lembur
Iren kembali ke ruang meeting berdinding kacanya. Setelah Arlanda memberinya tugas untuk menyiapkan data material dengan grafik sebelum besok pagi, ia tahu malamnya akan panjang.
Lantai dua puluh yang tadinya kaku kini terasa hampa. Hanya terdengar suara ketukan keyboard Iren dan desingan AC.
Jarum jam bergerak lambat. Pukul sembilan malam, kemudian pukul sepuluh. "Ya ampun itu jarum jam seperti tidak jalan sama sekali, kenapa diruangan ini waktu terasa panjang sih!." Dumel Iren di dalam hatinya
Iren meregangkan badan. Punggungnya mulai terasa sakit karena duduk terus, dan yang lebih buruk, tenggorokannya terasa kering dan kepalanya sedikit berdenyut.
"Ah ya ampun bahkan aku bisa merasakan apa yang namanya sakit kepala, biasanya aku nggak pernah merasakan hal ini, biasanya aku dengar ucapan ini dari leo dan Bisma yang mengeluh kepalanya pusing karena kerjaan yang banyak"
"Aishh sepertinya aku kena karma karena sering ledekin mereka sih, Haiss hukum tabur tuai itu memang nyata." Batin Iren
Iren saat ini memang merasa yang namanya Stres karena harus menjaga peran ganda, tekanan proyek besar, dan hawa dingin lantai eksekutif benar-benar menggerogoti fisiknya.
"Baru hari pertama sudah begini. Bagaimana aku bisa bertahan?" gumam Iren lagi sambil mengusap pelipisnya.
Di lantai tiga, ia bisa saja melompat dari kursi, menyetel musik, atau mengobrol konyol dengan Wulan untuk melepas penat. Di sini, di sarang Tuan Arlanda, semuanya terasa haram.
Iren meraih botol airnya, tetapi isinya sudah habis. Ia ragu harus keluar mencari air. Ruangan-ruangan lain di lantai ini sudah gelap.
"Ya ampun gini banget sih nasib gue, mengenaskan!." Ucap Iren sambil melihat botol minumnya yang sudah kosong
Saat Iren sedang mengasihani dirinya sendiri Tiba-tiba, ia mendengar suara pintu terbuka di ujung koridor tentunya itu pintu ruang kerja Arlanda.
Jantung Iren langsung berdebar. Ia segera menunduk, pura-pura fokus pada layar, berharap Arlanda hanya lewat dan tidak melihatnya.
"Ya ampun ada saja gebrakan dalam hidup!." Kesal Iren di dalam hatinya
Langkah kaki itu mendekat, tetapi tidak melewati ruangan Iren. Sebaliknya, langkah itu berhenti tepat di depan kaca ruangan Iren.
Arlanda berdiri di sana, mengamati Iren melalui dinding kaca. Ia masih mengenakan kemeja formalnya, tetapi kini lengan kemeja itu sudah digulung hingga siku, memperlihatkan urat di lengannya yang kekar. Posturnya tampak sedikit lebih rileks, tetapi ekspresinya tetap sulit dibaca.
Iren yang pura-pura fokus ke layar yang ada di depnya tapi merasa jika saat ini Arlanda sedang memperhatikan nya
Arlanda tidak mengetuk. Ia hanya memegang kenop pintu, lalu mendorongnya perlahan.
Jantung Iren tentunya langsung berdegup kecang saat mendengar suara pintu di buka
"Kenapa belum pulang, Nona Iren?" tanya Arlanda datar. Nadanya formal, tetapi suaranya pelan—cukup pelan untuk hanya didengar oleh mereka berdua.
Iren berdiri kaku. "Tugas saya belum selesai, Tuan Arlanda. Grafik data material butuh waktu."
Arlanda melangkah masuk, berhenti beberapa meter di depan Iren.
"Aku melihatmu tadi sore turun dari lift," kata Arlanda, mengabaikan jawaban Iren. Matanya menyipit sedikit, menatap Iren dengan intens. "Kau terlihat... pucat."
Iren terkejut. Arlanda benar-benar mengkhawatirkannya, bukan hanya sandiwara.
"Saya baik-baik saja, Tuan. Hanya... sedikit lelah," jawab Iren, mencoba meyakinkan Arlanda sekaligus dirinya sendiri. Ia tahu ia mulai merasa tidak enak badan, dan suhu dingin ini tidak membantu sama sekali.
Arlanda menghela napas, gestur langka yang menunjukkan sedikit kerenggangan. Ia kemudian melakukan sesuatu yang sama sekali tidak profesional dia berjalan ke sudut ruangan, mengambil sebuah kotak kardus kecil yang tersembunyi, dan meletakkannya di meja Iren.
"Ini," katanya singkat. "Jangan bilang pada siapapun."
Iren memandang kotak itu dengan bingung. "Apa ini, Tuan?"
"Teh herbal. Dan beberapa vitamin," jawab Arlanda. "Teh herbal agar kamu bisa tidur, dan vitamin agar kamu tidak merepotkan besok. Di sini tidak ada waktu untuk sakit."
Di balik kalimat dingin dan tuntutan profesionalisme itu, Iren menangkap perhatian Arlan. Ia tahu, ini adalah cara Arlanda menunjukkan kepedulian tanpa melanggar batas emosionalnya, apalagi batas kantor.
"Terima kasih, Tuan Arlanda," balas Iren, nada suaranya sedikit menghangat.
"Jangan berterima kasih. Pastikan saja pekerjaanmu selesai," ujar Arlanda. Ia kemudian berjalan ke pintu, tetapi ia berhenti lagi. Ia menoleh ke arah Iren.
"Dan... jangan terlalu memaksakan diri. Naik lift saja saat pulang. Aku tidak mau tahu ada apa-apa," bisiknya lagi, suaranya terdengar seperti perintah, tetapi matanya menunjukkan kekhawatiran yang tak terhindarkan.
Arlanda lalu menghilang, menutup pintu ruang kerjanya dengan keheningan yang kembali mencekam.
Iren menatap kotak kardus itu. Teh herbal dan vitamin. Tawa kecil lepas dari bibirnya. Tuan Arlanda benar-benar menyiapkan ini untukku?
Sikapnya yang dingin dan menuntut di depan umum, tetapi perhatiannya yang tersembunyi, membuat Iren merasa hatinya menghangat, meskipun badannya mulai menggigil. Iren tahu, ia harus segera menyelesaikan tugas ini, meminum teh herbal itu, dan membiarkan Arlan yang kaku itu merasa sedikit tenang.
Iren tersenyum penuh tekad. Sandiwara ini sulit, tetapi ada celah di baliknya. Dan celah itu, adalah Arlan yang sebenarnya.
