Bagaimana Kamu Bisa Memukul Ayahmu
Dalam sekejap, sosok Qing Xian melesat bagaikan bayangan. Angin berdesing, lalu bruk!
Tendangannya menghantam keras lutut pria di depannya.
Jeritan pilu pecah, disusul suara krek! yang tajam menggema di udara. Suara patahnya tulang itu mengguncang seluruh jalanan, membuat semua orang yang menonton terdiam, kaku di tempat.
Kerumunan yang semula riuh langsung membisu. Tatapan mereka terpaku pada sosok ramping Qing Xian yang berdiri tegak di bawah sinar matahari sore.
“Bagaimana mungkin…?” seseorang berbisik ngeri.
Liu Mawu, pria bertubuh besar yang kini meringkuk kesakitan di tanah bukanlah orang sembarangan. Dia adalah seorang kultivator Alam Xuan Ling, terkenal karena kekuatan dan pertahanan tubuhnya yang kokoh. Namun sekarang, ia berlutut dengan lutut remuk di hadapan gadis yang baru mencapai Alam Huan Ling.
Mustahil. Ini… benar-benar mustahil.
Tatapan heran dan takut bercampur jadi satu. Hanya jeritan kesakitan Liu Mawu yang menggema di jalan panjang itu, mengisi keheningan yang mencekam.
Qing Xian menatapnya tanpa ekspresi. Dengan gerakan dingin, ia mengangkat kaki dan menginjak wajah pria itu hingga pipinya menempel di tanah.
“Diam,” ucapnya pelan, tapi penuh kekuatan.
Aura tekanannya membuat semua yang hadir bergidik. Liu Mawu pun menelan kembali teriakannya, tubuhnya gemetar hebat. Rasa sakit yang membakar seluruh tubuh membuat wajahnya yang penuh lemak kini pucat pasi seperti kain.
Qing Xian menurunkan kakinya, lalu memandang kerumunan di sekitarnya dengan tatapan tajam dan dingin seperti pisau. “Pergi,” katanya datar.
Seketika, orang-orang di sekelilingnya mundur panik. Tidak ada satu pun yang berani menatap matanya. Jalan terbuka lebar di hadapannya.
Tanpa menoleh sedikit pun, Qing Xian melangkah pergi dengan langkah mantap menuju kediaman keluarga Gu.
Begitu sosoknya lenyap di ujung jalan, barulah semua orang berani menghela napas lega.
“Tekanannya tadi… menakutkan sekali,” gumam seseorang dengan suara bergetar.
“Aku bahkan merasa napasku tertahan.”
“Benar. Rasanya seperti… kalau aku tidak menuruti ucapannya, aku akan dibunuh di tempat.”
“Qing Xian yang dulu tidak seperti itu. Dulu dia lemah, pendiam, bahkan tak berani melawan saat dihina…”
Suara mereka makin lama makin sayup, lalu menghilang. Sementara itu, langkah Qing Xian terus berlanjut, mantap dan dingin, menuju tempat yang dulu disebutnya rumah.
Tak lama kemudian, ia tiba di depan gerbang besar kediaman keluarga Gu. Hari ini, keluarga Gu tengah menggelar pesta besar.
Hari ulang tahun Nyonya Kepala Keluarga, Qin Huilan, dirayakan dengan kemegahan luar biasa. Tamu-tamu penting dari seluruh Kota Hua Luo memenuhi halaman. Lampu lentera berkilau, musik lembut terdengar dari para penabuh, dan aroma masakan mahal memenuhi udara.
Selain karena keluarga Gu merupakan cabang dari keluarga besar Gu di ibukota Kekaisaran Shengling, ada satu alasan lain mengapa pesta itu begitu ramai: Gu Siyue.
Putri pertama keluarga Gu, Gu Siyue, telah diakui oleh keluarga utama sebagai keturunan sah. Ia kini tengah berlatih di ibu kota, mempersiapkan diri untuk ujian masuk Akademi Spritual. Nama Gu Siyue kini melambung tinggi, membuat cabang keluarga Gu di Kota Hua Luo ikut menikmati kehormatan besar. Banyak orang datang ke pesta ini bukan hanya untuk memberi selamat, tapi untuk menjilat demi keuntungan pribadi.
Namun, saat Qing Xian hendak melangkah melewati gerbang, dua pelayan menghadangnya. Mereka memandangnya dari atas ke bawah, melihat rambut acak-acakan, pakaian kotor, wajah penuh debu, mereka sama sekali tak mengenali bahwa gadis di hadapan mereka adalah putri kedua keluarga Gu yang dulu.
“Dari mana datangnya pengemis ini?” bentak salah satu pelayan. “Cepat pergi! Tempat ini bukan untuk orang sepertimu!”
Pelayan lain menambahkan dengan nada jijik, “Buka matamu lebar-lebar. Ini kediaman keluarga Gu, bukan tempat sampah!”
Qing Xian menatap mereka tajam, tatapan yang cukup membuat darah membeku. Tanpa sepatah kata pun, dia tetap melangkah maju.
Melihatnya tidak berhenti, para pelayan refleks menyerang, namun belum sempat menyentuhnya, tubuh mereka terpental keras seolah ditampar badai tak kasat mata. Mereka menghantam dinding, darah mengucur dari bibir. Keduanya menatap ngeri, wajah pucat, tubuh gemetar hebat. Aura hitam samar yang mengelilingi Qing Xian membuat udara di sekitar seolah menegang.
Dengan langkah dingin, Qing Xian masuk melewati pintu besar menuju halaman utama.
Dari dalam, terdengar jelas suara merdu namun penuh kesombongan dari Qin Huilan yang sedang berbicara di depan para tamu.
“Seperti yang kalian tahu,” katanya tersenyum, “bulan ini Yue’er telah resmi menjadi anggota keluarga utama di ibu kota. Sekarang dia menjalani pelatihan untuk ujian masuk Akademi Spiritual. Walau tidak bisa hadir hari ini, dia telah mengirimkan hadiah ulang tahun untukku. Benar-benar anak yang berbakti.”
Para tamu mengangguk-angguk, memuji dengan suara manis.
“Sedangkan anakku yang satu lagi, Qiming,” lanjutnya penuh kebanggaan, “baru saja menyelesaikan latihannya. Dalam beberapa hari dia akan berangkat ke Changsheng Tian untuk mengikuti ujian masuk Akademi Shenglong. Dia bahkan berjanji akan lulus dan menjadikan itu hadiah ulang tahun untukku.”
Tawa lembut terdengar dari para tamu perempuan, pujian bertubi-tubi keluar dari mulut mereka.
Namun Qin Huilan belum selesai. Senyumnya menurun, nadanya berubah sinis. “Dan tentang Qing Xian…” katanya tajam, “jangan sebut nama orang sial itu! Dia sudah bukan bagian dari keluarga Gu lagi. Aku tidak ingin mendengar namanya di hari bahagia ini!”
Keheningan sesaat. Lalu—
“Oh? Ibu, apa yang Ibu katakan barusan?” suara tenang tapi tajam menggema dari arah pintu. “Bagaimanapun juga, aku tetap anakmu. Masa aku tidak boleh datang merayakan ulang tahun ibuku sendiri?”
Semua kepala menoleh serentak.
Di ambang pintu berdiri Qing Xian. Tubuhnya kotor, pakaiannya lusuh, tapi sorot matanya tajam seperti pedang yang baru diasah.
Keramaian pesta langsung berubah jadi keheningan menegangkan. Para tamu saling berpandangan, beberapa menutup mulut menahan keterkejutan, lainnya tersenyum miring penuh rasa ingin tahu.
Dia kembali.
Putri yang dibuang itu… berani datang ke pesta keluarga Gu.
Kepala Keluarga Gu, Gu Zhenye, yang tadinya tampak begitu ramah di hadapan para tamu, kini berubah suram. Wajahnya menegang, matanya menyala oleh amarah.
“Anak tidak tahu malu!” teriaknya. “Kau berani datang ke sini lagi?!”
Dia melangkah cepat ke arah Qing Xian, tangannya terangkat tinggi, siap menampar keras wajah gadis itu.
Namun...Crak!
Sebelum tangannya menyentuh kulit Qing Xian, gerakan cepat menghentikannya. Qing Xian menangkap lengannya di udara, lalu mengepalkannya dengan kekuatan mengejutkan.
Suara patah tulang terdengar nyaring.
Jeritan Gu Zhenye menggema di halaman yang kini membeku.
Semua mata membulat tak percaya. Kepala keluarga Gu, tokoh terkuat di Kota Hua Luo menjerit kesakitan di depan semua orang!
Gu Zhenye terhuyung ke belakang, wajahnya memucat, keringat dingin membasahi pelipis. Ia menatap Qing Xian dengan pandangan tak percaya.
Kapan… gadis ini jadi sekuat ini?!
Qin Huilan sontak berteriak histeris. “Dasar anak durhaka! Bagaimana bisa kau memukul ayahmu seperti itu?! Cepat tangkap dia!”
Sekelompok anggota keluarga Gu muncul dari berbagai arah, membawa senjata roh dan mengelilingi Qing Xian dengan posisi menyerang.
Para tamu segera mundur ke sisi halaman, tetapi tidak satu pun yang beranjak pergi. Mereka ingin menyaksikan pertunjukan yang mungkin akan jadi kisah paling menggemparkan di Kota Hua Luo.
Qing Xian tetap tenang. Tatapannya dingin, suaranya rendah namun jelas menusuk.
“Sakit, ya?” katanya menatap ayahnya.
“Sayangnya, rasa sakit itu belum sebanding dengan rasa sakit ketika tulangku sendiri digali oleh tangan kalian.”
Kata-kata itu membuat darah semua orang serasa berhenti mengalir.
Belum sempat siapa pun bereaksi, para anggota keluarga Gu serempak menyerang. Senjata roh berkilau, udara bergetar oleh kekuatan spiritual yang kuat.
Namun pada detik berikutnya, aura hitam pekat meledak dari tubuh Qing Xian. Api hitam menari liar, menyelimuti seluruh halaman.
Suara desisan dan teriakan tertelan dalam kobaran api itu. Dalam sekejap, para penyerang berubah menjadi abu tanpa sempat mengeluarkan jeritan terakhir.
Semua berlangsung begitu cepat. Hening. Tak ada satu pun yang bergerak.
Bau hangus memenuhi udara.
Para tamu gemetar, wajah mereka pucat pasi. Mereka menatap Qing Xian seolah menatap makhluk dari neraka.
Gu Zhenye menatap dengan mata terbelalak, napas tersengal. Suaranya akhirnya pecah, serak oleh ketakutan dan kemarahan.
“Anak durhaka! Kau berani menggunakan kekuatan roh gelap! Kau..kau sudah menempuh jalan sesat!”
Ia berusaha berdiri tegak, tapi tubuhnya gemetar. Lalu, dengan cepat ia berteriak lantang di hadapan semua tamu.
“Mulai hari ini, aku mencabut nama Keluarga Gu darinya! Qing Xian bukan lagi bagian dari keluarga Gu! Semua perbuatannya tidak ada hubungan dengan kami! Jika dia memilih kegelapan, biarkan dia binasa sendirian!”
Suara itu menggema, penuh kepanikan terselubung di balik kemarahan.
Di tengah tatapan ketakutan semua orang, Qing Xian hanya tersenyum dingin. Bibirnya melengkung pelan, matanya berkilat suram.
“Begitu cepat melepaskan, Ayah?” katanya perlahan.
“Tenang saja… aku tak lagi butuh nama keluarga Gu.”
Angin dingin berhembus melewati halaman, meniup lentera yang bergetar pelan. Di bawah cahaya yang redup, sosok Qing Xian berdiri tegak sendirian, tapi begitu kuat.
Semua orang menatapnya dengan campuran ngeri dan kagum. Mereka tahu, sejak hari itu, gadis yang pernah dibuang itu, bukan lagi Qing Xian yang sama.
Ia adalah badai yang akan menelan nama keluarga Gu hingga ke akar-akarnya.