa nih yang mau di sampaikan Pak Syamsul?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel