pindah lantai ekslusif
Pagi itu, Iren memasuki PT ARYA KONSTRUKSI dengan langkah lebih waspada dari biasanya. Telinganya masih terngiang-ngiang ucapan Arlanda semalam: "Tuan Arlanda tidak akan pernah mengenalimu." Ia sudah siap mengenakan topeng Nona Iren yang sopan dan menjaga jarak.
Iren langsung berjalan dan masuk ke dalam lift untuk menuju ruangan kerjanya yang ada di lantai tiga, melamun dan tidak semangat sama sekali.
"Ting."
Pintu lift terbuka dan Iren langsung berjalan keluar, menuju ruang kerjanya.
"Widih, masih pagi loh ini, Ren, sudah asem saja itu wajah," ledek Wulan.
"Wah bener, Lan, gue curiga Iren kesambet setan yang ada di bawah pohon tempat parkir," imbuh Leo, rekan kerja Iren dan Wulan.
"Hahaha, loe semua salah. Nggak ada ya setan yang mau dekat sama Iren, yang ada setannya udah kabur duluan, karena itu setan pasti diledekin sama Iren," celetuk Bisma yang membuat ruang kerja itu riuh gelak tawa.
Di divisi Iren (Wulan, Iren, Leo, Bisma, dan Angel), suasana santai itu adalah nafas. Namun, saat semua sedang bercanda, tiba-tiba saja Pak Bagas, Kepala Divisi, datang. Suasana pun langsung terasa tegang.
"Kalian kumpul semuanya," ucap Pak Bagas, memanggil seluruh tim dengan wajah panik yang sudah menjadi ciri khasnya.
Iren dan rekannya langsung berjalan ke tengah ruang kerja, di mana mereka dikumpulkan.
"Semuanya, dengarkan! Kita baru saja mendapatkan proyek raksasa, Mall Sentosa, dari Tuan Han. Klien ini sangat berpengaruh, dan proyek ini akan diawasi langsung oleh Tuan Arlanda," jelas Pak Bagas, mengusap keringat di dahinya.
"Tim Tuan Arlanda minta satu desainer terbaik kita untuk dipindahkan sementara ke ruang meeting khusus di lantai eksekutif. Orang ini akan bertanggung jawab atas semua presentasi dan komunikasi desain, langsung di bawah pengawasan beliau."
Iren langsung terdiam merasakan firasat buruk, sedangkan semua anggota tim di lantai tiga tentunya merasa santai karena mereka sudah menebak jika Iren yang akan dipilih.
Pak Bagas menatap tepat ke arah Iren. "Iren, kamu yang terbaik dalam rendering dan presentasi. Kamu yang akan mewakili divisi kita. Bersiaplah, kamu harus segera pindah ke lantai dua puluh."
Lantai dua puluh. Itu adalah sarang harimau, tempat yang diisi oleh petinggi perusahaan, hanya beberapa langkah dari kantor Arlanda yang disamakan Iren dengan benteng terlarang.
Wulan segera menyikut lengan Iren. "Gila, Ren! Lo naik kelas! Itu kesempatan emas untuk dekat dengan Tuan Arlanda!"
"Dekat dengan Tuan Arlanda? Aku tunangannya, Lan!" lagi-lagi teriakan batin Iren tidak bisa keluar. Dekat adalah hal terakhir yang ia butuhkan sekarang.
"Yeeee, selamat Iren," ucap Angel yang tampak bahagia sekali. Leo dan Bisma juga ikut merasa senang karena mereka berdua mengaku kemampuannya di bawah Iren. Tidak ada kecemburuan di antara mereka karena mereka menyadari Iren memang yang terbaik.
"Saya kasih waktu kamu untuk berkemas, lalu kamu bisa pindah untuk hari ini," ucap Pak Bagas yang lagi-lagi membuat Iren lemas.
"Baik, Pak," jawab Iren dengan nada kurang semangat.
"Iren, semangat!!" ucap Pak Bagas, langsung memberikan tangan mengepal seolah-olah memberikan semangat empat lima.
"Gue bantu, tenang saja," ucap Wulan.
Iren menghabiskan waktu satu jam berkemas dibantu Wulan. Hatinya campur aduk antara panik dan profesionalisme. Ini adalah proyek besar untuk kariernya, tetapi ancaman bagi rahasia perjodohannya.
"Lo jangan lupakan gue dan semuanya ya, Ren," ucap Wulan dengan nada sedih.
"Lan, gue cuma pindah lantai kerja ya, bukan pindah alam. Nggak usah sok sedih deh, kita kan masih perusahaan yang sama," jawab Iren.
Angel, Bisma, dan Leo yang tadinya ikut merasa sedih, pada akhirnya malah tertawa ngakak. Mereka sedih karena di divisi mereka tidak akan ada lagi teman yang suka huru-hara dan membuat suasana jadi ramai.
Beberapa saat kemudian, Iren tiba di lantai dua puluh. Suasananya terasa steril, sunyi, dan penuh etika. Ia diarahkan ke sebuah ruang meeting berdinding kaca, di mana Raka, pria yang sangat rapi dan sekretaris Arlanda, sudah menunggunya.
"Selamat datang, Nona Iren. Saya Raka. Tuan Arlanda ingin segera melihat briefing awal untuk Mall Sentosa," kata Raka, menatapnya dengan sopan namun tanpa senyum.
Lima menit kemudian, pintu kaca ruangan itu terbuka, dan Arlanda masuk. Ia mengenakan setelan gelap hari ini, membuat aura dinginnya semakin menusuk. Ia adalah definisi sempurna dari bos yang tak tersentuh.
"Nona Iren," sapa Arlanda datar. Nadanya formal, tanpa celah, seolah-olah ia baru pertama kali melihat Iren.
"Selamat pagi, Tuan Arlanda," balas Iren, membungkuk sedikit lebih dalam dari yang seharusnya, untuk menekan sifat humble dan kocaknya.
"Kita tidak punya banyak waktu. Proyek ini harus bergerak cepat. Nona Iren, kamu akan bekerja di ruang ini. Jika ada yang tidak jelas, tanyakan pada Raka. Jika Raka tidak bisa menjawab, baru temui aku. Jelas?"
"Jelas, Tuan," jawab Iren, suaranya sedikit tercekat. Ia merasa seperti robot yang baru diprogram.
Arlanda menyebarkan beberapa dokumen di atas meja, lalu matanya terpaku pada salah satu sketsa Iren. "Desain ini terlalu... ramai. Ini proyek komersial, bukan taman bermain. Aku ingin keseriusan dan efisiensi. Revisi bagian ini dalam dua jam, dan tunjukkan padaku."
Iren menahan napas. Ramai? Ini adalah desain interior futuristik yang canggih! Di luar kantor, Arlanda pernah memuji sketsa yang mirip dengan desain ini.
"Baik, Tuan Arlanda," Iren menunduk, tidak berani berdebat. Ia hanya bisa menerima.
Iren langsung duduk di ruang kerja barunya yang terasa tidak nyaman. Di sini, ia tidak bisa sesekali bercanda untuk menekan pikiran yang tertekan.
Dua jam kemudian, Iren membawa hasil revisinya ke ruang kerja Arlanda. Raka sudah menunggu di depan pintu.
Jujur, Iren baru pindah beberapa jam, tetapi dia merasa sudah terlalu tertekan.
"Tuan Arlanda sudah menunggu di dalam," bisik Raka, nadanya terdengar seperti peringatan.
Iren menganggukkan kepala dan langsung masuk. Ruangan Arlanda didominasi warna gelap. Pemandangan kota terlihat jelas dari dinding kaca besar, dan suasana terasa sunyi mencekam.
"Tuan," sapa Iren dan memberikan tablet ke Arlanda.
Arlanda mengambil tablet presentasi dari tangan Iren. Jari mereka nyaris bersentuhan, dan Iren segera menarik tangannya kembali. Arlanda tidak bereaksi, tetapi Iren melihat matanya berkedip sesaat, seolah menyadari kedekatan yang berbahaya.
"Ini lebih baik," komentar Arlanda setelah beberapa menit, suaranya pelan. "Tapi aku ingin semua data material ini disajikan dengan grafik. Besok pagi."
Iren mengangguk. "Siap, Tuan Arlanda. Saya akan lembur."
"Aku tidak peduli bagaimana caramu menyelesaikannya," kata Arlanda, tatapannya dingin. "Lakukan saja."
"Baik, Tuan, saya permisi!" ucap Iren dan langsung membalikkan badan untuk berjalan ke arah pintu.
Saat Iren berbalik untuk keluar, Arlanda memanggilnya. "Nona Iren."
Iren berhenti karena kaget, lalu membalikkan badannya lagi dan menatap Arlanda.
"Pastikan password file ini diganti. Aku tidak suka kerentanan dalam pekerjaan."
Arlanda menatapnya, tetapi kali ini, pandangannya sedikit berbeda. Itu bukan pandangan bos kepada bawahan, melainkan pandangan Arlan yang sedang memperingatkan tunangannya.
Tiba-tiba saja Arlanda yang tadinya duduk di kursinya langsung berdiri dan berjalan ke arah Iren. Panik, tentu itu yang dirasakan Iren saat Arlanda semakin dekat.
"Dan jangan pernah turun menggunakan tangga darurat lagi," bisiknya, suaranya sangat rendah.
Iren terkejut. Dia tahu? Dia memperhatikan pergerakanku?
"Ya, Tuan Arlanda," balas Iren, berusaha menjaga nada formalnya. Lalu Iren langsung membalikkan badan lagi.
Iren keluar dari ruangan Arlanda dengan jantung yang berdebar kencang. Hari pertama di lantai eksekutif sudah menjadi bencana. Arlanda tidak hanya mengawasi pekerjaannya, tetapi juga gerak-geriknya.
Iren tahu, sandiwara ini baru saja dimulai, dan di tengah profesionalisme yang kaku, Arlanda telah mengirimkan sinyal rahasia yang menegaskan: Dia adalah bosnya di kantor, tetapi di luar, dia tetap tunangan yang khawatir.
