Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Berani Lawan Aku

Bagi orang tua keluarga Gu, hanya ada satu anak yang layak mereka banggakan: Gu Siyue.

Dialah yang dianggap mampu membawa kehormatan dan masa depan bagi keluarga. Sementara Gu Qingxian, sejak lama, ibarat bayang-bayang yang diasingkan, tidak diakui, dipinggirkan, dan dilupakan.

Qingxian menarik napas panjang, mencoba melepaskan diri dari kenangan yang baru saja menyergapnya. Matanya jernih namun dingin, tenang seperti kolam yang beku. Ia tahu betul, ingatan yang baru saja menerpa itu bukan sekadar masa lalu tubuh yang dipinjamnya melainkan serpihan jiwanya sendiri yang pernah terpisah dan menghuni tubuh lain. Oleh sebab itu, rasa sakit dan kepedihan yang muncul terasa sangat nyata, seolah-olah dialaminya sendiri.

Dua tahun lalu, sebagian jiwa dan rohnya lenyap terjerembap ke celah dimensi dan terseret ke benua lain. Pada waktu yang sama, keluarga Gu mengutus rombongan ke Gunung Cangwu untuk menjemput putri kedua mereka. Namun di kaki gunung, rombongan itu diserang binatang roh, dan putri kedua itu tewas. Tanpa sengaja, bagian jiwa Qingxian memanfaatkan kekacauan itu untuk memasuki tubuh si putri yang sudah mati.

Ketika memasuki tubuh itu, bagian jiwanya hanya mengingat namanya sendiri. Ia tidak memiliki kenangan lain, sehingga secara perlahan menyerap ingatan asli tubuh baru itu. Terpengaruh oleh ingatan yang diterimanya, ia pun percaya bahwa dirinya memang putri kedua keluarga Gu. Sejak saat itu, ia hidup sebagai bagian keluarga, memberikan segalanya demi nama Keluarga Gu.

Namun sesungguhnya, Qingxian yang terlahir kembali ke benua ini awalnya datang untuk mencari serpihan jiwanya yang hilang. Kini, setelah fragmen jiwanya kembali bersatu, luka-luka lama pun terekam kembali, mengingatkannya pada penyiksaan dan kematian yang pernah dialami sebelum reinkarnasi. Rasa itu membakar, mengubah ketenangannya menjadi bara dendam.

Suara Qingxian lirih namun menusuk, seperti es yang retak. “Xiao Ba, aku ingin membunuh seseorang.”

Di udara, seorang anak laki-laki kecil memegang buku catatan hitam, buku yang mencatat riwayat putri kedua keluarga Gu. Ia sedang asyik membaca, lalu mendengar panggilan Qingxian. Dengan sok berwibawa ia menoleh, “Siapa Xiao Ba? Aku ini Tuan Bà Bà, mengerti?”

Setelah jeda, dia tersadar apa yang dikatakan Qingxian, dan langsung melonjak panik. “Tidak, kau jangan! Kau lupa peringatan Tuan Wuling? Kalau kau terus membunuh, tubuhmu akan dipenuhi energi hitam dan kau akan berubah jadi boneka pembunuh!”

Yang muncul hanyalah tawa dingin dari Qingxian. “Kalau tidak kubunuh, biarkan mereka hidup menderita lebih lama daripada mati,” jawabnya datar.

Xiao Ba terdiam.

Gadis kecil ini benar-benar keras kepala! Tapi ia juga tak bisa mengabaikan fakta.

Akibat kesalahannya dulu, sepotong jiwa Qingxian terperangkap di dimensi lain dan menderita. Rasa bersalah itu menguntitnya, membuatnya tak tega menentang Qingxian sepenuhnya.

“Ya sudah,” kata Xiao Ba akhirnya, suaranya bergetar. “Asal kau tidak balas dendam padaku setelah semuanya selesai. Lagipula, bukan sepenuhnya salahku.”

Qingxian hanya menatap, tak menjawab. Tubuh yang kini memuat dirinya perlahan-lahan mengembalikan kesadaran. Ia duduk bersila, mulai bermeditasi.

Karena kehilangan satu bagian jiwa, kultivasi Qingxian sempat terhenti di Tingkat Sepuluh Puncak Alam Tian Ling. Waktu ia datang ke benua ini, ia terpaksa menyegel sebagian kekuatannya untuk menyesuaikan diri.

Kini, ia tak tahu seberapa banyak kultivasi yang bisa pulih kembali. Namun perlahan, energi spiritual hitam-putih berputar di sekeliling tubuhnya. Salju turun lembut, lalu menyatu dengan permukaan saat menyentuh aura yang memancar darinya.

Satu bulan berlalu di gunung itu.

Ketika Qingxian membuka mata, tumpukan salju telah mencapai lehernya. Ia melompat keluar dari lubang salju dengan gerakan ringan.

Xiao Ba muncul dalam balutan mantel bulu rubah tebal, sangat terkejut. “Kekuatanmu sudah kembali ke Tingkat Satu Alam Tian Ling?!”

Qingxian menatap tenang. “Ada masalah?”

“Masalah besar!” suara Xiao Ba semakin panik. “Kau tahu batas kultivasi tertinggi di Benua Kuno ini, kan?”

Qingxian mengingat-ingat, sebagai pewaris ingatan tubuh yang ia tempati, informasi itu melekat di benaknya. “Tingkat Sepuluh Alam Tian Ling,” jawabnya, masih tenang.

Di Benua Kuno atau Daratan Guyi, tingkatan kultivasi dibagi dalam empat alam utama: Alam Huan Ling, Alam Xuan Ling, Alam Di Ling, dan Alam Tian Ling. Masing-masing alam terdiri atas sepuluh tingkat.

Dengan kata lain, Qingxian sekarang sudah termasuk dalam jajaran para ahli terkuat di Benua Kuno.

Xiao Ba merasa seperti langit akan runtuh.

Awalnya, Xiao Ba berpikir Qingxian yang telah menyegel sebagian kekuatannya tidak akan mampu bertindak sesuka hati di dunia bawah seperti Benua Kuno, apalagi melakukan pembantaian besar-besaran. Siapa sangka, hanya dalam waktu satu bulan, dia sudah memulihkan kekuatannya hingga Tingkat Satu Alam Tian Ling.

Bagi benua itu, kehadiran seorang yang kekuatannya mendekati puncak tentu berbahaya.

Dengan nada khawatir, Xiao Ba berulang-ulang menasihati, “Ingat, sebagai manusia, kau harus berbuat baik... jangan lupa peringatan Tuan Wuling...”

Nama Wuling menggerakkan sesuatu dalam diri Qingxian, wajahnya mendadak gelap.

“Jangan pakai nama Wuling untuk mengikatku,” potong Qingxian, suaranya dingin. “Pergi, saatnya membalas dendam.”

Hanya beberapa lompatan kemudian, sosoknya lenyap di balik cakrawala.

Xiao Ba terpatah-patah mengejar, “Tunggu aku, Bos Kecil!”

Namun bukan hanya Xiao Ba yang memperhatikan. Tak jauh dari situ, di sebuah gua gelap, sepasang mata merah darah terbuka. Matanya menatap arah keberangkatan Qingxian dengan kilatan ingin membunuh. Sebuah bayangan hitam melesat mengikuti jejaknya.

Qingxian bergerak cepat. Dalam waktu singkat, ia sudah berdiri di gerbang Kota Hualuo.

Para penjaga yang melihatnya mendekat sontak marah. “Hei, pengemis busuk! Dari mana kau datang? Pergi! Ini bukan tempat untukmu mengemis!”

Qingxian menatap mereka dengan tenang. Sekilas aura yang memancar membuat para penjaga merasakan hawa dingin menyusup hingga tengkuk, seakan tangan tak terlihat mencekik leher mereka. Napas mereka sesak. Namun Qingxian hanya melangkah masuk seperti menembus udara kosong.

Beberapa saat kemudian, ketika ia sudah jauh, para penjaga merasakan tekanan itu lepas. Mereka berjingkat, wajah pucat, keringat dingin membasahi dahi. Rasa gentar memenuhi mata mereka ketika memandang punggung Qingxian yang menjauh.

“Sungguh kuat...” salah seorang berbisik, suaranya hampir tak terdengar.

Tidak heran jika para penjaga gerbang kota Hualuo salah mengira dirinya sebagai pengemis.

Pakaian hijaunya robek, noda darah yang mengering menyelimuti kain, rambutnya acak-acakan. Meski demikian, tak butuh waktu lama bagi orang-orang untuk mengenalinya.

“Itu... Nona Kedua dari keluarga Gu, Gu Qingxian? Kenapa dia jadi begini?”

“Apa? Dia masih berani kembali?”

“Baru sebulan pergi, sudah jadi setengah hantu... Memalukan!”

Berita tentang kembalinya Qingxian menyebar cepat.

Dalam sekejap, orang-orang berkumpul, menunjuk, menertawakan, bahkan menghardik. Anak-anak melemparkan ejekan, sementara orang dewasa menampilkan wajah jijik. Satu per satu mereka mengungkit rumor lama, tentang kultivasinya yang stagnan, tentang kabar yang disebarkan oleh pihak-pihak tertentu.

Setahun lalu, karena kultivasinya terhenti di Tingkat Empat Alam Huan Ling dan tidak ada perkembangan baru, dia menjadi bahan hinaan. Saat itulah, banyak orang di Kota Hualuo mulai menyebarkan rumor buruk tentangnya, mencemarkan namanya hingga reputasinya hancur total.

Belakangan, Qingxian tahu betul bahwa biang kerok di balik semua fitnah itu adalah Gu Siyue. Gadis yang dipuja sebagai bakat nomor satu Kota Hualuo, yang dengan kecerdikan dan sumber daya, menyuap orang demi menjelekkan nama Qingxian.

Bulan lalu, Gu Siyue menuduh Qingxian menghancurkan Tulang Suci miliknya, tuduhan yang membuat kebencian warga makin menggelora hingga berharap Qingxian binasa.

Semua itu karena Gu Siyue, sebagai bakat nomor satu di Kota Hualuo, membawa harapan besar bagi kota itu. Jika dia mencapai prestasi luar biasa di masa depan, Kota Hualuo yang membesarkannya bisa naik dari kota bintang dua menjadi bintang tiga, bahkan bintang empat.

Jadi, mereka menganggap Qingxian sebagai penghalang yang harus diusir. Tatapan penuh permusuhan menghujani Qingxian ketika ia melangkah melewati kerumunan, rasa muak menyelimuti hatinya.

Di tengah kerumunan, seorang pria yang paling kencang meneriakkan kecaman menantangnya. Ia adalah salah satu pembela fanatik Gu Siyue.

Pria itu menghardik, suaranya penuh kemenangan sinis, “Berani menatap? Kalau berani, pukul aku! Berani sakiti Nona Gu Siyue berarti berhadapan dengan aku, Liu Ma Wu!”

Sudut bibir Qingxian bergerak, bukan tawa melainkan senyum tipis yang dingin. Ketika pria itu selesai melontarkan ancaman, Qingxian menjawab dengan nada polos namun mengandung ancaman tersirat, “Baiklah. Kalau begitu aku akan menuruti permintaanmu.”

*Catatan Penulis untuk tingkatan Kultivasi di Benua Kuno atau Daratan Guyi, dari yang terendah Hingga yang tertinggi.

Alam Huang Ling (Tingkat Rendah)

Alam Xuan Ling (Tingkat menengah)

Alam Di Ling ( Tingkat Bumi)

Alam Tian Ling ( Tingkat Langit)

Setiap Alam utama di bagi sepuluh tingkat kecil.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel