Menghancurkan Tulang Roh Orang Tua Keluarga Gu
Suasana yang tadinya hening berubah menjadi kekacauan. Para tamu yang sebelumnya menyaksikan dengan penuh rasa ingin tahu kini menjerit ketakutan, berhamburan keluar dari kediaman keluarga Gu seperti sekawanan burung yang dikejutkan oleh petir.
“Cepat! Cepat lari! Gu Qingxian adalah seorang Rohwan Kegelapan!”
“Laporkan ke Wali Kota! Jangan biarkan bencana seperti dia tetap hidup di Kota Hualuo!”
“Perkara ini harus segera dilaporkan ke Kekaisaran Roh Suci! Biarkan Kaisar mengirim Kesatria Suci untuk membunuhnya di tempat!”
Teriakan mereka menggema di halaman yang luas. Namun Qingxian hanya berdiri diam, memandangi kerumunan yang berlari ketakutan seperti semut yang kehilangan arah. Ia tidak berniat mencegah mereka. Sejak awal, di luar Kota Hualuo ia telah menyiapkan penghalang roh, tidak ada seorang pun yang bisa keluar, dan berita tentang dirinya takkan pernah tersebar.
Meski begitu, reaksi ketakutan mereka tetap membuat alisnya sedikit berkerut. Ia belum memperhitungkan bahwa di dunia ini, kekuatan Kegelapan begitu dibenci.
Suara Xiao Ba, roh pendampingnya, bergema di dalam pikirannya dengan nada cemas. “Kota Hualuo berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Roh Suci, dan kekaisaran itu dilindungi oleh Dewa Cahaya. Di dunia ini, Cahaya dan Kegelapan saling bertentangan tak bisa berdampingan. Jika kamu memperlihatkan kekuatan Kegelapan di wilayah Cahaya, mereka akan menganggapmu sebagai musuh… dan membunuhmu di tempat.”
Qingxian menarik napas dalam. Ia baru menyadari betapa kerasnya perbedaan dunia ini. Di tempat ini, setiap anak yang berhasil membangkitkan tulang roh pada usia lima tahun akan dikenal sebagai Rohwan. Seorang yang mampu mengendalikan energi bumi dan langit, melampaui tubuh fana. Namun tulang roh hanya terbagi dua: Cahaya dan Kegelapan.
Mereka yang menyerap energi Cahaya disebut Roh Cahaya, sedangkan mereka yang memanfaatkan energi Kegelapan disebut Roh Kegelapan. Dan Kota Hualuo, yang berada di bawah naungan Dewa Cahaya, hanyalah tempat bagi mereka yang dianggap “suci”. Setiap warganya adalah Rohwan Cahaya, tidak ada ruang bagi kegelapan.
Namun kini, satu sosok yang berbeda berdiri di tengah mereka: Gu Qingxian.
Ia menatap api hitam yang menari di ujung jarinya, kegelapan murni yang terasa begitu hidup. Lalu, seolah mendengar bisikan roh, ia mengubah niatnya sedikit. Api hitam itu perlahan berubah menjadi putih terang, menyilaukan mata.
Gu Zhenye, ayahnya, terbelalak. Matanya membesar penuh keterkejutan.
“Itu... kekuatan Cahaya… Bagaimana mungkin?!”
Sebuah pikiran gila terlintas di kepalanya, sesuatu yang bahkan ia sendiri tak berani percayai.
“Tubuh Kekacauan… apakah mungkin dia adalah tubuh kekacauan yang bisa memadukan Cahaya dan Kegelapan?!”
Tubuh Kekacauan adalah legenda yang hanya muncul sekali dalam ribuan tahun. Mereka yang memilikinya mampu menyerap kekuatan dari dua elemen berlawanan dan menaklukkan dunia. Namun pikiran itu segera diusirnya jauh-jauh.
“Tidak… tidak mungkin. Hanya Siyue yang akan berdiri di puncak dunia, bukan dia,” gumamnya dalam hati, menolak kenyataan di depan mata.
Kini, halaman besar keluarga Gu telah sunyi. Semua pelayan dan tamu telah melarikan diri. Yang tersisa hanyalah tiga orang: Gu Qingxian, Gu Zhenye, dan Qin Huilan.
Langkah kaki Qingxian terdengar lembut, namun setiap langkahnya terasa berat di dada kedua orang tuanya. Aura di sekitarnya begitu menekan, membuat udara seolah membeku. Gu Zhenye dan Qin Huilan ingin mundur, ingin melarikan diri, tapi tubuh mereka gemetar dan tak bisa digerakkan. Ketakutan mencekik napas.
Gu Zhenye mencoba menenangkan diri. Ia menatap Qingxian dengan senyum kaku, berusaha memainkan peran ayah yang menyesal. “Qing’er… aku ayahmu. Aku tahu, dulu aku banyak berbuat salah. Tapi semua yang kulakukan… demi keluarga kita. Mengusirmu pergi bukan karena aku membencimu, tapi agar kau bisa tumbuh kuat. Sekarang kau sudah hebat, tentu kau bisa memahami maksud baik ayahmu, bukan?”
Qin Huilan segera ikut menimpali dengan suara lembut, berpura-pura tulus, “Qing’er, ayahmu benar. Kami selalu mencintaimu. Selama sebulan ini, kami tak pernah berhenti berdoa untuk keselamatanmu. Kami merindukanmu setiap hari, Nak…”
Senyum lembut, mata berkaca-kaca, mereka berdua memainkan peran mereka dengan sempurna. Jika ini adalah Qingxian yang lama, mungkin hatinya akan luluh, tapi tidak sekarang.
Qingxian justru tersenyum dingin. Ia berhenti tepat di depan mereka dan berkata lembut, nyaris seperti anak yang kembali pada orang tuanya. “Ayah, Ibu… apakah kalian benar-benar masih mencintaiku?”
Keduanya buru-buru mengangguk, seolah itu bisa menyelamatkan hidup mereka.
Namun senyum Qingxian melebar, matanya menatap tajam. “Kalau begitu… keluarkan tulang roh kalian. Serahkan padaku.”
Gu Zhenye langsung berteriak marah. “Kau bermimpi!”
Tulang roh bagi seorang Rohwan adalah segalanya. Jiwa, kekuatan, dan kehidupan mereka. Tanpa tulang roh, mereka hanyalah manusia lemah. Dan kini, anak yang pernah mereka buang berani meminta mereka menyerahkannya?
Namun di mata Qingxian, hanya ada tatapan sinis.
“Lucu… ketika kalian mencabut tulang rohku, tak ada sedikit pun keraguan di wajah kalian. Sekarang, kenapa kalian takut?” Ia menatap mereka dengan tenang.
“Jika ayah dan ibu tak mau memberikannya, aku akan mengambilnya sendiri. Tapi… jangan salahkan aku kalau caraku agak kasar.”
Begitu kata-katanya jatuh, tubuh Gu Zhenye dan Qin Huilan seketika membeku. Mereka ingin berbicara, berteriak, namun tenggorokan mereka terkunci. Hanya suara lirih dan serak yang keluar.
“Uh… uh…!”
Rasa panik menjalar di seluruh tubuh mereka.
Tangan kanan Qingxian menyala lembut oleh kekuatan roh. Ia berjalan mengitari mereka, menatap punggung ayah dan ibunya, lalu bergumam pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Tulang roh kalian… di sini rupanya.”
Tanpa ragu, tangannya menembus kulit mereka, menyibak darah dan daging, mencari sumber kekuatan yang tersembunyi di tulang belakang mereka. Jeritan tertahan memenuhi udara.
“Uh! Uh uh uh!”
Mereka tidak bisa melawan, hanya bisa menggeliat dalam kesakitan. Air mata bercampur darah mengalir dari mata mereka.
Rasa sakit itu… baru kini mereka mengerti. Rasa yang dulu mereka berikan kepada anak mereka sendiri, rasa yang membuat Gu Qingxian menjerit minta ampun di aula leluhur. Sekarang, mereka merasakannya kembali… ribuan kali lipat lebih menyakitkan.
Qingxian menarik tangannya. Dua potong tulang roh berkilau kini tergenggam di telapak tangannya. Ia menatapnya datar tanpa emosi. “Tingkatnya biasa saja,” gumamnya ringan. “Bahkan tak sebanding dengan tulang roh Kaisar yang dulu kupunya… apalagi dengan tulang roh Dewa yang kini menjadi milikku.”
Gu Zhenye dan Qin Huilan menatapnya dengan mata lebar, napas tersengal. Mereka tak percaya anak mereka benar-benar mencabut tulang roh mereka sendiri.
Namun kejutannya belum berakhir.
Qingxian menggenggam dua tulang roh itu dan menghancurkannya dengan satu tangan. Retakan tajam terdengar, disusul kilatan cahaya yang sirna di udara.
Kedua orang tua itu menatap tak percaya, tubuh mereka ambruk lemah ke tanah. Rasa kehilangan kekuatan membuat mereka nyaris pingsan.
Namun Qingxian hanya berdiri di sana, menatap mereka tanpa amarah, tanpa iba.
“Tenang,” katanya pelan, “aku tidak akan membunuh kalian. Kematian terlalu mudah untuk kalian. Aku ingin kalian hidup… cukup lama untuk melihat bagaimana putri kesayangan kalian, Gu Siyue, jatuh dari puncak ke jurang, hancur di depan mata kalian.”
Ia mengangkat tangannya, melepaskan segel roh yang menahan suara mereka.
Qin Huilan langsung berteriak histeris, suaranya parau dan putus asa. “Tidak! Kau tidak boleh! Yue’er tidak bersalah! Dia adikmu!”
Qingxian tertawa dingin. “Tidak bersalah? Di mata kalian, tidak peduli apa pun yang dilakukan Gu Siyue, dia selalu benar. Dia anak yang suci, yang membawa kehormatan keluarga… sementara aku? Aku hanya noda yang harus dihapus, bukan begitu?” Tatapannya menajam, suara rendahnya menggema di udara.
“Kalian telah mencabut tulang rohku dan membuangku seperti sampah. Sekarang giliran kalian yang merasakan apa artinya kehilangan segalanya.”
Api hitam menyala kembali di tangannya, melambai di udara seperti bayangan iblis.
Di halaman yang sunyi, hanya terdengar desah napas berat dan isak ketakutan dari dua orang yang dulu menyebut diri mereka “orang tua”.
Dan di antara bayangan itu, Gu Qingxian berdiri tegak, dingin, megah, dan tanpa ampun, seolah seluruh dunia hanyalah panggung untuk balas dendamnya.