Apartemen sunyi
Iren tiba di apartemennya dalam kondisi yang menyedihkan. Bahkan, dia terlihat memaksakan diri mencapai sofa dan ambruk di sana.
Kepalanya berdenyut hebat, dan badannya menggigil hebat. "Hais, kenapa aku merasa sangat dingin sekali? Tuhan, please, jangan ambil nyawaku sekarang ya," ucap Iren.
Iren melihat ke arah sofa yang ada di sampingnya. Ada selimut terlipat di sana. Iren ingat, semalam dia memang sempat meminum teh di sofa ini sambil menyelimuti dirinya.
"Untung selimut ini ketinggalan di sini," ucap Iren dan langsung menyelimuti dirinya. Meskipun ia sudah menyelimuti diri dengan selimut tebal, Iren masih merasakan dingin.
Di tengah demam, bayangan wajah marah bercampur khawatir Arlanda terus berputar di benaknya.
"Dia benar-benar meninggalkan pertemuan penting demi aku."
Meskipun Iren tahu Arlanda tidak akan pernah mau mengakui tindakannya sebagai bentuk cinta, Iren menganggap itu sebagai bukti bahwa ia mulai menembus benteng es Arlanda. Tindakan Arlanda di depan Tuan Han lebih berbahaya bagi reputasi bisnisnya daripada sekadar sentuhan di koridor.
Iren mengambil ponselnya, berniat mengirim pesan singkat ke Arlanda. Hanya satu kata: Terima kasih. Namun, tangannya terlalu lemas. Ia akhirnya hanya memejamkan mata, berharap rasa sakit ini segera berlalu.
Belum lama Iren memejamkan mata, tiba-tiba, suara ketukan pintu yang keras dan terburu-buru mengagetkannya.
"Aish, siapa sih? Wulan? Tidak mungkin, pasti dia di kantor," batin Iren yang masih mendengar ketukan pintu yang semakin keras.
"Ya ampun, siapa sih? Nanti pintunya rubuh gimana," ucap Iren dengan nada yang sangat lemah.
Ketukan itu masih terdengar berulang, lebih kuat dan mendesak. Iren menyeret dirinya ke pintu dengan sisa-sisa tenaganya yang dia punya, lalu melihat melalui lubang intip.
Jantungnya langsung berdebar. "Hah, ya ampun!" ucap Iren tanpa sadar.
Arlanda! Ia berdiri di sana, mengenakan setelan kantor yang sama, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya dipenuhi ketegangan. Ia terlihat panik.
Iren dengan terpaksa membuka pintu sedikit. "Arlan? Kenapa kamu..."
Arlanda tidak memberinya kesempatan menyelesaikan kalimat. Ia mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, melangkah masuk, dan menutupnya kembali dengan 'gedebuk' yang cukup keras, mengabaikan segala etika dan kerahasiaan.
"Aku telepon kamu tidak diangkat. Pesan juga tidak dibalas," geram Arlanda, suaranya dipenuhi frustrasi dan kekhawatiran yang ia coba tutupi. "Aku pikir terjadi sesuatu."
"Aku hanya... tertidur," Iren berbohong, memaksakan senyum lemah.
Arlanda tidak percaya. Ia segera mendekat, meletakkan punggung tangannya di dahi Iren. Sentuhan itu, di tengah demam Iren, terasa dingin dan menenangkan. Ini adalah sentuhan terlama dan terintim yang pernah Iren dapatkan dari Arlanda.
"Badanmu panas sekali, Iren," kata Arlanda, nadanya kini melunak, menanggalkan topeng Tuan Arlanda sepenuhnya. Ia tampak benar-benar takut.
Iren melihat rasa panik itu. Itu bukan rasa panik karena pekerjaan, melainkan rasa panik Arlan yang takut kehilangan satu-satunya orang yang menerima kerapuhannya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat," bisik Iren.
"Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan," putus Arlanda.
Ia segera melepaskan jasnya, melipatnya dengan rapi di sandaran kursi (kebiasaan kaku yang tak bisa hilang), lalu menyingsingkan lengan kemejanya. Ia terlihat terganggu, tetapi juga bertekad. Arlanda mengambil kendali penuh.
"Di mana kotak obatmu?" tanya Arlanda sambil menyapu pandangan ke sekeliling apartemen Iren.
Iren menunjuk ke lemari dapur. Arlanda bergegas ke sana, mengambil termometer dan obat.
Posisi Iren saat ini masih berdiri. Arlanda langsung membalikkan badan lagi dan melihat ke arah Iren. "Duduk!" ucap Arlanda yang kembali kambuh dengan sikapnya yang otoritatif.
Iren segera duduk dan Arlanda langsung berjalan ke arah dapur kecil yang ada di apartemen Iren.
Selama satu jam berikutnya, Arlanda adalah perawat Iren yang paling kaku, paling canggung, dan paling menyentuh.
Ia memaksa Iren minum obat dan air putih. Ia mengambil kain hangat untuk mengompres dahi Iren. Ketika Iren menggigil, Arlanda mengambil selimut tertebal yang Iren miliki dan menyelimutinya dengan rapi, seolah ia sedang menata lapisan insulasi bangunan.
Posisi keduanya ada di sofa di ruang tamu. Apartemen Iren ini bukan apartemen mewah; hanya memiliki satu kamar tidur dan ruang tamu yang tidak bersekat dengan dapur. Iren memang memilih apartemen yang pas dan nyaman untuk dia tinggali, apalagi Iren tinggal sendiri.
"Kamu harus makan. Aku akan membuatkanmu bubur. Kamu punya bahan-bahan yang layak?" tanya Arlanda, suaranya masih berat, tetapi penuh perhatian.
"Tentu saja punya. Tapi... kenapa kamu melakukan ini, Arlan?" tanya Iren lemah.
Arlanda berhenti di depan kulkas Iren. Ia membelakangi Iren, seolah menghindari tatapan Iren.
"Jangan berpikir terlalu jauh," jawab Arlanda, kembali mencoba bersikap dingin. "Aku tidak mau ada kabar bahwa Nona Iren, desainer utama proyek Sentosa, pingsan karena demam. Aku tidak mau diganggu dengan hal-hal sepele. Ini adalah investasiku."
Iren tersenyum tipis. Arlanda selalu harus menutupi kehangatannya dengan logika bisnis.
Arlanda sudah mulai memasak bubur di dapur kecil Iren. Ia tampak canggung, tetapi tetap metodis. Iren mengamati punggungnya yang tegap. Ia tahu, bagi Arlanda yang trauma, berada di ruang pribadi Iren, memasak, dan merawatnya, adalah pelanggaran terbesar terhadap zona amannya.
Beberapa saat kemudian, bubur yang dimasak oleh Arlanda sudah matang. Arlanda langsung menyajikan satu mangkuk bubur dan membawanya ke Iren yang masih rebahan di atas sofa.
Arlanda langsung duduk di tepi sofa. "Ayo makan dulu. Aku suapi." ucap Arlanda yang terdengar dingin.
Iren langsung duduk saat Arlanda membawa mangkuk bubur. "Aku makan sendiri saja," ucap Iren yang akan merebut mangkuk dari tangan Arlanda.
Akan tetapi Arlanda tidak memedulikan tangan Iren yang akan merebut mangkuk, dan justru langsung memberikan satu sendok bubur ke depan mulut Iren.
"Buka mulut!" ucap Arlanda dingin.
Mau tidak mau, Iren akhirnya terpaksa disuapi oleh Arlanda. Meskipun gerakan tangannya kaku, tetapi ia bersabar.
"Arlan," panggil Iren setelah selesai makan. "Tadi di kantor... kamu menyentuhku dua kali."
Arlanda menegang. Ia sedang membersihkan remah-remah bubur di wajah Iren dengan ibu jarinya, dan kini tangannya membeku.
"Itu... kecelakaan kerja," Arlanda berbisik.
Iren menggeleng pelan. "Itu bukan kecelakaan. Itu kamu. Aku tahu kamu takut disentuh. Tapi kamu menyentuhku. Dan sekarang kamu ada di sini. Kenapa kamu melanggar semua aturanmu sendiri?"
Arlanda membuang muka. Ia berdiri dan kembali menatap ke luar jendela yang gelap, seperti yang sering ia lakukan di rumahnya.
"Karena," suara Arlanda sangat rendah, penuh pengakuan yang menyakitkan. "Karena... Aku tidak bisa melihatmu terluka, Iren."
Itu adalah pengakuan emosional yang jauh lebih besar daripada kata 'cinta'. Iren tahu, saat Arlanda mengatakan itu, ia tidak lagi berperan sebagai Tuan Arlanda. Ia adalah Arlan yang rentan.
"Istirahatlah," kata Arlanda, tiba-tiba kembali ke mode protektif. "Aku akan menjagamu sampai demammu turun."
Iren memejamkan mata, membiarkan kehangatan Arlanda, yang jauh lebih efektif daripada teh herbal, menyelimutinya.
