Bab 11 Wisnu
Mundurnya Rafka, kuterima sebagai takdir Allah. Dia bukanlah jodoh untukku. Aku yakin di luar sana ada lelaki baik yang ditakdirkan Allah untukku.
Aku kembali menekuni aktivitasku menjadi pengajar di salah satu sekolah dasar Islam di Jakarta. Keceriaan anak-anak adalah penyemangatku dalam menghadapi hari-hari. Senyum dan tawa mereka seperti obat untuk hatiku.
Sekolah tempatku mengajar selain memiliki unit sekolah dasar juga memiliki taman kanak-kanak. Kedua unit ini memang berbeda gedung tapi masih dalam satu lingkungan.
Setelah shalat dzuhur dan makan siang, dari ruang guru aku beranjak menuju ruang kelas tempat aku mengajar. Di perjalanan 2 anak kembar menghadangku. Keduanya berlarian mengelilingiku.
"Jaga! Yudha jaga!" ucap Wira setelah menepuk tangan Yudha.
"Jaga! Wila jaga!" kata Yudha setelah membalas tepukan kembarannya.
Keduanya saling mengejar sambil memutariku.
"Aduh miss jadi pusing nih." ucapku sambil memegang anak yang bernama Wira lalu mensejajarkan diriku dengannya.
"Miss pusing?"
"Iya, kalian muter-muter,"
"Miss minum obat kalo pusing!" ucap Yudha sambil bergerak ke depanku.
"Miss gak panas." Wira menempelkan telapak tangannya di kepalaku.
"Miss emang gak sakit. Kalian siswa TK ya?"
"Iya." Jawab keduanya berbarengan.
"Lucu banget si kalian. Miss gemes." Aku mengacak rambut keduanya.
"Lambutku jadi acak-acakan miss."
"Lambut Yudha juga."
"Sini miss rapikan lagi!" Aku merapikan rambut mereka dengan jari-jariku, ulai dari Wira lalu kemudian Yudha.
"Kalian kenapa belum pulang?"
"Belum dijemput."
"Mungkin sudah dijemput tapi kalian malah main ke SD, yang jemput pasti nyariin."
"Om Wisnu jago main petak umpet pasti ketemu."
"Owh, yang jemput kalian itu om Wisnu? "
"Iya."
"Miss anter kalian ke bagian penjemputan yuk, siapa tahu om Wisnu menunggu di sana."
"Wila masih mau maen, Miss."
"Yudha juga."
"Kalo kalian ketemu om Wisnu kalian bisa ajak om Wisnu main nanti lebih seru."
"Ah iya, om Wisnu jago main apa aja."
"Iya. Ayo Yudha kita ke om Wisnu. "
"Good, yuk miss anter!"
Aku berjalan sambil menuntun kedua anak kembar ini. Mereka terus berceloteh riang, benar-benar lucu. Kalau Allah berkehendak aku juga ingin punya anak-anak seperti mereka.
Sampai di dekat area penjemputan kedua anak kembar itu melepas tangannya lalu berlari menuju seorang pria yang sedang berdiri sambil melihat ke berbagai arah dan berbicara lewat gawainya.
"Om Wisnu!" Kedua anak itu berlari menuju seorang pria dengan pakaian kantoran. Kemeja putih slim fit dan celana panjang berwarna biru tua.
Pria yang dipanggil om Wisnu itu memeluk si kembar. Sepertinya hubungan mereka amat dekat.
"Om cari kalian, sampe minta tolong OB sekolah."
"Maaf pak, tadi kedua anak ini mampir ke gedung SD."
"Kalian, maen ke SD? Pantes dicari di TK gak ada."
"Om lama si datengnya."
"Maaf om tadi ada meeting dulu."
Aku suka sekali melihat interaksi mereka. Walau pria itu hanya sebagai paman tapi begitu dekat seperti pada ayah mereka sendiri.
"Terima kasih miss..."
"Jelita, saya miss Jelita."
"Nama yang bagus." ucap Wisnu disertai senyuman.
Senyuman yang sesaat itu seperti menyihirku. Pria bernama Wisnu ini berbahaya untuk kesehatan hatiku. Astagfirullah.
"Boys, salim sama miss Jelita! Kita pulang." Perintahnya pada si kembar yang langsung dituruti.
"Sekali lagi terima kasih miss Jelita atas perhatiannya pada kedua keponakan saya. Kami pamit. Assalamualaikum. "
"Waalaikum salam." Aku memperhatikan mereka menuju parkiran dan membalas lambaian tangan si kembar. Lalu kembali ke kelas.
Sore setelah aku selesai mengajar, aku pulang dengan mengendarai motorku. Sampai di sebuah pusat perbelanjaan aku berbelok untuk membeli beberapa kebutuhan pribadi. Setelah semua kebutuhanku terpenuhi aku kembali melajukan motorku. Matahari mulai terbenam di ufuk Barat, lalu lalang kendaraan semakin ramai.
Dari kejauhan terlihat orang berkerumun. Aku menghentikan motorku untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata ada korban tabrak lari yang tergeletak di pinggir jalan. Orang-orang hanya berkerumun tidak ada yang menolong.
"Pak ini harus segera dibawa ke rumah sakit!" ucapku pada seorang bapak yang posisinya sangat dekat dengan korban.
"Takut berurusan sama polisi saya mba, gak berani ah."
Aku berjalan ke tengah lalu berdiri sambil melambaikan tangan menghentikan mobil yang melintas. Sebuah mobil melintas berhenti. Aku segera menuju ke pintu pengemudi dan mengetuk kaca jendelanya berkali-kali.
"Pak, tolong bantu korban kecelakaan. Tolong bantu bawa ke rumah sakit!" Kaca hitamnya membuatku tak mampu melihat sang pengemudi.
Kaca mobil itupun diturunkan, "Pak Wisnu?” Aku bersyukur mobil yang kuberhentikan dikendarai oleh orang yang kukenal.
"Ada apa?"
"Ada korban kecelakaan pak, bisa tolong bantu bawa ke rumah sakit?"
Wisnu keluar dari mobilnya lalu mendekati sang korban. Bersama seorang bapak, Wisnu mengangkat tubuh korban. Aku siap menunggu di pintu mobil.
Aku duduk di belakang sambil menjaga sang korban. Sementara Wisnu mengemudikan mobilnya secepat mungkin.
Sampai di rumah sakit kami langsung menuju ke bagian IGD. Setelah dokter menangani sang korban aku dan Wisnu duduk di kursi tunggu.
"Kamu miss Jelita kan?"
"Iya, Pak."
"Jangan panggil pak, saya belum jadi bapak."
"Oh iya maaf."
"Wisnu saja."
"Baik, Wisnu."
Astaghfirullah, aku melupakan motorku yang terparkir di pinggir jalan. Entah bagaimana nasibnya. Aku segera berdiri.
"Mau ke mana?"
"Motor saya masih di pinggir jalan, mau saya ambil."
"Kamu tetap di sini, biar saya suruh orang untuk ambil. Keterangan kamu pasti nanti dibutuhkan polisi. "
"Tapi...."
"Tidak ada tapi, sebentar saya telpon orang saya dulu!"
Wisnu ini ternyata orang yang sangat tegas. Aku menurut saja dengan apa yang ia perintahkan.
Duduk berdampingan dengan seseorang yang tidak terlalu dikenal memang tidak nyaman, apalagi Wisnu sepertinya bukan tipe orang yang banyak bicara. Ingin berbicara tapi tidak ada bahan pembicaraan akhirnya aku membuka aplikasi media sosial ku lewat ponsel.
"Tidak lama lagi, motormu akan diantar ke sini." ucap Wisnu setelah mematikan ponselnya.
"Terima kasih, Wisnu." Ucapku kaku.
"Jelita," suara seorang pria di dekatku. Aku menoleh ternyata itu adalah Rafka, pria yang pernah taaruf denganku.
"Apa kabar Rafka?" tanyaku.
"Baik. Kamu sama siapa?" Rafka menatap Wisnu.
"Saya Wisnu."
"Rafka."
Wisnu dan Rafka bersalaman. Wajah Rafka terlihat sangat serius berbeda dengan Wisnu yang terlihat santai.
"Jadi ini yang namanya Jelita?" ucap perempuan paruh baya yang datang mendekati Rafka, rupanya ia mendengar pembicaraan kami.
"Ini ibu saya,"
"Syukur Rafka gak jadi sama kamu, belum lama taaruf sudah jalan sama laki-laki lain." sinis sang ibu.
"Maksud ibu apa?" tanyaku.
"Saya tahu asal usulmu, Rafka sudah cerita. Buah memang jatuh gak jauh dari pohonnya."
"Ibu sudah bu!" Rafka berusaha menghentikan ucapan ibunya.
"Biar Raf, biar laki-laki di sebelahnya tahu kalau perempuan yang dekat sama dia itu anak pelacur."
"Ibu!" Rafka membentak ibunya.
Hatiku sakit sekali, ibu Rafka membuka hal yang sangat pribadi di tempat umum. Di hadapan Wisnu yang sama sekali tidak tahu apa-apa.
"Ibu tidak berhak bicara hal seperti ini di depan umum!" ucapku sambil menahan marah.
"Pacar kamu itu harus tahu hal yang sebenarnya, jangan ditutupi!"
"Hubungan saya dengan Jelita bukan urusan ibu! Jelita perempuan yang baik, yang penting adalah pribadinya bukan siapa ayah ibunya." Wisnu angkat bicara.
"Anak pelacur tetaplah anak pelacur, gak jelas siapa bapaknya."
"Astagfirullah," ingin kumaki ibu itu.
"Sekali lagi Ibu bicara, mempermalukan Jelita saya akan tuntut Ibu di pengadilan. Semua orang disini akan menjadi saksi!" Wisnu geram.
"Ibu, sudah! Maaf Je atas ucapan ibuku."
"Kamu kok malah minta maaf sama dia?"
"Sudah bu ayo kita pergi!" Rafka menarik ibunya, membawa pergi ke bagian poliklinik.
"Terima kasih sudah membela saya."
"Gak masalah. Saya tau rasanya di posisi kamu."
Wisnu pria yang baik, padahal baru sehari kami berkenalan. Sungguh beruntung nanti wanita yang akan menjadi istrinya.
