Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Tulang Roh Yang Dicabut

Kekaisaran Shengling, Kota Hualuo.

“Tidak, Ayah! Kumohon… jangan lakukan ini—ahhh!!”

Jeritan memilukan seorang gadis muda menggema di aula leluhur keluarga Gu. Suaranya bergetar, penuh rasa sakit dan ketakutan, namun hanya bergema kembali di dinding batu yang dingin.

Gu Qingxian, putri kedua keluarga Gu, ditekan ke tanah dengan kasar oleh dua pria bertubuh kekar. Tangan mereka mencengkeram bahunya hingga tak bisa bergerak, sementara tubuhnya yang lemah berusaha meronta sia-sia.

Salah satu pria itu mengeluarkan belati pendek, lalu tanpa ragu menggoreskan bilah tajam itu di punggungnya. Daging dan kulit robek terbuka, darah segar menyembur, membasahi lantai batu. Rasa sakitnya begitu hebat hingga tubuh Qingxian kejang-kejang, giginya bergemeletuk menahan jeritan yang tak tertahankan. Namun tak ada yang berusaha menghentikan kejadian itu.

Ayahnya, ibu tirinya, adik perempuannya, bahkan tunangan yang dulu bersumpah akan melindunginya, hanya berdiri menyaksikan. Tatapan mereka dingin, tanpa belas kasihan sedikit pun.

Belati itu menoreh lebih dalam, hingga tulang punggungnya terlihat jelas. Pria itu lantas melempar belati, lalu memasukkan tangannya ke dalam luka yang menganga. Dengan kasar ia meraba-raba, mencari sesuatu. Qingxian berteriak hingga suaranya serak, tubuhnya bergetar hebat, kesadarannya nyaris hilang.

Akhirnya, dengan tarikan kuat, sesuatu berkilauan ditarik keluar dari tubuhnya. Potongan tulang bercahaya merah terang. Tulang Roh Kaisar, simbol bakat dan masa depan seorang kultivator tercabut dari tubuhnya. Sekejap, kesadaran Qingxian benar-benar padam.

Aula leluhur keluarga Gu hening sesaat. Namun begitu cahaya merah dari tulang roh itu terlihat jelas, keheningan berganti dengan desahan kagum dan tatapan penuh keserakahan.

Kepala keluarga Gu, pria paruh baya dengan janggut tipis dan mata tajam, menerima tulang itu dengan tangan bergetar, wajahnya dipenuhi rasa puas.

Di sampingnya, seorang gadis berwajah pucat bersandar di pelukan seorang pemuda tampan. Dialah Gu Siyue, putri bungsu keluarga Gu, sekaligus adik kandung Qingxian.

Dengan penuh kasih, sang kepala keluarga menatapnya. “Yue’er, dengan tulang roh ini, kau bisa kembali berlatih. Bahkan, kau akan jauh lebih hebat dari sebelumnya. Jangan kecewakan harapan Ayah.”

Gu Siyue tersenyum cerah, meski wajahnya terlihat lemah. “Yue’er pasti akan berlatih keras, Ayah, Yue’er tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan ini.”

Tawa puas pun keluar dari bibir sang kepala keluarga. “Ayah tahu, kau adalah anak yang berbakti.”

Di sisi lain, Fang Yanyun, pemuda tampan yang kini memeluk Gu Siyue menatap Qingxian yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Tatapannya penuh kebencian, seolah wanita itu hanya kotoran tak berguna.

“Kepala keluarga Gu,” tanyanya dingin, “apa yang akan Anda lakukan dengan wanita jahat itu?”

Kepala keluarga Gu tersenyum puas mendengar pertanyaan itu. Ia lega, Fang Yanyun yang dulunya tunangan Gu Qingxian kini jelas telah berpihak pada Gu Siyue. Dengan suara tegas ia berkata, “Gu Qingxian tega mencelakai adiknya sendiri. Hatinya sudah busuk. Mulai hari ini, ia dicabut nama keluarganya dan diusir. Ia bukan lagi bagian dari keluarga Gu!”

Gu Siyue menundukkan kepala, seolah sedih, tapi di balik senyum tipisnya tersimpan rasa puas yang sulit disembunyikan.

Tak lama kemudian, tubuh Qingxian yang pingsan diseret ke luar rumah leluhur. Ia dilempar ke sebuah kereta kuda tua, dibawa pergi, lalu ditinggalkan begitu saja di depan gerbang kota.

Berita itu menyebar dengan cepat di Kota Hualuo. Orang-orang berbondong datang, memandang tubuh lemah yang tergeletak di tanah bersalju.

“Perempuan jahat! Dialah yang membuat Nona Siyue kehilangan tulang sucinya!”

“Benar! Tega sekali dia mencelakai adik kandungnya!”

“Dia harus menerima kutukan langit! Jangan biarkan dia kembali ke kota ini!”

Telur busuk dan sayuran layu dilemparkan ke tubuh Qingxian. Hinaan, caci maki, serta amarah warga menghujani dirinya. Namun gadis itu tak bergerak. Ia bahkan tidak sadar untuk membela diri.

Saat malam tiba, dingin salju menusuk hingga ke tulang. Qingxian akhirnya tersadar, tubuhnya menggigil parah. Luka di punggungnya masih terasa perih, sementara darah yang membeku menempel di salju kotor. Dengan susah payah ia mencoba bangkit, tapi sebelum berhasil, suara langkah ringan terdengar.

Seseorang berdiri di hadapannya. Seorang gadis cantik dengan pakaian mewah, Gu Siyue.

Tatapan Gu Qingxian langsung dipenuhi kebencian, namun tubuhnya terlalu lemah untuk melawan. Ia hanya bisa memandang dengan mata merah berair.

Gu Siyue tersenyum dingin. “Kakak, kau sudah sadar rupanya. Dulu kau pernah bilang padaku, rumput liar harus dicabut sampai ke akarnya. Adik rasa kau benar sekali. Jadi… bagaimana kalau kau mati saja?”

Suara serak keluar dari bibir Qingxian. “Binatang… meski aku jadi arwah gentayangan, aku tidak akan melepaskanmu!”

Gu Siyue tertawa kecil. “Kalau begitu, aku akan menunggumu menagih nyawaku.”

Ia lalu memberi perintah dingin pada pelayannya. “Potong keempat anggota tubuhnya. Buang untuk dimakan anjing.”

“Baik, Nona!”

Teriakan Qingxian menggema di tengah malam. Pedang-pedang tajam menebas, memutus tangan dan kakinya, darah mengalir deras, membasahi salju hingga berubah merah pekat. Tubuhnya digeret, dagingnya dikoyak, hingga akhirnya anjing-anjing liar datang dan melahap tubuhnya.

Di wajahnya yang sudah berubah bentuk karena rasa sakit, tatapannya perlahan memudar. Dalam detik-detik terakhir, setetes darah bercampur air mata mengalir di sudut matanya, air mata penuh kebencian dan keputusasaan.

Kehidupan Gu Qingxian berakhir dengan cara yang paling kejam.

Namun, ketika Gu Siyue dan rombongannya pergi meninggalkan hutan, langit malam yang kelam tiba-tiba diterangi cahaya keemasan. Cahaya suci itu jatuh ke tubuh Qingxian yang hancur.

Dalam sinar itu, tulang-tulang putih yang tersisa mulai tumbuh kembali. Daging yang tercabik menyatu, luka menutup, bahkan anggota tubuh yang terputus kembali seperti sedia kala. 

Tulang Dewa menggantikan tulang rohnya yang telah dicuri, memancarkan aura ilahi yang membuat anjing-anjing liar di sekitar ketakutan. Satu per satu hewan itu berubah menjadi abu, lenyap diterpa cahaya emas.

Perlahan, mata Gu Qingxian terbuka. Tubuhnya masih bergetar karena rasa sakit, tapi ia bisa merasakan dirinya utuh kembali.

Lalu suara ceria seorang anak terdengar di udara. “Jangan banyak bergerak. Kau tadi dipotong-potong dan dimakan anjing. Aku sedang menyatukan tubuhmu lagi. Kalau kau bergerak sembarangan, nanti kakimu bisa terpasang di bahu.”

Qingxian menghela napas berat, lalu menjawab dengan suara serak, “Kalau kau salah pasang, akan kupelintir kepalamu sampai lepas.”

Tak lama, seorang anak laki-laki muncul di bawah cahaya bulan. Ia berambut hitam agak ikal, wajahnya halus seperti boneka porselen. Namun matanya aneh, bagian putihnya hitam, irisnya merah menyala, menimbulkan kesan misterius. Anak itu duduk melayang di udara dengan kaki bersila, tangan terlipat di dada, menatap Qingxian dengan ekspresi sebal.

Qingxian memejamkan mata, mencoba mengingat kembali semuanya.

Tubuh ini bernama Gu Qingxian, putri kedua keluarga Gu di Kota Hualuo. Sejak kecil ia lemah dan sering sakit, sehingga dibesarkan jauh di pegunungan. Baru dua tahun lalu ia dipanggil pulang, hanya untuk dijadikan pengganti adiknya, Gu Siyue, menikahi seorang pria yang sekarat.

Ia percaya pada kebohongan orang tuanya bahwa pria itu adalah tunangannya sejak kecil. Dengan ilmu medis yang dikuasainya, ia menyelamatkan pria itu dari kematian. Setelah sadar, pria itu berterima kasih dan berjanji akan menikahinya ketika waktunya tiba. Namun, segalanya berubah saat ia menjalani tes tulang roh. Ternyata ia memiliki Tulang Roh Kaisar, tingkat tertinggi kedua setelah Tulang Roh Dewa. Keberadaannya langsung mengancam posisi Gu Siyue, yang sebelumnya dijuluki jenius nomor satu Kota Hualuo.

Kecemburuan pun lahir. Gu Siyue pura-pura menyayanginya, namun diam-diam meracuninya dengan racun lambat yang menghentikan jalur energi spiritualnya. Perlahan, bakat Qingxian tampak melemah. Orang-orang mulai meremehkan, mencemooh, bahkan membencinya. Tunangan yang dulu bersumpah setia pun berbalik, jatuh cinta pada Gu Siyue.

Dan ketika Gu Siyue menghancurkan tulang rohnya sendiri, ia menuduh Qingxian sebagai pelaku. Fitnah itu menjeratnya. Padahal, Qingxian baru saja mendapat kehormatan besar, ia terpilih sebagai murid keluarga utama Gu di ibu kota kekaisaran.

Namun, demi ambisi dan rasa serakah, ayahnya sendiri memutuskan: Tulang Roh Kaisar Qingxian harus dicabut, dan diberikan kepada Gu Siyue.

Kebencian membara di dada Qingxian. Ia tahu kini, tidak ada yang bisa ia percayai lagi. Keluarga, tunangan, bahkan masyarakat seluruh kota telah mengkhianatinya. Namun, di balik kehancuran itu, cahaya emas yang menyatukan tubuhnya barusan adalah pertanda. Hidupnya belum berakhir. Dengan Tulang Dewa yang kini dimilikinya, ia akan bangkit.

Dan suatu hari nanti, ia pasti akan menagih semua pengkhianatan ini dengan darah.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel