Tuan Arlanda
Udara di kantor PT ARYA KONSTRUKSI selalu terasa dingin, bukan karena AC yang kelewat batas, melainkan karena aura sang pemilik perusahaan.
Pagi itu, Iren merapatkan jaket denimnya. Ia menyengir ke arah rekan kerjanya di divisi Desain Interior, Wulan. kebetulan Iren baru saja sampai di ruang kerjanya, Iren kira Dia adalah orang yang pertama kali sampai di kantor, akan tetapi sudah ada Wulan yang terlihat duduk di ruang kerjanya.
"Gila ya, Lan. Kayaknya suhu di sini diatur sesuai mood Pak Bos, dingin banget," bisiknya sambil meletakkan tas jinjingnya.
Wulan hanya bisa terkekeh, karena sudah terbiasa dengan celetukan Iren. "Pak Bos itu Arlanda, Ren. Dia bukan bos yang biasa. Kita ini cuma remahan rengginang, jangan sampai dia dengar."
Iren hanya memutar mata. Ya, Arlanda. Nama itu terasa begitu formal, begitu jauh. Padahal, hanya tiga malam yang lalu, nama itu ia sebut dengan nada kesal karena Arlanda memaksanya menghabiskan menu masakan rumahan ibunya.
Mata Iren langsung melihat ke arah Wulan yang tiba-tiba saja dia mau pergi meninggalkan Iren.
"Hey Wulan mau kemana?." tanya Iren binggung
"Gue mau ke ruang meeting lantai dua mau ketemu sama pak Bagas." ucap Wulan yang langsung meninggalkan Iren. Iren kembali menghela nafas
Arlanda yang di rumah itu cowok kaku yang suka cemberut tapi takut dengan kecoak.
Arlanda yang di kantor ini adalah Tuan Arlanda.
"Tenang saja. Aku kan di tim desain. Ruang kerja Pak Bos itu kan di lantai paling atas, kayak benteng terlarang. Aku mana pernah ketemu dia," ujar Iren, berusaha meyakinkan diri sendiri.
Iren terlihat mengambil napas panjang. Sejak perjodohan itu disepakati, hidup Iren adalah akting dua babak bawahan yang hormat di kantor, dan tunangan yang humble dan cerewet di rumah.
Selama hampir setahun Iren bekerja di sana, sandiwara itu berjalan mulus. Sifat Arlanda yang dingin dan menjaga jarak adalah berkah tersembunyi.
Tepat saat Iren merasa aman, telepon di meja kerjanya berdering. Nama Wulan muncul di layar. Iren langsung mengerutkan kening lalu dia langsung mengangkat panggilan dari Wulan
"Ren, cepat ke ruang meeting lantai dua . Sekarang! Pak Bagas panik!" suara Wulan tercekat.
Iren juga langsung panik saat Wulan menyebut nama pak Bagas, Iren langsung bergegas pergi keruang meeting. Ruang meeting lantai dua adalah ruang darurat yang hanya dipakai saat ada klien super penting atau... masalah besar.
"Kenapa, kenapa?" tanya Iren saat ia tiba di ambang pintu.
Pak Bagas, Kepala Divisi Desain, sedang mondar-mandir dengan wajah pucat pasi. Di tengah meja, terhampar sketsa interior mock-up untuk Proyek Grand Laguna.
"Iren, kamu harus ganti warna finishing pilar ini dalam lima belas menit. Klien mendadak minta merah marun matte. Kalau tidak, kita batal dapat proyek," kata Pak Bagas sambil menyodorkan tablet ke wajah Iren.
Iren dengan sigap duduk, tangannya mulai bekerja di software desain. Waktu lima belas menit sangat mepet untuk revisi besar.
Lima menit kemudian, pintu ruangan terbuka. Keheningan langsung menyelimuti ruangan itu.
Sosok yang masuk adalah Arlanda.
Tinggi, berbalut setelan abu-abu mahal, dengan rambut hitam tertata rapi. Tatapannya sedingin es, menyapu ruangan tanpa ekspresi.
Iren mendadak merasakan kerongkongannya tercekat.
"Oh, sial. Kenapa dia ada di sini?." batin Iren
"Maaf, Tuan Arlanda. Kami sedang ada revisi darurat," ujar Pak Bagas terbata-bata sambil membungkuk dalam-dalam.
Arlanda tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke arah meja dan meletakkan tangan kirinya di tepi meja, tepat di dekat lengan Iren yang sedang mengetik cepat. Jam tangan mewahnya terasa memancarkan otoritas.
Iren menunduk, matanya fokus pada layar, otaknya berpacu memikirkan dua hal revisi warna dan bagaimana caranya agar Arlanda tidak melihat wajahnya.
Saat Iren selesai, ia mengangkat tablet itu dengan tangan gemetar.
"Sudah, Pak Bagas. Merah marun matte," ucap Iren, suaranya berusaha terdengar formal, datar, dan benar-benar tidak mengenali pria di sampingnya.
Arlanda mengambil tablet itu dari tangan Pak Bagas, seolah itu adalah benda paling biasa. Mata tajamnya meneliti hasil kerja Iren.
"Bagus. Beri aku datanya," perintah Arlanda, suaranya rendah dan dalam, membuat jantung Iren berdebar dua kali lebih cepat.
Iren berdiri, berusaha menghindari tatapan mata itu. Ia mundur selangkah, dan tanpa sengaja, kakinya tersandung kaki kursi. Ia kehilangan keseimbangan.
Refleks, Iren mengulurkan tangan ke depan. Tangannya bukannya menahan meja, malah tanpa sadar meraih lengan Arlanda untuk menopang diri.
Tubuh Arlanda langsung menegang. Ekspresi dinginnya sedikit retak, digantikan oleh kilatan aneh yang cepat menghilang seperti rasa terkejut bercampur sedikit panik.
Kontak fisik yang tidak terduga itu terjadi hanya sekejap, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa sesak.
Iren segera melepaskan tangannya seolah tersengat listrik. Ia membungkuk dalam-dalam, jauh lebih dalam daripada Pak Bagas.
"Maafkan saya, Tuan Arlanda! Saya... saya ceroboh. Saya sangat ceroboh. Mohon maafkan saya," Iren mengulang kata-kata itu, pipinya terasa panas.
Arlanda hanya memandangnya sekilas, pandangan yang dingin dan tidak terbaca, sebelum menarik lengannya dan kembali menatap tablet.
"Lain kali, perhatikan langkahmu, Nona," ujar Arlanda datar, tanpa sedikitpun kehangatan, lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi.
Iren menegakkan tubuh, mengembuskan napas lega. Ia berhasil. Arlanda tidak menunjukkan tanda-tanda mengenalinya.
Namun, di balik topeng profesionalnya, Iren tahu. Begitu ia sendirian nanti, ia pasti akan mengutuk kekonyolan dan kecerobohannya.
Sial, aku baru saja menyentuh dia. Di kantor. Dan dia tidak bereaksi sama sekali. Kenapa dia di kantor jauh lebih menakutkan daripada di rumah?
Iren bergidik, merasa sandiwara mereka baru saja nyaris berakhir.
