Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Menghindar

Pukul lima sore. Dinginnya PT ARYA KONSTRUKSI seolah meresap hingga ke tulang Iren, bukan hanya karena hawa ruangan, tetapi karena memori insiden satu jam lalu.

Iren menyentuh lengannya sendiri, tempat ia tadi refleks mencengkeram lengan Tuan Arlanda. Kilatan panik sesaat di mata Arlanda kembali terbayang. Ia tahu, sentuhan—terutama yang tak terduga—adalah pemicu traumanya.

"Sial, kalau gara-gara ini perjodohan dibatalkan bagaimana? Padahal orang tuaku sudah pasrah menerima Arlan yang sedingin es itu, batin Iren gelisah.

"Woi Iren, sudah sore, pulang! Apa lo mau di kantor dan lembur sama Kunti yang ada di kantor ini?" tanya Wulan, sahabat karibnya, memecah lamunan Iren.

Iren langsung menoleh ke arah Wulan yang sudah siap dengan tas selempangnya. "Gue nggak yakin kalau kantor ini ada penghuninya, Lan. Karena bos kita jauh lebih menyeramkan daripada Kunti ataupun makhluk halus atau makhluk kasar lainnya," jawab Iren jujur, yang spontan membuat Wulan tertawa terbahak.

"Hahaha! Sayangnya Tuan Arlanda sepertinya tidak suka wanita. Harusnya sih Tuan Arlanda bisa kenal perempuan modelan lo, Ren, jadi hidupnya nggak lempeng-lempeng amat sih," ucap Wulan sambil menyelesaikan beres-beres mejanya.

"Gue bahkan tunangannya, Wulan!" teriakan itu hanya bergema di batin Iren. Ia tidak akan pernah sanggup mengucapkan hal sepenting ini, apalagi di lingkungan kantor.

"Udah, gue duluan ya, Beb, karena Ayang Bebeb gue udah nunggu di bawah. Babay, Beb!" ucap Wulan ceria, segera melesat keluar. Sejak mengenal Iren yang humble dan kocak, Wulan yang dulunya pendiam kini menemukan kenyamanan untuk mengeluarkan jati dirinya.

Iren tersenyum melihat tingkah sahabatnya. Ia kemudian keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju lift. Ruang Desain ada di lantai tiga, lantai yang relatif dekat dengan pintu keluar.

Tiba di depan pintu lift yang masih tertutup, Iren langsung membatalkan niatnya. "Biasanya Tuan Arlanda bakal naik lift ini. Ahk, lebih baik aku turun pakai tangga darurat sajalah," gumam Iren.

​Daripada mengambil risiko berhadapan lagi dengan Arlanda di ruang sempit seperti lift, Iren memilih menyiksa diri lewat tangga darurat. Lebih baik kakinya pegal nanti malam daripada rahasianya terbongkar.

Saat kakinya baru menapaki anak tangga pertama, ponsel Iren bergetar. Sebuah pesan masuk dari nama kontak yang disamarkan: @Mr. A.

@Mr. A: Malam ini. Jangan terlambat.

Iren membaca pesan itu—pendek, dingin, dan langsung ke intinya—khas Arlanda. Ia tentunya tidak akan mungkin menulis nama Arlanda dengan gamblang di ponselnya, apalagi ditambah embel-embel "Tunangan Tercinta."

Iren hanya membalas pesan singkat itu dengan satu huruf.

Iren: Y

​Keduanya memang tidak suka berlama-lama berkomunikasi seperti pasangan normal pada umumnya. Karena, kalau kata Iren, dia dan juga Arlanda bukan pasangan normal.

Setelah dari kantor Iren langsung pulang ke apartemen untuk berganti pakaian, serta mandi terlebih dahulu karena tidak mungkin juga Iren langsung datang ke rumah calon mertuanya menggunakan pakaian dari kantor

Kebetulan di kota ini Iren memang tinggal sendirian, akan tetapi Iren memang tinggal di apartemen sudah sejak dia berkuliah di kota ini, karena orang tua Irene memang tinggal di luar kota

"Oke aku sudah siap lebih baik pakai pakaian yang rapih dari pada harus modis tapi tidak diperhatikan juga." sindir Iren kepada dirinya sendiri

Tiga puluh menit kemudian, Iren sampai di gerbang rumah besar bergaya minimalis milik keluarga Arlanda. Kakinya terasa pegal, namun ia harus segera memasang wajah tunangan yang manis dan patuh.

Arlanda sudah menunggunya di ruang tamu. Ia sudah berganti pakaian—kini hanya mengenakan kaus turtleneck hitam dan celana bahan chino. Pakaiannya jauh lebih santai, namun aura dinginnya tak pernah hilang sepenuhnya. Arlanda terlihat tegang, dan Iren tahu, ketegangan itu bukan hanya karena ia terlambat, tapi karena insiden sentuhan tadi sore.

"Lain kali, gunakan lift. Jangan menyiksa diri," ujar Arlanda datar, tanpa babibu basa-basi. Ia tidak menanyakan kenapa Iren terlambat, karena ia tahu Iren pasti menghindarinya di kantor.

​Iren meletakkan tasnya di sofa dan memberanikan diri mendekat. Ia harus segera menyelesaikan masalah ini sebelum menjadi bom waktu.

"Arlan, aku minta maaf soal tadi di ruang meeting. Aku... aku nggak sengaja, sumpah! Aku panik karena hampir jatuh, makanya aku refleks pegangan. Aku tahu kamu nggak suka disentuh tiba-tiba," kata Iren tulus.

Arlanda tidak menatap Iren. Ia memandang ke luar jendela besar, matanya fokus pada kehampaan.

​"Itu namanya ketidakprofesionalan," Arlanda membalas dingin. Ia masih memakai topeng Tuan Arlanda. "Kamu hampir membongkar rahasia kita. Di kantor, kamu harus kendalikan diri."

Hati Iren mencelos. Arlanda selalu begitu dia hanya akan membahas rahasia dan profesionalisme, tapi tidak pernah secara langsung membahas traumanya, apalagi perasaannya.

"Baiklah, Tuan Arlanda yang terhormat," Iren membalas dengan nada yang sedikit berlebihan, khas kekocakannya. Ia kemudian membungkuk sedikit di depan Arlanda, "Aku berjanji lain kali jika jatuh, aku akan menahan diri dengan tiang bangunan terdekat, bukan dengan lenganmu yang mahal. Jangan sampai aku kena pasal karena merusak properti bos."

Meskipun Iren berusaha melucu, ia menunggu reaksi Arlanda dengan cemas.

Arlanda tetap diam, namun Iren melihat sudut bibirnya sedikit terangkat, gerakan yang sangat cepat sehingga hampir tidak terlihat. Itu bukan tawa, melainkan seperti huff yang menunjukkan ia hampir terhibur. Arlanda buru-buru menetralkan ekspresinya.

"Duduklah. Jangan bertingkah seperti anak kecil, Iren. Ibuku sudah menyiapkan makan malam," perintah Arlanda, terdengar seperti sedang memberi instruksi kepada bawahan, bukan kepada tunangannya.

"Aku tahu kenapa kita dijodohkan, Arlan," Iren berkata serius, mengabaikan perintahnya. Ia maju selangkah. "Aku tidak akan memaksamu. Tapi di sini, di luar kantor, kamu tidak perlu jadi Tuan Arlanda. Kamu hanya Arlan. Dan aku Iren yang ceroboh. Aku tidak berbahaya. Aku menerima kamu, seutuhnya."

​Arlanda akhirnya menoleh. Tatapannya kali ini berbeda. Ada jeda panjang sebelum ia merespons. Perlahan, sangat hati-hati, Arlanda mengangkat tangan kanannya.

​Jantung Iren berdebar. Ia menunggu.

​Arlanda kemudian meletakkan telapak tangannya di atas tangan Iren yang terlipat di pangkuannya. Sentuhan itu sangat ringan, hampir tanpa bobot, seolah ia takut Iren akan pecah.

"Aku tahu," bisik Arlanda, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. "Terima kasih, Iren."

​Sentuhan itu hanya bertahan satu detik sebelum Arlanda menarik tangannya kembali dan berdiri tegak.

"Ayo, sebelum Ayahku mulai bertanya kenapa kamu belum datang."

Iren tersenyum tulus. Hanya satu detik sentuhan. Hanya dua kata ucapan terima kasih. Itu adalah kemenangan kecilnya. Ia tahu, di balik sikap dingin Tuan Arlanda, ada Arlan yang perlahan mulai mencari kedamaian dalam penerimaannya.

Malam ini , Iren makan malam di tengah keluarga Arlanda, berperan sebagai tunangan yang sopan, humoris, dan disukai. Ia membiarkan orang tua Arlanda dan orang tuanya sendiri larut dalam pembicaraan hangat tentang masa depan mereka—masa depan yang sangat diragukan Iren bisa berjalan mulus.

Saat Iren hendak pamit, Arlanda mengantarnya sampai mobil.

"Besok," Arlanda memulai, nadanya kembali menjadi otoritatif, "kita bertemu lagi di kantor. Ingat sandiwara kita."

"Aku ingat, Tuan Arlanda," balas Iren sambil memberi hormat ala militer, membiarkan kekocakannya keluar sedikit. "Aku akan jadi Nona Iren yang sopan, menjaga jarak, dan selalu takut padamu."

​Arlanda tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk, tatapannya berat. "Bagus. Karena Tuan Arlanda tidak akan pernah mengenalimu."

Iren melajukan mobilnya menjauhi gerbang rumah mewah itu. Ia tahu besok, ia akan kembali ke dunia kantor, di mana mereka adalah orang asing. Namun, malam ini, ia telah mencuri sedikit celah di tembok pertahanan Arlanda, dan Iren bertekad, sedikit demi sedikit, ia akan meruntuhkan seluruhnya.

​Perjalanan mereka masih panjang. Menyembuhkan Arlanda mungkin akan lebih sulit daripada merancang Proyek Grand Laguna.

​Tuan Arlanda tidak akan pernah mengenalinya? Kita lihat saja, batin Iren penuh tekad.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel