Bab 14 Semu
Libur sekolah telah usai, aktivitas kembali dimulai. Aku pun telah kembali dari kampung setelah menikmati masa libur bersama ibuku.
Ibu tidak lagi membicarakan soal jodoh walau aku tahu ia pasti ingin sekali agar aku segera menikah tapi ia menghargai perasaanku. Ibu tahu semua kegagalanku dalam memiliki pasangan hidup.
Kini aku kembali bekerja, pagi hari sebelum bel berbunyi aku sudah bersiap menyambut siswa siswiku.
Aku berdiri di area kedatangan siswa tempat orang tua melepaskan anaknya masuk ke sekolah. Satu persatu siswa yang datang mencium punggung tanganku.
Sebuah Honda LRV putih berhenti di depan gerbang, Emira turun bersama ayahnya. Mereka berjalan menuju ke arahku.
"Pagi, Miss!" Emira mencium punggung tanganku.
"Assalamualaikum, pagi, Emira!"
"Waalaikum salam." Emira dan ayahnya menjawab bersamaan.
"Gimana liburannya, Em?"
"Seru, Miss. Aku ke Singapore sama papa."
"Wah seru ya? Miss belum pernah ke sana."
"Nanti kalau kami ke sana lagi, Miss boleh ikut." ucap papa Emira.
"Cuma bercanda kok, Pak." Aku merasa tidak enak.
"Serius juga gak apa."
"Terima kasih atas tawarannya."
"Ini oleh-oleh untuk Miss!" papa Emira menyerahkan sebuah tas belanja berbahan kertas padaku.
"Terima kasih banyak, Pak."
"Ini gak sebanding dengan perhatian Miss pada Emira."
"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Pak."
Baru saja papa Emira akan berkata, bel tanda masuk berbunyi nyaring.
"Maaf, Pak sudah waktunya masuk ke kelas. Saya permisi dan sekali lagi terima kasih atas oleh-olehnya."
"Sebentar, boleh minta nomer hapenya? Ada yang ingin saya bicarakan terkait Emira."
"Boleh."
"Tulis di sini saja!" Papa Emira menyerahkan gawai yang bergambar apel tergigit di belakangnya.
Aku menuliskan nomer ponselku pada gawainya lalu kuberikan kembali gawainya.
"Terima kasih, Miss."
"Sama-sama, Pak."
Aku segera menuju ke kelas bersama Emira di sampingku.
Murid-muridku sudah menunggu berbaris di depan kelas. Setelah itu mereka masuk satu persatu ke dalam kelas.
Hari pertama masuk kelas selalu menyenangkan, semua siswa maju satu persatu menceritakan liburannya.
Giliran Emira yang maju ke depan, ia bercerita pengalamannya mengunjungi Universal Studio. Namun ada hal yang jadi pertanyaanku, ia tidak menyebut mamanya selama bercerita. Bukankah pasangan itu sangat harnonis, apakah sang mama terlalu sibuk hingga tidak ikut berlibur bersama suami dan anaknya?
Aku tidak bertanya banyak pada Emira, mood dia saat ini sedang sangat baik.
Waktunya bercerita tentang liburan pun usai ditutup dengan cerita liburanku setelah itu semua siswa dibolehkan beristirahat setelah bel berbunyi.
Selesai jam istirahat, semua siswa kembali ke kelas. Dan pelajaran seperti biasa dimulai.
"Keluarkan buku Matematika kalian!"
Semua siswa mengeluarkan buku mereka kecuali Emira. Ia terdiam dan menunduk. Aku mendekatinya.
"Emira, buku Matematikanya mana?" tanyaku hati-hati.
"Nggak bawa, Miss."
"Lupa?" tanyaku lembut, Emira menjawab dengan gelengan kepala.
"Terus kenapa?"
"Bukunya di rumah mama."
"Di rumah mama?" Aku makin penasaran, Emira tidak menyebut rumahku tapi rumah mama.
"Aku tadi berangkat dari rumah papa, kan semalem baru pulang dari Singapore. Sebelum libur aku nginep di rumah mama."
"Mama dan papa kamu beda rumah?"
Emira mengangguk sedih. Aku tau perasaannya pasti sangat berat melihat kedua orang tua berpisah diusia semuda itu.
"Sudah berapa lama?"
"Pas aku kelas 1."
Berarti sudah 1 tahun kedua orang tuanya berpisah dam tidak ada guru yang tahu. Aku mengajar di kelas 2 dan wali kelas Emira sebelumnya tidak mengabari apapun tentang hal ini. Imformasi-informasi penting biasanya disampaikan oleh wali kelas sebelumnya ketika mereka naik kelas.
"Yaudah. Gak pa-pa hari ini Emira tidak bawa buku, besok-besok jangan diulangi lagi ya?"
"Iya, Miss."
Ah...ternyata sesuatu yang terlihat indah di luar belum tentu indah di dalam. Mama dan papa Emira terlihat amat harmonis namun ternyata mereka sebenarnya telah lama berpisah.
Namun aku salut pada kedua orang tua Emira, walau mereka telah berpisah namun untuk kepentingan anak, mereka berusaha tetap bersama.
