pagi yang berat
Iren berhasil menyelesaikan semua revisi grafik data material tepat pukul dua dini hari. Setelah memaksakan diri meminum teh herbal dan vitamin dari Arlanda, ia baru bisa tidur selama beberapa jam. Namun, Iren bangun dengan kondisi yang jauh dari segar. Kepalanya terasa berat, dan badannya pegal.
Iren langsung bangun dan akan bergegas ke kamar mandi, tetapi Iren melihat pantulan dirinya di kaca kamarnya dan langsung menghentikan langkah kakinya.
"Aku tidak boleh sakit. Hari ini ada presentasi," batin Iren sambil menatap pantulan wajahnya yang pucat di cermin.
Iren langsung masuk ke kamar mandi. Hari ini Iren tidak akan mandi; ia hanya akan menggosok gigi dan memakai rangkaian skincare di wajahnya, karena Iren takut jika dia mandi itu akan memperburuk keadaan kesehatannya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Beberapa jam kemudian, Iren sudah sampai di kantor. Ia terlihat memaksakan diri tiba di lantai dua puluh tepat waktu. Lantai eksekutif sudah kembali ramai. Iren bergegas menyiapkan file presentasi terakhir.
"Pagi, Nona Iren," sapa beberapa karyawan yang akan bekerja sama dengan Iren.
"Pagi," jawab Iren, yang harus humble dengan rekan sejawatnya sekalipun Iren belum mengenal, yang penting ada kartu tanda identitas bertuliskan PT ARYA KONSTRUKSI, berarti itu rekan kerjanya.
Tepat pukul sembilan, Arlanda memasuki ruangan. Ia terlihat sempurna dalam setelan biru tua. Di belakangnya, ada Tuan Han, klien dari Proyek Mall Sentosa, dan juga Raka.
Semua yang ada di ruang meeting langsung menyambut kedatangan klien dan berdiri, termasuk Iren.
Tuan Han masuk dan langsung berjalan lalu berjabat tangan dengan Arlanda yang terlihat berdiri di samping Iren.
"Selamat pagi, Tuan Han," sapa Arlanda dingin. "Ini Nona Iren, desainer utama yang bertanggung jawab atas mock-up interior."
Tuan Han segera mengulurkan tangan ke arah Iren, tatapannya mengukur Iren dengan cermat, namun bukan secara genit, melainkan penuh penilaian. "Oh, jadi ini desainer jeniusnya? Senang bertemu denganmu, Nona Iren. Saya Han."
Saat mereka bersalaman, Tuan Han menahan tangan Iren sedikit lebih lama dari seharusnya, seolah sedang mengecek kualitas properti. Arlanda, yang berdiri di samping, langsung terlihat kaku.
"Selamat datang di PT ARYA KONSTRUKSI, Pak Han," sapa Iren yang membuat Tuan Han langsung tersadar dari lamunannya.
"Ah, terima kasih atas sambutannya, Nona Iren," jawab Tuan Han dan langsung melepas jabatan tangan Iren.
"Iren, langsung saja," ucap Arlanda yang terdengar dingin dan semakin kaku.
"Baik, Tuan," jawab Iren yang langsung maju ke depan.
Iren segera memulai presentasinya. Ia berbicara dengan jelas dan detail tentang konsep, tetapi seiring waktu, kepalanya semakin berdenyut dan tenggorokannya terasa kering. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Meskipun Iren berusaha profesional, ia merasa suaranya sedikit bergetar. Satu jam kemudian, Iren berhasil menyelesaikan presentasinya.
Iren langsung berjalan ke arah kursinya lagi. Tuan Han terlihat sangat puas. Akan tetapi, belum sempat Iren duduk, Tuan Han langsung berdiri.
"Presentasi Anda luar biasa, Nona Iren. Kualitas kerja Anda sangat memuaskan," komentar Tuan Han. Ia lalu tersenyum tipis ke arah Arlanda, "Tuan Arlanda, Anda tidak hanya pandai memilih bahan konstruksi. Karyawan Anda juga sangat berbakat, sangat cocok dijadikan menantu idaman."
Jantung Iren langsung mencelos. Tatapan Tuan Han kini beralih pada Iren dengan senyum kebapakan yang penuh rencana. Tentu saja, Tuan Han mengincar Iren untuk putranya!
Arlanda, yang sedang duduk, langsung menegakkan punggungnya. Ekspresinya yang tadinya dingin kini berubah menjadi marah yang terselubung.
Tepat ketika Iren berusaha mengembalikan fokus, pandangannya mendadak gelap. Jeda sepersekian detik itu cukup fatal. Ia kehilangan keseimbangan dan hampir menjatuhkan remote clicker presentasi.
"Maaf," Iren berbisik, berusaha menstabilkan diri. Wajahnya pasti sudah sangat pucat.
Arlanda segera bangkit dari kursinya. Tindakannya cepat dan tanpa peringatan.
"Bruk!"
Iren langsung ambruk, dan untungnya ada Arlanda yang sudah menangkap badan Iren. Iren saat ini masih sadar, hanya badannya benar-benar lemas.
"Presentasi selesai," ujar Arlanda, suaranya tajam dan tidak bisa dibantah.
Tuan Han terkejut. "Tuan Arlanda? Ada apa? Nona Iren baik-baik saja?"
"Proyek ini akan diundur satu jam," potong Arlanda, sama sekali tidak menatap Tuan Han. Ia melangkah ke sisi Iren dan tanpa ragu, Arlanda meletakkan telapak tangannya di punggung bawah Iren.
Sentuhan Arlanda itu terasa panas dan otoritatif. Dia tidak menyentuh Iren dengan kelembutan, melainkan dengan perintah yang memaksa untuk segera pergi.
"Nona Iren, kamu ikut aku," perintah Arlanda, menekan punggung Iren untuk mengarahkannya keluar dari ruang meeting.
Iren tersentak kaget. Arlanda secara terbuka melanggar sandiwara mereka di depan klien penting, apalagi setelah Tuan Han terang-terangan menunjukkan ketertarikan untuk menjodohkan.
"Tuan Arlanda, ini tidak..." Iren mencoba protes, khawatir Tuan Han akan salah paham.
"Tidak ada bantahan," bisik Arlanda tepat di telinga Iren, nadanya mengandung perintah yang mendalam. "Keluar. Sekarang."
Sentuhan Arlanda itu adalah klaim diam-diam: Iren adalah miliknya. Tentu saja semua orang yang ada di ruang meeting menjadi bertanya-tanya dengan hubungan Arlanda dan Iren, termasuk Tuan Han.
Begitu mereka keluar dari ruang meeting dan mencapai koridor sepi, Arlanda segera melepaskan sentuhan di punggung Iren. Ekspresi Arlanda kini dipenuhi kemarahan bercampur kekhawatiran.
"Aku bilang jangan merepotkan," geram Arlanda, suaranya rendah. "Kamu sakit. Sekarang kembali ke apartemenmu. Aku akan mengurus ini. Jika ada yang bertanya, kamu sedang dalam tugas penting di luar kota."
"Tapi Tuan Han! Dia baru saja bilang ingin menjodohkanku dengan putranya!" protes Iren, meskipun ia tahu ia hampir pingsan.
Arlanda menyela, tangannya yang dingin meraih pergelangan tangan Iren, menahannya. Ini adalah sentuhan kedua Arlanda di kantor hari itu, sebuah pelanggaran besar terhadap traumanya, tetapi dia melakukannya demi Iren.
"Aku tidak peduli putranya siapa. Aku peduli kamu tidak pingsan di depan klien," tegas Arlanda, matanya memancarkan rasa protektif yang jarang ia tunjukkan. "Ini perintah, Iren. Jangan membantah. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi properti orang lain, apalagi di depan mataku."
Iren menatap wajah Arlanda. Di bawah topeng Tuan Arlanda, ia melihat Arlan yang ketakutan—takut Iren sakit dan takut Iren akan direbut. Air mata Iren sedikit menggenang. Di tengah kekacauan kantor dan tubuh yang sakit, tindakan Arlanda ini adalah kejujuran yang paling tulus.
"Baik, Arlan," bisik Iren, tanpa menggunakan gelar 'Tuan'.
Arlanda segera melepaskan tangan Iren, ekspresinya langsung kembali kaku. Ia berbalik dan berjalan kembali ke ruang meeting, meninggalkan Iren yang harus menahan diri agar tidak pingsan. Sandiwara mereka telah goyah, dan Iren tahu, ini adalah langkah maju yang sangat berbahaya.
Iren langsung masuk ke dalam lift dan langsung memesan taksi karena kebetulan hari ini Iren tidak membawa mobil.
