Bab 15 Emira
Emira, gadis kecil berusia 8 tahun yang lahir dari pasangan keluarga berada. Sang papa adalah pewaris perusahaan besar yang dimiliki kakeknya sementara mamanya adalah seorang manajer keuangan sebuah perusahaan besar.
Emira kecil hidup sangat berkecukupan, kedua orang tuanya juga sangat menyayanginya. Tapi ia tidak mengerti kenapa sejak menginjakkan kakinya di Sekolah Dasar, kedua orang tuanya kerap kali bertengkar.
Hari Jum'at, anak-anak pulang lebih cepat dari biasanya. Bel pulang sudah berbunyi sejak tadi namun Emira belum juga di jemput.
"Emira, belum dijemput?" Tanyaku pada Emira yang sedang duduk di kursi tempat anak-anak biasa menunggu untuk dijemput.
"Belum, Miss."
"Miss, coba telpon mama ya. Kamu tunggu di sini!"
Aku bergegas ke ruang piket untuk menelpon mama Emira. Daftar nama dan nomer telpon orang tua siswa ada di buku piket.
Aku mencari nama Emira lalu segera ku tekan tombol pesawat telepon di depanku. Ada nada sambung namun tidak ada jawaban. Kemana mamanya?
Berkali-kali ku telepon tetap tidak ada jawaban. Akhirnya aku mencari nomer telepon papanya lalu mencoba menghubunginya. Tetap tidak ada jawaban. Papanya pasti sedang sholat Jum'at, pikirku. Aku kembali menghubungi nomer telepon mamanya, tapi tetap tidak ada jawaban.
Aku kembali menemui Emira.
"Miss, sudah coba telepon mama kamu tapi tidak ada jawaban mungkin sedang sibuk."
"Miss juga telepon papa tapi gak ada jawaban mungkin papa kamu sedang sholat Jumat. Nanti setengah jam lagi, Miss hubungi lagi."
"Jangan telepon papa, Miss. Telepon mama aja."
"Kenapa?"
"Hari ini jatahnya mama."
"Maksudnya?"
"Seminggu ini, aku di rumah mama minggu depan baru di rumah papa."
"Jadi kamu tiap minggu tidur di rumah papa dan mama bergiliran?"
"Iya, Miss." Emira menunduk.
Perceraian selalu anak yang menjadi korban. Diperebutkan oleh kedua orang tua atau bahkan tidak dipedulikan sama sekali.
"Emira, daripada sendirian di sini, kita ke kelas yuk! Temani Miss nyiapin bahan untuk ngajar hari senin."
"Iya, Miss."
Aku dan Emira kini berada di dalam kelas. Emira yang tidak banyak bicara memilih membaca buku yang ada di perpustakaan mini di kelas sementara aku asyik berkutat dengan persiapan bahan ajar seminggu ke depan.
Satu jam berlalu, tiba-tiba pintu kelas di ketuk.
"Assalamualaikum, Miss."
"Waalaikum salam. "
"Saya mau jemput Emira."
"Kok papa yang datang?"
"Mama sedang sibuk jadi papa yang jemput."
Emira segera mengambil tasnya lalu berjalan ke arah papanya. Aku mengiringi langkah Emira.
"Terima kasih ya miss, sudah menjaga Emira."
"Sudah menjadi kewajiban saya, Pak. Lain kali mohon untuk tidak terlambat lagi menjemput ananda."
"Pasti, Miss. Emira ayo salim sama Miss!"
Emira mencium punggung tanganku lalu menggamit tangan ayahnya keluar dari kelas. Aku berdiri di pintu kelas melepas kepergian mereka.
"Dah Emira!" Lambaian tanganku dibalas oleh Emira.
Baru saja aku membalikkan tubuh, tiba-tuba terdengar suara wanita cukup keras.
"Ini giliran gue jemput Emira!" Mama Emira menarik tangan Emira dari ayahnya.
Papa Emira menahan tangannya, "Lu, telat. Emira udah nunggu dari tadi!" Mata sang papa menyorotkan kemarahan.
"Emira pulang sama gue! Hari ini masih jatah gue!" Tangan Emira ditarik cukup kencang hingga terlepas dari sang ayah.
"Tapi lu mengabaikan Emira, dia nunggu lama."
"Gue ada urusan. Lagian kan ada gurunya yang jagain, buat apa bayar mahal?"
Mendengar keributan orang tua Emira dan melihat ekspresi Emira yang ketakutan, aku berjalan menghampiri mereka.
"Maaf, bapak dan ibu harap tahan emosi dan bicarakan semua dengan baik. Saya rasa sangat tidak baik jika pertengkaran kalian disaksikan Emira."
Sang mama kemudian terdiam dan melepas tangan Emira.
"Silakan bapak dan ibu bicarakan baik-baik siapa yang akan membawa Emira pulang. Sementara itu saya akan membawa Emira ke dalam kelas. Setelah diputuskan silakan datang ke kelas dengan baik-baik."
"Jangan ikut campur urusan keluarga kami!" Kata sang mama.
"Ini di area sekolah, dan Emira siswi saya. Selama berada di sekolah, Emira tanggung jawab saya!" Kataku tegas.
"Apa yang dikatakan miss Jelita ada benarnya, ayo kita bicara!"
"Emira, ayo ikut Miss ke kelas!" Ajakku lembut pada Emira.
Emira menggamit tanganku lalu berjalan beriringan menuju ke kelas.
Sampai di kelas, Emira memelukku erat seraya menangis.
"Gara-gara Emira mama papa bertengkar. " sambil sesenggukan Emira mengucapkan kalimatnya.
"Emira gak salah apa-apa, mama papa hanya berbeda pendapat. Mereka sayang Emira." Aku mensejajarkan posisiku dengan Emira.
"Enggak, Miss, mereka gak sayang."
"Loh kok Emira bisa bilang begitu?"
"Kalau sayang kenapa Emira gak bisa tinggal bareng mama papa lagi? Kenapa harus seminggu di rumah papa dan seminggu lain di rumah mama. Emira pengen kayak dulu."
Baru saja aku ingin menjawab pertanyaan Emira, kedua orangtua nya telah ada di depan pintu kelas.
“Mohon maaf ya, Miss kami sempat membuat keributan tadi.” Papa Emmira bicara.
“Iya. Semoga tidak terjadi lagi, apalagi di depan Emira, dia ketakuan tadi.”
“Terima kasih, Miss atas pengertiannya.”
“Iya, sama-sama.”
“Ayo Emira kita pulang!” mama Emira mmengajak putrinya pulang.
