Bab 13 Harmonis?
Kerepotan di sekolah selama seminggu akhirnya berakhir. Ujian sisiwa, koreksi dan penghitungan nilai cukup menguras tenaga para guru dan hari ini waktunya pengambilan raport.
Aku menyiapkan diri, file-file para siswa sudah tertumpuk rapi di meja. Penampilanku juga sudah rapi. Pertemuan dengan orang tua siswa adalah moment penting bagi orang tua, guru, maupun sekolah.
Di sekolah kami, tiap orang tua diberi waktu 15 menit untuk mendapatkan penjelasan mengenai perkembangan belajar sang anak. Hasil belajar siswa bukan sekedar angka-angka tetapi sifat dan sikap juga menjadi aspek yang tak kalah penting.
Sepasang orang tua hadir paling pagi. Mereka adalah orang tua favoritku. Karena keduanya selalu hadir bersama demi sang anak. Kalau biasanya hanya sang ibu yang datang ke sekolah, berbeda dengan mereka yang selalu menyempatkan hadir demi buah hatinya.
"Assalamualaikum, Bapak dan Ibu, silakan duduk!" Aku mempersilakan dengan senyum hangat.
Keduanya duduk hampir bersamaan di kursi yang disediakan. Mereka berdampingan di hadapanku. Keduanya terlihat serasi, ganteng dan cantik. Mereka sama-sama memakai setelan kerja.
"Bagaimana hasil belajar Emira, Miss?" Ayah Emira bertanya.
"Emira putri ayah dan bunda punya akhlak yang baik, dia pandai bersosialisasi dengan teman-temannya namun akhir-akhir ini dia sedikit murung. Terus terang saya belum dapat menggali kenapa ia menjadi murung?"
"Kalau nilai-nilainya bagaimana?" Sang bunda bertanya.
"Emira mampu memahami penjelasan guru dan mengikuti pelajaran dengan baik namun untuk pelajaran Matematika, dia mengalami kesulitan."
"Owh begitu ya, Miss. Kira-kira apa yang bisa kami lakukan untuk meningkatkan nilai Matematika Emira?" Tanya sang bunda.
"Di rumah, ananda sebaiknya banyak mengulang materi yang diajarkan."
"Apa harus les? " pertanyaan lanjutan dari sang ayah.
"Tidak perlu, ayah dan bunda bisa mendampingi ananda. Saya rasa Emira siswi yang cerdas dia hanya perlu tambahan latihan saja."
"Bagaimana kalau Miss yang memberi les pada Emira?" Sang ayah kembali bertanya.
"Maaf, saya tidak bisa memberi les pada siswa yang ada di kelas saya. Itu aturan yang tidak boleh dilanggar di sekolah ini."
"Kalau minum suplemen buat otak bisa?"
"Suplemen itu memang nutrisi buat otak tetapi tetap harus belajar juga."
Sepasang suami istri di depanku saling pandang. Entah apa yang ada di kepala mereka.
"Kami ini sama-sama sibuk dan Emira bukan anak yang mudah dekat dengan orang baru, bagaimana kalau Miss saja yang mengajarkan Emira, seminggu sekali saja."
"Maaf, Pak, peraturan adalah peraturan."
"Itu kan kalau sekolah tau, Miss."
"Peraturan itu dibuat bukan tanpa alasan, kalau seorang wali kelas memberi les pada salah satu siswa yang menjadi tanggung jawabnya di kelas maka sang guru akan sulit berlaku adil pada semua siswanya."
"Jadi, Miss, tetap gak mau?"
"Saya tetap pada pendirian saya."
Sang ayah tersenyum tipis ke arahku.
"Begini saja, Miss. Kami akan cari solusi untuk masalah putri kami. Kalau kami tidak bisa, nanti kami mencari guru les yang lain." kali ini sang bunda angkat bicara.
"Selain masalah belajarnya, saya rasa yang perlu mendapat perhatian juga alasan dibalik sikap murungnya akhir-akhir ini."
"Kenapa ya, Miss?"
"Seperti saya bilang tadi, saya belum mendapatkan penyebab murungnya Emira. Kalau dilihat dari hubungan dengan teman-temannya di sekolah, sama sekali tidak ada masalah. Mungkin penyebabnya bukan di sekolah."
"Kami akan cari tahu penyebabnya."
"Tolong kabari saya tentang penyebabnya, mungkin dengan tahu penyebabnya kita bisa bekerja sama agar Emira kembali ceria."
"Pasti, Miss. Nanti akan saya kabari. Terima kasih atas perhatian, Miss, pada putri kami."
"Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai wali kelasnya."
"Kami pamit dulu, Miss. Masih harus ke kantor. Sekali lagi terima kasih atas perhatian, Miss pada putri kami."
Keduanya pun berdiri, aku juga ikut berdiri. Aku bersalaman dengan sang bunda sementara dengan sang ayah aku hanya menangkupkan tangan di dada dan tersenyum.
Mereka berjalan keluar kelas. Aku mengikuti mereka sampai ke pintu kelas, di luar masih sepi belum ada orang tua lain yang datang.
Orang tua Emira berjalan semakin jauh, lalu mereka berhenti di area antar jemput siswa. Dari pintu kelasku, aku melihat mereka berdebat.
