Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 17 Papa Emira (2)

"Tadi saya kira salah lihat eh ternyata benar Miss Jelita." ucapnya sambil memperbaiki posisi kaca matanya.

Aku tersenyum canggung, posisiku kini sangat dekat dengannya.

"Belanja, Miss?" tanyanya sambil melihat keranjang belanjaanku.

"Ini swalayan ya pasti belanja lah Pak kalo saya ke sini." Aku kembali melanjutkan memilih susu yang akan kubeli.

"Kali aja ke sini mau ketemu seseorang."

Aku mengernyitkan dahi, ada-ada saja ucapan Papanya Emira ini.

"Permisi, Pak. Saya mau ke kasir."

Sebenarnya acara belanjaku belum selesai masih ada benda yang ingin kubeli namun kehadiran papa Emira di sampingku membuatku tidak nyaman. Lebih baik aku segera menyelesaikan acara belanjaku dan pulang.

Aku berjalan menuju kasir dan papa Emira masih di sebelahku. Aku berdiri sesuai antrian.

"Miss, panggil saya Rama."

Aku menengok ke belakang. "Hah?"

"Nama saya Rama."

"Iya, Pak Rama."

"Gak usah pake Pak." ucap Pak Rama bersamaan dengan seorang ibu yang tepat di depanku meninggalkan posisinya.

"Maaf udah giliran belanjaan saya dihitung." Aku maju menuju kasir.

Sang kasir menghitung semua belanjaanku. Saat ia menyebutkan nominal belanjaku Rama sudah menyerahkan 2 lembar uang berwarna merahnya pada kasir.

"Biar saya bayar sendiri aja." Aku mengeluarkan uangku.

"Gak papa uang saya saja."

"Jadi pake uang siapa nih?" tanya sang kasir.

"Uang saya, Mba." Rama berkata tegas pada sang kasir.

"Jangan, Pak. Ini belanjaan saya, biar saya bayar sendiri." tolakku.

"Jangan menolak, lihat antrian sudah panjang!"

Aku melihat ke belakang, sudah ada 3 orang di belakangku.

Begitu aku berbalik ke arah kasir, sang kasir memberikan struknya kepadaku. Rupanya sewaktu aku melihat ke belakang tadi Rama membayar semua belanjaanku. Cepat sekali dia.

Aku segera berjalan menuju pintu keluar, Rama masih berjalan di sampingku.

"Makasih, Pak. Saya jadi gak enak."

"Enakin aja, Miss. Sering-sering juga saya gak keberatan."

"Saya yang keberatan. Tolong berikan belanjaan saya!" Sejak tadi Rama membawa belanjaanku, ia yang mengambilnya dari sang kasir.

Aku ingin segera pergi dari hadapan lelaki ini. Ya Allah, dia orang tua murid di sekolahku. Aku harus menjaga diri. Profesionalitas mesti dikedepankan.

"Miss, naik apa?"

"Jalan kaki."

"Saya antar pulang."

"Deket kok saya mau jalan saja. Tolong kemarikan belanjaan saya." Aku mengulurkan tangan berharap Pak Rama memberikan kantung belanjaanku tapi nihil ia tetap memegangnya erat-erat.

"Kalo gitu saya temani Miss jalan."

"Pak Rama, please saya ingin segera pulang. Berikan belanjaan saya!"

"Saya ingin temani miss Jelita jalan."

Pak Rama tetap bersikukuh dengan keinginannya. Aku merasa kesal akhirnya kuputuskan berjalan cepat meninggalkan dia. Biar saja belanjaanku jadi miliknya, toh dia juga yang membayar. Aku bisa datang lagi ke tempat ini besok setelah mengajar atau bahkan menggunakan jasa antar belanjaan yang disediakan.

Rama rupanya tidak menyerah dia tetap mengikutiku dia berusaha berjalan sejajar denganku.

"Miss, jalannya cepet juga ya?"

Ingin rasanya aku berlari tapi pasti akan menarik perhatian banyak orang jika aku melakukannya belum lagi Pak Rama akan merasa seperti penjahat. Aku harus menjaga hubungan baik dengan orang tua murid di sekolahku.

Aku tidak menjawab apa pun pertanyaannya. Begitu sampai di depan gerbang kosan aku langsung masuk ke dalam dan menutup pagar kosan tanpa bicara apa pun.

"Miss belanjaannya gimana?" teriak Pak Rama.

"Buat bapak aja!" Aku masuk ke dalam kosanku.

Aku sadar telah bersikap tidak sopan padanya namun jantungku berdetak begitu cepat sejak berdekatan dengannya di swalayan tadi.

Dia orang tua murid di sekolahku. Kutegaskan hal itu pada diriku sendiri.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel