Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 18 Berdebar

Kelakuan Pak Rama benar-benar membuatku tidak nyaman. Aku merasa ada hal lain yang diinginkannya.

Aku melihat ke jendela, sosoknya sudah tidak lagi ada di gerbang kosan.

Layar gawaiku berkedip, sebuah pesan whats app masuk. Aku membuka pesan itu. Dari pak Rama.

[Sampai jumpa hari Senin]

Hari Senin, ya Allah aku akan berjumpa kembali dengannya hari Senin.

Aku membuka kulkas dan meminum segelas air dingin. Setelah terdiam sejenak aku menjadi lebih tenang.

Aku harus menyiapkan diri untuk hari Senin. Mendekatkan diri pada Sang Pencipta tentu akan sangat membantu.

Hari Sabtu sore kuputuskan untuk mengunjungi mbak Asti, hati ini rasanya masih tidak tenang.

"Sepertinya pak Rama ini ada hati dengan kamu." ucap mba Asti setelah mendengar ceritaku.

"Dia kan orang tua murid di sekolah."

"Kamu sendiri gimana? Maksud mba, perasaan kamu."

"Aku gak punya rasa suka sama dia, Mba, malah ngeri semalem dia kayak gitu."

"Kalau memang kamu gak ada rasa, tegaskan ke dia jangan sekali-kali memberi harapan!"

"Iya, Mba, ini juga mau ditegasin."

"Tapi nih, bisa jadi kalian tuh berjodoh."

"Apaan si, Mba?!"

"Ya kita kan gak tau jodoh kita siapa."

"Iya si, tapi masa pak Rama?"

"Allah Yang Maha Tahu. Mintalah padaNya didekatkan dengan jodohmu."

Aku memikirkan kata-kata mba Asti. Hanya Allah yang tahu kelak jodoh kita siapa. Berserah diri itu yang harus aku lakukan.

Hari Senin tiba, seperti biasa aku berdiri menyambut para siswa yang datang.

Emira turun dari Honda HRV putih bersama ayahnya. Jantungku berdebar keras melihat pak Rama berjalan mendekat.

Dari jarak 1 meter parfum Rama sudah tercium jelas. Ia memakai setelan lengkap dengan dasi dan jasnya. Rambutnya pun tersisir rapi.

"Assalamualaikum, Miss." Emira tersenyum manis lalu mencium punggung tanganku.

"Waalaikum salam, Emira."

"Miss, kita bicara siang nanti. Saya datang setelah makan siang." Kata pak Rama datar.

"Iya, Pak."

Pak Rama terlihat berbeda sekali dengan saat di swalayan malam itu. Dia bicara dengan nada resmi tanpa senyuman.

Setelah sholat dan makan siang bersama anak-anak, kami memulai kembali pelajaran. Kali ini yang mengajar adalah partnerku di kelas. Satu kelas dipegang oleh dua guru di sekolah kami. Kami mengajar bergantian.

Tidak lama setelah temanku mulai mengajar seorang office girl di sekolah kami mengabarkan bahwa ada tamu yang menungguku. Itu pasti pak Rama.

Bismillahirrohmanirrohiim

Aku memasuki ruangan khusus untuk menerima tamu orang tua siswa. Di dalam, pak Rama telah duduk. Pakaiannya masih rapi seperti tadi pagi hanya tidak memakai jas, bahkan aromanya pun masih sesegar pagi tadi.

"Pak Rama." ucapku memecah konsentrasi mengamati gawainya.

"Miss Jelita," ia berdiri melihat kedatanganku.

"Silakan duduk kembali, Pak."

Pak Rama kembali ke posisinya sementara aku duduk tepat di depannya. Diantara kami ada meja berbentuk persegi.

"Sebelumnya saya mohon maaf atas kejadian malam Sabtu lalu."

"Owh, gak masalah kok pak saya juga sudah melupakan."

"Ini belanjaannya, Miss."

Pak Rama menyerahkan sebuah paper bag berwarna coklat.

"Makasih, Pak." Aku menerimanya, sekilas aku lihat isinya adalah plastik belanjaanku dari swalayan malam itu.

"Soal Emira, Miss."

"Saya siap mendengarkan."

"Saya dan mamanya Emira telah resmi berpisah setahun lalu namun kami memiliki komitmen untuk membesarkan Emira bersama-sama tanpa mengurangi kasih sayang sedikit pun."

"Saya bisa melihat hal itu dari kedatangan bapak dan ibu yang selalu bersama-sama ke sekolah untuk kepentingan Emira."

"Kemarin waktu saya ajak Emira berlibut di Singapore saya sempat bertanya soal sikap murungnya."

"Apa jawaban Emira?"

"Setelah dibujuk dia bilang kalau ingin seperti dulu tinggal serumah bersama. Tapi itu tidak mungkin, Miss. Saya sudah jelaskan pada Emira sesuai dengan bahasanya."

"Reaksi Emira?"

"Sepertinya dia mengerti. Saya dan istri saya tidak mungkin rujuk, terlalu besar perbedaan kami dan terlalu menyakitkan bagi saya pengkhianatan yang dia lakukan dulu."

"Saya rasa sebagai guru Emira maka fokus saya hanya pada Emira. Kemajuan belajar Emira juga merupakan tanggung jawab saya."

"Sepertinya kita bisa bekerja sama dengan baik untuk Emira." Mata Pak Rama menyipit sambil mengangguk

"Seorang guru memang harus bekerja sama dengan orang tua pak, untuk kemajuan muridnya."

"Iya, ya." Senyum tipis terlihat di wajahnya.

"Apa ada lagi yang ingin bapak sampaikan?"

" Saya rasa cukup, nanti kalau ada hal-hal yang ingin saya tanyakan atau sampaikan, saya akan hubungi miss Jelita."

"Terima kasih atas informasinya, Pak."

"Saya juga terima kasih atas waktu yang sudah miss luangkan. Saya pamit."

Setelah pak Rama pergi, aku melihat paperbag yang diberikannya. Isinya adalah belanjaanku malam itu dan sebuah amplop putih.

Kubuka amplop itu, ada sebuah kartu yang berisi permohonan maaf dan sebuah tiket pertunjukan untuk dua orang.

Mohon maaf Miss Jelita atas kelancangan saya malam kemarin, tiket ini saya berikan sebagai permohonan maaf saya. Harap diterima.

Rama

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel