Bab 12 Teman Baik
Wisnu sangat membantu dalam proses pelaporan ke polisi. Kemampuannya berbicara membuat proses menjadi cepat dan mudah. Aku tak perlu banyak bicara semua dia yang menangani.
"Jelita, kita makan dulu!" ajak Wisnu.
"Maaf, saya makan di rumah saja."
"Ini sudah cukup malam dan kamu pasti lapar. Jangan menolak rejeki! "
Rasanya tidak enak juga menolak ajakan dari Wisnu karena ia juga sudah berjasa membantuku, "baiklah."
Kami berjalan menuju kantin rumah sakit. Malam yang sudah agak larut membuat kantin tidak terlalu ramai. Begitu sampai di kantin kami langsung memesan lalu mencari tempat duduk. Wisnu memilih kursi di dekat jendela dan aku duduk di depannya. Ia mengeluarkan gawainya, entah menghubungi siapa.
Sejenak aku memperhatikan Wisnu. Tubuhnya tinggi, tegap, wajah yang tegas, alisnya tebal dengan sorot mata yang tajam. Bicara seperlunya dan tidak suka ditolak, walau terlihat galak tapi sepertinya ia pria yang baik.
Tiba-tiba ia menegakkan kepalanya, dan menaruh gawainya. Aku sedikit malu karena ketahuan memperhatikan sosoknya.
Seorang pelayan mengantarkan makanan dan minuman pesanan kami.
"Makan!" titahnya.
"Iya. Terima kasih."
Aku mulai menyuapkan kwetiau siram pesananku. Begitu juga Wisnu yang mulai menikmati spaghettinya.
Wisnu menaruh garpunya, spagheti di piringnya tinggal separuh."Sudah berapa lama ngajar di sekolah si kembar?" tanya Wisnu sambil menatapku.
"Ini masuk tahun ketiga." jawabku tanpa melihat wajahnya.
"Owh."
Wisnu kembali menyuapkan spaghettinya sampai habis. Lalu meminum orange juice miliknya. Sementara aku kesulitan menghabiskan kwetiau ku karna porsi yang cukup besar.
"Habiskan!"
"Kenyang, nanti saya minta bungkus saja. Sisanya makan di rumah saja."
Baru selesai aku bicara, tangan Wisnu melambai memanggil pelayan yang segera datang.
"Tolong dibungkus, sama saya minta bill nya sekalian!"
"Baik, Pak." Pelayan itu mengangguk lalu membawa pergi piring berisi kwetiau siram yang tinggal setengah.
"Saya bayar sendiri saja."
"Saya yang ajak kamu makan, saya yang bayar." ucap Wisnu tegas.
"Terima kasih."
Selesai makan aku bergegas pulang.
***
Pagi hari seperti biasa aku menyiapkan diri untuk pergi mengajar. Sampai di parkiran dua suara anak kecil memanggilku.
"Miss Jelita!"
"Eh kalian. Assalamualaikum. Selamat pagi."
"Waalaikum salam, pagi juga Miss." Wira menjawab dengan ceria.
"Miss, kita dianter om Wisnu dong."
"Iya, Miss. Ayah sama bunda lagi repot sama dedek bayi." Yudha berkata dengan menekankan kata repot.
"Dedek bayinya kenapa?"
"Semalem nangis telus, Miss."
"Sakit dedeknya?"
"Kata bunda gitu."
Aku mengangguk mendengar jawaban si kembar.
"Hei kalian, asyik ngobrol aja. Jangan ganggu miss Jelita." tegur Wisnu yang tiba-tiba datang.
Wisnu terlihat segar dengan kemeja slimfit hijau muda, celana kain warna hitam dan jas yang sewarna dengan celananya. Parfumnya terasa di penciumanku. Penampilannya mencuri perhatianku.
"Miss Jelita gak terganggu kan?"
"Enggak. Miss senang bicara dengan kalian."
"Tuh, Om. Miss senang."
"Iya tapi missnya kan mau ngajar."
"Om sini deh Yudha bisikin." Yudha menarik Wisnu sedikit menjauh dariku.
"Apaan sih?"
"Sini!"
Wisnu berjongkok di samping Yudha. Yudha mendekatkan mulutnya pada telinga Wisnu.
"Om pacalan aja sama Miss Jelita. "Wisnu terkekeh mendengar ucapan keponakannya.
Suara bisik-bisik Yudha terdengar jelas di telingaku. Dan aku yakin Wisnu juga tau hal itu.
Wisnu mengacak rambut Yudha, "Om dengan Miss Jelita hanya teman, teman baik. Ya kan, Miss?"
"Iya." jawabku mantap.
"Kenapa gak pacalan?"
"Miss, gak mau pacaran. Mau berteman aja."
Si kembar mengangguk-angguk.
