Bab 16 Papa Emira
Aku mengistirahatkan tubuhku di kamar kos setelah seharian berada di sekolah. Berhadapan dengan siswa cukup menguras energi ditambah lagi menghadapi perdebatan kedua orang tua Emira. Tubuh dan pikiranku terasa amat lelah.
Minum teh hangat mungkin bisa membantu merilekskan tubuhku. Kuambil sepanci air lalu menjerangnya di atas kompor sementara itu aku mandi.
Selesai mandi, air yang kumasak telah mendidih. Kompor kumatikan lalu satu sendok makan teh tabur beraroma melati kumasukkan.
Kusiapkan gula dalam gelas lalu air teh kutuangkan ke dalam gelas sambil disaring. Kuhirup wangi teh melati tersebut yang membuat sarafku lebih tenang.
Kuambil gawai untuk mengecek pesan masuk. Sambil membaca pesan teh manis hangat masuk ke tenggorokanku.
Layar gawaiku tiba-tiba berubah menunjukkan ada panggilan masuk. Kugeser tombol jawab.
"Hallo, assalamualaikum. "
"Waalaikum salam warohmatullah, saya papanya Emira." Suara bass khas lelaki terdengar.
"Owh papanya Emira. Ada apa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf mengganggu, Miss."
"Gak pa-pa, Pak."
"Saya ingin minta maaf soal kejadian tadi siang, jadi gak enak sama Miss sudah menyaksikan pertengkaran kami."
"Owh itu, saya bisa memahami, Pak. Sebenernya yang harus lebih diperhatikan adalah kondisi Emira, kalau saya tidak banyak berefek tapi Emira putri Bapak yang akan mengalami guncangan." jelasku padanya.
"Ah itu, saya juga sangat menyesal bisa lepas kontrol di hadapan Emira."
"Lain kali usahakan lebih menjaga perasaan Emira, Pak. Maaf bukan maksud saya menggurui tapi ini demi kebaikan Emira." Aku berkata dengan hati-hati bagaimanapun mereka lebih berpengalaman dalam rumah tangga daripada aku sehingga aku khawatir ada perkataanku yang menyinggung.
"Miss kan guru jadi wajar kalo menggurui saya." Berikutnya terdengar suara kekehan yang amat pelan.
"Saya gurunya Emira bukan gurunya Bapak."
"Iya, ya. Mm....Soal Emira, ada yang ingin saya bicarakan tapi kalau ditelepon sepertinya tidak mungkin. Bagaimana kalau besok kita bertemu?"
"Besok?"
"Iya, maksud saya kita ketemu dan bicara. Tempatnya silakan Miss yang tentukan."
"Maaf, Pak. Urusan sekolah sebaiknya kita bicarakan di sekolah. Dan karena Sabtu dan Minggu sekolah libur, Bapak silakan datang hari Senin."
"Senin ya?"
"Iya, Pak. Selain hari Senin, Selasa atau Rabu juga boleh."
"Hari Senin masih lama."
"Apa itu sesuatu yang urgent? "
"Ng...ngak si tapi lebih cepat lebih baik."
"Kalau bukan sesuatu yang urgent dan ini urusan sekolah, saya rasa tempat yang paling tepat ya di sekolah dan karena besok hari Sabtu ya berarti bapak bisa datang ke sekolah hari Senin."
Terdengar helan napas Papa Emira.
"Sepertinya saya harus bersabar sampai Senin."
"Jadi hari Senin ya Pak, dan kalau bisa tidak di jam saya mengajar."
"Mau ketemu miss ribet juga ya."
"Nggak ribet kok, prioritas saya kan siswa jadi bisa bertemu di luar jam mengajar. Biar bicaranya juga lebih leluasa, Pak."
"Baiklah, Senin kalau begitu."
"Iya."
"Sampai jumpa hari Senin, Assalamualaikum. "
"Waalaikum salam."
Aku kembali menikmati tehku yang sudah dingin. Berhadapan dengan orang tua memang harus pandai, profesionalisme harus dikedepankan.
Selepas Maghrib aku berniat pergi ke sebuah swalayan untuk belanja bulanan. Barang-barang seperti sabun, shampo, dan pasta gigi sudah hampir habis.
Swalayan yang kutuju tidak terlalu jauh dari rumahku sehingga aku memutuskan untuk berjalan saja.
Sampai di swalayan aku bersyukur tidak terlalu penuh jadi nanti tidak perlu antri terlalu lama saat di kasir. Aku mengambil keranjang merah untuk berbelanja.
Sabun mandi, sabun cuci dan pasta gigi sudah masuk ke dalam keranjangku. Sekarang aku menuju ke rak bagian susu. Susu cair persediaanku sudah habis.
Kebetulan sekali sedang ada promo, aku memilih susu yang sedang promo tersebut. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
"Miss!" panggilnya disertai tepukan.
Aku menoleh, seorang lelaki berkemeja putih dengan celana abu-abu tepat ada di hadapanku. Kemejanya sudah digulung sebatas siku, wajahnya juga kelihatan lelah sepertinya baru pulang kerja.
"Papanya Emira?"
